Jumat, 19 Maret 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Timbul, Tenggelam, lalu Berakhir Sukses

Dikky Setiawan dan Teguh Usia Imam
 
Punki Djajaprasetya, boleh jadi, tergolong pengusaha yang pantang menyerah. Berbagai bidang usaha telah ia tekuni. Ibarat gelombang air yang pasang surut, begitu pula perjalanan bisnis lelaki ini: adakalanya lancar, kerap pula terpuruk. Akhirnya ia memperoleh “jodohnya” juga. Sejak ia menekuni bisnis membuat lift, peruntungan pria kelahiran Malang, Jawa Timur, 61 tahun lalu ini pun mulai berkibar.

Padahal, Punki mengawali usahanya itu tanpa modal pengalaman secuil pun. Tapi berkat kegigihan, nyatanya ia berhasil. Dari usahanya itu, paling tidak, dalam sebulan Punki mampu meraup omzet hampir Rp 500 juta.

 Artikel Lain
Dendam Sang Miliarder
Debut Pewaris Kakek Thomson
Ekspansi Strategis Sang Beauty King
Giancarlo Di Risio: Manuver Baru Pilot Versace
Timbul, Tenggelam, lalu Berakhir Sukses
Jurus Jitu Pengembang Sederhana
Perjalanan Sukses Seorang Pemalu
Arti Maaf Seorang Pemimpin
Menyulap Cagar Budaya Menjadi Mal
Subiyono, Sukses Manusia Kulit 1 Juta Dolar

Sebelum menekuni usahanya itu, sarjana teknik fisika dari Institut Teknologi Bandung (ITB) ini hanyalah seorang pria yang mencari peruntungan di sejumlah perusahaan. Setamat kuliah pada tahun 1973, ia sempat berbisnis konstruksi. Boleh jadi karena peruntungannya di bisnis ini kurang memuaskan, Punki pun memutuskan berganti haluan. Sejak tahun 1980, ia tak ragu melamar menjadi karyawan di United Oil Company, perusahaan minyak dan gas asal Amerika Serikat.

Tapi entah mengapa, di perusahaan itu ia hanya bertahan selama lima tahun. Setelah itu, nyatanya Punki pindah bekerja ke salah satu anak perusahaan Grup Astra Internasional yang bergerak di bidang perkayuan. Karirnya di perusahaan ini pun tergolong singkat. Boleh jadi juga karena ia rindu berbisnis secara mandiri. Maka sejak tahun 1990, Punki kembali berwiraswasta. Bersama sejumlah teman sealmamaternya dari ITB, ia mendirikan pabrik spidol di daerah Citeureup, Jawa Barat.

Hanya saja, usahanya itu pun tak berjalan mulus. Malah modalnya nyaris ambrol. Diduga, kegagalan Punki dan teman-temannya di jalur ini karena dilanda kesulitan keuangan yang serius. Di antaranya, utang sebesar Rp 1,2 miliar kepada sebuah bank dinyatakan macet. Oleh karena itu, tak ayal, untuk menyelamatkannya, pabrik spidol beserta isinya harus dilego. “Saat itu saya sempat bingung mau berusaha apa lagi?” ujarnya.

Tapi, gagal di bisnis spidol, tak lalu membuat Punki patah semangat. Dari sisa modal yang ada di koceknya, ia bersama sejumlah teman lain berkongsi menjalankan bisnis cat mobil. “Dari situ saya mulai serius menekuni dunia usaha,” ujarnya.
Namun, kenyataan tak seindah harapannya. Lagi-lagi usahanya itu harus ia tinggalkan. Pasalnya, karena ada “konflik” kepentingan dengan rekan sekongsinya. Karena itu, akhirnya Punki pun harus berbesar hati mengundurkan diri. Giliran Punki pusing sendirian. Tapi, lantaran lelaki ini memiliki naluri bisnis yang tajam, ia tak pernah malas mencari peluang usaha. Hingga akhirnya pada tahun 1996 ia memutuskan terjun ke bisnis lift.

Boleh jadi itu keputusan yang tergolong nekat. Soalnya, ya itu tadi, boro-boro mengerti soal seluk-beluk membuat produk ini, pengalaman menjalankan bisnis ini pun, sebelumnya Punki tak punya. Apa lagi, saat ia memulai usahanya ini, iklim persaingan antarprodusen lift sudah terbilang ketat. Kala itu, paling sedikit sudah ada 15 perusahaan sejenis, di antaranya sekaliber Indolift, Capital Mutual, Citas Otis lift, dan Berkah Kurnia Elevatorindo.

Toh, hal itu tak membuat nyalinya jadi ciut. “Saya selalu yakin bahwa peluang selalu ada,” ujarnya. Yakin dengan tekadnya itu, Punki pun tak ragu menguras seluruh tabungannya sebesar Rp 200 juta untuk dijadikan modal. Dana sebesar itu, di antaranya, digunakan untuk merekrut sejumlah karyawan serta membeli berbagai komponen mesin yang kemudian dirakitnya menjadi mesin-mesin yang akan mendukung bisnisnya itu. Dengan cara itu, ia bisa mengirit anggaran lumayan besar. Nyatanya, untuk itu ia hanya mengeluarkan dana tak lebih dari Rp 40 juta. Padahal, “Kalau saya membeli mesin jadi, harganya bisa mencapai Rp 500 juta,” ujarnya.

Sisa dana yang ada, digunakan Punki untuk mendirikan pabriknya di Jalan Benda, Kemayoran Jakarta Pusat. Terakhir, setelah roda-roda mesin pabriknya berjalan, setiap produk yang dihasilkannya dicap dengan merek ETNA, alias Eka Lift Tata Adhitama.


Awalnya dari Mulut ke Mulut

Kalau saja lift ETNA akhirnya disukai pasar, itu karena produk ini memiliki banyak keunggulan. Salah satunya, produk ini dinilai memiliki standar keamanan yang memadai. Punki juga memberikan garansi selama 1 tahun buat para pelanggannya. Tapi yang lebih menarik lagi, juga karena harga jualnya yang lebih murah, yakni Rp 160 juta per unit. Bahkan masih lebih kompetitif ketimbang lift buatan Cina yang dipasarkan Rp 200 juta.

Selain itu, agar tak dilibas oleh kalangan produsen kakap, Punki menerapkan strategi khusus. Di antaranya ia hanya memproduksi lift ukuran kecil, yang cuma layak digunakan di gedung-gedung bertingkat tak lebih dari 10 lantai, seperti ruko (rumah toko).

Ada alasannya mengapa Punki membidik segmen tersebut. Menurutnya, jika ia masuk ke pasar atas, yakni memproduksi lift yang biasa digunakan di gedung-gedung tinggi kelas mewah, seperti apartemen dan hotel, niscaya akan kalah bersaing. Pasalnya, karena ada kecenderungan di kalangan pengembang di kelas ini lebih menyukai menggunakan lift dari merek yang telah terkenal. “Jadi, buat apa saya bersaing dengan mereka,” ujarnya. Lagi pula, menurutnya, pertumbuhan pembangunan ruko memang paling pesat.

Nah, dengan modal strategi itu, plus pola pemasaran dari mulut ke mulut, roda usahanya mulai berjalan. Klien pertama yang berhasil ia gaet adalah teman-temannya yang berusaha di sektor properti. “Waktu itu, kebetulan ada teman saya yang akan membangun gedung bertingkat,” ujar Punki, mengenang. Setelah itu, sejumlah kliennya mulai berdatangan. Kini dalam sebulan pabrik van Punki ini bisa memproduksi 3 unit.
Dengan kapasitas produksi sebanyak itu, omzet yang dipetik bapak dua orang anak ini rata-rata Rp 500 juta. Gambaran perjuangan seorang Punki yang tak sia-sia. Tapi, yang membuatnya bangga adalah karena beberapa orang mantan karyawannya ada yang mengikuti jejaknya menjadi pengusaha lift. Malah, “Ada mantan karyawan saya yang memegang lisensi dari Mitsubishi dan Sanghai,” ujarnya bangga.

Lebih dari itu, aset usahanya terus berbiak. Bahkan, rencananya bengkel lift Punki akan dipindahkan ke daerah Cibinong, Jawa Barat. “Saya punya tanah di sana seluas 1.100 meter persegi,” ujarnya. Seiring dengan itu, ia juga mulai ancang-ancang untuk memperluas produksinya. Yang sebelumnya hanya membuat lift ukuran kecil yang diperuntukkan untuk mengangkut orang, rencananya, mulai tahun depan ia juga akan memproduksi lift barang serta lift khusus untuk garasi mobil bertingkat. Harga lift barangnya akan dibanderol Rp 80 juta per unit. Sementara, lift mobil akan dipasarkan dengan harga Rp 30 juta.

Kiat usaha nan cantik. Terutama soal rencananya yang akan memasarkan lift khusus untuk garasi itu, niscaya Punki juga akan menuai sukses. Pasalnya, mengingat tren orang kota berduit yang gemar mengoleksi mobil terus meningkat--sementara lahan parkir yang tersedia makin menyempit--tentunya ceruk pasar di jalur ini masih terbuka lebar. Semoga saja.


Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id