|
|
 |
|
”Kami Tidak dalam Posisi Bisa Menekan Pemerintah...”
Frans Satyaki Sunito, Dirut PT Jasa Marga:
|
|
| |
MINGGU lalu pemerintah menyetujui pembentukan perusahaan induk (holding) yang akan mengelola seluruh ruas jalan tol Trans Jawa (Jakarta-Solo) sepanjang 506 kilometer. Alasannya, agar pembangunan jalan tol tersebut dapat lebih cepat terealisasi. Nantinya, perusahaan induk ini diharapkan dapat menghimpun dana lebih cepat dan lebih besar. Targetnya jalan tol ini selesai dibangun pada 2009.
Tak kurang dari Direktur Utama PT Jasa Marga Frans Satyaki Sunito, pun menyambut baik langkah tersebut. Menurutnya, dengan adanya perusahaan induk ini, seyogianya akan mendorong kalangan investor makin tertarik bermain di sektor ini karena tingkat pengembalian modalnya akan lebih terjamin.
Maklum saja, pengalaman yang selama ini terjadi, kerap membuat kalangan pemodal gamang. Selain tingkat pengembalian modalnya terbilang lama, yakni mencapai 30 tahun, mereka juga masih dipusingkan oleh masalah pembebasan tanah. Mentang-mentang dibutuhkan, lazimnya para pemilik tanah jadi gemar menuntut ganti rugi seenak udelnya—bahkan bisa mencapai 10 kali lipat dari harga wajar.
Nah, seperti apa sebenarnya permasalahan terkini terkait dengan pembangunan jalan tol di Tanah Air, Kamis pekan kemarin, Frans Satyaki Sunito berkesempatan menjelaskannya kepada Tedy Gumilar dari TRUST. Berikut petikan wawancaranya:
APA YANG MENJADI PERMASALAHAN TERBESAR DALAM PEMBANGUNAN JALAN TOL SAAT INI?
Masalah yang paling krusial adalah pembebasan lahan. Sampai saat ini masih banyak masyarakat yang belum mengetahui bahwa jalan tol merupakan jaringan jalan milik pemerintah. Jadi kalau ada pembangunan jalan tol, sebenarnya itu dalam rangka melengkapi jaringan jalan pemerintah. Dengan begitu, pembebasan tanah untuk jalan tol adalah pembebasan tanah untuk infrastruktur publik. Jasa Marga hanya berperan sebagai operator.
LALU, SEPERTI APA KENDALA YANG KERAP TERJADI DALAM PEMBEBASAN LAHAN ITU?
Kendalanya, pemilik tanah acap meminta ganti rugi sesuka hati. Kasus yang sering terjadi adalah ketika muncul informasi tentang rencana pembangunan jalan tol di suatu daerah, harga tanah di sana yang tadinya hanya Rp 1 juta per meter persegi, tapi para pemiliknya tiba-tiba minta (ganti rugi) sampai Rp 10 juta. Oleh karena itu, apakah pemerintah harus tidak jadi membangun jalan hanya gara-gara harga tanah yang berlebihan, ditambah lagi oleh ulah para spekulan yang memainkan harga?
PANTAS, KARENA ITU BANYAK INVESTOR
YANG MENGELUH…
Masalah ini memang menimbulkan kekhawatiran di pihak investor, termasuk Jasa Marga. Makanya, kami berharap masalah ini bisa dihadapi lebih tegas. Pemerintah bisa saja bikin jalan tol dengan uang negara, tapi anggaran dalam APBN kan terbatas. Sementara infrastruktur mutlak harus dibangun. Oleh karena itu, pemerintah membutuhkan dukungan investasi dari investor. Tapi investor perlu jaminan pengembalian modal yang wajar dan kenyamanan dalam berinvestasi, sehingga risiko-risiko yang mungkin terjadi tidak terlalu besar.
ADA UPAYA YANG DILAKUKAN JASA MARGA UNTUK MENEKAN PEMERINTAH AGAR MENYELESAIKAN MASALAH INI?
Kami tidak dalam posisi bisa menekan pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini. Kami hanya bisa mengimbau dan mengusulkan cara-cara yang mungkin lebih baik. Ada dua kebijakan pemerintah yang bagus dari segi keamanan bagi investor. Pertama, pemerintah sudah menyiapkan dana talangan bergulir. Artinya, untuk pembebasan lahan akan didanai dulu oleh pemerintah, setelah selesai baru uang tersebut diganti oleh investor.
YANG KEDUA?
Pemerintah sudah menyetujui kebijakan land capping, yaitu batas atas harga tanah. Jika ternyata ada kelebihan, maka sisanya ditanggung oleh pemerintah. Soal berapa batas atas ini, memang masih dibahas. Kalau kami mengusulkan 10% di atas harga pasarannya.
KALAU BEGITU RISIKONYA ADA
DI TANGAN PEMERINTAH?
Ini kan proyek pemerintah. Bila pemerintah tidak mau mengambil risiko, jangan membangun negara. Risiko yang seharusnya dipikul pemerintah, seyogianya janganlah investor yang harus menanggung. Kalau semua risiko, terutama pembebasan lahan yang di luar kendali, diserahkan kepada investor, ya (mereka) tidak akan ada yang mau.
UNTUK RASIO SAMPAI SAAT INI, BERAPA SIH NILAI INVESTASI JALAN TOL YANG WAJAR?
Investasi per kilometer untuk jalan tol sangat bervariasi, antara Rp 40 miliar-150 miliar. Variasi ini dipengaruhi kontur tanah dan jalurnya. Kalau jalan tol dibangun di atas permukaan tanah maka investasinya bisa murah, tapi kalau elevated (melayang), investasinya bisa mencapai Rp 150 miliar.
MENGAPA SAAT INI PERBANKAN
TAMPAK BERNAFSU MEMBIAYAI PEMBANGUNAN JALAN TOL?
Uang yang ada di bank sekarang ini banyak sekali. Beberapa bulan lalu, saya mendengar uang yang ditempatkan di SBI mencapai Rp 200 triliun. Itu terjadi karena perbankan tidak melihat ada proyek yang memiliki kelayakan finansial yang bisa didanainya. Nah, kini proyek-proyek pembangunan jalan tol termasuk bisnis yang menggiurkan buat perbankan.
ADA BANK YANG BERMINAT MENDANAI PROYEK JALAN TOL JASA MARGA?
Hari ini (Kamis, 28 Juni), Jasa Marga sudah mendapat komitmen pendanaan dari tiga bank BUMN, yakni Bank Mandiri, BNI, dan BRI, yang totalnya sebesar Rp 7 triliun. Komitmen itu untuk pembangunan ruas jalan tol Semarang-Solo sepanjang 76 kilometer, Gempol-Pasuruan 32 kilometer, dan Bogor Outer Ring Road dengan panjang 11 kilometer. Saat ini pemerintah sedang menyelesaikan pembebasan lahannya. Sedangkan kami sudah menyelesaikan desainnya. Harapan kami, pembangunan fisiknya sudah bisa dimulai akhir tahun ini, atau paling lambat pada awal tahun depan. Tapi sekali lagi, semua ini tergantung proses pembebasan lahannya.
BAGAIMANA PERKEMBANGAN TERAKHIR RENCANA IPO JASA MARGA?
Izin dari DPR belum lama kami peroleh, tapi persiapan IPO tidak bisa grasak-grusuk. Semua persiapan sudah jalan, lembaga-lembaga penunjang sudah bekerja. Kami sudah full speed ke arah itu. Perkiraan saya, sekitar akhir September. Maksimum kami akan melepas 30% saham. Harapannya, dari IPO ini kami bisa mendapat dana lebih dari Rp 5 triliun.
DANA SEBESAR ITU AKAN DIGUNAKAN
UNTUK APA?
Ya untuk pembangunan tiga ruas tol yang saya sebutkan tadi. Saat ini kami sedang mengikuti tender proyek pembangunan Jakarta Outer Ring Road 2 (JORR 2). Jika menang, dana IPO ini juga akan kami gunakan untuk proyek pembangunan JORR 2 sepanjang kurang lebih 25 kilometer. Perkiraan investasinya sekitar Rp 2 triliun-Rp 2,5 triliun.
TARGETNYA KAPAN PROYEK JORR 2
MULAI DIKERJAKAN?
Saya belum tahu, sebab pemenang tendernya juga belum ketahuan. Saya berharap bisa diumumkan sebelum IPO Jasa Marga, dan kami ditunjuk oleh pemerintah untuk melaksanakan proyek tersebut, sehingga valuasi perusahaan bisa naik. Efeknya, Jasa Marga bisa mendapat dana segar lebih banyak. Untuk pembebasan lahannya, saya kira sudah bisa dilakukan awal 2008, dan pembangunan fisiknya diharapkan bisa dimulai pertengahan tahun depan.
KOK MASIH ADA PROYEK PEMBANGUNAN TOL YANG TERHAMBAT?
Memang, yakni proyek Jakarta Outer Ring Road (JORR). Proyek ini terhambat dan sempat tertunda dua tahun lebih karena, ya itu tadi, urusan pembebasan lahan di daerah Cikunir di ruas E1 seksi 4. Namun sejak banyak pihak turun tangan, termasuk Sofyan Djalil (Menneg BUMN), sebulan lalu persoalan ini sudah bisa diselesaikan. Sekarang kami lembur siang dan malam untuk menyelesaikan pembangunan fisiknya. Insya Allah, Agustus ini JORR sudah bisa dioperasikan. JORR ini, yang membentang dari Cilincing hingga ke Ulu Jami sepanjang 45 kilometer, diharapkan bisa mengurangi kemacetan yang acap kali terjadi di ruas tol dalam kota.
SELAIN JORR JALAN TOL MANA LAGI
YANG BERMASALAH?
Jalan Tol Surabaya-Gempol sepanjang lima kilometer juga tidak bisa dioperasikan secara lancar lagi akibat luapan lumpur Lapindo. Pemerintah sudah berinisiatif melakukan relokasi jalur. Jalur baru sepanjang 11 kilometer rencananya akan dibuat memutar, menghindari daerah yang terkena lumpur Lapindo. Pemerintah saat ini sedang melakukan pembebasan lahan. Di luar dana pembebasan lahan, investasinya bisa mencapai Rp 500 miliar. Investasi ditambah biaya pembebasan lahan akan dibebankan ke Lapindo.
BERAPA KERUGIAN JASA MARGA AKIBAT TIDAK BEROPERASINYA RUAS TOL INI?
Kami kehilangan pendapatan sebesar Rp 60 juta per hari. Lihat saja, jika sampai sebulan ke depan tidak ada tanggapan juga, kami akan mengajukan tuntutan perdata.
RUAS TOL MANA SAJA YANG
MENYUMBANG PENDAPATAN PALING BESAR
BAGI JASA MARGA?
Yang pendapatannya paling besar adalah ruas tol Jakarta-Cikampek, yaitu Rp 1,34 miliar per hari. Sedangkan yang paling kecil adalah tol Semarang, sumbangannya hanya Rp 83,7 juta per hari. Jadi ada dua ruas tol yang masih disubsidi, yaitu tol Semarang dan Medan. Total pendapatan Jasa Marga per hari mencapai Rp 7 miliar. Sedangkan lalu-lintas yang paling ramai adalah tol dalam Kota Jakarta, yaitu 500 ribu kendaraan per hari. Yang paling sepi adalah tol Palikanci, Cirebon, yang hanya dilintasi 33,5 ribu kendaraan per hari.
EKSEKUTIF YANG GEMAR NGEBLUES
PRIA kelahiran Amsterdam, 9 Mei 1949, ini paling gemar ngeband. Sampai saat ini, terutama di kala senggang, nyatanya Frans Satyaki Sunito masih jua sempat memainkannya. ”Bagi saya bermain musik merupakan penyeimbang (menghadapi) kehidupan yang keras ini,” ujar Dirut Jasa Marga ini.
Bermain gitar dan meniup harmonika adalah keahliannya. Bersama sejumlah teman sekantor, bahkan ia sempat membentuk band S&R. Bisa dibilang, band-nya ini dikelola dengan serius, layaknya grup-grup yang dijalankan secara profesional. Kendati begitu, jika ada order manggung, Frans masih segan mengambil jatah honornya. ”Entahlah, nanti kalau sudah pensiun, mungkin (honor itu) akan saya ambil,” katanya.
Kelebihan grup band bentukannya itu, terutama jika membawakan musik beraliran blues, dentingan setiap instrumen yang dimainkan personel S&R terdengar begitu pas. Maklum saja, Frans memang sangat menggemari jenis musik ini. Salah satu idolanya adalah gitaris legendaris dunia Eric Clapton.
Karena itu pula, rupanya, bersama sejumlah teman-temannya ia tergolong antusias mendirikan Indonesian Blues Associations, perkumpulan pencinta dan pemusik blues di Tanah Air. Bahkan, rencananya, pada 5 Juli mendatang, band-nya akan manggung di acara ”Indonesian Blues Associations” yang digelar di Hotel Marriott.
Selain musik, ayah tiga anak ini juga gemar berolahraga. Frans masih menyempatkan berenang tiga kali dalam seminggu. Kok tak bermain golf? Ia bahkan tak menyukai jenis olahraga yang kerap dimanfaatkan kalangan eksekutif untuk melancarkan kegiatan bisnisnya ini. Alasannya, ”Saya lebih percaya pada profesionalisme ketimbang lobi,” katanya, sambil tersenyum.
Berikan Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|