|
|
 |
|
BBN: 3 in 1
RAMA PRIHANDANA, Penulis Buku Dari Energi Fosil menuju Energi Hijau
|
|
| |
BAHWA faktor energi hanya menyumbang 9% polusi udara di Tanah Air, itu memang benar. Sektor kehutananlah yang merupakan emiter terbesar di negeri ini, sekitar 80%. Tapi, jangan lupa, angka tadi merupakan data tahun 2004, ketika kebakaran hutan di sini terjadi begitu hebatnya. Kini, sumbangan sektor energi pasti sudah naik. Maklum, kapasitas produksi sejumlah pabrik juga terus meningkat dari tahun ke tahun. Penjualan kendaraan bermotor juga terus bertambah, begitu juga dengan konsumsi listrik. Kebutuhan manusia akan energi memang akan terus bertambah.
Maka, diversifikasi energi dirasa semakin menjadi kebutuhan. Belum lagi kalau diingat betapa bumi terasa semakin panas akibat dampak rumah kaca yang ditimbulkan dari tertahannya enam jenis gas di atmosfer kita—terutama karbon dioksida dan metan.
Konfirmasi lain tentang pentingnya diversifikasi energi datang dari pasar minyak dunia. Kini, harga minyak sudah nyaris menyentuh level US$ 100 per barel—dan mungkin akan tetap setinggi itu hingga satu atau dua tahun ke depan. Padahal, cadangan minyak dunia sudah terbatas. Di dalam negeri, cadangan minyak bahkan diperkirakan akan habis dalam kurun dua dekade ke depan.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kemudian menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 5/2006 tentang Kebijakan Energi Nasional. Di sana, gagasan diversifikasi dituangkan dalam kebijakan energy mix. Jadi, pada tahun 2025 kelak, komposisi penggunaan sumber energi di negeri ini akan diatur: 20% minyak bumi, 30% gas, 35% batu bara (termasuk 2% batu bara cair), dan masing-masing 5% untuk energi terbarukan (biomas, air, angin, surya, nuklir), serta bahan bakar nabati (BBN).
Tulisan ini akan memberikan tekanan pada pemanfaatan BBN. Kenapa? Karena bagi negara seperti Indonesia, energi tanaman itu tampak lebih menjanjikan. Pertama, kita bisa mendapat energi alternatif yang ramah lingkungan. Kedua, jutaan lahan kritis bisa dihijaukan kembali. Saat ini, lahan kritis di negara kita telah mencapai 25 juta hektare dengan tingkat penggundulan tiga juta hektare per tahun. Manfaat ketiga, jutaan penduduk yang menganggur pun bisa mendapatkan pekerjaan.
Bayangkan, ada tiga manfaat dalam BBN. 3 in 1.
BBN terbagi menjadi dua: biodiesel (pengganti solar) dan bioethanol (pengganti bensin). Di Indonesia, biodiesel dikembangkan lewat tanaman jarak pagar dan sawit. Lalu, bioethanol mengandalkan tebu dan ubi kayu. Setiap tanaman itu memiliki keunggulan masing-masing, tergantung pada pola pengembangan yang akan dipilih.
Pengembangan BBN di Indonesia dapat dilakukan dengan empat pola. Bisa dengan pola Desa Mandiri Energi: rakyat pedesaan menanam BBN untuk mengurangi biaya energi rumah tangga mereka. Tanaman jarak pagar sangat cocok dikembangkan dalam pola ini.
Jarak pagar juga bisa dipilih dalam pengembangan BBN dengan pola UKM. Di sini, pengusaha kecil dan menengah memproduksi BBN untuk dijual dalam skala kecil dan diedarkan terbatas. Konsumennya datang dari kalangan industri pedesaan, seperti penggilingan padi, pabrik genting, kapal motor nelayan, atau usaha kerajinan.
Perusahaan seperti pabrik gula, CPO, dan perusahaan agro lainnya juga perlu mengembangkan BBN, menanam sendiri, dan menggunakan untuk kebutuhan sendiri. Jarak pagar dan sawit bisa diandalkan. Di berbagai negara, terutama Brasil dan India, cara ini bisa mengurangi pemakaian BBM dalam jumlah signifikan.
BBN juga bisa dimanfaatkan perusahaan besar untuk diproduksi komersial. Jarak pagar, sawit, tebu, atau ubi kayu punya nilai jual masing-masing. Perusahaan pertambangan sekelas Medco memilih ubi kayu dan BP dari Inggris mencoba mengembangkan jarak pagar di Indonesia.
Ujung-ujungnya, ya itu tadi, 3 in 1.
Berikan Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|