|
|
 |
|
Jangan Panik, Jangan Meremehkan
Berbagai persiapan mencegah berjangkitnya SARS dilakukan, termasuk mengirimkan tim dokter ke Singapura, setelah satu pasien diduga keras terkena virus ini.
|
| Lutfi Yusniar, A. Sidarta, dan Kartina Ika Sari |
| |
Indonesia pun masuk WHO, lembaga PBB bidang kesehatan. Menurut Menteri Kesehatan Ahmad Sujudi, telah ditemukan seorang yang disangka (suspected). Menurut The Asian Wall Street Journal, jumlah tersangka SARS di Indonesia sembilan orang. Di awal pekan lalu, masih hanya tujuh orang yang ”mungkin” terkena SARS.
Apa pun, angka itu ikut memperbesar korban SARS. Awal pekan lalu, 18 negara terjangkiti SARS, total ada 2.400 penderita, dan 84 meninggal. Di akhir pekan, data itu berubah menjadi 19 negara terjangkiti SARS, total terdapat hampir 2.800 penderita, 117 orang meninggal.
Yang mencemaskan, belum ada kata sepakat dari para ahli. Di satu pihak ada pendapat bahwa SARS telah mencapai puncaknya di akhir pekan lalu, dan tak akan berkembang lebih jauh. Tetapi seorang ahli mikrobiologi di Hong Kong, wilayah yang paling panik menghadapi SARS, memperingatkan bahwa virus ganas ini bisa menginfeksi 80 persen penduduk dunia dalam waktu dua tahun.
Bagaimana Indonesia? Laporan para wartawan dan koresponden TRUST menyimpulkan meningkatnya kegiatan pencegahan wabah ini di rumah sakit-rumah sakit. Di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Sunter, Jakarta Utara, pertengahan pekan lalu, terlihat semacam police line di lantai dan tembok pada beberapa ruangan tertentu. Di daerah yang dilingkari garis kuning—di sekitar loket pendaftaran pasien, apotek, laboratorium, dan ruang patologi—sangat disarankan agar yang masuk ke wilayah itu memakai masker.
Kawasan yang dilingkari garis merah, menandakan daerah itu berbahaya, diduga tersebari virus SARS, karena ruang ini digunakan untuk merawat mereka yang disangka terjangkiti SARS. Di RSPI Sulianti Saroso, garis merah ini antara lain melingkari Ruang Anggrek. Menurut pihak rumah sakit, tujuh ruang lainnya—antara lain, Ruang Cempaka dan Mawar, ICU, IGD, ruang jenazah—akan segera dilingkari garis merah.
Memasuki wilayah bergaris merah ini, orang diwajibkan memakai masker (minimal tipe N-95, masker yang biasanya digunakan oleh dokter dan perawat di ruang bedah), sarung tangan, kacamata (medis), topi, dan apron (berbentuk seperti gaun panjang). Sudah begitu, tak sembarang orang boleh masuk: hanya tim medis untuk SARS yang diketuai Dr. Janto G. Lingga.
Pekan lalu, lima pasien baru diduga terjangkit SARS dirawat di RSPI ini. Lima pasien ini tersaring dari 120 orang yang memeriksakan diri atau dikirim dari rumah sakit lain. Sebagaimana diumumkan oleh Menteri Kesehatan, ditunjuk beberapa rumah sakit di seluruh Indonesia sebagai tempat perawatan yang diduga terjangkiti SARS. Penunjukan ini selain untuk mempersempit wilayah yang mungkin menjadi tempat penularan, juga untuk memudahkan subsidi dari pemerintah: biaya pengobatan dan perawatan dari pasien yang diduga SARS—benar terkena SARS atau tidak—dibayar oleh pemerintah.
Di Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta Timur, rumah sakit cadangan untuk menanggulangi bahaya SARS , enam kamar dipersiapkan. Namun, di rumah sakit cadangan ini tampaknya belum ada pasien yang diduga SARS, karena bila toh ada akan dikirim ke RSPI Sulianti Saroso hingga RSPI ini tak lagi bisa menampung. Menurut Abdul Basyit, wartawan TRUST yang meliput ke RS Persahabatan, belum terlihat satu orang pun yang menggunakan masker, termasuk dokter-dokter.
Di Bandung, Rumah Sakit Umum Pemerintah (RSUP) Hasan Sadikin tengah berbenah juga. Koresponden TRUST di Bandung, Oki Budhi Priambodo melaporkan bahwa ruang isolasi seluas 100 meter persegi tampak baru dicat. Letaknya terpisah dengan bangunan lainnya. Bangunan itu terdiri dari lima ruangan inti, di antaranya ruang isolasi, pemeriksaan, dan ruang untuk perawat. Setiap hari, ruang isolasi ini dijaga oleh tiga sampai empat perawat untuk satu kali shift (sehari tiga kali shift). Empat dokter dipersiapkan untuk SARS, dipimpin Dr. Edi Soerja Soemantri. Sampai akhir pekan lalu, baru satu pasien yang diduga terkena SARS. Pasien itulah satu-satunya penghuni ruang isolasi.
Selain Jakarta dan Bandung, rumah sakit di Solo, Surabaya, Bali, Medan, dan beberapa kota lagi juga berbenah karena ditunjuk menjadi rumah sakit SARS. Di samping berbenah, pihak rumah sakit juga bertanya-tanya ihwal kebijakan bahwa pasien SARS menjadi tanggungan pemerintah. Beberapa manajer rumah sakit yang ditemui TRUST menyatakan, ”Petunjuk pelaksanaan penggunaan dana tidak jelas.” Sementara itu dana yang dialokasikan jelas benar, Rp 120 miliar.
Lain daripada itu, dana tersebut belum juga turun, sehingga beberapa rumah sakit yang sudah merawat pasien yang disangka terkena SARS harus menalangi terlebih dahulu.
Apa kata pihak Departemen Kesehatan yang bertanggung jawab menyalurkan dana ini? ”Namanya juga dana fleksibel, kalau belum ada, ya, pakai dulu dana yang ada,” ujar Kepala Biro Perencanaan dan Anggaran, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan, Dr. Setiawan Soeparan. ”Nanti diganti.”
Selain mempersiapkan sejumlah rumah sakit, Departemen Kesehatan juga mengirimkan 20 dokter bantuan ke Batam. Pulau ini dianggap paling rawan, karena berbatasan dengan Singapura yang sudah jelas-jelas terjangkit SARS. Padahal, lalu lintas orang dari dan ke Singapura dari Batam, tinggi.
Program lainnya, satu tim terdiri dari tiga dokter dikirimkan ke Singapura untuk meninjau cara-cara rumah sakit merawat pasien SARS, 9-10 April lalu. Harap dicatat, biaya peninjauan ini bukan dari dana Rp 120 miliar itu, melainkan uang dari WHO.
Hasilnya? ”Indonesia harus belajar dari Singapura,” kata Mujiharto, salah seorang anggota tim tersebut. Ia bercerita bagaimana ketatnya prosedur di RS Tan Pock Seng dalam mengawasi penderita SARS. Tidak ada yang namanya toleransi, baik untuk pasien maupun pengunjung. Pasien SARS dilarang dijenguk walau oleh sanak-keluarganya. Mungkin Singapura belajar dari Hong Kong. Salah satu penularan SARS adalah lewat sanak famili pasien SARS yang membesuk, apalagi yang ikut menunggu di ruangan perawatan.
Menurut Mujiharto, penduduk Singapura tidak kelihatan panik. Mereka menaati imbauan pemerintahnya untuk tak berada di tempat umum bila tidak penting sekali. ”Jalan-jalan dan kompleks pertokoan sepi bukan main,” ceritanya.
Mengenai alat-alat kedokteran atau obat penyembuhan SARS di Singapura, Mujiharto mengaku, tidak berbeda dengan Indonesia. Yang membedakan, tim medis di Singapura (dan Malaysia—tim ini ke Malaysia juga), sangat taat terhadap prosedur yang ditetapkan WHO soal SARS. ”Ini yang harus dicontoh Indonesia,” ujarnya.
Dan itu penting, karena SARS bukan hanya membawa maut bagi 4 persen penderitanya, juga berdampak pada kegiatan bisnis. Sebuah negara yang terjangkiti virus SARS, bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga. Celakanya, Indonesia bisa makin parah, karena negara ini belum pulih juga dari krisis ekonomi masa lalu. Selain itu, korupsi belum juga diminimalkan—perlu pengawasan ketat agar dana Rp 120 miliar untuk kepentingan seluruh masyarakat itu tak bocor di sana-sini. o
BIAR RUGI ASAL SEHAT
SEBULAN setelah WHO menyatakan SARS sebagai penyakit yang mudah menular dan berpotensi menjadi wabah, negara-negara yang sudah dan berpotensi terjangkiti virus ini harus memilih: mencegah SARS atau melindungi bisnis. Pemerintah Malaysia misalnya, mula-mula menyatakan bahwa tak seorang pun warga atau tamunya terkena virus ganas ini. Padahal, tak sedikit orang-orang dari negara yang sudah dinyatakan terjangkit SARS (Cina, Hong Kong, Vietnam) keluar-masuk Malaysia.
Datanglah protes bahwa Malaysia berlaku seperti pemerintah Provinsi Guangdong di Cina. Yaitu, bermaksud menjaga agar kegiatan bisnis tetap berjalan, pemerintah Guangdong ”merahasiakan” wabah flu misterius ini. Kebijakan ini berhasil: misalnya, perayaan Tahun Baru Imlek, 1 Februari lalu, berjalan meriah seperti biasanya. Tapi, akibatnya Cina terkena wabah SARS paling parah, dan lebih daripada itu, SARS menular ke berbagai negara.
Akhirnya Malaysia mengakui ada penderita yang mungkin terkena virus SARS. Menurut WHO, sampai Jumat pekan lalu, di Malaysia telah empat orang ”diduga” terkena SARS dan seorang meninggal. Malaysia makin serius: Rabu pekan lalu negara ini mengumumkan menutup wilayahnya dari para pengunjung dari Cina. Dua hari setelah itu, Jumat, pemerintah Cina ”membalas”, melarang masuk turis dari Malaysia, Thailand, dan Singapura.
Akibatnya, maskapai penerbangan Malaysia mengistirahatkan sejumlah pesawatnya, karena penerbangan ke dan dari Cina (termasuk Hong Kong) ditiadakan untuk sementara. Bagi Malaysia, selain kerugian maskapai penerbangannya, pemerintah Kuala Lumpur juga kehilangan rezeki dari turis Cina yang tahun lalu mencapai 330 juta dolar Singapura.
Mungkin, yang harus membayar ongkos kebijakan SARS yang cukup besar di Asia Tenggara adalah Singapura. Negara berpenduduk 4,2 juta ini, 25 persen aktivitas bisnisnya tergantung tenaga kasar (termasuk pembantu rumah tangga) dan karyawan kantoran dari luar Singapura. Sejak Jumat pekan lalu, pekerja asing yang balik ke Singapura dari negara-negara yang terjangkiti SARS harus masuk karantina 10 hari, selama itu ongkos hidupnya ditanggung pemerintah. Menurut Menteri Tenaga Kerja Lee Boon Yang kepada The Straits Times, kebijakan itu ditempuh agar negara-negara investor merasa aman: Singapura dengan serius menanggulangi wabah ini.
Namun Singapura, yang maskapai penerbangannya juga sudah mengistirahatkan beberapa pesawatnya, belum mengumumkan kerugian akibat SARS dalam angka. Adalah Standar & Poor’s Corporation di Hong Kong—wilayah kedua terparah akibat SARS setelah Guangdong—menduga wilayah khusus Cina ini bakal sulit memenuhi pertumbuhan 3 persen ekonomi seperti yang direncanakan. Dipastikan, Hong Kong defisit tahun ini.
Di Kanada, negara ketiga terparah akibat SARS—250 orang terjangkiti dan 10 meninggal—di salah satu kotanya, Toronto, restoran Cina tak laku sejak sebulan terakhir. Orang takut tertular SARS karena makan masakan Cina di negeri Barat yang mungkin paling banyak menyimpan etnis Cina ini. Ini membuat Perdana Menteri Jean Chretian terdorong melakukan terobosan: ia turun makan di restoran Cina. Mister Chretian lalu mentraktir 30 orang, Jumat pekan lalu itu, senilai lebih dari Rp 1 juta.
Tapi hal-hal yang harus dilakukan secara lintas negara, dan yang berkaitan dengan negara yang sudah dinyatakan terjangkiti wabah oleh WHO, tak mudah diterobos dengan cara Perdana Menteri Kanada itu. Toko serbaada Wal-Mart yang pusatnya ada di Arkansas, AS, yang jaringannya ada di mana-mana, untuk sementara menghentikan pengiriman barang dan orang ke dan dari Cina, Hong Kong, Vietnam, Singapura, serta Kanada (Toronto).
Ada dugaan, langkah department store terbesar di Amerika ini akan diikuti oleh perusahaan yang lain. Malah, beberapa perusahaan sepatu dan pakaian di AS—Liz Claiborne, Jones Apparel Group, dan Kenneth Cole Production—sudah melakukannya sebelum Wal-Mart.
Indonesia? Sulit diketahui, sebab, sebelum heboh SARS pun, hunian hotel sudah merosot, investasi asing makin sayup-sayup. Yang jelas, pemerintah terpaksa mengeluarkan Rp 120 miliar untuk ongkos pencegahan SARS. o
Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|