Jumat, 3 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Giancarlo Di Risio: Manuver Baru Pilot Versace

Eko Edhi Caroko
 
VERSACE, di mata para pencinta mode, adalah kiblat perkembangan fashion dunia. Lazimnya, bagi para pemain di industri ini, inovasi adalah harga mati yang tak bisa ditawar-tawar. Dalam hal ini, tampaknya Versace selangkah lebih maju. Simak saja terobosan terbarunya yang gencar dipromosikan sejak Oktober tahun lalu. Bagi kalangan mania Versace, sejatinya, sudah saatnya mereka memiliki jet pribadi berlogo rumah mode ini.
Disebut sebagai jet pribadi karena seluruh pernak-pernik interiornya (mulai dari kursi, meja, karpet, tirai, hingga perlengkapan dapur) dirancang khusus oleh para ahli dari Gianni Versace S.p.A. Di dalam sana, niscaya kemewahan akan terbayang. Dan ciri khasnya, kita akan melihat sosok Medusa (dewi dalam mitos Yunani kuno yang berambut ular) yang anggun—tak lain logo Versace yang amat kesohor itu—yang diterakan di badan pesawat.
Bermain di jalur ini, sebenarnya pula Versace tidak sendirian. Di antaranya, mereka bekerja sama dengan TAG Group SA, yakni perusahaan yang kesohor sebagai pembuat berbagai produk interior pesawat dan agen penjualan jet. Lalu, untuk soal pengadaan pesawatnya, Versace bermitra dengan Bombardier Global Express dan Boeing. Produksi perdana kerja bareng ini telah diperkenalkan pada Juli 2006 di ”Farnborough Air Show” di Inggris.

 Artikel Lain
Yang Bermimpi Merebut Pangsa Nokia
Dendam Sang Miliarder
Debut Pewaris Kakek Thomson
Ekspansi Strategis Sang Beauty King
Giancarlo Di Risio: Manuver Baru Pilot Versace
Timbul, Tenggelam, lalu Berakhir Sukses
Jurus Jitu Pengembang Sederhana
Perjalanan Sukses Seorang Pemalu
Arti Maaf Seorang Pemimpin
Menyulap Cagar Budaya Menjadi Mal
Masuknya Versace ke bisnis pesawat, juga berarti perusahaan ini tengah berancang-ancang memutar haluan? Tidak juga. Malah sebaliknya, ”Momentum ini merupakan bukti bahwa Versace masih mampu menciptakan kemewahan di setiap aspek kehidupan,” ujar Giancarlo Di Risio, Chief Executive Officer (CEO) Gianni Versace S.p.A.
Sebagai barang mewah, tentunya pesawat itu amatlah bernilai. Bahkan harganya tergolong menakjubkan. Yang paling murah adalah jet Versace yang diproduksi oleh Bombardier: per unitnya dibanderol US$ 39 juta. Tapi jika menggunakan pesawat yang dibuat oleh Boeing, harganya akan berlipat-lipat lebih mahal. Harga terendahnya saja ditawarkan US$ 169 juta per unit, atau lebih dari Rp 1,5 triliun. Boleh jadi, jet ini yang termahal di dunia. Bandingkan saja dengan jet pribadi milik Roman Abramovich, konglomerat asal Rusia, yang ternyata harganya tak lebih dari US$ 70 juta.
Dan masuknya Versace ke bisnis ini ternyata bukan semata-mata unjuk kemewahan, tapi lebih didasari oleh kejelian Giancarlo dalam membaca peluang. Idenya mulai terbetik setelah tragedi 11 September 2001 meletup di Amerika. Perlu diketahui, peristiwa berdarah itu juga meninggalkan trauma yang berat di sejumlah kalangan: mereka jadi merasa tidak aman jika bepergian dengan pesawat terbang. Hal ini akhirnya memicu kalangan eksekutif memilih angkutan alternatif, yakni terbang dengan pesawat pribadi atau sewaan. Selain dinilai lebih aman, dengan jet carteran, mereka juga bisa lebih leluasa menentukan waktu terbang.
Tak pelak, sejak peristiwa nan menyedihkan itu, bisnis pesawat pribadi dan sewaan mengalami booming nan luar biasa. Pertumbuhannya selama lima tahun terakhir rata-rata mencapai 40% per tahun. Misalnya, selama semester I-2006, terjadi peningkatan hingga 35%, atau menjadi US$ 9 miliar. Hal sebaliknya terjadi di bisnis penerbangan komersial. Sampai tahun lalu, pertumbuhannya malah anjlok, dari sebelumnya 18% menjadi 9%.
Sampai di situ, semakin jelas mengapa Giancarlo begitu memaksakan diri agar Versace juga bermain di bisnis pesawat pribadi. Dan ndilalahnya pula, kala itu, perusahaan ini tengah dilanda kemelut. Sebab, konflik internal—yang meributkan siapa yang pantas menjadi nakhoda di perusahaan ini—menyebabkan kinerja Versace menjadi buruk.
Dua tahun lalu, perusahaan ini harus menerima kenyataan menderita kerugian hingga US$ 18,75 juta. Bahkan, hal itu masih berlanjut hingga tahun lalu. Kerugian yang dialami rumah mode yang bermarkas di kota Milan, Italia, ini diperkirakan masih tersisa sekitar US$ 15 juta.

OMZETNYA PERNAH MENCAPAI
US$ 25 MILIAR
Sebenarnya pula, tren yang tak menyenangkan itu gejalanya sudah mulai dirasakan sejak kematian Gianni Versace. Untuk diketahui, pendiri rumah mode ini tewas sepuluh tahun lalu karena dibunuh oleh seorang pengagumnya. Sejak setelah itu, kinerja keuangan perusahaan ini cenderung melorot. Padahal, ketika Gianni Versace masih hidup, rumah mode yang telah beroperasi selama 40 tahun ini pernah berjaya. Di periode tahun 1990-an, misalnya, omzetnya sempat mencapai US$ 25 miliar per tahun.
Puncak kemelut di tubuh Versace terjadi lima tahun lalu. Hanya dalam kurun waktu dua tahun, perusahaan ini harus mengalami pergantian CEO sebanyak dua kali. Dari Santo Versace ke Donatella Versace—keduanya adalah kakak dan adik kandung mendiang Gianni Versace. Ujung-ujungnya, dari perseteruan itu akhirnya muncul sosok CEO baru, yakni Giancarlo Di Risio, yang sebenarnya tidak mempunyai hubungan darah dengan Keluarga Versace.
Dan uniknya, bagi Giancarlo, meniti karir di industri mode, bisa dibilang dirinya masih tergolong awam. Maklum, sebelum dipercaya mengemban tugas sebagai orang nomor satu di Versace, Giancarlo adalah CEO di Fendi, yakni perusahaan yang bergerak di bidang informasi teknologi (IT). Begitu tongkat kepemimpinan Versace berada di tangannya, Giancarlo segera melakukan sejumlah gebrakan untuk memulihkan kondisi rumah mode ini. Di antaranya, mulai memfokuskan penjualan ke negara-negara yang dinilai memiliki potensi pasar yang cerah, seperti Amerika dan Cina. Cina dibidik karena pertumbuhan ekonomi di Negeri Tirai Bambu itu sedang hot-hot-nya. Nyatanya, di Negeri Panda itu, ia tak ragu-ragu membuka butik hingga sebanyak 12 unit.
Ekspansi bisnis pun dilakukannya. Di antaranya, ya itu tadi, rumah mode ini juga merambah hingga ke industri pesawat terbang dan sektor properti. Langkah ini harus ditempuhnya, ”Semata-mata untuk membangkitkan kembali kejayaan Versace,” ujarnya.
Berkongsi dengan Sunland Group Limited and Emirates International Holdings, pada awal tahun 2006, Versace mulai membangun Palazzo Versace Resort, hotel termewah di Dubai, Uni Emirat Arab. Resort ini terdiri dari 215 kamar, 204 bungalo, serta dilengkapi restoran dan berbagai fasilitas mewah lainnya. Pembangunan hotel ini direncanakan bakal rampung dua tahun mendatang. Meski demikian, para pengelolanya sudah membuka kesempatan bagi mereka yang berminat menginap di sana. Untuk itu, mereka menawarkan tarif menginap berkisar Rp 3 juta hingga Rp 10 juta per malam.
Pada tahun ini, Giancarlo juga berniat merealisasikan cita-cita mendiang Gianni Versace, yakni membawa Versace ke lantai bursa. Sebenarnya, beberapa bulan sebelum Gianni tewas, Versace sudah dijadwalkan akan go public. Tapi, apa mau dikata, kesempatan emas itu hilang seiring dengan kematian Gianni. Banyak investor pun kala itu dibuatnya kecewa.
Kini, melihat kinerjanya yang terpuruk, wajar jika banyak investor bereaksi dingin atas rencana tadi. Melihat gelagat yang kurang menguntungkan itu, Giancarlo tak kehilangan akal. Agar para investor terpikat terhadap saham Versace, maka diciptakanlah bisnis-bisnis baru, misalnya pembangunan hotel dan penjualan jet pribadi.
Bagaimana hasilnya, memang masih harus ditunggu. Tapi, bila gagal, niscaya hal itu akan makin menjerumuskan perusahaan ini ke jurang kehancuran. o


Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id