|
|
 |
|
Menyulap Cagar Budaya Menjadi Mal
Stasiun Kota segera disulap menjadi mal. PT Kereta Api Indonesia bertekad meningkatkan pemasukan dari bisnis non-inti hingga 40%.
|
| A. Reza Rohadian dan Nala Dipa Alamsyah |
| |
Kreativitas biasanya muncul dalam kondisi terdesak. Itu juga yang terjadi pada pt kereta api indonesia (kai). Kita tahu, sejak tarif angkutan udara ”diobral”, semua bisnis transportasi amburadul dibuatnya. Ditambah dengan aksi calo tiket yang entah mengapa tak kunjung bisa ditumpas, kondisi keuangan pt kai pun kian terpuruk. Untunglah direksi pt kai segera ingat bahwa mereka masih mempunyai ”harta pusaka” yang berharga. Yang dimaksud dengan harta pusaka tak lain adalah status perseroan terbatas (pt) yang disandangnya sejak 1999. Jika saat masih berstatus perusahaan jawatan (perjan) seluruh biaya operasional kai bergantung pada apbn, dengan status baru itu kai bebas mengeksploitasi seluruh asetnya.
Sejak menyandang status PT, KAI yang memiliki 30 ribu karyawan kemudian membentuk Direktorat Pengembangan Usaha yang lantas membangun Divisi Properti dan Periklanan. Divisi ini lalu menginventarisasi aset-aset PT KAI yang kira-kira laku dijual. Akhirnya terpilihlah Stasiun Bandung, Kota (di Jakarta), dan Semarang. Namun, sejauh ini, agaknya baru Stasiun Kota yang telah dilirik orang.
Peminat stasiun itu adalah PT Sari Bumi Eramaju. Di stasiun itu PT Sari Bumi akan mendirikan pusat perbelanjaan setinggi lima lantai. Konsep mal di atas stasiun kereta api ini menjiplak Jepang dan Korea Selatan. Di kedua negara ras kuning itu, stasiun sepur juga berfungsi sebagai tempat berbelanja dan tempat untuk membeli makanan sebelum berangkat kerja atau pulang ke rumah. Namun, sebagai cagar budaya, Stasiun Kota tak bakal berubah bentuk aslinya. ”Bangunan tersebut akan dibangun di atas rel dan kawat kereta api,” kata Kepala Humas PT KAI Daerah Operasi I Jakarta Kota Akhmad Sujadi. Kalau tak ada aral melintang, realisasi pembangunannya akan dimulai bulan Oktober 2004.
Total jenderal, pusat perbelanjaan itu memiliki luas 69.386 meter persegi dengan fasilitas parkirnya mencapai 33.370 meter persegi (mampu menampung 2.500 kendaraan). Adapun dana yang disiapkan untuk proyek ini mencapai Rp 250 miliar. ”Semua dana berasal dari kami untuk masa 30 tahun,” kata Direktur Utama PT Sari Bumi F. Djunaedi. Duet PT KAI dan PT Sari Bumi memilih kerja sama operasi sebagai pola kerja samanya. Singkat kata, selama tiga dasawarsa PT Sari Bumi berhak atas hasil sewa kios-kios perbelanjaan. Sementara itu PT KAI kebagian jatah untuk biaya pemeliharaan, parkir, dan iklan.
TAK SEPERTI PLAZA SENAYAN ATAU PLAZA INDONESIA
Djunaedi optimistis barang dagangannya bakal laku. Perhitungannya sederhana saja. Saban hari Stasiun Kota disinggahi oleh 200 ribu penumpang. ”Kami asumsikan sekitar 20% penumpang masuk ke mal. Itu sudah lumayan,” ujarnya. Tak lupa ia menambahkan, mal ini diperuntukkan bagi kalangan menengah bawah. ”Sengaja kami membangun yang tidak elite seperti Plaza Senayan atau Plaza Indonesia,” katanya. Sebab, ”Penumpang yang ke stasiun ini kan kelas ekonomi, bukan kelas bisnis,” ujarnya lagi.
Meski begitu, Edward B.M. Nababan, Direktur Pengembangan Usaha PT KAI, berani memprediksikan proyek ini bisa meraup pendapatan Rp 400 miliar per tahun dengan laba bersih sekitar Rp 150 miliar. Sementara itu, kompensasi yang diperoleh PT KAI diperkirakan mencapai Rp 30,7 miliar. Kalau semua rencana itu berjalan mulus, PT KAI berharap pemasukan dari bisnis non-inti ini paling tidak mampu mencapai 40% dari bisnis inti. Selama ini persentase pendapatan PT KAI sebanyak 92% masih bergantung dari bisnis angkutan (penumpang dan barang).
Omong-omong, bagaimana kalau proyek ini gagal seperti halnya Stasiun Cikini, Gambir, dan Jatinegara? Akhmad Sujadi justru melihat kegagalan PT KAI dalam proyek-proyek properti selama ini lantaran pihaknya jalan sendirian. ”Coba kalau waktu membangun kami langsung menggandeng investor, pasti lain ceritanya,” katanya, mantap.
Soal sudah banyaknya pusat perbelanjaan yang berdiri tak jauh dari Stasiun Kota (WTC, Mangga Dua, dll.) Akhmad tidak melihatnya sebagai ancaman. Alasannya, calon pembeli yang dibidiknya adalah penumpang kereta api. Lebih dari itu, Edward melihat kecenderungan masyarakat Indonesia yang lebih suka mengunjungi pusat perbelanjaan yang baru. ”Karena tempat itu baru, kami lebih bisa menarik dan punya akses yang baik,” kata Edward.
Dan tampaknya PT KAI memang tak main-main dalam menekuni bisnis baru tersebut. Paradigma cara kerja yang dahulu birokratis kini diubah menjadi businessman. Sewaktu masih berstatus perjan, perusahaan itu tak begitu peduli dengan kualitas kerja karyawan. Maklum, ”Dalam segala hal kami di-back-up pemerintah,” ujar Edward. Kini, tidak sedikit karyawan PT KAI yang bekerja hingga larut malam. Bahkan, ada pula yang sibuk mengikuti pelatihan-pelatihan, seminar, dan bantuan manajemen dari pihak swasta asal Amerika Serikat. Jadi, katanya menambahkan, kalau sampai gagal, PT KAI tidak bisa menyalahkan orang lain. ”Kami yang harus action, karena kami juga merangkap sebagai aktor,” ujarnya.
Properti/47/2004
Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|