|
|
 |
|
Menjaring Rezeki di Langit
|
| Eko Edhi Caroko dan Tedy Gumilar |
| |
TERBANG dengan pesawat udara, bukan lagi hal yang luar biasa. Tapi terbang dengan balon udara, niscaya akan memberikan sensasi tersendiri. Bagaimana tidak. Melihat pemandangan dari ketinggian 100 meter, patut digolongkan sebagai pengalaman nan unik. Di sana kita tak hanya merasakan sejuknya terpaan angin yang berembus, tapi juga bisa menyapa burung-burung yang tengah melayang.
Dan tamasya udara seperti itu, kini bukan lagi sekadar imajinasi seperti yang digambarkan dalam film-film. Tapi, sesuatu yang benar-benar bisa dinikmati secara nyata. Tak percaya? Coba saja tengok jasa yang ditawarkan oleh PT Adi Wahana Angkasa Nusantara (AWAN). Perusahaan ini telah merintis bisnis wisata tergolong baru, yakni terbang dengan balon udara, sejak tahun lalu.
Bila berminat, kita akan diajak terbang berkeliling kota dengan balon udara selama lebih dari satu jam. Tentunya, melihat pemandangan kota dari atas langit akan lebih mengasyikkan. Semuanya akan tampak lebih detail. Menariknya pula, setelah usai berwisata, kita akan dijamu, plus bersulang dengan champagne. Untuk menikmati semua itu, setiap penumpang dikenakan biaya US$ 300.
Untuk diketahui, acara bersulang itu merupakan tradisi yang sudah berlangsung sejak 1783—ketika balon udara berhasil dibuat pertama kali oleh Montgolfier bersaudara, yakni dua orang warga negara Prancis. Saat pertama kali mengudara, orang-orang mengira bahwa balon udara itu adalah piring terbang alias UFO. Oleh karena itu, ketika mendarat, mereka pun menghancurkan si balon. Nah, agar peristiwa salah sangka itu tak terulang lagi, Montgolfier bersaudara pun mengajak para penduduk itu bersulang dengan champagne.
Masalahnya, penduduk di sini ada yang tidak suka minuman beralkohol. Kendati begitu, janganlah khawatir dulu, mereka tetap berpeluang mengikuti tradisi bersejarah itu. Caranya, ”Yang tidak suka minuman beralkohol, akan kami ganti dengan minuman lain,” kata Rizky Arbali, Presdir AWAN.
Bila melihat tarif yang dipatok, tampaknya paket wisata ini hanya pantas ditawarkan kepada kalangan berduit. Tak salah. Nyatanya, konsumen yang dibidik oleh perusahaan ini memang dari segmen kalangan atas. Di antaranya wisatawan mancanegara yang haus menikmati berbagai hal unik yang ada negeri ini. Selain itu, juga kalangan perusahaan yang berminat memanfaatkan moda angkutan ini untuk beriklan.
Dan nyatanya, potensi ke arah sana memang sudah tampak. Menurut Rizky, sampai saat ini sudah ada sejumlah perusahaan yang berminat menggunakan jasanya untuk beriklan. Malah, pihak AWAN telah menyiapkan sejumlah event yang akan digelar di Jakarta dan Bali mulai Juni mendatang. ”Tujuannya agar masyarakat makin mengenal bisnis yang kami jalankan ini,” kata Rizky.
Selain itu, peluangnya dari lima juta turis asing yang berkunjung ke sini setiap tahun. Tak tertutup kemungkinan, AWAN menyediakan paket petualangan bagi mereka ke sejumlah daerah yang memiliki situs-situs wisata nan eksklusif. ”Bisa menjaring 2%-nya saja, sudah lumayan,” tambah Rizky.
Untuk mendukung kegiatan tersebut, saat ini AWAN telah menyiapkan dua unit balon udara yang mampu mengangkut empat penumpang, plus seorang pilot. Harga tiap unit balon ini US$ 50 ribu. Jika kelak mulai dioperasikan, berdasarkan hitung-hitungan di atas kertas, dalam sehari bisnis ini akan menghasilkan fulus sekitar US$ 7.200, setara dengan Rp 64,8 juta. Pendapatan sebesar itu baru dipetik dari penumpang saja.
Dari omzet sebesar itu, keuntungan bersih yang akan diperoleh pengelolanya bisa mencapai Rp 10 juta. Artinya hanya dalam waktu kurang dari enam bulan, modal yang telah dikeluarkan untuk usaha ini sudah dapat kembali. Dan keuntungan yang dipetik akan berlipat lagi, bila si pengelola berhasil memasarkan paket-paket iklan, yang setiap paketnya dipatok Rp 40 juta untuk durasi penerbangan selama tiga jam.
AGAR LANCAR, JUGA DIPERLUKAN JASA PAWANG HUJAN
Menyelenggarakan paket wisata dengan balon udara di Indonesia, tampaknya memiliki prospek yang cerah. Sebagai negara tropis, negeri ini memiliki iklim yang amat mendukung ketimbang di negeri yang mengalami empat musim. Kecenderungan di sejumlah negara Eropa misalnya, penerbangan balon udara hanya dapat dilakukan selama 60 hari dalam setahun. ”Di sini bisa mencapai 200 hari,” kata Rizky.
Dan saat terbang yang paling mengasyikkan, lazimnya antara pukul 5 hingga 9 pagi, dan pukul 5 sore hingga 9 malam. Selain udaranya paling cerah, juga bila dipaksakan terbang pada pukul 10 pagi sampai 5 sore, si balon cenderung akan sulit didaratkan. Pasalnya, pada saat itu suhu udara tengah meningkat. ”Idealnya sih, setiap harinya rata-rata kami dapat melakukan tiga kali penerbangan,” ujar Rizky.
Bicara cuaca, tentu harus siap dengan risikonya. Hambatan klasiknya adalah cuaca buruk, seperti diguyur hujan. Bahkan, kendati hanya disiram gerimis, seyogianya penerbangan harus dibatalkan. Jika dipaksa pun akan sia-sia. Masalahnya, si balon akan sulit mengudara karena energi panas yang dibutuhkan terhambat oleh suhu udara rendah akibat mendung.
Kendati begitu, masih ada cara yang efektif untuk mengatasinya. Layaknya yang terjadi pada Desember tahun lalu saat balon AWAN berpartisipasi di sebuah acara yang digelar di Parkir Timur Senayan. Di luar dugaan, ketika itu hujan mengguyur deras. Si balon pun urung diterbangkan. Tapi, hal ini hanya berlangsung sebentar. Pasalnya si hujan tiba-tiba mereda. Udara pun kembali cerah, dan si balon akhirnya bisa mengudara.
Setelah dicermati, ternyata untuk menghentikan sang hujan, pihak AWAN memanfaatkan jasa seorang pawang—yang tak lain pegawainya sendiri. ”Demi memuaskan klien, mau tidak mau cara-cara tradisional ini harus dilakukan,” kata Rizky, sambil tersenyum.
Sebenarnya pula, jasa penerbangan balon udara di Indonesia, bisa dibilang agak terlambat. Di negeri jiran seperti Filipina dan Malaysia, bisnis serupa ini bahkan sudah lebih dulu berkembang. Di Filipina misalnya, setiap tahunnya selalu digelar festival balon udara tingkat dunia. Yang lebih dahsyat lagi festival di Albuquerque, New Mexico, Amerika. Seperti yang digelar pada Oktober tahun lalu, sekitar 700 balon udara dari berbagai negara tumplek di ”The Albuquerque International Balloon Fiesta”. Selama sepekan penyelenggaraan, festival ini berhasil mengeruk devisa hingga mencapai US$ 90 juta.
Nah, soalnya sekarang, bagaimana bisnis ini dijalankan? Selain modal yang cukup, dan memenuhi persyaratan teknis (baik dari aspek SDM, peralatan, maupun teknologi), juga harus mengantongi izin dari Departemen Perhubungan. Layaknya yang dimiliki AWAN, izin yang dikantonginya berupa penerbangan angkutan udara niaga tidak berjadwal—serupa yang dimiliki maskapai penerbangan carteran.
Maklum, izin khusus penerbangan balon udara memang belum ada di sini. ”Tampaknya pemerintah belum menganggap serius bisnis penerbangan balon udara,” ujar Rizky. Toh, pemainnya pun baru satu, ya PT Adi Wahana Angkasa. Ada yang mau menyusul?
Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|