Jumat, 3 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Mengusung Jurnalisme ’Patriotik’
Pilar baru beredar dengan penampilan full colour. Tapi visi majalah ini memancing kesangsian.

Riza Sofyat, Febry Mahimza, dan Dikky Setiawan
 
Kubu Tomy Winata tampaknya sedang di atas angin. Pekan-pekan lalu, salah satu ”tangan kanan” Tomy, David A Miauw, dituntut bebas oleh jaksa dalam kasus kekerasan terhadap wartawan majalah Tempo. Kini, giliran majalah Pilar yang dikenal masyarakat pers sebagai punya Tomy—bos Bank Artha Graha yang sedang ”ribut” dengan Tempo—terbit dengan versi baru.

Pilar baru ini tampil dengan 148 halaman full colour dan terbit mingguan setiap hari Senin, seperti Tempo. Materinya pun tak beda: berita umum. Hanya, harganya Rp 18.000, lebih mahal dari harga Tempo yang Rp 14.700.

 Artikel Lain
Berobat, lalu Shopping atau Renang
Sekadar Permen buat Konsumen
Menyala, Padahal Berbahaya
Risiko MSG Dalam Makanan Anak
Mengusung Jurnalisme ’Patriotik’
Sudah Berkutu, Bikin Bodoh Lagi
Heboh Suplemen Australia
Jangan Panik, Jangan Meremehkan
Mencoba Melawan Kembalinya Bau
Di Ciputat, Aku Berobat Gratis
Tapi, Pemimpin Redaksi Pilar baru Upa Labuhari dan Wakil Pemimpin Perusahaan Yusuf Yazid membantah anggapan bahwa Pilar baru berhasrat menyaingi Tempo. Kata Yusuf, perubahan Pilar lebih karena pasar majalah mingguan lebih besar ketimbang dwimingguan. Untuk itu, para pemegang saham Pilar menyuntikkan modal tambahan Rp 18 miliar.

Dengan dana segar dan format baru bermoto ”jujur apa adanya”, Yusuf merasa yakin Pilar berprospek bagus. Pilar bakal hadir beroplah 20 ribu eksemplar, kendati dalam editorialnya di edisi Nomor 12 ditulis bertiras 11 ribu. Pilar lama saja, kata Yusuf, yang bertiras 12 ribu bisa punya 6.000 pelanggan tetap.

Meski terdengar keren, itu cuma baru tingkat omongan. Karena bukan perkara gampang untuk memasarkan majalah mingguan, setidaknya seperti Pilar dengan biaya produksi Rp 1 miliar sebulan.

Selain soal ”tandingan” Tempo, Yusuf juga menepis bahwa Pilar dimodali Tomy. Sejak Pilar berdiri lima tahun lalu, katanya, Tomy bukan pemiliknya. Pemegang saham Pilar antara lain Lili P. Suarsono, dan Edi Soetrisno, adik kandung mantan Menteri Penerangan Harmoko. ”Buktikan dengan fakta kalau Tomy pemilik Pilar,” ujar Yusuf.

Yang jelas, dalam boks jajaran redaksi Pilar baru terpampang sejumlah nama tokoh penting, seperti Ryass Rasyid, Andi Malarangeng, dan Anas Urbaningrum. Demikian pula sederet nama pengacara beken; Sudjono, O.C. Kaligis, Hotma Sitompoel, Ruhut Sitompul, dan Atmajaya Salim.

Tapi, nama-nama itu sepertinya asal dipamerkan. Andi dan Anas mengaku tak tahu-menahu kalau namanya dicantumkan. Begitu juga Atmajaya. Boleh jadi segerobak nama pengacara Artha Graha itu asal dipindah ke kotak redaksi Pilar.
Sebagian berita Pilar baru itu, juga mengundang keprihatinan. Orang bertanya-tanya tentang visinya: opo karepe majalah iki? Pada artikel tentang Ba’asyir, contohnya, terdakwa ini dinilai tak jujur. Dalam tulisan tentang A Miauw disebutkan, majalah Tempo memukul angin dan akan menelan pil pahit. Lembaga swadaya masyarakat juga dipertanyakan nasionalismenya. Pada liputan tentang Aceh, seakan-akan kebenaran mutlak ada pada TNI.

Nada serupa terkesan pula pada ulasan utama dengan kover ”Awas Wartawan Preman Berkeliaran”, yang mirip logo ”Wartawan Melawan Premanisme” buatan kalangan pers. Ujung-ujung ulasannya, ya, menyitir perseteruan Tomy dengan Tempo.

Namun, lagi-lagi Upa menyangkal. Menurutnya, tema itu dimaksudkan untuk mengingatkan, bahwa pers pun bisa menzalimi orang lain lewat berita. ”Contohnya, Tempo. Jangan merasa dialah paling benar,” ujar Upa, yang sebelumnya adalah wartawan Suara Pembaruan peliput di kepolisian.

Menurut Ketua Dewan Pers Atmakusumah Astraatmadja, premanisme tak dikenal di dunia pers. Kalau ada wartawan tukang palak atau hobi amplop, itu sudah kriminal dan ia harus keluar dari dunia pers. Yang ada, kata dia, tirani media atau pun berita yang sebenarnya hanya untuk kepentingan golongan. ”Kalau ini terjadi, jelas bukan jurnalisme profesional,” katanya.

Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id