|
|
 |
|
Bersaing Mendongkrak Pangsa Si Pedas
|
| Eko Edhi Caroko, Saswitariski, Diah Amelia, dan Tedy Gumilar |
| |
SAMBAL, siapa yang tak suka. Terutama di kalangan penggemarnya, bersantap tanpa diramaikan oleh jenis menu ini, niscaya terasa kurang ”nonjok.” Dan buat mereka, sambal menjadi begitu istimewa karena memiliki aroma dan kombinasi rasa amat khas (pedas, manis, dan asin), yang diyakini mampu menggugah selera makan.
Boleh jadi karena itu, tren penggemarnya—yang nyaris tak mengenal batas usia dan sosial—terus berkembang. Dulu, sambal hanya dibuat secara manual, dicobek-cobek. Tapi, kini sambal telah menjadi komoditi industri. Skala bisnisnya pun tergolong menjanjikan. Sambal yang diproduksi di banyak pabrik di negeri ini, ada yang menghitung, kini volumenya mencapai lebih dari 120 ribu ton per tahun. Tapi yang lebih mencengangkan lagi adalah nilai fulusnya, setiap tahun perputarannya diperkirakan mencapai Rp 600 miliar.
Jadi, jangan heran bila banyak pemodal yang tergiur bermain di sektor ini. Mulai dari kelas home industry hingga pemain kakap sekaliber PT Indofood Sukses Makmur dan Grup ABC. Bahkan, kondisinya pun mengesankan sudah begitu sesak. Dus, bisa dibayangkan, bagaimana panasnya persaingan di antara mereka.
Memang, ada berbagai taktik yang dilakukan kalangan produsen sambal agar bisa bertahan melawan persaingan yang begitu ketat. Salah satunya, layaknya strategi bisnis yang belum lama ini dilakukan oleh Indofood. Pada awal April lalu, kelompok usaha ini menggandeng Nestle SA—juga gergasi di industri makanan—berpatungan mendirikan PT Nestle Indofood Citarasa Indonesia (PT NICI). Perusahaan baru ini juga akan menghasilkan berbagai produk bahan keperluan dapur, termasuk sambal.
Bila dua gergasi berjodoh, lazimnya akan melahirkan bayi raksasa yang tangguh. Syukur-syukur bisa berkembang menjadi industri yang terkuat. Tampaknya, ”mimpi” itulah yang diharapkan oleh kedua induk tadi. Atau dengan skenario yang sederhana, paling tidak, ”si anak” diharapkan bisa memperbesar pangsa yang telah dicapai oleh kedua induknya.
Pada kenyataannya, memang tidak jauh berbeda. Menurut Eliezer H. Hardjo, Presiden Direktur PT NICI, lahirnya perusahaan patungan ini, antara lain, merupakan strategi untuk mendongkrak pangsa. Peluangnya tampak dari kecenderungan bisnis sambal industri yang terus tumbuh. Hal itu bisa dilihat dari tren selama 2006 yang naik sekitar 13% ketimbang tahun sebelumnya. Bahkan pertumbuhannya tergolong yang terbesar di antara produk makanan lainnya, yang tumbuh hanya sekitar 7%-10%.
Makin kinclongnya pasar sambal, tentu tak bisa dilepaskan dari selera kalangan penggemarnya yang juga terus berkembang. Makanya, ”Kami menghadirkan produk sambal dengan enam varian rasa,” kata Eliezer. Dan tekad mendongkrak pangsa tak semata-mata hanya mengandalkan pasar di dalam negeri. Juga tak tertutup kemungkinan merambah hingga ke pasaran ekspor.
Untuk yang terakhir itu, peluangnya akan mengandalkan nama besar Nestle yang telah memiliki jaringan pemasaran di sejumlah negara. Sampai di situ semakin jelas, mengapa Indofood tak ragu-ragu bermitra dengan perusahaan asal Swiss itu.
Begitu pula buat Nestle, kerja sama itu tentunya akan memberi keuntungan tersendiri. Menurut Michael WO Garrett (Head of Nestle zona Afrika, Timur Tengah, Oceania, dan Asia), strategi kemitraan ini akan membuka kesempatan bagi Nestle untuk memperluas sayap bisnisnya di Indonesia. Perlu diketahui, selama ini Nestle Indonesia hanya berkutat di bisnis susu dan makanan bayi.
Usaha patungan itu mulai digagas sejak dua tahun lalu. Dengan modal awal Rp 50 miliar—masing-masing induk perusahaan memberikan kontribusi yang sama—industri ini ditargetkan bisa menghasilkan sekitar 30 ribu ton sambal per tahun. Sekitar 80% akan dialokasikan untuk mengisi kebutuhan di dalam negeri, sisanya (20%) akan diekspor.
Sebenarnya pula, strategi yang tengah dikembangkan oleh Indofood itu bukanlah yang pertama. Malah, pesaing terberatnya, Grup ABC, jauh sebelumnya (pada 1999) berhasil menggaet HJ Heinz—salah satu produsen saus asal Amerika—sebagai mitra usaha. Tapi, model kemitraan yang dilakukan Grup ABC agak berbeda—jika tak mau dibilang lebih cerdik. Maklum saja, ”merger” di antara keduanya bisa terjadi setelah HJ Heinz sepakat membeli sekitar 65% saham Grup ABC senilai US$ 70 juta. Sejak itu, kedua perusahaan ini pun melebur menjadi PT Heinz ABC Indonesia.
KIAT MENJARING PENGGEMAR FANATIK
Dan langkah yang telah dilakukan ABC itu, terbukti tak sia-sia. Nyatanya, setelah bergabung dengan mitra dari Amerika itu, perusahaan ini berhasil mendongkrak pangsa produk sambalnya, bahkan hingga menjadi yang terbesar di negeri ini, yakni mencapai 50%.
Perlawanan yang tak kalah sengitnya pun digencarkan kalangan industri kelas menengah—yang notabene populasi pemainnya paling banyak. Dibilang skala menengah karena kapasitas produksi mereka tak lebih dari 3 ton per hari. Tapi, keunikan yang dimiliki kalangan industri di level ini, kebanyakan sudah memiliki penggemar fanatik. Karena hal itu, rupanya, mereka mampu bertahan.
Ada berbagai kiat yang dilakukan mereka hingga mampu menjaga loyalitas pasar. Salah satunya dan yang terutama, mereka tergolong piawai meracik cita rasa sambal yang dikembangkan dari tradisi lama. Contoh sederhananya, racikan sambal untuk menyantap masakan yang diolah dari seafood, sejatinya akan dibedakan dengan sambal yang biasa dicampur dengan mi.
Taktik serupa itu, antara lain, telah dikembangkan oleh Sambal Cap Dua Belibis sejak 15 tahun lalu. Berkat strategi itu pula, ”Kami tak gentar bersaing dengan industri kakap,” kata Firman Hidayat, Marketing Manager PT Gunacipta Multi Rasa, produsen Sambal Cap Dua Belibis. Bahkan berdasarkan polling yang dilakukan belum lama ini, dari aspek cita rasa, sambal yang diproduksi oleh perusahaan ini berhasil menyabet rating tertinggi sebagai sambal yang paling disukai.
Kendati begitu, bukan berarti sambal merek ini tergolong memiliki pangsa luas. Maklum saja, selain skala produksinya tergolong rendah—diperkirakan tak lebih dari 10 ton per hari—pendistribusiannya juga masih terbatas, baru sekitar Jakarta dan sekitarnya. Tapi yang menarik, kebanyakan konsumennya (60%) adalah kalangan pengelola restoran seafood.
Yang tak kalah mengesankannya, juga diperlihatkan oleh Sambal Cap Pohon Cabe. Produk sambal yang diproduksi industri kelas menengah ini, bisa dibilang, sudah kesohor di wilayah sekitar Jakarta-Bandung. Tapi hebatnya, Sambal Pohon Cabe juga telah merambah hingga ke berbagai negara, antara lain Korea Selatan, Thailand, dan Amerika Serikat. Keistimewaannya, di antaranya cita rasa yang alami. Sejatinya, Sambal Pohon Cabe diolah hanya dari cabai dan bawang yang berkualitas.
Karena itu, wajar jika Subandy Rachman, pemilik Sambal Pohon Cabe, mengaku setiap bulan bisa memetik pendapatan hingga Rp 100 juta dari usaha yang telah ditekuninya sejak 37 tahun lalu itu. Pedas nan menguntungkan. o
Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|