Minggu, 14 Maret 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Kiat Bersaing di Ranah Antivirus

Eko Edhi Caroko, Diah Amelia, M. Agus Yozami, dan Dian Pitaloka
 
KANGEN, My Wife, Fun Love, Zafi, Rontokbro, Pacaran, dan Patah Hati adalah istilah yang belakangan ini tengah ngepop. Sekilas, kata-kata tersebut mengingatkan kita pada sejumlah nama group band dan judul lagu yang lagi hit. Tapi sebenarnya bukan. Sejatinya, nama-nama tersebut adalah sebutan untuk virus komputer, yang notabene berkonotasi amat buruk. Maklum, gara-gara ulah si virus, kerap membuat para pemilik komputer pusing tujuh keliling lantaran data penting yang dimilikinya tiba-tiba saja hancur berantakan.
Dan sederet nama yang disebutkan tadinya, hanyalah sebagian kecil saja dari sekian banyak virus yang bergentayangan belakangan ini. Sejak pertama kali ditemukan di Amerika, 21 tahun lalu, populasinya memang meningkat sangat pesat. Di Indonesia saja, berdasarkan catatan hingga Mei lalu, berhasil ditemukan lebih dari 40 virus dengan varian baru.
Lebih dari itu, daya rusak si virus pun makin canggih. Selain mampu merusak sistem pengoperasian komputer (software) dan data, si virus (juga ngepop dengan sebutan worm, alias cacing) dari generasi terakhir bisa merusak perangkat keras (hardware). Sungguh menakutkan.

 Artikel Lain
Surga bagi Pasien Perempuan
Kiat Mendongkrak Daya Pikat
Berkibar Berkat Komunitas
Kini Honda Lebih Terbuka
Kiat Bersaing di Ranah Antivirus
Mereka yang (Mencoba) Bangkit Kembali
Ikhtiar ’Menggusur’ Tunggakan
Bersaing Mendongkrak Pangsa Si Pedas
Berebut Pangsa Si ’Etik’
Jurus Menembus Pasar Global
Oleh karena itu, potensi kerugian yang ditimbulkannya tak bisa dianggap enteng. Semisal peristiwa yang meletup pada 2001 di Amerika. Ketika itu, nyaris seluruh pelosok benua ini heboh oleh serangan virus Code Red. Maklum saja, hanya dalam tempo sekejap, tak kurang dari 250 ribu unit server dibuatnya lumpuh total.
Gara-gara ulah si Code Red, seperti yang dilaporkan Computer Economics, perusahaan yang bergerak di bidang jasa IT yang bercokol di California, kala itu Amerika harus menanggung kerugian hingga mencapai US$ 2,4 miliar. Oleh sebab nilai kerugiannya begitu besar, penanganan soal virus komputer kemudian menjadi urusan FBI (Federal Bureau of Investigation).
Lebih dahsyat lagi kerugian yang dialami oleh dunia. Data yang berhasil dikumpulkan oleh Kaspersky Lab, industri pembuat antivirus di Rusia, menyebutkan bahwa sepanjang 2001, nilai kerugian akibat virus komputer total mencapai US$ 13 triliun. Saat ini, ditaksir kerugiannya sudah mencapai lebih dari US$ 55 triliun—sebagian di antaranya adalah kerugian yang terjadi di Indonesia.
Namun, bicara soal virus komputer, tak melulu bercitra buruk. Ada juga sisi positifnya, paling tidak bagi sejumlah kalangan yang berpandangan jeli. Bagi mereka, ternyata si virus mendatangkan ilham untuk membangun usaha nan berprospek cerah, yakni memproduksi software antivirus layaknya yang dilakukan para pendiri Kaspersky Lab. Hal serupa juga dilakukan oleh sejumlah kalangan di negeri ini, salah satunya adalah PT Optima Solusindo Informatika, tak lain agen tunggal Kaspersky di Indonesia.
Dibilang berprospek cerah, ya itu tadi, serangan si virus yang makin mengganas. Di sisi lain, populasi pemilik komputer di negeri ini, trennya terus meningkat. Peredaran PC (personal computer) misalnya, menurut catatan terbaru, kini jumlahnya sudah mencapai 7 juta unit. Dan populasinya akan terus meningkat, jika melihat skala pertumbuhannya selama ini, rata-rata mencapai 25% per tahun.
Seiring dengan itu, kebutuhan akan software antivirusnya pun cenderung meningkat. ”Kebutuhan software antivirus saat ini sudah mencapai 95% dari total populasi PC yang ada,” kata Grace Iswara, Business Manager Distribution Division Optima Solusindo Informatika.
Nyatanya pula, menurut Grace, saat ini setiap bulannya software antivirus yang dipasarkannya rata-rata terjual sekitar 1.250 item. Padahal, harga per item-nya tidak murah lo, sekitar US$ 60. Dengan begitu, omzet yang diraup perusahaan ini setiap tahunnya bisa mencapai US$ 900 ribu. Dengan skala sebesar itu, ”Di dalam negeri, kami menguasai pangsa pasar sebesar 40%,” kata Grace.

MEMANFAATKAN SIRKULASI MAJALAH
Untuk meraih pangsa sebesar itu, ada sejumlah strategi yang dilakukan manajemen Optima Solusindo Informatika. Di antaranya rajin menggelar seminar mengenai pentingnya memproteksi komputer dari gempuran virus. Selain itu, untuk menjaring pelanggan yang lebih besar lagi, perusahaan ini gencar memberikan konsultasi ke banyak perusahaan.
Hanya sayangnya, kendati banyak virus lokal yang gentayangan, menurut Roy Suryo, pakar telematika, bisnis antivirus di negeri ini masih dikuasai oleh produk asing, seperti Symantec, McAfee, dan Norton. Padahal, kebutuhan software antivirus lokal amat penting. Soalnya, virus lokal kecenderungannya hanya bisa terdeteksi dan dibasmi oleh software buatan lokal. Hingga kini, menurut catatan Roy, ada sekitar 870-an virus lokal yang gentayangan. Dari populasi virus sebanyak itu, ironisnya, hanya dilayani oleh tak lebih 20 produsen software antivirus lokal.
Minimnya pemain lokal, kata Roy, karena kecenderungan pasarnya. ”Mereka masih kurang menghargai produk dalam negeri,” ujarnya. Lebih dari itu, peluang untuk memperoleh produk bajakan di negeri ini memang masih terlalu mudah.
Kendati begitu, bukan berarti para pemain lokal itu dibuatnya menyerah. Agar bisa bersaing dengan software impor, sebenarnya pula mereka mempunyai kiat tergolong jitu. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Anton R. Pardede, pencipta PC Media Antivirus (PCMAV) yang sekaligus sebagai Pemimpin Redaksi PC Media, yakni salah satu majalah komputer terkemuka di Indonesia.
Untuk memasarkan antivirusnya, ia memanfaatkan sirkulasi media yang dikelolanya itu. Artinya, ”Untuk setiap pembeli majalah ini, mereka akan mendapatkan software antivirus secara gratis,” ujarnya. Untuk mendapatkan setiap eksemplar PC Media, pembaca cukup mengeluarkan fulus Rp 39.900. Sampai saat ini, tiras media bulanan itu diperkirakan sudah mencapai 10 ribu eksemplar.
Sebenarnya pula, kata Anton, antivirus buatan lokal memiliki sejumlah keunggulan. Seperti antivirus impor, kekuatannya hanya mampu mendeteksi keberadaan dan memusnahkan si virus. Karena itu, lazimnya, antivirus impor tak bisa menetralisasi file yang sudah terjangkit virus, sehingga ketika virusnya dibasmi, file-nya pun ikut terhapus. Sebaliknya dengan antivirus buatan lokal layaknya PCMAV, selain mampu mendeteksi dan memusnahkan, ia juga mampu menyelamatkan file yang sudah terserang virus.
Masih minimnya pemain lokal di bisnis ini, juga terkendala oleh soal anggaran yang tak kecil. Maklum, agar bisa tetap eksis, kecenderungannya mereka harus melakukan pengembangan produk. ”Padahal, untuk itu dibutuhkan biaya yang cukup tinggi,” ujar Djarot Subiantoro, Ketua Asosiasi Piranti Lunak Indonesia. Dus, sejatinya mereka berminat terjun ke bisnis ini, selain kreatif, juga harus bermodal kuat.


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id