Minggu, 14 Maret 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Musim Panen Golf Tiba
Para pengusaha lapangan golf mulai sibuk dengan kejuaraan golf bertaraf internasional. Puluhan miliar rupiah bakal dipanen ramai-ramai.

Lutfi Yusniar, Kelik Prakosa, Lucia Roida, dan Laily Nihayati
 
Bersamaan dengan kampanye pemilu, ternyata bisnis golf justru makin menggeliat keras. Buktinya, sejak tanggal 27 Februari 2004 berlangsung pertandingan golf bertaraf internasional di padang golf Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Bahkan mulai April hingga Desember 2004 akan digelar 13 kejuaraan serupa di 11 lapangan golf di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi.

Jelas, perkembangan ini menggembirakan. Sebab, sudah hampir setahun ini tak ada pertandingan golf bertaraf internasional. Padahal, biasanya terjadi 14 kejuaraan yang diikuti sekitar 120 orang pegolf. ”Diharapkan, pertandingan bertaraf internasional tahun ini bisa berdampak positif bagi bisnis golf di Indonesia,” kata Keke, pengurus Industri Golf Club sebagai sponsor kejuaraan internasional ini.

 Artikel Lain
Mengail Berkah dari Rumah Mungil
Hap... Cecak pun Menangkap Fulus
Berharap Menjaring Devisa dari Si Nila
Mengincar Rezeki di Pulau Dewata
Musim Panen Golf Tiba
Untung Besar dari Bisnis Sampingan
Manisnya Berbisnis Strawberry
Kedelai Jumbo di Pasar Jepang
Kusen Cor yang Ngetren
Biar daging ayam tak berkolesterol tinggi

Agaknya harapan ini tak berlebihan. Menurut perkiraan seorang pemerhati bisnis golf di Jakarta, uang yang berputar dari sekali pertandingan golf bertaraf internasional bisa mencapai Rp 10 miliar. Bahkan bila peserta dan penonton membeludak, omzet itu bisa sampai Rp 50 miliar. Uang ini disedot dari bayaran peserta, tiket penonton, makanan dan minuman, plus pendapatan dari berbagai fasilitas di golf club house, mulai dari jacuzzi, mandi sauna, hingga massage.

Tentu saja transaksi besar itu membuat para pengelola lapangan golf berlomba-lomba mengusahakan agar kejuaraan tersebut digelar di padang golf mereka. Namun, untuk 13 kejuaraan berikutnya sudah ada 11 pengelola padang golf yang beruntung mendapatkannya. Padang golf yang akan dipakai itu antara lain Bumi Serpong Damai, Bogor Raya Golf & Country Club, Imperial Golf & Country Club, Modern Golf & Country Club, Gunung Geulis Golf & Country Club, dan Jakarta Golf Club.

Padahal, menurut Lanny Purbo, juru bicara PT Sinar Kemala Intermetro Golf (pengelola Klub Golf Senayan), tanpa ada pertandingan golf internasional saja, pengelola lapangan golf bisa memperoleh pendapatan kotor yang rutin setiap bulannya sekitar Rp 2 miliar. Itu pun belum termasuk pendapatan dari bisnis makanan dan minuman, penjualan pro shop (gerai peralatan dan aksesori golf), dan driving range (tempat latihan golf).

Tak heran bila selama ini bisnis golf dianggap menggiurkan. Lapangan golf bertaburan di mana-mana. Di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi saja ada 40-an lapangan golf. Sedangkan di Indonesia ada 80-an lapangan golf. Banyaknya lapangan golf tentu menguntungkan para pegolf, yang kebanyakan suka berpindah tempat untuk menjajal berbagai lapangan.

ADU STRATEGI BISNIS
Alhasil, tak semua lapangan golf sukses. Sebagaimana bisnis hotel dan kafe, ada pula lapangan golf favorit dan paling ramai dikunjungi. Lapangan golf Pantai Indah Kapuk, misalnya. Saban hari, lapangan ini dikunjungi 100 orang dan sebanyak 200 orang pada akhir pekan. Pemain golf yang bukan anggota dikenakan fee Rp 295 ribu untuk sekali main.
Di Pondok Indah Golf, biasanya ada 200 orang yang datang bermain setiap hari. Pada akhir pekan, jumlah ini meningkat menjadi 300 orang. Fee untuk non-anggota sebesar Rp 590 ribu. Sementara di Klub Golf Senayan, tarif untuk non-anggota sebesar Rp 393 ribu. Demikian juga di Rancamaya, Bumi Serpong Damai, Emeralda Golf, dan Permata Sentul. Di tempat tersebut, fee untuk non-anggota antara Rp 300 ribu dan 500 ribu.

Agar dibanjiri pemain, para pengelola lapangan golf pun mengupayakan pelbagai kiat bisnis. Contohnya lapangan golf seluas 100 hektare di Permata Sentul Golf, yang dikembangkan oleh PT Putra Sentra Prasarana. Menurut General Manager-nya, Budi Kosasih, berbagai fasilitas lain juga ditawarkan sebagai ajang relaksasi dan refreshing. Ada club house, Albatros Lounge, dan Eagle Restaurant, serta ruangan khusus untuk salat berjemaah. Ada juga fitness center, lapangan tenis, sauna, massage, kolam renang, lapangan bola voli air, driving range, dan Jacuzzi, yang dapat digunakan oleh keluarga anggota secara gratis.

Sampai saat ini, anggota Permata Sentul Golf mencapai jumlah 1.100 orang. Mereka terdiri dari anggota corporate bertarif Rp 90 juta, anggota individu (Rp 101 juta), family (Rp 160 juta), dan remaja (Rp 20 juta). Setiap hari, sekitar 100 orang bermain golf di tempat itu. Pada Sabtu dan Minggu, jumlah pemainnya bisa mencapai 250 orang. Mereka dilayani oleh 230 caddy dan 160 golf car.

Contoh lapangan golf lainnya yakni Cengkareng Golf, yang dikelola oleh PT Sanggraha Daksamitra. Fasilitasnya hampir serupa dengan Permata Sentul. Yang membedakan hanya sistem dan tarif keanggotaannya. Di Cengkareng Golf ada tiga jenis keanggotaan, yakni perorangan (Rp 100 juta), perusahaan (Rp 105 juta), dan anggota berkelas emas (Rp 200 juta).

Meski demikian, kata General Manager Cengkareng Golf, Andrew Bowles, investasi lapangan golf ini—sejak tahun 1997 hingga sekarang—belum kembali. Sayang, Bowles enggan menyebutkan nilai investasi yang dimaksud berikut pendapatannya. Ia hanya menggambarkan bahwa biaya operasionalnya masih sekitar 60% dari pendapatan kotor setiap bulan.

GERAI JUGA KEBAGIAN
Tak hanya lapangan golf yang bakal memanen uang dari berbagai kejuaraan golf bertaraf internasional. Berbagai toko peralatan dan aksesori golf juga akan meraih untung besar. Contohnya Golf Houses, yang memiliki 49 gerai di 15 kota besar, di antaranya Jakarta, Surabaya, Semarang, dan Bandung.

Baru-baru ini, Golf Houses meluncurkan produk baru berupa Slingshot Iron dari Nike Golf. Produk ini dirancang untuk mewujudkan shifting center of gravity pada setiap stik yang digunakan. Dengan demikian, bola golf bisa melambung jauh dengan tenaga minimal. ”Dijamin, penggunanya, terutama peserta kejuaraan yang tengah berlangsung, akan merasakan kehebatan alat ini,” ujar Tom Stites, Direktur Product Creation di Nike Golf.

Kemunculan produk ini tampaknya kian mengukuhkan posisi Golf House, yang selama ini menguasai hampir 60% pasar golf di Indonesia. Toko peralatan dan aksesori golf ini memang acap menjajakan aneka produk bermerek top di dunia. Di sini, para penggemar golf serta sebanyak 6.000 pelanggan Golf House bisa memperoleh produk bermerek Mizuno, Adams, US Kid, Wilson, Callaway, Oddsee, Titleliest, Strata, dan Top Elite.

Bahkan, pekan lalu, Golf Houses juga meluncurkan beberapa item peralatan golf club merek Callaway. ”Produk ini merupakan peralatan golf yang unggul di pasar dunia,” ujar Yully P. Nugroho, Golf A&P Manager di Golf Houses. Sayang, Yully tak mau mengutarakan omzet dan pendapatan Golf House.
Bersamaan dengan itu, pengembang padang golf Pondok Indah juga mendirikan Golfer’s Place sejak Januari 2004. Nilai investasinya sekitar US$ 50 ribu atau Rp 430 juta. Meski baru berusia dua bulan, setiap hari gerai ini dikunjungi 10 orang sampai 20 orang. ”Nilai transaksinya mendekati angka Rp 10 juta setiap hari,” ujar Mawardi, Senior Staff Golfer’s Place di Mall Pondok Indah.

Yang juga mengerti betul tentang situasi panen bisnis golf adalah para pemain kategori ritel Mom’s and Pap’s—pasar tradisional—yang ada di sekitar 10 gerai di Jakarta. Contoh yang cukup punya nama adalah Raja Sport, Asia Sport, Proline Golf Center, dan Hari Bros. Untuk menarik minat konsumen, mereka juga berlomba-lomba memasang harga murah.

Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id