Jumat, 21 November 2008 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

”Bagi Kami Semuanya Adalah Pesaing”
Djunadi P. Satrio,Senior Manager Product Marketing, Sony Ericsson Indonesia:

 
BISNIS ponsel di negeri ini masih sangat menggiurkan. Hingga sekarang, penetrasi pasarnya baru mencapai 20%-25%. Dengan asumsi jumlah penduduk Indonesia sebanyak 250 juta, artinya, celah pasar masih begitu lebar. Tak salah jika sejumlah vendor—termasuk kalangan produsen ternama—bergegas menjaringnya. Beberapa di antaranya, bahkan menjadikan pasar di sini sebagai penopang utama penjualan.
Mereka bertarung hampir di semua lini. Di segmen low end misalnya, mereka tak segan-segan membombardir pasar dengan produk murah berteknologi mutakhir. Nyaris sepanjang tahun selalu muncul model baru.
Di antara riuh rendah persaingan itu, Nokia tetap berjaya sebagai penguasa pasar. Untuk mengimbangi kompetitor utama itu, rupanya, sejak dua tahun lalu, Sony Ericsson pun mulai agresif meluncurkan berbagai varian baru buat semua kalangan. Tampaknya berhasil. Dua produk andalannya, yakni walkmanphone (ponsel musik) dan cybershoot (ponsel kamera) berhasil memenuhi selera kebanyakan pasar di sini. Ponsel musiknya, misalnya, di pasar dunia berhasil terjual sebanyak 35 juta unit hanya dalam tempo dua tahun. Sementara cybershoot, hanya dalam satu kuartal terjual sebanyak 5 juta unit.

 Artikel Lain
”Saya Siap untuk Tidak Populer”
”Kita Tahu Ikan Dicuri, Kalau Ada yang Ketangkap”
”Mereka Terbukti Melanggar”
”Bagi Kami Semuanya Adalah Pesaing”
”Kami Perlu Memahami Karakter Bangsa Ini…”
”Saya Memang Mau Cari Masalah”
”Kami Berani Melakukan Cut Loss”
”Polisi hanya Mencari-cari Kesalahan…”
”Mendisiplinkan Belanja, Memang Berat”
”Kalau Memang Ada yang Mau, Silakan Ambil”
Nah, bagaimana langkah Sony Ericsson berikutnya dalam menyikapi iklim persaingan yang cenderung makin memanas? Beberapa waktu lalu, Djunadi P. Satrio membeberkannya secara panjang lebar kepada Diah Amelia dari TRUST. Berikut petikannya:

SONY ERICSSON DISEBUT-SEBUT SEBAGAI VENDOR PALING AGRESIF MENGUBAH PENAMPILANNYA. BISA DIJELASKAN?
Kami memang mengalami perubahan yang drastis. Dari sisi penampilan, dulu kesannya lebih ke arah korporat dengan warna dominasi hitam, abu-abu, dan putih. Sekarang, seperti yang Anda lihat, kami jauh lebih colourful.

DARI PERUBAHAN ITU, APA TARGET
YANG DICAPAI?
Kami hendak menempatkan diri sebagai brand yang muda (young), dinamis, dan dapat dinikmati semua orang. Pesan akhir dari perubahan itu, kami berharap bisa diterima di semua segmen pasar.

PERUBAHAN TERSEBUT KARENA
TUNTUTAN PASAR, ATAU …
Kami melihat feedback dari konsumen. Konsumen kami yang dulu adalah yang berjiwa muda, tapi tidak aksesibel dan terlalu serius sehingga tercipta semacam jarak antara kami dengan mereka (konsumen). Ada semacam jurang antara produk yang kami produksi dengan konsumen yang akan membeli. Kemudian kami merevolusinya. Kami menampilkan banyak pilihan baru dengan corak yang lebih atraktif dan penuh warna. Sampai tahun lalu kami baru memiliki enam varian, sekarang sudah ada lima belas yang kami perkenalkan ke pasar.

MENGAPA HARUS MUDA?
Sebenarnya semua orang bisa menikmati produk-produk Sony Ericsson. Tapi kalau segmentasi dilihat dari sisi umur, maka yang paling berpotensi adalah yang muda. Seperti anak baru gede atau mereka yang baru punya uang untuk beli handphone dan suka tampil gaya adalah fokus pemasaran kami. Ada semacam prinsip ”semakin muda segmen yang dibidik semakin bagus untuk masa depan perusahaan”. Ini bukan hanya berlaku pada kami, juga produsen lainnya. Kendati begitu, peminat yang berusia 50 tahun ke atas tetap kami pertahankan.

BENAR, KARAKTER PASAR DI SINI CENDERUNG SUKA MENGGANTI-GANTI HANDPHONE?
Konsumen di sini memang berperilaku seperti itu. Tingkat pergantiannya sangat tinggi, bahkan lebih tinggi dari rata-rata dunia. Di luar negeri, biasanya butuh 1,5 sampai 2 tahun baru ganti handphone. Bahkan di beberapa negara maju, ketika handphone dijual bersama layanan operator, tingkat pergantiannya lebih rendah lagi: empat tahun sekali. Bandingkan dengan di Indonesia, siklusnya hanya 6 bulan-1,5 tahun.

SITUASI INI SANGAT MENYENANGKAN DONG?
Soal demand, Indonesia memang masih sangat tinggi. Bagi kami kondisi ini tentu saja menguntungkan. Bayangkan, selalu ada permintaan handphone baru setelah 6 bulan-1,5 tahun. Tapi bukan berarti tidak ada konsekuensi: umur handphone menjadi lebih pendek. Artinya, kami harus terus bereksperimen dan mengeluarkan produk baru untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Jika tak mampu menyesuaikan diri, ya akan ditinggal konsumen.

BAGAIMANA DENGAN MARKET SHARE
SONY ERICSSON DI INDONESIA?
Cukup besar, sekarang sekitar 20%.

BAGAIMANA PETA PERSAINGANNYA?
Saya tidak tahu persis. Bagi kami, bisa menguasai 35%-40% saja sudah sangat bagus. Untuk mencapainya memang tidak mudah. Selain harus berebut dengan kompetitor yang sudah ada, kami juga menghadapi serbuan produk dari Cina, Taiwan, dan Korea. Produk mereka tak hanya inovatif, juga murah. Saya pernah mendapati handphone baru yang memiliki fasilitas TV dengan harga hanya Rp 1,8 juta. Terus terang, kami takjub.

BUKANKAH PRODUK SONY ERICSSON BERADA DI LEVEL
YANG BERBEDA?
Level kompetisi memang tidak sama, tapi bagi kami semuanya adalah pesaing. Karena produk ini sedemikian dinamisnya, yang sekarang masih in, dalam dua bulan lagi bisa saja sudah basi. Tantangannya, bisa tidak kami mengkreasikan produk baru, dan berinovasi mengikuti perubahan selera pasar. Sementara di saat yang sama selalu ada barang baru dengan teknologi yang lebih maju.

DI MANA LETAK KEUNGGULAN SONY ERICSSON?
Sony Ericsson punya kekuatan dari penggabungan dua perusahaan induk. Ericsson pada 1890-an sudah memproduksi alat-alat telekomunikasi, dan seabad kemudian peningkatannya menjadi tanpa kabel. Sementara Sony terkenal sebagai produsen alat-alat elektronik audio visual yang sudah tak diragukan lagi mutunya. Sehingga, ketika kedua kemampuan itu digabungkan, kami punya kekuatan yang tidak dimiliki perusahaan lain. Contoh sinergi itu adalah walkmanphone.

BAGAIMANA ANGKA PENJUALAN PRODUK UNGGULAN INI (WALKMANPHONE-RED)?
Hingga saat ini, sudah 35 juta ponsel musik yang terjual di seluruh dunia. Untuk produk yang baru diluncurkan 2 tahun lalu (2005), pencapaian tersebut luar biasa. Apalagi, dari 2005 sampai 2006, angka penjualannya baru 20 juta. Pertumbuhan pasar yang mencapai 15 juta dalam satu semester, bagi kami, termasuk signifikan.

SELAIN PONSEL MUSIK, APALAGI?
Produk cybershoot. Teknologi yang digunakan adalah yang biasa dipakai kamera Sony. Kamera mereka sangat terkenal dengan ketajaman gambarnya dan penggunaan yang mudah. Nah fitur-fitur itu kami ambil, kemudian dipasangkan di handphone. Hasilnya, luar biasa sukses. Dalam satu kuartal saja kami bisa menjual lebih 5 juta unit ponsel cybershoot di seluruh dunia. Padahal, waktu itu baru dua model saja yang kami perkenalkan.

DI INDONESIA, PRODUK MANA YANG TINGKAT PENJUALANNYA PALING TINGGI?
Pastinya walkmanphone. Karena dari sisi model lebih banyak pilihan. Sampai saat ini, untuk ponsel musik sudah ada sekitar 13 model, sementara cybershoot baru menanti kelahiran model yang keempat.

MELIHAT PENCAPAIAN TERSEBUT,
KE DEPANNYA SONY ERICSSON AKAN FOKUS DI DUA TEKNOLOGI ITU?
Tentu tidak. Karena prestasi itu, kami tak lantas hanya bermain di musik dan foto. Kami juga menciptakan ponsel untuk kalangan bisnis dengan fungsi organisasi, baca email, dan lain sebagainya (smartphone).

JADI, AREA MANA SAJA YANG AKAN MENJADI FOKUS SONY ERICSSON?
Kami fokus di empat area. Selain di segmen ponsel musik, kamera, dan bisnis, juga memasarkan ponsel-ponsel yang sifatnya sosialita. Kalau datang ke gerai Sony Ericsson, masing-masing produk sudah terbagi ke dalam kategori-kategori itu.

BAGAIMANA PENJUALANNYA DI INDONESIA?
Sony Ericsson Indonesia adalah kantor perwakilan (representative office). Kami tak melakukan penjualan. Yang melakukan penjualan ada tiga perusahaan distributor. Mereka mengimpor barang dari Sony Ericsson Singapura. Mereka mengaku sangat gembira dengan laju penjualan produk Sony Ericsson. Jadi, dari tahun ke tahun, bisa saya katakan ada pertumbuhan yang positif.
PARA DISTRIBUTOR ITU DIBEBANI
TARGET PENJUALAN?
Kami tidak memberikan target pada mereka. Sebab merekalah yang lebih tahu kondisi pasar. Kalau ada permintaan mereka akan order. Sifatnya trading company. Kalau kami bilang harus terjual sekian juta unit, maka akan sulit juga bagi mereka.

SAAT INI, BANYAK PRODUSEN PONSEL BEKERJA SAMA DENGAN RUMAH MODE. SONY ERICSSON TERTARIK MENGIKUTI LANGKAH ITU?
Belum ada pernyataan untuk melakukan kerja sama dengan merek-merek fashion terkenal. Kemungkinan untuk itu akan selalu ada. Apalagi jika dipandang positif oleh konsumen.

APA KENDALA MENJALANKAN BISNIS INI
DI INDONESIA?
Bagi saya tantangan terbesar adalah kondisi Indonesia itu sendiri. Indonesia memang sangat luas, tapi terdiri dari banyak kepulauan. Nah, akses ke pulau atau daerah-daerah terpencil itu sulit. Artinya kami punya persoalan distribusi. Itulah yang menyebabkan pertumbuhan bisnis ini tidak secepat yang kami perkirakan. Di Malaysia, yang luasnya terbatas, kami bisa mengirim barang hanya 4-5 jam. Cukup dengan kendaraan darat, tak perlu pesawat.
LALU, APAKAH SONY ERICSSON
MASIH MEMANDANG INDONESIA SEBAGAI PASAR YANG CUKUP PENTING?
Bukan cukup, tapi sangat penting. Indonesia, seingat saya, adalah pasar kelima terbesar di dunia, khususnya untuk Sony Ericsson. Penetrasi telekomunikasi di Indonesia baru sekitar 20%-25% dari 250 juta orang. Artinya, baru 50-60 juta orang yang mempunyai akses telekomunikasi. Masih banyak ruang untuk terus bertumbuh.

BAGI PASAR INDONESIA, APAKAH HANDPHONE MURAH MASIH MENJADI PRIMADONA?
Konsumen Indonesia itu ada berbagai level. Kalau mau dilihat, gampangnya seperti piramida. Di bagian paling atas ada konsumen berkantong tebal. Mereka tidak rewel terhadap harga. Kendati jumlahnya kecil, bagi kami mereka tetap penting. Di bagian bawah, ada golongan yang jumlahnya sangat besar, tapi dana yang dibelanjakan terbatas.

KECENDERUNGANNYA, BAGAIMANA KARAKTER KONSUMEN SEPERTI ITU?
Mereka sensitif terhadap harga. Dengan kata lain jenis ponsel yang bisa mereka beli, model dan harganya lebih murah. Dan biasanya tingkat pendidikannya terbatas. Sehingga, jika mereka ditawarkan ponsel berfitur email, malah balik bertanya; email itu opo. Mubazir rasanya fitur-fitur itu. Ponsel yang mereka cari cukup untuk kirim SMS dan menelepon, tapi terlihat modis dan gaul. 

GAUL, PROFESIONAL, DAN SEDERHANA

JABATAN boleh saja mentereng, tapi urusan penampilan bagi Djunadi P. Satrio bisa jadi lain. Senior Manager Product Marketing Sony Ericsson Indonesia ini merasa lebih nyaman dengan busana ”seadanya”. Terutama jika tak ada acara resmi, ia lebih gemar mengenakan kaus dan sepatu skets sebagai pakaian dinas.
Meski berusaha tampil muda dan gaul—seperti segmen utama produk yang ditanganinya—tetap saja ia tak bisa menyembunyikan jati dirinya. Ketika obrolan masuk ke urusan kerja, pria kelahiran Solo pada tahun 1970 ini tiba-tiba saja tampak serius. Kesan seadanya yang ditampilkan lewat kaus dan sepatu skets pun seketika luruh.
Di perusahaan patungan Jepang (Sony Corporation) dan Swedia (Telefonaktiebolaget LM Ericsson) ini, Djunadi masyhur sebagai eksekutif berprestasi. Ia dikenal sebagai superstar di 3 different occasions in Sony Ericsson Regional Evaluation. Sejumlah produk yang ditanganinya meraih awards dan menyandang status best seller.
Sebelum terdampar di Sony Ericsson, satu setengah tahun lalu, sarjana teknik sipil universitas Trisakti dan pemegang gelar master dari Universitas Virginia (USA) ini, sudah malang melintang di banyak perusahaan. Di antaranya American Express TRS, Pfizer, dan Alkermes. ”Bisa dibilang saya sudah mencoba berbagai bidang, mulai dari rokok, farmasi, kartu kredit, dan lainnya,” tuturnya.
Di luar urusan kerja, ia menyenangi traveling ke berbagai belahan dunia. Lebih dari 40 negara sudah disambanginya. Hobi mahal? Ups, anggapan itu keliru. Meski menyandang banyak prestasi dan sukses secara materi, ia tetap pada pola hidup lamanya: sederhana. Untuk jalan-jalan ke luar negeri ia menargetkan pengeluaran paling banyak hanya US$ 5 dalam sehari. ”Jika tidak ada kaitannya dengan urusan kerja, maka dalam berpetualang saya akan memegang prinsip itu secara keras,” katanya. 


Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id