|
|
 |
|
Berkibar Berkat Komunitas
|
| Eko Edhi Caroko, Dian Pitaloka, Diah Amelia, dan M. Agus Yozami |
| |
SUATU hari di pertengahan Juni lalu, terlihat ratusan orang berkumpul di pelataran sebuah hotel berbintang di Jakarta. Saat itu jarum jam baru menunjukkan pukul 10 pagi, tapi antrean sudah memanjang hingga 100 meter. Jika melihat penampilannya yang rapi dan tertib—kebanyakan berdasi dan berjas kerja—tampaknya mereka tak sedang berunjuk rasa.
Sesungguhnya saat itu mereka tengah mengantre membeli Nokia E90, communicator seri terbaru produksi industri asal Finlandia. Jika mereka tampak begitu antusias, pasalnya hari itu adalah penjualan perdana perangkat yang harga per unitnya dibanderol Rp 9 juta itu. Bahkan merupakan kesempatan pertama di dunia. ”Peluncuran seri terbaru ini di Indonesia, memang lebih dulu ketimbang di negara asalnya Finlandia,” ujar Hasan Aulia, General Manager Nokia Indonesia.
Dus bisa dimaklumi, mengapa mereka begitu bersemangat—bahkan beberapa di antaranya sudah mulai mengantre sejak pukul lima pagi. Kendati harganya tergolong tak murah, tapi bagi mereka yang bisa memiliki barang nan canggih itu di kesempatan pertama adalah kebanggaan tersendiri. Gengsinya dong, begitulah kira-kira.
Sampai di situ, pun semakin meyakinkan bahwa di mata para produsen ponsel di jagat ini, negeri kita memang patut digolongkan sebagai pasar nan potensial. Tak terkecuali bagi Nokia. Alasannya, selain ceruk pasarnya begitu menganga, yang tak kalah memikat adalah karakter pasarnya tergolong responsif. Kendati sudah dijejali banyak model dan merek, toh mereka masih jua ramah terhadap keluaran terbaru. Fenomena yang terjadi di pelataran hotel tadi bisa dijadikan contoh.
Bisa dibilang, kebanyakan dari mereka tergolong pelanggan yang loyal. Dan biasanya pula, karena didorong oleh kepentingan yang sama, lazimnya, secara alamiah mereka akan membentuk kelompok, layaknya Nokia Communicator Community (NCC)—komunitas para pengguna produk ponsel ini. Populasi anggotanya pun tak bisa diremehkan. ”Bahkan tergolong yang terbesar di dunia,” kata Hasan. Sejak dibentuk pada 1996—seiring dengan diluncurkannya Nokia 9000—kini anggotanya sudah berjumlah 37 ribu orang.
Tentu, fenomena seperti ini amat menyenangkan kalangan industrinya. Maklum saja, lebih dari 90% pemasaran setiap produk communicator Nokia, bisa dipastikan dibeli oleh para anggota komunitas ini. ”Keberadaan komunitas ini memang sangat membantu penjualan,” kata Trisnawan Tjipto, Product Marketing Manager Enterprise Solution Nokia.
Oleh karena itu, serta merta Nokia secara otomatis mencatat setiap pembeli baru produk communicator-nya sebagai anggota NCC. Dan uniknya, ”Tak sedikit dari anggota komunitas ini yang memiliki lebih dari satu model communicator Nokia,” tambah Trisnawan. Sungguh strategi dagang nan cerdik.
Tak mau kalah dari kompetitornya, kiat serupa pun digencarkan Samsung. Industri hand phone asal Korea ini sejak dua tahun lalu membentuk Samsung Fun Club (SFC). ”Komunitas semacam ini sengaja kami bentuk untuk menjaga loyalitas konsumen,” kata R. Andy K. Utomo, General Motor Mobile Communication Division Samsung, kepada Tedy Gumilar dari TRUST. Hasilnya pun bisa langsung dirasakan. Buktinya, sejak komunitas ini didirikan, setiap tahun penjualan hand phone Samsung meningkat hingga 20%.
PRODUK KETINGGALAN ZAMAN PUN MASIH LARIS TERJUAL
Sebenarnya pula, kiat memanfaatkan komunitas penggemar untuk mendongkrak penjualan bukanlah hal yang baru. Jauh sebelum ini, tren serupa telah lebih dulu marak di kalangan pemasar otomotif, layaknya perkumpulan sepeda motor dan mobil dari merek-merek dan model tertentu.
Sementara bagi para anggotanya, manfaat bergabung dalam perkumpulan serupa ini, selain sebagai ajang pergaulan, juga merupakan forum berbagi wawasan. Lewat diskusi di antara mereka, nyaris tiada kendala teknis yang tak bisa dipecahkan. Bahkan, tak jarang melahirkan inspirasi yang berorientasi ke pengembangan produk.
Jadi, hal itu, rupanya, yang mendorong kalangan pemilik Macintosh (Mac)—produk personal computer (PC) buatan Apple Computer Incorporated—berinisiatif membentuk Indonesia Macintosh Society, atau yang lebih dikenal dengan istilah Id-Mac, enam tahun lalu. Maklum saja, jenis PC yang satu ini memiliki peranti lunak yang dirancang khusus. Karena itu pula, untuk mengoperasikannya, si pengguna—kebanyakan dari kalangan yang berminat menekuni desain grafis—harus memiliki pengetahuan dan keterampilan tersendiri.
Nah, dalam kaitan itu dan dengan tujuan untuk mengembangkan diri, awalnya mereka memanfaatkan forum yang ada di internet—tak lain cikal bakal terbentuknya Id-Mac. Di luar dugaan, ternyata peminatnya lumayan banyak. Sampai saat ini, jumlah anggotanya sudah mencapai 2.700 orang.
Tak pelak, fenomena yang menggembirakan itu tak disia-siakan oleh manajemen Apple Computer. Industri yang bermarkas di California, Amerika, ini pun segera membuka perwakilan resmi di sini, yang kegiatannya mencakup aspek distribusi, reseller, dan service provider. ”Para channel Apple ini kemudian menyelenggarakan pertemuan rutin setiap bulan dengan anggota Id-Mac,” kata Dirgayuza Setiawan, Koordinator Id-Mac.
Dalam setiap pertemuan rutin itu, perwakilan Apple akan memberikan berbagai macam informasi terbaru, di antaranya pelatihan sekaligus promosi. Hasilnya tak perlu disangsikan lagi. Berkat keberadaan komunitas ini penjualan PC dan laptop Macintosh semakin bersinar. Pada saat Id-Mac baru didirikan, tercatat baru sekitar 1.000 unit komputer Macintosh yang terjual. Hingga tahun lalu, skala itu meningkat menjadi sekitar 5.000 unit. Untuk diketahui, harga satu set komputer Macintosh saat ini berkisar antara Rp 25 juta (PC) dan Rp 17 juta (laptop).
Memanfaatkan komunitas penggemar untuk memperkuat strategi dagang memang sah-sah saja. Dan menurut Himawan Wijanarko, pengamat pemasaran dari The Jakarta Consulting Group, kiat serupa ini sangat cocok diterapkan untuk memasarkan berbagai produk yang berkaitan dengan life style. Lebih dari itu, lewat jaringan komunitas yang ada, ”Produk-produk yang sudah ketinggalan zaman pun, sebenarnya masih bisa laris dijual,” ujar Himawan. Contohnya, layaknya bursa motor atau mobil dari model lama buatan industri terkenal di dunia, ternyata sampai saat ini komunitas penggemarnya masih tergolong banyak.
Namun demikian, ada hal yang harus diwaspadai kalangan perusahaan, yakni janganlah sampai membuat kecewa komunitas yang menggemari produknya. Bila hal itu terjadi jua, niscaya kedekatannya dengan kelompok penggemar akan menjadi bumerang. Dengan power yang dimilikinya, bahkan mereka (komunitas) dengan cepat bisa menjatuhkan angka penjualan.
Oleh sebab itu, seyogianya pihak perusahaan harus piawai menjaga hubungan baik dengan kalangan komunitas penggemarnya, terutama dalam hal pelayanan purnajual. Mengapa tidak.
Berikan Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|