Jumat, 3 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Thomas Darmawan, Ketua Umum Gapmmi: ”Produk Asing Boleh Saja Masuk, Asal …”

 
TRADISI setiap menjelang Lebaran, tren permintaan barang kebutuhan pokok lazimnya akan meningkat tajam. Bahkan, menurut Thomas Darmawan, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi), permintaan produk makanan dan minuman olahan diperkirakan akan meningkat sebesar 20%.
Memang, untuk memenuhi kenaikan permintaan tersebut tak cukup hanya mengandalkan ketersediaan stok, tapi juga harus didukung oleh pendistribusian yang tepat sasaran. Soalnya pula, di saat permintaan sedang meningkat, tak jarang barang yang dibutuhkan tiba-tiba menjadi langka di pasaran. Boleh jadi, itu karena adanya ulah para spekulan yang sengaja menimbun stok untuk kepentingan sesaat: mengeruk keuntungan sebesar-besarnya.
Guna mengantisipasi persoalan tersebut, pada 12 September lalu, Departemen Pertanian membentuk Tim Pengamanan Produk Hasil Pertanian—salah satu anggotanya adalah Gapmmi. ”Pemerintah menilai perlu adanya koordinasi untuk menjaga stok sekaligus pendistribusiannya,” ujar Thomas. Nah, bagaimana persisnya pengamanan tersebut dilakukan? Kepada Teddy Unggik, Eko Zulham, dan juru foto Mulyana dari TRUST, Thomas berkesempatan menjelaskannya. Berikut petikan wawancaranya:

 Artikel Lain
Begitulah, Bank Ini Aman dari Berbagai Risiko
Anthony Charles Sunarjo, Ketua Umum GP Farmasi: Pelakunya Dihukum Mati Saja
Anang Sukandar, Ketua Umum Asosiasi Franchise Indonesia:
M. Hatta Rajasa, Menteri Perhubungan RI: ”…Semua Kendala Akan Kami Hadapi”
Thomas Darmawan, Ketua Umum Gapmmi: ”Produk Asing Boleh Saja Masuk, Asal …”
”Janganlah Berutang Jika Sulit Membayarnya”
“Saya Tidak Mau (Jadi) Tua Sendiri”
“Biaya Tinggi Masih Mencekik”
”Ingin Menegakkan Wibawa Pemerintah, Kok Disalahkan”
“Semua Pengusaha Sudah Berpikir Hengkang dari Indonesia"

KABARNYA, PEMERINTAH TELAH MEMBENTUK TIM UNTUK MENGOORDINASI STOK DAN PENDISTRIBUSIAN PRODUK MAKANAN MENJELANG LEBARAN. BISA DIJELASKAN?
Memang, pada 12 September lalu, pemerintah telah membentuk Tim Pengamanan Produk Hasil Pertanian, terutama untuk pengadaan beras, tepung terigu, minyak goreng, dan kacang-kacangan.

LATAR BELAKANG DIBENTUKNYA TIM INI?
Tujuan sebenarnya dibentuknya tim ini adalah untuk menjaga jangan sampai ketika menjelang Lebaran terjadi kelangkaan produk makanan di pasaran. Jadi, pemerintah menilai perlu adanya sebuah koordinasi untuk menjaga stok sekaligus pendistribusiannya.

SIAPA SAJA YANG MENJADI ANGGOTA TIM INI?
Tim ini diketuai oleh Menteri Pertanian. Dengan begitu, otomatis yang menjadi anggotanya adalah institusi yang berada di lingkungan Departemen Pertanian, di antaranya Badan Ketahanan Pangan. Selain itu, Gapmmi juga menjadi anggotanya. Organisasi ini kan merupakan kumpulan pengusaha yang bergerak di bidang distribusi produk-produk makanan.

LANTAS, BAGAIMANA PERSEDIAAN STOK MAKANAN DAN MINUMAN MENJELANG LEBARAN?
Cukup aman dan terkendali. Contohnya gula pasir, jumlah stoknya mencapai 3.439.933 ton, masih di atas kebutuhannya yang 2.664.141 ton. Begitu juga dengan minyak goreng, persediaannya mencapai 4 juta ton, sementara tingkat konsumsinya 3,22 juta ton. Kemudian telur ayam, stoknya 855.948 ton, kebutuhannya 840.829 ton, jadi masih surplus.

SELAIN ITU?
Stok beras juga mencukupi, yakni 34,8 juta ton. Sementara kebutuhannya 30,8 juta ton. Daging ayam juga mencukupi, stoknya mencapai 607.908 ton dan kebutuhannya hanya sekitar 607 ribu ton. Untuk kacang tanah stoknya 818 ribu ton, kebutuhannya 719 ribu ton. Intinya, anggota kami sudah siap menyambut Lebaran tahun ini.

KENDATI STOK MASIH BERLEBIH, TAPI KECENDERUNGANNYA MALAH KERAP TERJADI KELANGKAAN DI PASARAN. BAGAIMANA MENGANTISIPASI MASALAH SEPERTI INI?
Sebenarnya, masalah itu terkait pendistribusian. Dan hal tersebut bukan wilayah tugas kami, melainkan wewenang tim pengamanan distribusi dari Departemen Perdagangan yang diketuai Dirjen Perdagangan Luar Negeri. Kendati begitu, tim kami juga bekerja sama dengan mereka dengan mengadakan koordinasi dalam hal pendistribusian. Selain itu, kami juga perlu menganjurkan kepada masyarakat agar seyogianya mereka tidak berbelanja mendekati hari H Lebaran.

ALASANNYA?
Kecenderungan yang kerap terjadi jika berbelanja ramai-ramai mendekati hari H, biasanya akan berdampak terhadap kenaikan harga. Dan itu bukan karena pihak industri yang menaikkan, tapi para pedagang yang memanfaatkan momentum—di kala permintaan tiba-tiba meningkat—untuk mencari keuntungan yang lebih besar. Pada situasi seperti itu, tak tertutup kemungkinan barang-barang di pasaran sudah habis terjual, sementara permintaan konsumen masih besar sehingga bisa saja terjadi gangguan terhadap arus pasokan barang dari produsen.

LAZIMNYA, SEBERAPA BESAR SIH LONJAKAN PERMINTAAN MENJELANG LEBARAN?
Kenaikannya sekitar 15% hingga 25%. Intinya, kami sebagai produsen memiliki prinsip bahwa menjelang Lebaran harus bisa menjual produk sebanyak-banyaknya. Untuk itu, kalau perlu, kami bahkan memberikan sejumlah diskon. Boleh dibilang, hampir semua industri polanya seperti itu.

PRODUK MAKANAN APA SAJA YANG PERMINTAANNYA AKAN MELONJAK?
Kebutuhan pokok yang permintaannya akan meningkat, lazimnya adalah daging ayam, daging sapi, dan telur. Jadi, wajar jika harganya juga akan meningkat. Bila kenaikannya masih dalam batas toleransi, sebesar 10% hingga 20%, sebenarnya masih bisa dimaklumi. Berbeda dengan beberapa kebutuhan pokok lainnya, seperti cabai yang harganya bisa naik hingga 300%.

BAGAIMANA DENGAN PRODUK
MAKANAN OLAHAN?
Stoknya juga masih mencukupi. Mendekati Lebaran biasanya permintaan sirop, makanan kaleng, kue, biskuit, roti, dan makanan olahan lainnya juga akan naik sekitar 20%.

UNTUK MENGANTISIPASI TINGGINYA PERMINTAAN, APA YANG DILAKUKAN
OLEH GAPMMI?
Kami meningkatkan kapasitas produksi 20% hingga 25%. Tujuannya untuk mengantisipasi libur panjang karena mulai 18 Oktober atau minus 7 hari sebelum hari H, biasanya sejumlah perusahaan sudah meliburkan karyawannya sampai akhir bulan. Jadi, ada libur lebih dari dua minggu. Nah, supaya tidak terjadi kekurangan stok, seyogianya produksi barang sudah digenjot sejak Agustus lalu. Saat ini, barang itu sudah masuk ke distributor dan siap dipasok ke sejumlah retail.

JIKA DIBANDINGKAN DENGAN LEBARAN TAHUN LALU, BAGAIMANA PERMINTAAN KEBUTUHAN MENJELANG LEBARAN TAHUN INI?
Menurut saya agak sepi ya. Biasanya setiap menjelang Lebaran, ditambah hari Natal dan tahun baru, orang kerap menyimpan stok makanan dan minuman kaleng untuk dijadikan parcel. Karena pemerintah sudah mengimbau agar masyarakat tidak lagi mengirim parcel kepada kerabat atau koleganya, kenaikan permintaan pada tahun ini jadi tidak terlalu signifikan.

MENYANGKUT KENDALA YANG MUNGKIN TERJADI PADA JALUR DISTRIBUSI, LANGKAH APA SAJA YANG AKAN DILAKUKAN TIM PENGAMANAN?
Begini. Sebenarnya pula, pemerintah melalui Departemen Perhubungan juga telah membentuk Tim Pengamanan Lalu Lintas Jalan Raya. Tim yang diketuai oleh Menteri Perhubungan ini bertugas mengatur kelancaran kendaraan yang mengangkut kebutuhan makanan menjelang dan setelah Lebaran. Terutama pada H -7 sampai H +5, jalan raya protokol biasanya akan ditutup untuk truk umum, tapi khusus untuk truk pengangkut sembako masih diperbolehkan.

LALU, BAGAIMANA DENGAN JALUR PENDISTRIBUSIAN DI WILAYAH JAWA TIMUR YANG SAAT INI TERKENDALA OLEH GENANGAN LUMPUR LAPINDO?
Memang saat ini Jawa Timur sedang dilanda bencana lumpur panas Lapindo. Seyogianya kita masih harus bersyukur, sebab Ramadan dan Lebaran tahun ini jadwalnya lebih maju dibandingkan dengan tahun-tahun kemarin yang waktunya berada di pengujung tahun.

MAKSUDNYA?
Biasanya, seperti pada bulan Desember, negeri ini masih musim hujan yang diikuti bencana banjir dan longsor sehingga pendistribusian kerap terganggu. Tapi tahun ini, jalur pendistribusian dari dan ke wilayah Jawa Timur hanya terkendala oleh lumpur Lapindo saja. Dan secara nasional, itu tidak ada masalah. Sebabnya pula, pendistribusian bisa dilakukan melalui jalur lain.

SECARA UMUM, APA SAJA KENDALA
YANG DIHADAPI PENGUSAHA MAKANAN DAN MINUMAN DI TAHUN INI?
Pasar makanan dan minuman di Indonesia sangat besar. Karena itu, terutama di saat menjelang Lebaran, banyak produk dari negara tetangga seperti Malaysia juga dipasarkan ke Indonesia. Yang jadi persoalan, barang-barang impor ini kerap masuk ke sini tanpa memiliki izin dari pemerintah Indonesia, misalnya dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Kalau mereka sudah mengantongi izin BPOM sebenarnya oke-oke saja. Kalau tidak, pemerintah juga harus adil. Sebab, momentum Lebaran adalah kesempatan buat pengusaha dan pedagang memperoleh untung yang lebih.

TERKAIT DENGAN HAL ITU, APA YANG HARUS DILAKUKAN PEMERINTAH?
Pada intinya, produk asing boleh saja masuk, asal mengikuti prosedur. Di antaranya, mereka harus membayar bea masuk, pajak, dan memiliki izin edar layaknya yang dilakukan pengusaha kita di negara lain. Kalau itu dilakukan, no problem. Soalnya, kerap produk asing yang masuk tanpa prosedur resmi. Selain itu, produknya juga sudah kedaluwarsa, tentunya hal itu bisa mengancam kesehatan konsumen. Sudah seyogianya pemerintah—lewat instansi terkait seperti BPOM, Departemen Perdagangan, Departemen Pertanian, dan Departemen Perindustrian—mengadakan operasi pasar, serta sosialisasi kepada masyarakat agar berhati-hati. o

YANG PALING SIBUK DI BULAN RAMADAN

JIKA ditanya siapa yang paling sibuk menjelang Lebaran, boleh jadi, dia adalah Thomas Darmawan. Betapa tidak. Sebagai Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia, Thomas memiliki tugas dan tanggung jawab untuk mendorong para anggotanya mengamankan stok sekaligus pendistribusian berbagai kebutuhan pokok selama bulan suci ini.
Selain bekerja sama dengan pemerintah, pria yang kini berusia 55 tahun ini juga gencar melakukan kampanye barang-barang yang disediakan para anggota Gapmmi. Di antaranya menyelenggarakan ”Bazar Ramadan” yang dimulai sejak 28 September hingga 1 Oktober lalu. ”Bazar ini kami gelar di Departemen Perdagangan. Dalam waktu dekat, kami juga sudah berencana menggelar acara serupa di Pacitan, Jawa Timur,” katanya.
Sejatinya, menurut ayah satu orang anak ini, acara tersebut adalah hasil kerja sama Gapmmi dengan Kadin dan Korpri. ”Tujuannya, agar anggota Kadin bisa menjual langsung produk anggotanya kepada anggota Korpri dan masyarakat luas,” tuturnya. Selain sibuk di asosiasi, kesibukan lain suami Elisabeth Jonosewojo ini selama bulan Ramadan adalah menjadi narasumber di berbagai seminar dan diskusi. Topiknya, apa lagi jika bukan mengenai soal makanan dan minuman.
Di setiap acara tersebut, ia kerap menganjurkan para hadirin agar mengonsumsi makanan dan minuman yang sehat, terutama produk yang tidak mengandung lemak. Tentu ada alasannya. Rupanya hal itu berkait dengan kondisi tubuhnya. Perlu diketahui, bobot badan Thomas sekarang ini sudah mencapai lebih dari 80 kilogram. Padahal sebelumnya, berat badannya hanya sekitar 70 kilogram. ”Kalau kebanyakan mengonsumsi makanan berlemak, badan menjadi tidak sehat,” tuturnya. Bertambah berat karena mentang-mentang sebagai pengusaha makanan? o


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id