|
|
 |
|
Subiyono, Sukses Manusia Kulit 1 Juta Dolar
Awalnya hanya bermodalkan pengalaman dan kepercayaan. Kini omzet penjualannya dalam sebulan mencapai lebih dari US$ 1 juta.
|
| Eko Edhi Caroko dan Yudi Yusmili (Yogyakarta) |
| |
Di ajang golf dunia, Tiger Wood yang berdarah Thailand itu terkenal sebagai salah seorang kampiunnya. Bakat dan prestasinya memang cemerlang. Namun, siapa sangka, kesuksesan pegolf nomor wahid dunia ini berkat produk made in Indonesia. Nah, jika ia mengenakan sarung tangan bermerek callaway ketika beraksi di lapangan, dipastikan barang ini asli buatan perajin asal yogyakarta.
Tak percaya? Simak saja pabriknya—yang dikelola PT Adi Satria Abadi—di Dusun Banyakan, Kelurahan Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul. Malah, usaha milik Subiyono ini tak cuma memproduksi merek Callaway. Paling tidak, pabrik ini juga memproduksi tiga merek terkenal lainnya, yakni Mizuno, Lezax, dan Wilson.
Semua merek tersebut merupakan lisensi dari prinsipiilnya di Amerika Serikat. Untuk memperoleh kepercayaan seperti ini, semua orang pun tahu, memang tergolong mahasulit. Apalagi dari industri yang memproduksi merek-merek terkenal di pasaran dunia. Namun, di tangan Subiyono, semua itu tak sekadar angan-angan, tapi benar-benar nyata. Pria yang lahir di Wonogiri, 57 tahun lalu, ini boleh dibilang tergolong ”perajin” kulit yang piawai.
Produktivitasnya pun patut diandalkan. Dari pabriknya itu, setiap bulan dihasilkan tak kurang dari 60 ribu pasang sarung tangan golf dan 600 ribu feet bahan kulit jadi. Jika tiap pasang sarung tangan itu dipatok US$ 2 dan tiap feet bahan kulit dijual US$ 1,6, omzet yang akan dipetik lelaki berkacamata ini setiap bulan mencapai US$ 1,08 juta. Wajar bila Subiyono layak menyandang sebutan sebagai ”manusia kulit bernilai 1 juta dolar”.
Selain memproduksi sarung tangan golf, Subiyono juga membuat berbagai produk lain, antara lain sarung tangan baseball, ski es, jaket untuk pembalap motor, dan sarung tangan khusus untuk wanita.
Kepiawaian Subiyono dalam mengendalikan usaha tak cuma mengandalkan bakatnya sebagai ahli kulit. Ia juga tergolong andal dalam menjaga pasokan bahan baku. Kulit mentah domba—selain diperoleh dari sentra-sentra di Lumajang dan Kediri, Jawa Timur—juga diimpor dari sejumlah negara seperti Lebanon, Arab Saudi, Etiopia, dan Nigeria.
Jika ditilik dari sejarah hidupnya, bapak empat anak ini memang sulit dipisahkan dari dunia perkulitan. Bahkan, boleh dibilang, ia salah satu ahli kulit yang tergolong langka di negeri ini. Untuk mengetahui kualitas selembar kulit, misalnya, ”Saya cukup menggunakan gigitan saja,” ujarnya. Atau, untuk menentukan tebal-tipis ukuran, ia hanya merabanya dengan tangan. Pendek kata, nalurinya tentang kulit memang luar biasa.
Sekarang ia telah menjadi miliuner. Padahal, masa lalunya boleh dibilang suram. Waktu di sekolah dasar, ia harus berjalan kaki sejauh 7 kilometer dari rumah ke sekolahnya. Maklum, Subiyono dilahirkan di desa terpencil, sekitar 60 kilometer dari Kota Wonogiri. Sepulang sekolah, ia masih harus mencari rumput dan menggembala sapi sampai sore.
Pendidikan SMP dan SMA dilanjutkannya di Kota Wonogiri. Karena itu, ia harus rela berpisah dari orang tua, hidup menumpang di rumah seorang polisi kerabat keluarganya. Nah, sebagai pengganti biaya menumpang, Subiyono membayarnya dengan tenaga: mengerjakan berbagai macam pekerjaan rumah tangga. Enam tahun tinggal menumpang di rumah itu, ”Pekerjaan saya persis seperti pembantu,” tuturnya mengenang.
DENGAN KIATNYA, LIKUIDITAS KEUANGAN JADI LENTUR
Setelah menamatkan SMA pada 1967, anak keenam dari 10 bersaudara ini nyaris meneruskan kuliah di Fakultas Pertanian UGM. Kendati lulus seleksi, ia urung menjejakkan kakinya di universitas itu. Pasalnya, Subiyono berubah pikiran setelah mengetahui kakaknya yang lulus dari Akademi Teknologi Kulit (ATK) bisa langsung bekerja lewat program ikatan dinas.
Tak berpikir panjang, Subiyono pun mengikuti jejak kakaknya di akademi yang sama. Tiga tahun kemudian ia pun lulus dan langsung diterima bekerja di sebuah perusahaan kulit di Maguwo, Yogyakarta. Karirnya di perusahaan ini berlangsung selama 25 tahun, dan jabatan terakhirnya sebagai direktur produksi.
Bermodalkan pengalaman selama itu, ia pun memberanikan diri membuka usaha sendiri pada 1995. Debut awalnya, ia menyewa sebuah pabrik kulit yang telah bangkrut di Solo. Uniknya, modal awalnya boleh dibilang hanya semangat dan kepercayaan. Untuk membayar sewa pabrik itu, misalnya, ia tak pernah melunasinya di muka. Pembayarannya ditentukan kemudian berdasarkan jumlah produksi. Dengan kiat usaha seperti itu, likuiditas keuangannya menjadi lentur.
Produksi pertamanya sebesar 5.000 feet bahan kulit, dan hanya dijual di pasar lokal. Karena ditopang pengalaman dan jaringan kemitraan yang luas—bahkan hingga ke Jepang, Korea, dan Cina—hanya dalam tempo satu tahun produk kulitnya sudah bisa menjangkau pasar ekspor. Ekspor perdananya pada 1997.
Karena pabrik yang di Solo dinilai sudah tak memadai lagi, terutama untuk memproduksi kulit lembaran kualitas ekspor, Subiyono pun memindahkan usahanya ke Wirosaban di Kota Yogyakarta. Lagi-lagi ia menggunakan strategi serupa di Solo, yakni menyewa pabrik yang sudah tak beroperasi dengan sistem bayar setelah berproduksi.
Pamornya, terutama sebagai pemasok kulit berkualitas, terus meningkat. Itu seiring dengan volume ekspornya yang terus menanjak. Order yang dilayangkan mitranya di Jepang dan Korea, misalnya, bisa mencapai 1.000-2.000 feet sekali kirim.
Namun, yang namanya bisnis tak selalu berjalan mulus. Ketika ia baru memulai ekspor, ee, sejumlah negara di Asia dilanda krisis ekonomi, termasuk Negeri Ginseng. Dampaknya, tagihan Subiyono senilai US$ 200 ribu pun macet, alias tak mampu dilunasi importirnya.
Masalahnya tak berhenti hanya di situ. Pagebluk yang tak kalah berat menimpa Subiyono ketika enam mitranya dari Jepang dan Korea—mereka para produsen sarung tangan—menyetop order. Pasalnya, para pengusaha asing ini berhasil mendirikan pabrik di Yogyakarta. Karena itu, tak pelak, pendapatan ekspornya jadi anjlok.
Untuk menyelamatkan roda perusahaannya, suami dari Sutati Sukandar ini terpaksa meminjam duit ke bank. Padahal, bunga kredit saat itu terbilang mencekik leher alias sangat tinggi.
Namun, Subiyono tidak menyerah. Masa krisis malah dijadikannya sebagai momentum melakukan diversifikasi produk. Belajar dari sejumlah mitra asing tadi, ia pun mulai membuat sarung tangan golf. Untuk uji cobanya, ia menggunakan bahan kulit jadi yang cacat. Tak disangka, ada sejumlah importir dari Negeri Sakura yang berminat membelinya.
Bisnis Subiyono kembali bangkit seiring dengan makin membaiknya iklim ekonomi dunia. Para penggemar olahraga golf pun, yang selama krismon ikut tiarap, mulai memadati lapangan lagi. Sukses yang dipetik Subiyono bahkan terus berkembang, hingga pada 2002 ia berhasil membangun pabrik baru di daerah Bantul. Selain di tempat itu, ia juga memiliki pabrik serupa di Lingkungan Industri Kecil di Sleman. Kini, jumlah karyawannya total 460 orang.
Ekspansi produk terus dilakukannya. Yang terbaru, yang dirintis sejak tahun lalu, Subiyono mencoba memproduksi sepatu. Sebagai pemicunya, pasar sepatu hidup sepanjang masa tanpa dibatasi musim. Lagi pula, ”Sudah ada order dari Jepang,” katanya.
Majalah Trust/Profil/38/2004
Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|