|
|
 |
|
Lebih Kuat Berkat ’Semen Cor’
|
| Eko Edhi Caroko dan Tedy Gumilar |
| |
BAGIAN rangka tubuh manusia yang mudah patah atau retak adalah tulang belakang. Maklum, karena berfungsi sebagai penyangga utama tubuh manusia, susunan tulang ini kadang menyangga beban terlalu besar. Dan ada sejumlah faktor yang menyebabkan tulang belakang bermasalah, antara lain karena kecelakaan, terserang tumor, atau akibat proses pengeroposan (osteoporosis).
Selama ini, banyak cara yang digunakan untuk memperbaiki kerusakan pada tulang belakang. Yang lazim, di antaranya dengan cara menggips atau memasang implan (pen). Selain itu, masih ada teknik tergolong mutakhir. Itu, layaknya metode vesselplasty (suntik semen) yang dikembangkan Rumah Sakit (RS) Gading Pluit, Jakarta, sejak dua tahun silam. Teknik rehabilitasi baru ini, sebenarnya sederhana saja, yakni menyuntikkan zat semacam semen yang bisa mengeras dengan cepat ke dalam rongga pada bagian tulang yang patah.
Menurut Bambang Darwono, dokter ahli bedah ortopedi RS Gading Pluit, sebenarnya pula tulang yang patah bisa sembuh secara alami. Hanya saja, prosesnya cukup memakan waktu, paling tidak selama tiga bulan. Tapi masalahnya, bila tidak ditangani secara baik, hal itu akan berdampak terhadap bentuk susunan tulang pascarehabilitasi, di antaranya, bisa saja jadi miring dan lebih pendek. Kecenderungan seperti itu, biasanya akan berakibat pada tubuh si penderitanya jadi bungkuk.
Sementara teknik pemasangan gips juga berkecenderungan membuat kalangan penderitanya merasa kurang nyaman. Bahkan, sangat menyiksa. Maklum saja, teknik pengobatan ini membutuhkan proses rehabilitasi yang cukup lama—bisa lebih dari tiga bulan. Dan celakanya, koreksi letak tulang yang bermasalah pada teknik ini tidak bisa dijamin akan kembali pulih 100%.
Begitu juga pada teknik pemasangan pen. Pada beberapa kasus, bahkan si penderitanya harus mengalami proses pembedahan beberapa kali. Hal itu perlu dilakukan dengan tujuan agar pemasangan implan (sejenis pasak dari logam) lebih sempurna, sehingga posisi tulang pascarehabilitasi mencapai hasil yang optimal. Hanya saja, teknik ini juga memiliki risiko yang cukup tinggi. Terutama pada pasien berusia lanjut, terkadang pemasangan pen malah menimbulkan masalah baru, yakni mengakibatkan retak pada tulang yang berada di sekitar organ yang tengah direhabilitasi.
Nah, bisa dibilang, seluruh permasalahan di atas bisa diatasi dengan teknik vesselplasty. Selain lebih aman dan nyaman, penyembuhan dengan teknik ini tergolong paling efektif. Jenis semen yang disuntikkan pun bukan dari jenis yang biasa digunakan untuk bahan bangunan, melainkan yang dirancang khusus. Formulanya dikenal dengan istilah polimetilnetatrilat, yakni campuran kalsium sulfat dan kalsium fosfat. Uniknya, jika sudah mengeras, jenis semen ini akan berwujud sangat mirip dengan tulang yang asli.
Teknik vesselplasty sebenarnya telah dikembangkan para ahli di Prancis sejak 23 tahun lalu. Tapi bedanya, kala itu semen langsung dicor ke dalam rongga tulang yang tengah direhabilitasi. Model pengecoran seperti itu, ternyata berdampak pada proses penyatuan tulang yang sulit dikontrol. Sehingga, ”Hasilnya terkesan asal nyambung,” ujar Bambang.
Oleh karena itu, rupanya, para ahli terus berupaya mengembangkan teknik ini. Seperti yang dilakukan para dokter di Amerika pada 1995, mereka berhasil menemukan metode vesselplasty yang lebih cermat. Caranya, sebelum menyuntikkan semen ke dalam rongga tulang, terlebih dahulu dimasukkan balon. Ke dalam balon inilah kemudian semen disuntikkan. Semen pun kemudian akan mengeras hanya dalam waktu 15 menit.
SEKALI OPERASI,
BIAYANYA RP 30 JUTA
Cara seperti itu, ternyata dipandang masih belum sempurna. Masalahnya, si pasien masih harus menjalani operasi ulang untuk pengangkatan balon yang ada di dalam rongga tulang. Dan celakanya, proses pembedahan ini berisiko menimbulkan kerusakan pada tulang. Walhasil, tindakan penyembuhan bisa berujung sia-sia.
Atas dasar itu, akhirnya para ahli berhasil menemukan metode penyuntikan yang lebih sempurna. Dalam teknik ini memang masih menggunakan media balon, bedanya dari model yang memiliki pori-pori (ukuran 100 mikron). Tujuannya, setelah cairan semen disuntikkan, otomatis akan meresap keluar dari balon dan langsung mengisi ruang kosong dalam rongga tulang. Selain itu, pori-pori ini juga berguna mengatur tekanan di dalam rongga tulang. Dengan begitu, sang dokter pun bisa menyetel posisi tulang lebih presisi. Sementara balon yang tertinggal di dalam rongga juga berguna untuk memperkuat struktur tulang pascarehabilitasi.
Saat tindakan penyuntikan dilakukan, pasien cukup dibius lokal. Proses penyuntikannya pun tak berlangsung lama, yakni tak lebih dari setengah jam. Dalam tempo dua jam setelah itu, hebatnya, si pasien sudah bisa duduk, berdiri, bahkan berjalan tanpa alat bantu. Meski begitu, si pasien masih harus menjalani masa perawatan intensif selama tiga bulan. Paling tidak, selama itu, ia belum boleh membungkuk dan mengangkat beban yang berat. Keunggulan lain dari teknik ini, menurut Bambang, struktur tulang yang telah disemen cenderung akan lebih kuat.
Tapi sayangnya, teknik penyembuhan ini tidak bisa dilakukan untuk semua penderita patah tulang. Sejatinya, vesselplasty hanya bisa dilakukan pada pasien yang baru saja mengalami patah tulang. Sementara, bagi mereka yang kondisi tulangnya dalam proses penyambungan, bila ingin menggunakan teknik ini terlebih dahulu harus menjalani operasi pembuatan rongga pada tulang. Teknik ini juga tidak disarankan digunakan pada wanita yang tengah mengandung, serta mereka yang alergi terhadap benda asing.
Di tingkat regional, bisa dibilang, Indonesia tergolong negara yang telah menguasai teknik pengobatan ini dengan baik. Dokter di negara tetangga lainnya (seperti Malaysia), bahkan belum mampu menguasai teknik ini. Lebih dari itu, Bambang beserta tim ahli di RS Gading Pluit juga kerap menangani kalangan penderita dari sejumlah negara maju seperti Italia. Boleh dikata, pria kelahiran Magelang pada 1948 ini merupakan satu-satunya dokter ahli yang ada di Indonesia yang sangat menguasai teknik vesselplasty. Dengan keahliannya itu, dalam dua tahun terakhir ini, ia telah menangani tak kurang dari 132 pasien.
Hanya saja, bagi orang kebanyakan, teknik pengobatan vesselplasty dirasakan masih terbilang mahal. Hal itu bisa dimaklumi karena kalangan ahlinya masih tergolong langka. Selain itu, bahan serta peralatannya pun masih harus diimpor. Hanya untuk pengganti ongkos bahan dan peralatan, setiap pasien yang membutuhkan teknik penyembuhan ini, mereka harus membayar US$ 2.500 (Rp 22,5 juta). Biaya tersebut belum termasuk ongkos rumah sakit dan jasa dokter. Ada yang memperkirakan, total biaya yang harus ditanggung pasien bisa mencapai lebih dari Rp 30 juta.
Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|