Jumat, 10 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Surga bagi Pasien Perempuan

Eko Edhi Caroko, Diah Amelia, Saswitarizky, dan Dian Pitaloka
 
BRAWIJAYA Women and Children Hospital (BWCH). Sepintas, rumah sakit yang baru beroperasi sejak Desember lalu ini layaknya rumah bersalin yang khusus melayani masalah kebidanan. Ternyata tidak. Bahkan, bila dibandingkan dengan kebanyakan rumah sakit lainnya, layanan medis yang ditawarkan BWCH lebih lengkap. Selain masalah kebidanan, berbagai layanan kesehatan lainnya (seperti general check up, unit gawat darurat, unit penanganan penyakit kanker, penyakit dalam, penyakit jantung, dan kesehatan gigi dan mulut) pun ada di sana.
Hanya saja, sesuai dengan namanya, seluruh layanan kesehatan itu hanya diselenggarakan untuk kalangan wanita dan anak-anak. Dan bisa dibilang, BWCH adalah ”surga” bagi kaum hawa untuk merawat diri. Sebab, di rumah sakit ini masih tersedia fasilitas layanan lainnya, seperti salon kecantikan, klinik perawatan kulit, konsultasi diet, dan bedah plastik.
Dus, kendati tergolong segmented—yakni hanya menyasar kaum perempuan, tapi model pelayanan yang ditawarkan BWCH memenuhi prinsip-prinsip one stop shopping. Kecenderungan seperti ini, menurut Amira Ganis, CEO BWCH, belakangan ini memang tengah menggejala di masyarakat. Tren yang tengah berkembang, katanya, tidak lagi mengacu pada rumah sakit umum yang siap menerima siapa saja dengan keluhan kesehatan yang beragam, melainkan yang lebih spesifik tapi yang mampu memberikan pelayanan yang maksimal.

 Artikel Lain
Diversifikasi nan Menjanjikan
Persaingan Pasca-Zaman Jahiliah
Menerawang Masa Depan
Menyoal Monopoli EPL
Surga bagi Pasien Perempuan
Kiat Mendongkrak Daya Pikat
Berkibar Berkat Komunitas
Kini Honda Lebih Terbuka
Kiat Bersaing di Ranah Antivirus
Mereka yang (Mencoba) Bangkit Kembali
Atas dasar itu, rupanya, BWCH didirikan. Dan berdasarkan riset yang dilakukan para pengelolanya, diketahui bahwa kaum hawa memiliki tingkat kepedulian terhadap kesehatan yang lebih tinggi daripada pria. Lebih dari itu, kecenderungannya pula mereka memiliki ragam penyakit yang lebih kompleks. Maklum saja, sebagai ”child carrier” (yakni kaum yang harus mengandung dan menyusui anak), secara kodrati mereka tergolong berisiko tinggi terserang penyakit.
Di sisi lain, model pelayanan rumah sakit yang spesifik dan terpadu, ternyata lebih efisien. Itu, paling tidak, jika dibandingkan dengan rumah sakit umum, karena berkewajiban melayani beragam kasus, cenderung harus memiliki ruang rawat inap yang banyak pula. Sebaliknya dengan BWCH yang bercokol di kawasan padat Jalan Taman Brawijaya No. 1, Cipete Utara, Jakarta Selatan. Untuk membangun seluruh fasilitas tadi, plus ruang rawat inap yang bisa menampung 50 tempat tidur, ternyata hanya membutuhkan lahan tak lebih dari 6.000 meter persegi.
Memilih lokasi di sana, sebenarnya pula, bukannya tanpa perhitungan. Berdasarkan data yang ada, menurut Amira, mereka yang berdomisili di kawasan ini ternyata cocok dengan konsumen yang dibidiknya, yakni kebanyakan dari kalangan menengah-atas. Dan sesuai kelasnya, kecenderungannya mereka akan menuntut pelayanan yang prima.
Untuk soal yang terakhir itu pun telah disiapkan dengan sangat matang. Lihat saja interiornya, berkesan mewah dan elegan. Dan uniknya, tak seperti suasana di kebanyakan rumah sakit lainnya yang selalu beraroma khas, yakni bau obat yang menyengat, seluruh ruangan di BWCH dijamin akan menyebarkan aroma wangi yang menyegarkan. Bisa dibilang, tempat ini lebih menyerupai hotel ketimbang rumah sakit.
Dan karena kebanyakan pasien perempuan yang datang sering membawa anak, rumah sakit ini juga menyediakan pelayanan tambahan. Yakni, agar sang anak tidak mengganggu ketika ibunya tengah menjalani pemeriksaan medik, pihak pengelolanya menyediakan jasa baby sitter dan arena khusus bermain untuk anak. Dan khususnya bagi tamu-tamu asing, juga disediakan jasa penerjemah yang fasih berbahasa Inggris, Belanda, Arab, dan Jerman. Maklum saja, di kawasan sekitar BWCH berada, juga dikenal sebagai permukiman favorit bagi para ekspatriat.

BUKAN SEKADAR
GAYA HIDUP
Walhasil, berkat berbagai strategi yang dijalankannya itu, rumah sakit ini mulai menampakkan keunggulannya. Sejak pertama dioperasikan hingga saat ini, rata-rata tak kurang dari 200 pasien per hari yang berobat ke sana. Sekitar 20% di antaranya adalah mereka yang membutuhkan penanganan rawat inap. Dengan jumlah pasien sebanyak itu, omzet yang dipetik pengelola BWCH diperkirakan bisa mencapai Rp 650 juta. Buat pemain tergolong baru, sungguh tergolong pendapatan yang cukup menjanjikan.
Strategi hampir serupa juga dilakukan oleh Rumah Sakit Yadika, yang bercokol di kawasan Ciputat, Tangerang, Banten. Awalnya rumah sakit ini merupakan rumah bersalin (rumah sakit ibu dan anak). Namun, sejak empat tahun lalu, RS Yadika mulai memosisikan diri menjadi rumah sakit umum yang khusus menerima pasien wanita. Seiring dengan itu, fasilitas layanan kesehatannya pun dikembangkan. Selain poliklinik kebidanan dan anak, rumah sakit berlantai lima ini juga membuka poliklinik gigi, penyakit kulit & kelamin, mata, saraf, THT, kardiologi, dan psikologi.
Rumah sakit ini juga menyediakan layanan estetika, tak lain fasilitas khusus untuk perawatan kecantikan, mulai dari perawatan wajah, tubuh dan kulit (spa), program melangsingkan tubuh, aroma terapi, gymnastic program, mandi uap, hingga karaoke. Layanan estetika ini, sebenarnya, ditujukan bagi para pasien yang telah menjalani perawatan. Tujuannya, setelah sembuh dari sakit agar penampilannya tetap terjaga.
Layanan tersebut juga terbuka bagi para penjenguk atau mereka yang menemani pasien yang dirawat. Daripada bengong, kan lebih baik menghibur diri sambil memanjakan tubuh. Untuk perawatan kecantikan ini biaya yang dikenakan pengelolanya boleh dibilang tak terlalu mahal, yakni berkisar Rp 50 ribu hingga Rp 175 ribu per paket layanan. Rata-rata sebanyak 20 orang yang memanfaatkan fasilitas ini setiap harinya.
Dan yang tak kalah menariknya, menurut Poltak Sianturi, Direktur RS Yadika, pihaknya tidak akan membeda-bedakan pasien yang datang. ”Kami menerima pasien dari semua kalangan,” katanya. Boleh jadi karena itu, rumah sakit ini tergolong ramai dikunjungi pasien. Setiap harinya, paling tidak sebanyak 200 pasien yang datang ke sana. Dan 25 pasien di antaranya adalah mereka yang membutuhkan rawat inap.
Munculnya rumah sakit khusus yang melayani pasien wanita, menurut Dr. Adib A. Yahya, Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (Persi), bukan semata karena tuntutan bisnis atau gaya hidup. ”Rumah sakit khusus ini muncul karena memang ada kebutuhan dari masyarakat,” katanya. Salah satu indikasinya, lihat saja daya tampung setiap rumah sakit yang ada sampai saat ini. Dengan total 1.100 rumah sakit di seluruh Nusantara, rasionya setiap rumah sakit harus melayani 200 ribu orang. Padahal idealnya, setiap rumah sakit ”hanya” melayani sekitar 40 ribu pasien.
Terlepas dari itu, tren munculnya rumah sakit yang secara khusus melayani pasien wanita, otomatis akan mendorong iklim persaingan antarpengelola rumah sakit bertambah sengit. Nah, agar bisa bertahan di kancah persaingan, menurut dr. Mus Aida, salah seorang pengurus di RS Pondok Indah Jakarta, seyogianya pihak rumah sakit memberikan service yang maksimal. Dengan begitu, mereka akan memperoleh kepercayaan dari pasien. Memang. 


Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id