Sabtu, 13 Maret 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

IPO Truba, Truba Menyetrum Bursa

Nurul Kolbi, Marah Sutan Nasution, Syarif Hidayat, dan Teguh Usia Imam
 
Kinerja keuangannya memang memble, tapi prospek bisnisnya lumayan cerah.

RENCANA IPO PT Truba Alam Manunggal (TAM) mendapat respons luar biasa. Lihat saja, kendati penawaran baru akan dilangsungkan 25 hingga 29 September, pemesanan saham yang dilego dengan harga Rp 110 ini sudah oversubscribed. ”Minat investor ritel melonjak hingga 15 kali dari yang kami tetapkan. Benar-benar surprise,” kata Steffen Fang, Vice President Investment Bank PT Danatama Makmur, penjamin emisi. Dan itu pula yang membuat manajemen berani meningkatkan target penerimaan dari penjualan 5 miliar saham tersebut, dari Rp 400 miliar menjadi Rp 550 miliar.

 Artikel Lain
Menghitung Peruntungan Saham Fren
Jurus Cerdik Lippo
Beli Saham Dapat Kaveling
Menanti Rapor Kuar tal III
IPO Truba, Truba Menyetrum Bursa
Masih Banyak Saham yang Layak Lirik
Saham Indosat : Saatnya untuk Melesat
Saham Bosowa, Lebih Enak Lewat Belakang
Roekman Prawirasasra, Presdir PT Indonesia Air Transport Tbk: ”Jangan sampai Dicaci Maki Investor”
Saham Barito
Rencananya, dana dari hasil penawaran umum ini akan digunakan seluruhnya (100%) untuk membangun power plant berkapasitas 2x100 megawatt (MW) di Bali. Sedangkan yang diperoleh perseroan dari pelaksanaan waran seri I akan dialokasikan sebagai modal kerja.
Menurut Alif Sasetyo, analis dari Samuel Securities, nilai investasi pembangunan PLTU itu diperkirakan akan mencapai Rp 1,5 triliun. Nah, lantaran IPO ”hanya” menghasilkan Rp 550 miliar, ”Untuk menutupi kekurangannya, Truba akan mencari pinjaman,” kata Steffen.
Truba memiliki tiga anak usaha, yakni PT Maxima Infrastructure (bergerak di bidang batu bara), PT Manunggal Power (pembangkit listrik), dan PT Manunggal Infra Solusi yang memiliki dua anak usaha—PT Truba Jurong Engineering dan PT Manunggal Engineering. Dari seluruh anak dan cucu usaha itu, Truba Jurong Engineering memiliki penampilan yang paling aduhai.
Sayang, kinclongnya prospek usaha Truba bertolak belakang dengan kinerja perusahaan. ”Dari sisi kinerja keuangan, perseroan ini sebenarnya kurang meyakinkan,” kata Felix Shindunata, Kepala Riset Mega Capital Indonesia. Seperti yang tampak pada laporan keuangannya, pada tahun 2004 dan 2005, perusahaan ini beruntun membukukan kerugian. Dan baru pada semester lalu mencatat untung bersih Rp 3,78 miliar. Itu sebabnya, Felix merekomendasikan saham Truba hanya layak dikoleksi untuk jangka pendek. ”Saya curiga, jangan-jangan keuntungan yang diraup pada semester I adalah laba kurs,” tuturnya.
Terlepas dari fundamentalnya yang kurang menawan, sebenarnya saham ini cukup menarik untuk dilirik. Menurut Pordomuan Sihombing, analis Reliance Securities, jika dihitung berdasarkan metode discounted cash flow, harga wajar saham ini adalah Rp 170. Itu berarti, harga penawaran perdananya telah terdiskon sekitar 36%-55%. Hal senada dikemukakan Felix. Menurutnya—jika mengacu pada keterangan penjamin emisi—Truba berpotensi naik 40% akibat PER-nya yang di bawah perusahaan sejenis di bursa Asia. ”Untuk jangka menengah-panjang, harganya bisa mencapai Rp 175,” katanya.
Penguatan harga itu tidak akan terjadi secara serta merta. Sebab, performa Truba sangat ditentukan oleh kondisi eksternal. Jika rencana pemerintah menggalakkan pembangunan infrastruktur tertunda atau terjadi pemutusan kontrak, misalnya, mereka akan gigit jari. Padahal, berdasarkan laporan keuangannya, pendapatan usaha terbesar (Rp 411,3 miliar atau 89,5%) mengalir dari jasa konstruksi. Sementara dari perdagangan batu bara hanya diperoleh pendapatan sebesar Rp 45,1 miliar.
Syukurlah, untuk sementara, kelihatannya sejumlah proyek besar akan segera digulirkan pemerintah. Seperti program percepatan pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dengan kapasitas 10 ribu MW. Crash program ini membutuhkan dana sekitar Rp 200 triliun dan batu bara berkalori rendah hingga 70 juta ton per tahun ”Dari crash program ini kami ingin mengambil porsi 30%, termasuk power plant berdaya 2x100 megawatt di Bali” kata Steffen.
Makanya, agar bisa ikut andil, Truba tak hanya melakukan IPO, tapi juga mencari pinjaman dan mitra strategis. Untuk memperkuat teknologi konstruksi pembangkit listrik, Truba telah menggandeng perusahaan listrik dari Cina, Shanghai Electric Power co. ltd. Menurut Arifin Wiguna, Presdir Truba, keterlibatan Shanghai mungkin tak hanya di proyek pembangkit di Bali. ”Tidak tertutup kemungkinan kami akan ikut menggarap pembangkit listrik berdaya rendah seperti di Lombok yang hanya 2x25 MW,” katanya. o


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id