Jumat, 10 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Rokok Gurem Sukses di Rantau Orang
Agar bisa bertahan, sejumlah pabrik rokok gurem memasarkan produknya di luar Jawa. Ada juga yang membidik para simpatisan NU.

Irawati Maxi, Winuranto Adhi (Malang), dan Ardiyansyah Harjunantio (Semarang)
 
DI TENGAH dominasi pabrik rokok besar seperti PT HM Sampoerna, PT Gudang Garam, dan PT Djarum Kudus, beberapa pabrik rokok gurem masih mampu bertahan. Padahal, persaingan juga datang dari pabrik rokok gurem lainnya. Berbagai strategi pun dilakukan, mulai dari menjajakan langsung rokoknya ke konsumen, sampai mencari pasar baru.

Memang, ada pula yang pasrah dengan kondisi seadanya.

 Artikel Lain
Berebut Pasar yang Makin Licin
Tak Cukup Cuma Beriklan
Saham Telekomunikasi: Menanti Teman Baru
Kopi Medan Ingin Kuasai Jakarta
Dibuang Sayang, Ditukar Sukar
Menjaring Tamu Setia Lewat Kartu
Mengangkat Citra Jamu ke Kelas Atas
Rokok Gurem Sukses di Rantau Orang
Meniti Konsep Perbankan dari Langit
Ketika Singa Memasuki Permukiman
Pabrik rokok Garuda Mas yang berlokasi di Lumajang, Jawa Timur, misalnya, menjual rokoknya pada acara-acara hajatan, baik dalam acara pernikahan maupun khitanan. Selain itu, rokok ini juga dipasarkan di lokasi perkebunan di Jember dan Wonosari, Lawang, Malang. Lantaran harganya relatif murah, Rp 3.000 per bungkus dengan isi 12 batang, Garuda Mas bisa laris manis.

Cuma, pabrik rokok ini tak bisa berproduksi secara kontinu karena belum memiliki pita cukai. ”Birokrasinya ngejelimet. Mereka menjanjikan antara bulan Juli atau Agustus nanti,” kata Sugeng Triatmo, pemilik Garuda Mas. Untuk saat ini, produksinya memang masih kecil: cuma 3.500 batang per hari. Dengan proses manual, pabrik rokok itu memiliki delapan orang buruh linting. Untuk 100 batang, masing-masing buruh mendapat upah Rp 7 ribu.
Kelak, jika pita cukai sudah dikantongi, Sugeng berencana melempar produknya ke para buruh perkebunan di luar Jawa. Ia tahu benar bahwa mereka ini tak memikirkan rasa, yang penting asap bisa mengepul dari mulut.

MEMBIDIK BURUH DAN WARGA NU
Para buruh perkebunan di luar Jawa itu memang sudah menjadi target pemasaran mayoritas pabrik rokok gurem di Jawa Timur. Maklum, pasar di Jatim sudah dikuasai pabrik rokok besar. Maka, bidikan ke pulau seberang itu pun dilakukan rokok Gandum Jaya, Arum Manis, Arum Manis Mild, Supra, Tiga Gajah, Madona, Simphoni Super, dan Mega Mas. Dengan harga murah—tak sampai Rp 5.000 per bungkus (satu bungkus berisi 12-16 batang)—rokok gurem itu diserbu para buruh perkebunan.
Pabrik rokok Banyu Biru yang berlokasi di Malang, misalnya. Pabrik itu memproduksi rokok filter dan kretek beragam merek, seperti Arum Manis, Arum Manis Mild, Supra, dan Tiga Gajah. Dengan mematok harga Rp 3.200-Rp 4.600 per bungkus, mereka mengirim 50 boks (satu boks berisi 125 pak rokok) ke Jambi, Palu, dan Riau. ”Dalam seminggu bisa dua kali kirim,” kata Boby, staf bagian gudang Banyu Biru.

Sementara itu, pabrik rokok PT Gandum yang juga berlokasi di Malang, memasarkan rokok merek Gandum Jaya di kalangan buruh perkebunan di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. ”Di Malang, pasarannya sulit, perokoknya punya gengsi gede. Tukang becak pun tak mau mengisap rokok murah,” ujar Yohanes, Humas PT Gandum. Dengan cara itu, setidaknya, PT Gandum bisa bertahan selama 24 tahun dan memiliki 1.500 pekerja.

Toh, ada juga produsen rokok di Jatim yang tetap melempar produknya ke wilayahnya sendiri. Pabrik rokok Bintang Bola Dunia yang baru saja me-launching rokok merek Sapu Jagat pada Januari lalu itu, justru memasarkan produknya di sekitar Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi, Kediri, Surabaya, dan Madura.
Tentu saja, untuk menembus pasar yang sudah sesak dengan rokok lainnya, pabrik rokok hasil kolaborasi Nahdlatul Ulama (NU) dengan PT Bentoel itu, memiliki strategi jitu. Di samping dengan harga murah, Rp 3.500 per bungkus, mereka juga memiliki target menggaet warga NU. Karena itu, kemasannya dibuat sama dengan lambang NU dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB): sembilan bintang dengan tali melingkari bola dunia.

Promosinya pun tak tanggung-tanggung, Ketua NU K.H. Hasyim Muzadi pun langsung membubuhi tanda tangannya pada pamflet-pamflet yang tersebar di wilayah Jatim. Spanduknya juga terpasang di Kantor Cabang NU, GP Ansor dan Fatayat. Dan hampir sepanjang jalan Kota Malang dipasangi umbul-umbul rokok Sapu Jagat, termasuk pesantren mahasiswa Al-Hikam, Malang, milik Muzadi. ”Ke depan, kami akan mengembangkan pasar ke Jawa Tengah, Jawa Barat, dan luar Pulau Jawa,” kata Andrianto Suwondo, Manajer Produksi Bintang.

Mungkin dengan strategi menggaet simpatisan NU, rokok Sapu Jagat yang sekarang memproduksi 1 juta batang per hari itu bisa juga masuk ke pasar luar Jatim, termasuk Jateng. Sebab, di Jateng, pabrik rokok sekelasnya banyak yang kembang kempis. Mereka kalah bersaing dengan pabrik rokok besar. Di samping itu, kenaikan harga kebutuhan pokok dan cukai rokok setiap tahun juga ikut memukul pabrik rokok gurem yang memiliki pangsa pasar kelas bawah. ”Jangankan membeli rokok, untuk makan saja sudah susah,” ujar Guntur, Sekjen Forum Pengusaha Rokok Kudus.

Melemahnya daya serap pasar memang dirasakan Guntur yang juga Direktur pabrik rokok Janur Kuning yang berlokasi di Semarang. Pada 2001, rokok kretek ini masih bisa memproduksi 39.500 batang per hari. Tapi, pada 2002, jumlah itu turun menjadi 25.000 batang per hari.

MENGANDALKAN NOSTALGIA
Guntur sudah berusaha mendongkrak penjualan. Setidaknya, pabrik rokok yang berdiri pada 1993 ini mematok harga sesuai kantong masyarakat kelas bawah: Rp 1.500 per bungkus. Kemasannya dibuat mirip rokok ”legendaris” Dji Sam Soe, produksi HM Sampoerna. Tapi bedanya, di tengah kemasan rokok itu ada gambar kecil berupa daun kelapa atau janur. Toh, itu tak menolong. Akhirnya, ia cuma bisa menurunkan kualitas rokoknya dengan membeli tembakau murah hasil sortiran pabrik rokok Djarum dan pabrik besar lainnya.
Nasib serupa juga dialami pabrik rokok Cap Pompa. Meski masih bertahan di wilayah pemasaran Purwodadi, Mrangen, Demak, dan Blora, toh rokok seharga Rp 3.200 per bungkus dengan kemasan berwarna putih bergambar pompa sepeda itu juga mengalami penurunan penjualan.

Kondisi pabrik rokok gurem di Yogyakarta ternyata setali tiga uang dengan Janur Kuning dan Cap Pompa. Rokok Cap Djeruk, misalnya, sekarang cuma bisa ditemukan di Kedu dan Yogyakarta sendiri. Padahal, rokok berkemasan bergambar jeruk biji itu pernah berjaya pada 1950-an. Penurunan produksi itu mulai terasa pada 1970.
Untungnya, rokok ini masih memiliki konsumen yang fanatik. ”Mereka perokok masa lalu yang senang bernostalgia,” kata seorang karyawan pabrik yang enggan menyebutkan namanya. Hal itulah yang membuat pabrik ini masih memproduksi sekitar 20 ribu batang rokok per hari dengan harga Rp 3.400 per bungkus.

Namun, demi efisiensi, perusahaan hanya mempekerjakan buruhnya tiga hari dalam seminggu, pabrik rokok inipun kerap meliburkan 50 orang buruhnya kalau stok masih banyak. ”Mereka dipanggil kembali jika stok rokok sudah menipis,” kata karyawan itu kepada Heru Prasetya dari TRUST.

Mungkin kondisi produsen rokok gurem tersebut tak akan seperti itu kalau saja mereka lebih berinisiatif mencari pasar-pasar baru yang masih kosong seperti yang dilakukan pabrik rokok dari Jatim. Toh, mereka pasrah. ”Kenyataannya, rokok kami laku dan masih bisa bertahan walaupun keuntungannya tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya,” tutur Guntur. Padahal, tidak gampang bersaing dengan pabrik rokok besar plus sekitar 200 pabrik rokok gurem di Jateng.

Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id