|
|
 |
|
Menyoal Monopoli EPL
|
| Eko Edhi Caroko, Diah Amelia, M. Agus Yozami, dan Saswitariski |
| |
KEKECEWAAN itu masih jua menggema hingga pekan ini. Terutama di kalangan penggila sepak bola di negeri ini, mereka masih jua tak habis pikir, bagaimana mungkin English Premier League (EPL) yang paling bergengsi di dunia itu, kini tak bisa ditonton secara langsung dan bebas lewat (salah satu) stasiun televisi yang ada. Padahal, putaran perdana turnamen antar-klub papan atas di Inggris itu sudah dimulai sejak 11 Agustus lalu.
Oleh karena itu, semuanya harus kecewa? Ternyata tidak. Mereka yang beruntung adalah yang berlangganan Astro. Sejatinya, jaringan televisi berbayar (pay TV) yang dikelola oleh PT Direct Vision (anak perusahaan Lippo Group) ini adalah pemegang hak siar tunggal EPL 2007 untuk kawasan Indonesia. Dus, bagi mereka yang tak berlangganan saluran ini, memang harus kecewa.
Ihwal monopoli itu, sebenarnya bermuara dari kebijakan pihak penyelenggaranya, yakni Football Association (FA). Mulai tahun ini, FA bahkan menawarkan tiga musim EPL (2007, 2008, 2009, dan 2010) secara sekaligus. Setelah melalui proses tender, akhirnya ditetapkan 81 perusahaan yang berhak menyiarkan liga ini ke seluruh dunia. Semisal untuk penayangan di wilayah Asia, dipegang oleh ESPN dan Star Sports, yakni dua saluran olahraga milik raja media Rupert Murdock.
Masalahnya kemudian muncul setelah itu. Entah bagaimana prosesnya, pihak ESPN dan Star Sports menyerahkan hak penyiaran untuk di Malaysia dan Indonesia kepada Astro All Asia Networks Plc., tak lain principal Astro yang bermarkas di Malaysia. Artinya, kecuali lewat channel khusus yang disediakan Astro, EPL musim tahun ini—khususnya bagi pemirsa yang berada di kedua negara itu—tak bisa lagi ditonton lewat saluran ESPN dan Star Sports.
Boleh jadi, karena back ground monopoli yang kini dipegang Astro itu dinilai tidak jelas, membuat para pesaingnya di sini (antara lain Indovision, Kabelvision, Telkomvision, dan M2V) bak kebakaran jenggot. Masalahnya, ”Sampai saat ini kami memang tidak pernah memperoleh pemberitahuan resmi (dari pihak ESPN dan Star Sports) jika ada penawaran tersebut,” kata Rudi Tanoesoedibjo, Direktur Utama Indovision. Padahal, sampai saat ini TV berbayar dengan total pelanggan sebanyak 350 ribu ini, masih memiliki kontrak dengan ESPN dan Star Sports.
Oleh karena itu, wajar saja, jika masalah tersebut akhirnya menuai tudingan miring. Layaknya kecurigaan Rudi, bahwa di balik transaksi antara Astro dan kedua mitranya tadi, tak tertutup kemungkinan telah terjadi praktik bisnis yang tak sehat. Benarkah?
Halim Mahfudz, Vice President Corporate Affairs Astro, pun membantahnya. Menurutnya, pihaknya dijamin telah melakukan praktik bisnis yang sesuai dengan aturan main yang berlaku. ”Kesepakatan ini berdasarkan perjanjian antara Astro Malaysia dengan ESPN dan Star Sports,” katanya, kepada Tedy Gumilar dari TRUST. Hanya bagaimana prosesnya hingga kesepakatan itu tercapai, entah mengapa, Halim masih enggan menjelaskannya.
DIGITAL BUAT KALANGAN BAWAH
Oke, terlepas dari itu, kemelut yang tengah merebak di kalangan para penyelenggara TV berbayar belakangan ini, menyiratkan bahwa persaingan di antara mereka sungguh amat ketat. Mereka memang memiliki banyak paket siaran yang menarik. Tapi memiliki hak siar eksklusif—apa lagi seperti hak monopoli penyiaran EPL yang diperoleh Astro itu—bisa dibilang merupakan berkah yang luar biasa.
Makanya, berapa pun ongkosnya, tidaklah jadi masalah. Seperti yang dilakukan Astro, untuk mendapatkan hak siar EPL selama tiga musim berturut-turut, kabarnya tak ragu mengeluarkan dana hingga US$ 50 juta, atau setara dengan Rp 475 miliar. Dengan modal sebesar itu, mereka malah berhitung akan meraup untung yang tak kalah gedenya. Peluangnya, tak lain dari skala penggemar liga paling kesohor di dunia ini yang terbilang dahsyat. Dengan begitu, harapannya akan mendongkrak jumlah pelanggan serta pendapatan dari iklan. Sungguh, strategi bisnis tergolong cerdik.
Dan yang terjadi di lapangan, tampaknya, sulit dimungkiri. Setelah dipastikan memperoleh hak tunggal menyiarkan EPL 2007 di sini, Astro jadi begitu popular. Padahal, ketimbang penyelenggara TV berbayar lainnya, perusahaan ini tergolong baru, yakni baru setahun beroperasi. Seiring dengan itu, daftar pelanggannya pun terus bertambah. Uniknya, tak sedikit dari mereka merupakan ”pelarian” dari TV berbayar lain.
Dari catatan yang ada, dua pekan menjelang EPL 2007 bergulir, Astro berhasil menyedot sekitar 2.000 pelanggan baru. Dan targetnya, ”Hingga akhir tahun ini, akan mencapai 200 ribu pelanggan,” ujar Halim. Sebagai informasi, hingga Februari lalu, saluran ini baru meraih sekitar 80 ribu pelanggan.
Sebenarnya pula, bila target tersebut tak tercapai, posisi Astro bisa dibilang tetap aman, alias berpeluang tak terlalu merugi. Asumsinya, katakan saja jumlah pelanggannya tak meningkat seperti yang diharapkan, atau masih di kisaran tak jauh dari angka 80 ribu. Dengan tarif berlangganan yang dipatok rata-rata Rp 200 ribu per bulan, dalam tiga tahun ke depan, pihak pengelolanya dipastikan akan meraup pendapatan lebih dari Rp 576 miliar. Artinya, hanya dari iuran para pelanggannya, modal yang telah dikeluarkan tadi sudah bisa kembali. Berikutnya tinggal menghitung keuntungan yang dipetik dari para pemasang iklan dan tambahan pemasukan dari bertambahnya pelanggan.
Jika begitu jadinya, berbisnis di sektor ini memang sangat menjanjikan. Buktinya, kendati iklim persaingan dirasakan sudah memanas, toh itu tak mengurangi lahirnya pemain baru. Sebut saja di antaranya PT Mentari Multimedia yang meluncurkan M2V sejak akhir tahun lalu. Berbeda dengan penyelenggara TV berbayar lainnya, kalangan konsumen yang disasar M2V adalah mereka yang kerap berlama-lama di dalam kendaraan. ”Idenya memang dari situasi kemacetan di Jakarta yang makin parah,” ujar Agus Hanytio, Director PT Mentari Multimedia.
Dan menariknya, kendati mobile, tapi kualitas gambar dan suara 21 channel yang disuguhkannya dijamin tetap jernih. Untuk itu, pihak pemiliknya berani mengeluarkan modal hingga US$ 2 juta. Bagi yang berminat berlangganan, mereka harus merogoh kocek antara Rp 99 ribu-Rp 210 ribu per bulan. Strategi ini cukup berhasil. Nyatanya, sampai saat ini, M2V telah berhasil menjaring sekitar 3.500 pelanggan. Jika trennya terus berkembang, Agus optimistis modal yang telah dikeluarkannya tadi akan kembali dalam waktu tiga tahun.
Sebenarnya pula banyak cara untuk menyikapi persaingan. Seperti yang dilakukan PT Indonusa Telemedia dengan Telkomvision. Sejak Agustus ini, anak perusahaan Telkom itu mulai menggunakan teknologi digital. Keunggulannya, selain kualitas tayangannya jadi lebih baik, ”Dengan teknologi ini memungkinkan kami bisa menjual program dengan sistem paket yang lebih murah,” kata Rahadi Arsyad, President Director PT Indonusa Telemedia.
Setiap programnya dipasarkan lewat kartu prabayar, yang per paketnya bahkan ada yang dibanderol hanya Rp 30 ribu. Strategi ini, ”Memang dibuat agar konsumen kelas bawah bisa menikmati,” ujar Rahadi. Dengan strategi ini diharapkan bisa mendongkrak skala pelanggannya yang saat ini baru sebanyak 40 ribu. Hingga akhir tahun nanti, targetnya akan mencapai 120 ribu pelanggan.
Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|