|
|
 |
|
Kiat Mendongkrak Daya Pikat
|
| Eko Edhi Caroko, M. Agus Yozami, dan Dian Pitaloka |
| |
ADA perubahan yang cukup mendasar di PT Matahari Putra Prima. Yang tampak kasat mata, terutama di jaringan supermarketnya. Sejak Mei lalu pasar tak akan melihat lagi Matahari Supermarket, tapi sosok lain yang terlihat lebih gres: Foodmart. ”Matahari Supermarket memang telah diganti menjadi Foodmart,” kata Dewi Susilowati, Manajer Humas PT Matahari Putra Prima.
Dan perubahan itu tak hanya dilakukan pada papan nama, seisi ”perutnya” pun ikut berganti rupa. Sebelumnya, toko Matahari—brand yang sebenarnya sudah begitu akrab di kalangan pelanggannya, dikenal sebagai gerai yang menjajakan berbagai barang kebutuhan rumah tangga. Kini, sesuai dengan namanya, Foodmart diposisikan sebagai ritel modern yang lebih fokus menjual produk makanan.
Perombakan tersebut karena perusahaan ritel ini telah berganti pemilik? Tidak juga. Nyatanya, sampai saat ini (sejak 1997) saham mayoritas perusahaan ini masih dimiliki oleh Multipolar Corporation, tak lain salah satu unit usaha Lippo Group. Dus, kebijakan perubahan itu, kata Dewi, semata-mata merupakan strategi dagang, yakni demi mendongkrak penjualan.
Hal itu perlu dilakukan, mengingat kinerjanya selama ini. Boleh jadi karena kalah pamor oleh para pesaingnya, Matahari Supermarket jadi kurang diminati pasar. Contohnya, seperti yang terjadi di Matahari Supermarket yang bercokol di Cilandak Town Square—atau yang lebih ngepop dengan sebutan Citos, pengunjung yang datang ke sana, dari hari ke hari trennya cenderung terus menurun. Bahkan, dalam beberapa bulan terakhir ini nyaris sepi. Kalaupun ada yang datang, paling banter hanya sekitar 1.000 pengunjung per hari.
Kalau saja daya pikat Matahari Supermarket cenderung melemah, kata Dewi, karena kalah pamor oleh sejawatnya: Matahari Department Store. Nyatanya pula, pasar lebih mengenal Matahari sebagai gerai yang menjajakan berbagai produk fashion ketimbang barang-barang kebutuhan rumah tangga.
Di sisi lain, iklim persaingan antarsupermarket—seiring dengan bermunculannya pemain baru yang lebih kinclong—dirasakan makin bertambah panas. Selain itu pula, ada kecenderungan perubahan kebiasaan berbelanja di kalangan masyarakat. Kini, menurut Solichin, Franchise General Manager Alfamart, konsumen cenderung bersikap lebih efisien. ”Mereka tidak lagi mempermasalahkan selisih harga produk yang tidak terlalu banyak, tapi lebih mementingkan efisiensi waktu,” katanya. Karena itu pula, rupanya, gerai sekelas minimarket yang hadir di tengah-tengah permukiman jadi lebih marak.
Sementara, hadirnya hypermarket yang menawarkan produk lebih komplet dan harga lebih miring sulit dibendung. Akibatnya ritel kelas menengah seperti supermarket, posisinya makin terjepit. ”Faktanya pertumbuhan minimarket dan hypermarket memang sangat pesat,” ujar Solichin. Selama 2006 saja jumlah hypermarket bertambah sebanyak 32 gerai, atau naik 30%. Begitu juga minimarket, populasinya bertambah sebanyak 2.426 unit, atau naik 37,5%. Sementara supermarket hanya tumbuh 11%, atau bertambah sebanyak 136 gerai (lihat tabel Pertumbuhan Gerai Retail Modern).
TOTAL INVESTASINYA MENCAPAI
480 MILIAR
Berdasarkan berbagai pertimbangan itu, kebijakan mengubah strategi dagang, tampaknya dinilai lebih realistis ketimbang harus menutupnya. Toh, kalangan pelanggan fanatik Matahari Supermarket masih terbilang cukup banyak.
Lebih dari itu, bisnis ritel—termasuk di dalamnya produk makanan—masih tergolong sektor usaha berprospek cerah. Perputaran dana di sektor ini, menurut catatan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), cenderung terus meningkat. Pada 2005, total omzet yang dipetik para pengusaha di sektor ini mencapai Rp 40 triliun. Setahun kemudian skalanya membengkak menjadi Rp 50 triliun. Menurut perkiraan Handaka Santosa, Ketua Umum Aprindo, tahun ini total pertumbuhannya akan mencapai 17%. Dari skala sebesar itu, sekitar 15% adalah pangsa yang dikuasai kelompok Matahari.
Sampai tahun lalu, Matahari Supermarket memang masih mampu memberikan kontribusi cukup besar terhadap pendapatan ”induknya”. Dari total pendapatan Matahari Group sebesar Rp 8,5 triliun, sekitar Rp 3,7 triliun adalah sumbangan dari divisi supermarket. Sementara divisi department store memberikan kontribusi sebesar Rp 4,4 triliun. Kini, di bawah payung Matahari Group terdapat 83 department store, 28 Hypermart, 32 Foodmart, 10 gerai Kids2Kids, 36 Boston Pharmacy (gerai obat), dan 110 wahana hiburan Time Zone.
Setelah kebijakan perubahan itu berjalan, Matahari akan lebih menonjolkan Hypermart sebagai ritel yang menyediakan kebutuhan rumah tangga. Dus, strategi perubahan yang tengah dilakukan terhadap Matahari Supermarket, ”Tampaknya lebih ditujukan untuk mempertegas brand image,” kata Handaka.
Dan pada kenyataannya, setelah sebulan berganti menjadi Foodmart—dengan perombakan di sana sini, perubahan pun mulai dirasakan. Pengunjung yang datang ke gerai ini tiba-tiba saja membeludak, rata-rata sebanyak 3.000 orang per hari. Bahkan, di akhir pekan bisa mencapai 5.000 orang. Sungguh strategi perubahan yang berhasil.
Oleh sebab itu, wajar saja, bila pihak manajemen Matahari tak harus kecewa telah membayar mahal. Kata Dewi, untuk merombak 32 gerai Matahari Supermarket menjadi Foodmart, pihaknya telah mengucurkan dana tak kurang dari Rp 480 miliar.
Selain itu, Foodmart memang dirancang dengan sejumlah daya tarik. Di antara berbagai produk makanan yang dijajakannya, gerai ini juga menyediakan aneka produk makanan impor, seperti keju, sosis, dan makanan kering lainnya. Kualitas dan kesegarannya pun dijamin. Jadi bila ada makanan yang kemasannya rusak atau sudah kedaluwarsa, konsumen bisa menukarnya dengan uang seharga barang tersebut. Lalu bila terjadi perbedaan harga antara banderol yang tertera di rak display dan di meja kasir, maka konsumen akan mendapatkan barang itu secara gratis.
Dengan kiat tersebut, menurut Dewi, sampai akhir tahun ini Foodmart diharapkan bisa mendongkrak pendapatan kelompok Matahari hingga sekitar 15%, atau nilainya setara dengan Rp 4 triliun. Target yang tergolong amat optimistis.
Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|