Rabu, 8 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Arti Maaf Seorang Pemimpin
Untuk mengembalikan reputasi Citibank

Rusdi Mathari
 
Pemimpin yang baik, ketika didera masalah, biasanya tahu apa yang harus dilakukan. Tak terkecuali jika itu harus meminta maaf secara terbuka kepada publik atau pelanggan yang telanjur dirugikan. Dan Charles Prince, bisa jadi, tergolong pemimpin yang memenuhi kriteria ini.

Akhir Oktober lalu, Chief Executive Officer (CEO) Citigroup Inc. itu menyempatkan diri terbang ke Tokyo dari New York, hanya untuk meminta maaf kepada publik Jepang atas kesalahan yang telah dilakukan oleh Citibank Jepang. Dalam konferensi pers, Prince bahkan membungkukkan badan ala Jepang cukup lama sebagai tanda keseriusan permintaan maafnya. Prince juga mengambil keputusan menutup unit trust banking Citibank di Jepang selama setahun. ”Saya sungguh-sungguh meminta maaf kepada publik dan pelanggan Jepang,” kata Prince.

 Artikel Lain
Giancarlo Di Risio: Manuver Baru Pilot Versace
Timbul, Tenggelam, lalu Berakhir Sukses
Jurus Jitu Pengembang Sederhana
Perjalanan Sukses Seorang Pemalu
Arti Maaf Seorang Pemimpin
Menyulap Cagar Budaya Menjadi Mal
Subiyono, Sukses Manusia Kulit 1 Juta Dolar
Sukses Akibat Enggan Digaji
Segitiga Emas Pasti Bangkit
H. Ikrom Ke Amerika Bersama Tempe

Dan yang mengejutkan, Prince langsung memecat tiga eksekutif Citigroup yang dianggap bertanggung jawab terhadap semua ”kejadian” di Jepang. Mereka adalah Deryck Maughan (Kepala Operasional Perbankan Internasional), Thomas Jones (Kepala Manajemen Aset Citigroup), serta Peter Scaturro (Kepala Bank Swasta Citigroup).

Kepada pers, Prince mengatakan bahwa karyawan yang lebih ”membicarakan tentang nilai-nilai” jauh lebih penting artinya bagi kelangsungan perusahaan dibanding perilaku yang merugikan. Apalagi kasusnya terjadi di sebuah negara yang masyarakatnya menjunjung tinggi rasa tanggung jawab seperti Jepang.

Itu memang keputusan yang pahit. Tapi, Prince justru harus melakukannya untuk menyelamatkan Citibank. Tanpa keputusan keras, mungkin saja citra Citibank akan melorot tajam di mata publik Jepang. Apalagi kasus pelanggaran keuangan itu menjadi berita di banyak media massa.

September lalu, Citibank dipersalahkan oleh Otoritas Keuangan Jepang karena telah melakukan serangkaian pelanggaran keuangan, termasuk dugaan praktik pencucian uang. Belum ada penjelasan tentang jumlah transaksi ilegal yang dilakukan Citibank Jepang, yang mencuat sejak September 2004. Pihak regulator keuangan setempat hanya memastikan bahwa perusahaan keuangan raksasa dari Amerika Serikat ini telah terlibat dalam sejumlah pelanggaran yang merugikan pemerintah dan menyesatkan masyarakat Jepang. Karena itu, Prince lalu diminta menutup unit trust banking-nya agar kepercayaan publik Jepang pulih.

Prince paham, semua keputusan itu terbilang sulit. Namun ia bukan saja menyetujui usulan penutupan trust banking, tapi juga bertindak lebih jauh, yakni memecat tiga eksekutif Citigroup di New York serta meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat Jepang. Dan apa yang dilakukan Prince di Tokyo akhir Oktober silam itu mendapat perhatian luas dari media massa Jepang dan Asia.

Prince lalu dianggap mengambil langkah-langkah yang tepat untuk memastikan bisnis Citibank selanjutnya di Jepang. Karena itu ia pantas dipuji. Sebagai sarjana hukum dan pengacara, Prince rupanya tak hanya tahu kiat bagaimana memikat publik di ruang sidang, tapi juga di ruang-ruang publik lainnya seperti media massa. Dan itu jelas menguntungkan bagi Citibank.

JIKA TIDAK, SITUASINYA AKAN LEBIH BURUK
Tapi, tak semuanya lalu berjalan seperti yang diharapkan. Kendati langkah-langkah pemulihan sudah dijalankan, nyatanya citra perusahaan tak jua segera membaik. Akibat skandal keuangan itu, Douglas Peterson, CEO Citibank Jepang yang hadir menemani Prince dalam konferensi pers di Tokyo, mengakui bahwa kepercayaan publik terhadap sektor private banking Citibank menjadi melorot. Padahal, sektor ini menyumbang pendapatan cukup besar bagi Citibank. Dari laba bersih sampai triwulan ketiga tahun ini yang besarnya US$ 264 juta, dua per tiganya disumbang dari private banking.

Jika Prince tak mengambil semua keputusan penting tadi, bisa jadi ”nama baik” Citibank akan semakin sulit diselamatkan. Bahkan hal itu akan menggiring Citibank ke situasi yang lebih buruk. Publik bukan saja akan beramai-ramai menarik uangnya (rush), tapi Citibank bahkan juga bisa menjadi bank yang sama sekali tak direkomendasikan untuk dipercaya. Jika itu terjadi, masa depan Citibank di Jepang jelas tak bisa bertahan lama. Pundi-pundi perusahaan, seperti pendapatan laba, juga akan sirna.
Untungnya, ya itu tadi, Prince tergolong pemimpin yang bijaksana. Ia sangat tahu kapan dan bagaimana harus mengambil keputusan di kala kritis.

Sebelum sampai pada keputusan untuk bergabung dengan Citibank, Prince pernah bekerja di perusahaan baja milik Pemerintah Amerika Serikat. Karirnya di Citibank dimulai pada bagian kredit sejak 1979. Sampai lima tahun pertama bekerja, bisa dibilang karirnya biasa-biasa saja. Baru pada tahun 1983, ketika dipromosikan menjadi Wakil Presiden Senior dan Penasihat Umum Kredit Komersial Citigroup, karir Prince mulai melambung. Dalam catatan perusahaan, tahun itu disebut sebagai tonggak kecemerlangan karir Prince. Ia memegang jabatan itu sampai tahun 1986.

Selama 10 tahun Prince berkutat di bagian kredit, sebelum akhirnya diserahi tanggung jawab tambahan mengurusi administrasi pada tahun 1995. Setahun sesudahnya, ia dipromosikan menjadi Wakil Presiden Eksekutif Citigroup. Pada tahun 2000, Prince dipercaya menjabat kepala administrasi, dan setahun kemudian menjabat kepala operasional. Jabatan barunya itu memiliki rentang tanggung jawab yang cukup besar, mulai dari manajemen operasi serta aktivitas teknologi di seluruh dunia, manajemen risiko, undang-undang, hubungan pemerintah, sumber daya manusia, hubungan masyarakat, hingga audit. Prince akhirnya dipromosikan menjadi CEO Citigroup sejak tahun 2003.

Gelar sarjana hukum diraih Prince dari Universitas California Selatan, Los Angeles. Di perguruan tinggi itu pula ia memperoleh gelar master hukum hubungan internasional. Prince juga sempat meraih gelar master lainnya di Universitas Georgetown. Karena itu maklum jika ia juga akrab dipanggil ”master” oleh sebagian karyawannya.
Pekerja keras yang lahir pada tahun 1950 itu, di kalangan rekan-rekannya dikenal sebagai sosok yang keras hati. Meski begitu, bukan berarti ia tak ramah. Pengalaman selama belasan tahun berurusan dengan sektor kredit, mau tak mau, memaksanya untuk bisa bersikap ramah terhadap orang lain. Prince juga dikenal luas sebagai orang yang suka bederma. Sampai sekarang, ia tercatat sebagai anggota Dewan Direktur New York dan Dewan Direktur Perguruan Tinggi Orang Negro dari Universitas Columbia.

Jadi, kalau akhirnya Prince mengambil keputusan drastis—memecat sejumlah eksekutif, menutup unit trust banking, dan meminta maaf secara terbuka kepada publik—percayalah, semua itu juga didorong oleh jam terbangnya yang luar biasa. Nyatanya, Prince berhasil membuktikan dirinya sebagai pemimpin yang baik.

Majalah Trust/Profil/08/2004

Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id