|
|
 |
|
Hap... Cecak pun Menangkap Fulus
Selain biawak, ular, dan jenis reptil lainnya, sebenarnya kebutuhan ekspor cecak lumayan tinggi. Paling tidak,
|
| Riza Sofyat, Wisnu Arto Subari, dan Hendra Gunawan |
| |
”Cecak-cecak di dinding, diam-diam merayap. Datang seekor nyamuk, hap... lalu ditangkap.” Lagu yang begitu populer di kalangan anak-anak ini juga menyiratkan bahwa cecak tak hanya asyik diamati karena tingkahnya yang lucu. Sejatinya cecak juga merupakan predator bagi serangga penyebar penyakit itu.
Jenis hewan melata ini memang banyak menyimpan manfaat bagi manusia. Yang terbaru, kini jenis reptil mini ini (Hemidactylus frenatus) mulai dikomersialisasikan. Nyatanya cecak mulai diburu, lalu diekspor ke sejumlah negara, di antaranya Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang.
Selain tergolong unik, bisnis ini juga cukup menarik dan menjanjikan. Pasokannya, antara lain, binatang melata ini banyak ditemui di alam Indonesia, terutama di setiap sudut dinding langit-langit rumah atau bangunan.
Sementara itu manfaatnya, selain sebagai predator serangga pengganggu, terutama di sejumlah negara importir, cecak juga dijadikan pakan bagi ular dan biawak yang diternakkan. Hewan ini juga bisa menyalurkan hobi kalangan kolektor hewan unik, serta sebagai sarana pendidikan bagi anak-anak untuk merangsang wawasannya mengenai dunia reptil.
Menurut eksportir reptil, Budiyanto Tasma, Direktur CV Terraria Indonesia, permintaan ekspor cecak untuk kebutuhan pakan ular dan biawak setiap tahun mencapai 100 ribu hingga 125 ribu ekor. Namun, karena terbentur kebijakan yang membatasi ekspor cecak, tak semua kebutuhan itu bisa dilayani. ”Pemerintah hanya memberi kuota ekspor sebanyak 80 ribu ekor,” tutur Budiyanto, yang mengelola bisnisnya di kawasan Parung, Kabupaten Bogor.
Dari kuota sebanyak itu, Budiyanto hanya kebagian jatah sebanyak 24 ribu ekor. Sisanya, dibagi kepada enam perusahaan eksportir lainnya. Padahal, jika perniagaan tersebut tak dibatasi, sebenarnya volume ekspornya bisa didongkrak lebih banyak lagi. Selama ini permintaan cecak terbesar datang dari Amerika Serikat, rata-rata sebanyak 6.000 ekor.
Untuk memenuhi jatah ekspor, kalangan eksportir memperoleh cecak dari para pemburu yang ada di sekitar tempat tinggalnya. Setiap ekor cecak biasanya dibelinya dengan harga Rp 150-Rp 250. ”Lumayanlah, masyarakat bisa mendapatkan penghasilan tambahan,” kata Budiyanto.
Untuk mencapai target sebanyak 6.000-7.000 cecak, biasanya dibutuhkan waktu tak lebih dari 3-4 hari. Sebab, jika lebih dari kurun waktu itu, dikhawatirkan cecak sebanyak itu akan rusak, seperti kulitnya terkelupas atau ekornya buntung. ”Kalau cecak rusak, ya tak laku diekspor,” ujar Budiyanto.
Sementara itu harga pasaran ekspor setiap cecak rata-rata Rp 1.500. Menariknya, harga ini merupakan pendapatan bersih yang dipetik pedagang. Sebab, seluruh ongkos pengiriman ditanggung si importir. Kalaupun ada ongkos yang harus ditanggung eksportir, itu hanya menyangkut biaya pengepakan dan pengiriman hingga ke bandara, yang besarnya Rp 200 per ekor. Jika hitungan ini benar adanya, artinya keuntungan yang dipetik oleh para pedagang dari setiap ekor cecak lebih dari Rp 1.000.
Dus, bisa dibayangkan, jika bisnis ini tak dibatasi kuota, niscaya keuntungan yang akan dipetik kalangan eksportir akan lebih besar lagi. ”Kalau tak dibatasi kuota, saya mampu meraup untung lebih besar,” kata Budiyanto.
Nah, agar bisnis cecak tetap menyenangkan, biasanya para pedagang menjalankannya sebagai usaha sampingan. Itu seperti yang dilakukan Budiyanto yang sudah menekuni bisnis inti mengekspor biawak dan ular piton sejak 1988. ”Dengan cara begini, untungnya jadi terasa besar,” katanya.
Hal yang nyaris serupa juga dilakukan oleh PT Firma Hasco, yaitu perusahaan eksportir reptil yang bercokol di kawasan Condet, Jakarta Timur. Bisnis inti perusahaan ini adalah perdagangan ular dan biawak plus usaha sampingan mengekspor cecak sebanyak 5.000 ekor setiap tahun.
Selain itu, Firma Hasco punya terobosan lain, yakni mengekspor cecak terbang (flying lizard). Bahkan, memperdagangkan reptil jenis ini boleh dibilang lebih menarik ketimbang cecak biasa, yakni harga jualnya yang lebih mahal, per ekornya bisa mencapai Rp 22.500. Lebih mahal juga berarti keuntungan yang dipetik para pedagang akan lebih besar lagi. Sebab, kata Rudi, Manajer Firma Hasco, seekor cecak terbang yang dibelinya dari pemasok harganya hanya Rp 750.
Cara mengepak cecak yang akan diekspor pun tergolong sederhana, alias tidak sulit. Cukup ditaruh di dalam kotak yang masing-masing sebanyak 10 ekor. Ini penting agar antarcecak tak saling berkelahi dan kulitnya tidak rusak. Kotak-kotak itu kemudian dimasukkan ke dalam kantong terigu. Dan untuk menjaga tingkat kelembapannya, seyogianya di dalam kotak juga dialasi rautan kayu atau kertas perca. Sebab, setiap cecak yang bisa dijual, ”Syaratnya cuma satu: cecak harus sehat,” ujar Rudi.
Nah, supaya tetap sehat, cecak cukup ditaruh di dalam kotak yang dipasangi kawat nyamuk di sekelilingnya, serta diberi rautan kayu agar cecak merasa nyaman. Makanannya pun mudah didapat, yaitu nyamuk, jangkrik kecil, usus ayam, laron, dan ulat kecil. ”Biaya makanan untuk setiap 100 ekor cecak hanya Rp 10 ribu per bulan,” kata Rudi.
Majalah Trust/Peluang/19/2005
Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|