|
|
 |
|
Sukses Akibat Enggan Digaji
Sasmita Winata memproduksi dan mengembangkan pasar sepatu pengaman King’s di Indonesia. Omzetnya Rp 80 miliar tiap bulan.
|
| Yus Ariyanto dan Junaidi Parlindungan |
| |
Jika saja Pemerintah Indonesia tak giat menggelorakan program ”Aku Cinta Produk Indonesia”, mungkin Sasmita Winata hanya akan menjadi agen distribusi sepatu pengaman (safety shoes) bermerek King’s bersama PT Asiakarya Dutadunia yang dipimpinnya.
Di awal tahun 1990-an, pemerintah mewajibkan seluruh perusahaan pertambangan pelat merah untuk cuma membeli sepatu buatan lokal. Tak pelak, omzet produk bikinan King’s Shoe Manufacturing Pte. Ltd. yang berbasis di Singapura itu merosot drastis.
Kenyataan pahit itu membuat Sasmita, dengan membawa panji PT Asiakarya Dutadunia, berinisiatif membujuk pemilik bos King’s Shoe Manufacturing Pte. Ltd. untuk mau mendirikan pabrik di Indonesia. Mereka bersedia dengan syarat 50% saham mesti disetor Sasmita. Maka, pada akhir 1996, pabrik itu berdiri di Rawa Bokor, Tangerang. Sasmita didaulat sebagai direktur utama. Bendera yang diusung adalah PT King’s Safetywear. Nilai investasi yang ditanamkan mencapai US$ 3 juta.
Tujuh tahun berlalu, kini King’s Safetywear semakin berkibar. Data terakhir, tiap bulan, perusahaan ini sanggup menghasilkan 170 ribu pasang sepatu. Dari jumlah itu, 30% dipasarkan di dalam negeri, 70% dikirim ke mancanegara seperti Thailand, Vietnam, Australia, Inggris, Belanda, dan Jerman. Karena merupakan pesanan, semua pasokan itu segera ”menjadi duit”. Dengan angka penjualan demikian, King’s Safetywear meraup omzet tak kurang dari Rp 8 miliar per bulan. Aset perusahaan ini telah bernilai Rp 50 miliar dengan jumlah karyawan 600 orang.
Di dalam negeri, konsumen King’s Safetywear berderet. Di jajaran perusahaan pelat merah ada Pertamina dan Aneka Tambang. Sementara di barisan perusahaan swasta—antara lain—ada Medco, Unocal, Astra Motor, Indomobil, Indofood, Bogasari, Indosemen, dan Freeport.
Ketika membangun King’s Safetywear, Sasmita baru berusia 29 tahun. Namun, insting bisnisnya terbukti tajam. Ia tak hanya ”terprovokasi” program ”Aku Cinta Produk Indonesia”. Lebih jauh, ia berangkat dari pengetahuan bahwa, ”Di Indonesia belum ada satu pun pabrik sepatu pengaman yang berstandar internasional,” katanya. Padahal pasarnya terhitung besar.
Kalkulasi Sasmita simpel saja: asumsikan bahwa penduduk Indonesia berjumlah 200 juta jiwa. Lalu, anggaplah penduduk yang bekerja di sektor teknik ada 10%. Alhasil, ada sekitar 20 juta orang yang membutuhkan sepatu pengaman. ”Kalau 20 juta orang pakai sepatu semua, 10 pabrik tak kuat membuatnya,” ujar Sasmita. Kenyataan berbeda terjadi pada kasus safety helmet (helm pengaman). Di sana banyak pemain yang berlaga.
Cuma, ada kendala: kesadaran pekerja Indonesia untuk memakai sepatu pengaman belumlah tinggi. Hal ini berbeda dengan pekerja lapangan di luar negeri. Pekerja lapangan di Indonesia sudah merasa aman dengan hanya menggunakan sepatu boot yang terbuat dari plastik. Padahal, ”Kaki bakal hancur jika tertimpa beban,” katanya. Sementara itu, Sasmita berpromosi, sepatu King’s mampu melindungi punggung telapak kaki dari beban seberat 3 ton.
Tapi, masalah itu tak membuatnya surut. Seraya berproduksi, King’s Safetywear juga melakukan sosialisasi keselamatan kerja untuk para pekerja lokal. Konkretnya, mereka sering membuat seminar dan penyuluhan. ”Langkah ini jelas untuk mendongkrak pasar dalam negeri,“ ujar pria yang tak punya hubungan keluarga dengan Tomy Winata ini.
Kiat tersebut juga kian dimungkinkan lantaran Sasmita aktif di Komite Nasional untuk Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Tiap beberapa bulan, organisasi nirlaba ini mengadakan survei keselamatan kerja sambil mengadakan seminar kesadaran keselamatan kerja bersama Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. King’s Safetywear jelas bertindak sebagai sponsor.
Sementara itu, untuk menggenjot pasar luar negeri, diinformasikan secara gencar bahwa sepatu King’s telah memenuhi kualitas dan standar internasional, misalnya memperoleh sertifikat dari Uni Eropa berupa CE Mark Standard. ”Di sana, urusannya memang cuma kualitas. Kesadaran sudah tinggi,” kata lelaki kelahiran Jakarta pada tahun 1965 ini.
Pengakuan internasional itu diperoleh memang tidak dari awal. King’s Safetywear baru mendapatkannya pada tahun 1998, menyusul keharusannya mengirim sampel ke sejumlah negara untuk diuji. Tes itu sendiri meliputi uji beban, kenyamanan, dan kelenturan. Sebelum mengirimkan sampel, Sasmita dan anak buahnya bekerja keras untuk menghasilkan karya yang prima. ”Setelah mantap, baru kami berani menyerahkan sampel,“ kata Sasmita.
Ujian atas sampel-sampel itu hanya satu tahap. Di etape selanjutnya, para bule itu melakukan peninjauan pabrik secara mendadak. Tak ada pemberitahuan jauh-jauh-jauh hari. ”Tahu-tahu mereka menelepon bahwa mereka sudah tiba di bandara dan ingin langsung meninjau pabrik,” tutur Sasmita.
Ujung-ujungnya, di masa krisis ekonomi tengah menggila itulah, sepatu King’s dinyatakan lulus. Di masa ini juga, King’s Safetywear tak luput dari terjangan badai krisis. Sasmita bercerita, pukulan terberat berasal dari melonjaknya harga kulit yang tak sepenuhnya bersumber dari dalam negeri. Celakanya lagi, kulit-kulit sapi lokal itu mendadak langka lantaran hampir semuanya dijadikan komoditi ekspor.
Tapi, Sasmita tak pantang menyerah. Ia memerintahkan anak buahnya untuk mencari kulit di pasar-pasar tradisional di seputar Jakarta. Setelah terkumpul beberapa mobil, kulit-kulit itu dibawa ke Garut, Jawa Barat, untuk dibersihkan dan diproses. Sepanjang tahun 1997 sampai 1998, Sasmita pulang-balik Jakarta-Garut melakoni hal tersebut.
Keuletan seperti itu bukan datang dari langit. Sasmita adalah putra tertua Karta Winata, pedagang alat-alat teknik di Glodok, Jakarta Barat. Di antara para pedagang Glodok, Karta adalah salah seorang sesepuh. Belakangan, Karta merupakan pemrakarsa pembangunan Mega Glodok Kemayoran. Sasmita banyak terlibat pada proyek tersebut dalam kapasitas sebagai Presiden Direktur PT Jakarta Kemayoran Properti, pengembang Mega Glodok Kemayoran.
Dari ayahnya, Sasmita menyerap minat berwirausaha. Pada tahun 1989, Sasmita menamatkan S2-nya dari University of California, Amerika Serikat. Ia lalu bekerja di sebuah bank asing. Alih-alih senang, orang tua Sasmita justru tak mengizinkannya bekerja pada orang lain. ”Sudah disekolahkan bertahun-tahun di luar negeri, eh malah membantu orang. Digaji orang tak bakalan sukses,” ujar Sasmita mengulangi ucapan orang tuanya kala itu.
Malu hati mendengar kata-kata orang tuanya, Sasmita kemudian membantu orang tuanya memasarkan generator. Pada tahun 1992, ia mulai mengendalikan PT Asiakarya Dutadunia. Empat tahun kemudian, baru Sasmita menemukan ”jalur hidup” yang sesungguhnya. Terbukti, keputusannya untuk berwirausaha tak keliru.
Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|