|
|
 |
|
Saham Telekomunikasi: Menanti Teman Baru
Excelcomindo berniat melantai di bursa saham. Tapi, itu baru akan dilakukan tahun depan. Makanya, sekarang ini, saham Telkom tetap masih yang terbaik di sektor telekomunikasi.
|
| Hardy R. Hermawan, Feby Indirani,Priyanto Sukandar |
| |
Tidak ada kelompok saham yang lebih hebat di lantai bursa, kecuali saham telekomunikasi. Betul, anggota kelompok ini hanya dua saja. Tapi, jangan salah, keduanya termasuk dalam jajaran perusahaan terbesar di Indonesia. Coba, siapa yang tak mengenal nama PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) dan PT Indonesia Satellite (Indosat). Di lantai bursa, keduanya juga dikenal sebagai saham utama alias prime share. Jadi, lebih dari sekadar blue chips, Telkom dan Indosat benar-benar sanggup menentukan merah-birunya pergerakan indeks secara keseluruhan.
Nah, kelak, Telkom dan Indosat akan mendapat teman baru di lantai bursa. Adalah PT Excelcomindo Pratama (Excel) yang tahun depan akan melakukan penawaran saham perdana (IPO). Selama ini, Excel dikenal sebagai provider telekomunikasi seluler dengan merek dagang Pro-XL. Di pasaran, merek ini menduduki tangga ketiga setelah Telkomsel, anak perusahaan Telkom dan Satelindo yang merupakan anak perusahaan Indosat.
Kendati hanya berada di urutan ketiga dalam penguasaan pasar jasa seluler, toh Excel tak bisa dipandang sebelah mata. Laba bersihnya saja, pada akhir tahun 2002 lalu, bisa mencapai Rp 743,29 miliar. Betul, tahun ini kinerja Excel tak terlalu memukau. Hingga Juni lalu, laba bersih yang didapat Excel ”hanya” sebesar Rp 273,60 miliar. Boleh jadi pula, pencapaian laba bersih Excel tahun ini tak akan sebesar perolehan tahun lalu. Tapi, itu semua tentu tidak akan membuat penampilan Excel di lantai bursa menjadi ”biasa-biasa saja”. Rudiantara, Direktur Excel, mengaku sudah membuat sejumlah persiapan agar Excel benar-benar mampu berbicara di pasar modal kelak.
Caranya, tentu saja dengan memperkuat fondasi keuangan perusahaan. Saat ini, ujar Rudiantara, Excel sudah siap menjual obligasi senilai Rp 1,25 triliun ke pasaran. Dengan adanya penerbitan obligasi tersebut, upaya pengembangan usaha yang akan dilakukan menjadi lebih mudah lagi. Kalau sudah begitu, Rudiantara yakin, Excel akan tumbuh lebih sehat lagi. Apalagi, prospek usaha jasa seluler masih sangat terbuka untuk diperlebar.
Selain itu, penerbitan obligasi juga bisa menjadi latihan buat manajemen Excel untuk membiasakan diri sebagai perusahaan publik. Sebab, dengan menerbitkan obligasi, Excel akan terbiasa mengalami audit berkala. Manajemen perusahaan ini juga harus selalu melaporkan kondisi keuangannya ke hadapan publik. ”Ini bagus. Gunanya untuk membiasakan diri sebelum benar-benar menjadi perusahaan terbuka,” kata Rudiantara.
Sayang, Rudiantara belum mau menjelaskan lebih jauh ihwal rencana IPO itu. Jadi, belum ada keterangan tentang nilai dan jumlah saham yang akan diedarkannya kelak. Meski begitu, analis Haryajid Ramelan dari Rifan Financindo menilai positif rencana tersebut. Sebab, saham telekomunikasi yang sudah menjadi primadona selama ini akan semakin semarak dengan kehadiran Excel.
TLKM MASIH MENARIK
Tapi, lupakan dulu Excel. Sekarang, ada baiknya Anda berkonsentrasi saja pada saham telekomunikasi yang sudah beredar. Saham Telkom (TLKM) misalnya. Pada semester pertama tahun ini perusahaan itu sanggup mencatatkan laba sebelum pajak dan penyusutan (EBITDA) sebesar Rp 6,4 triliun. Itu berarti ada kenaikan 29,19% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Adapun laba bersihnya tercatat senilai Rp 3,7 triliun atau naik 12% dari tahun lalu.
Sejauh ini, memang, pendapatan dari bisnis seluler masih menjadi andalan untuk menambah bobot TLKM. Sebab, tak kurang dari 34,91% pendapatan TLKM disumbangkan oleh bisnisnya di bidang seluler ini. Hingga akhir Juni lalu, kontribusi bisnis seluler terhadap pemasukan Telkom mencapai Rp 3,8 triliun.
Namun, sepertinya Telkom tidak akan mau tergantung terus pada bisnisnya yang satu ini. Makanya, perseroan terus menggenjot layanan telekomunikasi fixed wireless CDMA. Bisnis yang satu ini, memang, memiliki prospek yang lumayan. Masalahnya, TLKM tidak akan sendirian bertarung di sektor ini. Kelompok usaha Bakrie dan Bimantara juga siap untuk memperebutkan pangsa pasar. Demikian pula Indosat, seteru utama TLKM di pangsa seluler.
Nah, di lantai bursa, saham TLKM dalam sebulan terakhir terus memperlihatkan kenaikan harga yang tajam. Pada penutupan akhir pekan lalu, TLKM dibanderol seharga Rp 5.125. Analis Haryajid Ramelan menilai harga itu masih terbilang murah untuk TLKM. Ia menengarai, harga TLKM sewajarnya berada di kisaran Rp 5.500 sampai Rp 5.800. Itu sebabnya, Haryajid memberikan rekomendasi beli atas saham ini.
Rekomendasi yang tidak berlebihan. Betul, TLKM masih mempunyai kendala tentang laporan keuangannya yang ditolak oleh otoritas bursa di New York—bursa tempat saham TLKM juga turut diperdagangkan. Tapi, sejauh ini, TLKM ternyata tidak mendapat sanksi apa pun dari otoritas bursa di sana. Makanya, banyak investor yang merasa yakin, TLKM akan selamat dari masalah yang dihadapinya di New York.
Apa lagi, ada beberapa kabar baik dari kantor TLKM, yang bisa mendorong sentimen positif buat pergerakan saham ini. Salah satunya adalah tuntasnya permasalahan kontrak kerja sama operasional dengan PT Ariawest Indonesia. Lantas, berita bagus lainnya adalah TLKM akan mendapat pinjaman senilai US$ 12.39 juta dari Korean Exim Bank untuk pengembangan usahanya.
LABA BERSIH INDOSAT TERKIKIS
Kinerja keuangan Indosat (ISAT) juga tampak mengilap. Betul, laba bersihnya, pada akhir Juni lalu, tercatat ”hanya” Rp 402,1 miliar. Itu artinya turun 23,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Tapi, pendapatan ISAT sebenarnya justru naik 26,6% menjadi Rp 3,882 triliun.
Masalahnya, ISAT sekarang ini tengah memiliki beban amortisasi (penyusutan) yang lumayan besar. Itu terjadi setelah PT Satelindo (anak usaha ISAT) memangkas tempo amortisasinya dari 15 tahun menjadi lima tahun. Makanya, kon-sentrasi Indosat dalam jangka pendek akan terpecah karena adanya masalah itu.
Selain itu, manajemen ISAT masih belum selesai menentukan skema restrukturisasi utang-utangnya yang mencapai Rp 8,079 triliun. Sejauh ini, ISAT baru menunjuk empat penasihat keuangan untuk menyelesaikan restrukturisasi ini. Keempat penasihat keuangan itu adalah Goldman Sach, ING Indonesia, Barclays Capital, dan Andalan Artha Advisindo.
Kelak, kalau restrukturisasi ini berlangsung dengan mulus, saham ISAT tentu akan berpotensi menguat kembali. Apalagi, jika rencana perusahaan untuk mengembangkan bisnis fixed wireless bisa berjalan lancar. Kalau itu terjadi, bisa dipastikan ISAT akan semakin memikat.
Pada penutupan perdagangan pekan lalu, saham perusahaan ini tertahan di level harga Rp 9.100. Sudah agak mahal, memang. Sebab, menurut perhitungan Haryajid, harga wajar ISAT sebenarnya ada di level Rp 8.800 sampai Rp 9.100. Makanya, analis ini hanya memberikan rekomendasi ”beli untuk jangka panjang”.
Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|