Minggu, 5 Juli 2009 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Terobosan Stasiun Tertua
Mulai Maret 2005, TVRI akan menawarkan konsep TV kabel, persis seperti Indovision atau Kabelvision. Tapi, mampukah perubahan itu mengatasi defisit keuangan stasiun pelat merah tersebut?

Rusdi Mathari dan Priyanto Sukandar
 
Televisi Republik Indonesia alias TVRI terus berbenah. Kabar teranyar, stasiun televisi milik pemerintah ini akan mengubah diri menjadi holding dengan sejumlah anak perusahaan. Rencana itu, menurut Magdalena J. Molenaar, Humas TVRI, sudah disampaikan kepada Kementerian Komunikasi dan Informasi. Kelak, dan ini yang menarik, namanya tidak lagi membawa bendera TVRI.

Jika semua berjalan lancar, rencana besar itu tentu akan menjadi lompatan besar bagi TVRI. Paling tidak, siapa tahu pembentukan holding itu bisa membantu mendongkrak keuangan TVRI. Maklum, meski sudah berubah menjadi perseroan terbatas sejak April 2003 dan karena itu boleh beriklan, keuangan TVRI masih defisit. Biaya produksinya saja setiap bulannya mencapai Rp 18 miliar, sementara pendapatan iklannya hanya Rp 5 miliar sebulan. Jelas, angka pendapatan tersebut tidak akan mampu menutup kas stasiun televisi yang memiliki 5.544 karyawan itu.

 Artikel Lain
Jurus Taktis Mendongkrak Harga
Kawan yang Menjelma Jadi Lawan
Perumahan Rakyat: Lembaga Baru, Harapan Lama
Jitu, Tapi Kok Salah Kaprah?
Terobosan Stasiun Tertua
Ketika Toyota Bukan Lagi Buatan Jepang
Berebut Pasar yang Makin Licin
Tak Cukup Cuma Beriklan
Saham Telekomunikasi: Menanti Teman Baru
Kopi Medan Ingin Kuasai Jakarta

Tapi, jangan lalu dibayangkan bahwa TVRI akan berubah total, misalnya sepenuhnya menjadi stasiun televisi komersial. Dalam hal ini, paling banter, TVRI hanya akan menjadi induk perusahaan yang membawahi beberapa unit usaha baru. Salah satu anak perusahaan yang sudah pasti akan dibentuk yakni perusahaan yang membawahi TVRI Programa 2 yang jumlahnya di seluruh Indonesia ada sembilan. Alasannya, Programa 2 selama ini belum dimanfaatkan secara komersial.

Dengan berubah menjadi perusahaan sendiri, nantinya konsep penyiaran Programa 2 juga akan berubah. Kalau selama ini 100% acara Programa 2 dipasok dari TVRI—karena itu menjadi kurang menarik untuk ditonton—di masa mendatang tidak lagi. Programa 2 dengan konsep baru hanya akan melakukan siaran lewat decoder alias TV kabel yang mengandalkan pemasukan dari iuran pelanggan.

Konsepnya bisa dibilang sama persis dengan TV kabel Indovision atau Kabelvision yang disiarkan sejumlah stasiun televisi mancanegara dan memungut ongkos bulanan kepada para pelanggannya. Melalui terobosan itu, Programa 2 kelak diharapkan bisa dinikmati di mana saja: di mobil, ponsel, dan di rumah pelanggan. Rencananya, mulai Maret tahun depan, TV kabel ala TVRI ini sudah bisa diakses oleh masyarakat.

Dengan kalimat lain, setiap stasiun daerah yang memiliki Programa 2 sudah bisa menjual programnya dengan sistem testerial atau kepada publik yang tercakup dalam areal penyiarannya. Misalnya, Programa 2 Jakarta hanya bisa menjual siaran untuk publik di Jakarta dan sekitarnya. Begitu juga publik Jawa Timur. Di sana, masyarakatnya hanya bisa berlangganan lewat Programa 2 TVRI Stasiun Surabaya, dan seterusnya.

Sekarang, persoalannya, acara macam apa yang akan dijual oleh masing-masing ”stasiun” daerah itu? Apakah masing-masing Programa 2 akan menayangkan acara yang berbeda? Hal itu yang masih belum jelas.

Yang juga masih dirahasiakan yakni dari mana biaya untuk pembentukan anak perusahaan tersebut didapat. Menurut Magdalena, karena Programa 2 berjumlah sembilan dan tersebar di beberapa stasiun daerah, salah satu alternatifnya adalah menggandeng pengusaha daerah. Alternatif lainnya yakni mendekati pengusaha asing. Soal apakah sudah ada atau tidak pengusaha yang bersedia menanamkan modalnya, Magdalena juga belum berani memastikan. Namun yang pasti, ”Bentuknya adalah kerja sama investasi,” kata Magdalena.

DENGAN PERUBAHAN ITU, PENDAPATANNYA AKAN MENINGKAT
Lalu bagaimana peranan TVRI sebagai induknya? Sebagai stasiun televisi yang mengemban misi ideal, seperti mencerdaskan bangsa dan menjaga keutuhan negara, menurut Magdalena, peran TVRI tidak akan berubah. Meski begitu, bukan berarti stasiun televisi pertama di Indonesia itu sama sekali tidak akan mencari alternatif pembiayaan. Iklan, misalnya, tetap boleh masuk. Tapi, TVRI tidak akan mengejar rating seperti yang dipersaingkan kalangan stasiun televisi swasta.

Usaha lainnya, TVRI juga sedang merintis program pendidikan dan pelatihan. Dalam istilah Magdalena, program tersebut semacam kursus singkat mengenai profesi broadcasting, yang target pasarnya adalah orang-orang yang berminat menjadi kamerawan, editor, dan reporter stasiun televisi. Ada juga penyewaan studio untuk kapasitas penonton 400 orang. Misalnya, dulu, untuk syuting acara kuis Who Want to be A Millionaire yang disiarkan RCTI, salah satu studio milik TVRI sempat disewakan. Tarifnya Rp 20 juta per hari. Ada juga studio alam di Cimanggis, Depok, Jawa Barat. Per bulan, sewa studio alam ini sekitar Rp 20 juta.

Untuk mendongkrak keuangannya, TVRI juga menyewakan menara pemancar yang dimilikinya. Di seluruh Indonesia, TVRI memiliki 376 menara. Itu sebabnya siaran TVRI bisa diakses di hampir seluruh pelosok Tanah Air tanpa harus melalui satelit. Ini berbeda dengan stasiun televisi swasta, yang sepenuhnya mengandalkan teknologi satelit—karena itu siarannya di banyak daerah hingga saat ini hanya bisa dinikmati oleh pemilik antena parabola digital.

Ongkos sewa menara sebenarnya lumayan besar. Harga sewa satu menara, menurut Magdalena, bisa mencapai Rp 100 juta untuk masa sewa sebulan. Cuma sayangnya, dari menara sebanyak itu, hingga saat ini TVRI baru bisa ”menjual” lima menara, atau hanya bisa menangguk Rp 500 juta per bulan. Di masa mendatang, kabarnya, penyewaan menara ini akan diprioritaskan TVRI untuk menopang keuangannya.

Persoalannya sekarang, bisakah keuangan TVRI menjadi ”biru” setelah semua usaha itu dilakukan? Harapannya sih begitu. Tapi, jika melihat anggaran belanja TVRI yang mencapai Rp 800 miliar setahun, tampaknya stasiun ini masih membutuhkan waktu lama untuk mengatasi cash flow-nya.

Katakanlah, TV kabel Programa 2 yang ada di sembilan daerah masing-masing sanggup menjaring 1.000 pelanggan. Dengan iuran per bulan Rp 400 ribu dari setiap pelanggannya, pemasukan setiap bulannya baru mencapai Rp 3,6 miliar. Atau, dalam setahun, dana yang terkumpul dari unit usaha ini hanya sekitar Rp 43,2 miliar. Ditambah dengan pemasukan iklan yang setiap bulan hanya Rp 60 miliar, jumlah itu jelas tidak cukup untuk menutupi defisit TVRI dalam waktu lima tahun ke depan.

Namun, semua rencana perubahan ke depan yang dilakukan TVRI tadi pantas diacungi jempol. Siapa tahu dengan perubahan itu pendapatan iklan TVRI juga akan meningkat. Di atas kertas, lantaran memiliki jangkauan siaran yang luas, sebenarnya TVRI lebih berpeluang menjaring pemasang iklan ketimbang stasiun televisi swasta.

Sebagai perbandingan, lihat saja Indosiar. Hanya dengan 21 pemancar yang menjangkau 127 kota, selama tahun 2002, stasiun TV swasta ini mampu memperoleh pendapatan sekitar Rp 980 miliar. Maka, dengan dukungan lebih dari 300 pemancar, seharusnya TVRI bisa menarik pendapatan iklan lebih banyak. Apalagi tarif iklan TVRI termasuk yang termurah dibanding stasiun televisi swasta. Untuk jam tayang prime time, pukul 17.00-21.00 WIB misalnya, TVRI hanya mematok Rp 5 juta untuk harga spot iklan berdurasi 30 detik. Padahal, di TV swasta, harga spot iklan serupa bisa mencapai tak kurang dari Rp 15 juta.

Cuma, tarif yang lebih miring belum menjamin bahwa TVRI akan mampu bersaing. Itu jika acara yang ditawarkan TVRI masih dikelola seperti selama ini: tak menarik dan hanya menjadi corong penguasa.

Majalah Trust/Strategi/10/2004

Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id