|
|
 |
|
Menanti Rapor Kuar tal III
|
| Budi Kusumah, Diah Amelia, Syarif Hidayat, dan Pringgo Sanyoto |
| |
TAK SEMUA harapan bisa menjadi kenyataan. Pepatah klise ini tampaknya akan berlaku sepanjang zaman. Contoh yang paling hangat terjadi di pasar uang, pekan lalu, yakni ketika nilai tukar rupiah kembali terjungkal ke kisaran Rp 9.225 (29/9)—bahkan sempat menyentuh angka Rp 9.250 per dolar AS. Padahal, sebelumnya, para analis memperkirakan, setelah sempat terpukul oleh kejadian kudeta di Thailand, kurs mata uang RI akan kembali ajek ke rentang Rp 9.150-Rp 9.200.
Untuk beberapa saat, perkiraan itu sempat menjadi kenyataan. Sayangnya, ramalan tersebut tidak bundar sepenuhnya. Waktu itu, para pelaku pasar memberikan catatan: pergerakan rupiah akan relatif stabil jika permintaan dolar dari korporasi mulai berkurang. Yang dimaksud korporasi tentu saja perusahaan-perusahaan besar yang memiliki banyak kegiatan impor.
Nah, ”nafsu” mereka inilah ternyata yang tidak bisa dikendalikan. Aksi borong dolar pun tak bisa dihindari lantaran banyak perusahaan yang membutuhkannya untuk mengimpor kebutuhan Lebaran. Gelombang pembelian itu didukung oleh investor asing di obligasi dan surat utang negara yang melakukan profit taking.
Tidak cukup sampai di situ, hantaman yang lebih kencang justru muncul karena ”ulah” Pertamina yang ingin mengamankan stok BBM dalam menyambut Lebaran. Maklum, seperti biasanya, menjelang dan beberapa hari setelah hari akbar umat Islam tersebut, kebutuhan bahan bakar selalu meningkat. Bukan hanya konsumsi solar dan premium yang diperkirakan bakal naik sekitar 8.100 kiloliter (dari 181.900 KL per hari pada bulan September menjadi 190 ribu KL per hari pada bulan Oktober), tapi juga konsumsi minyak tanah serta gas elpiji.
Kebutuhan itulah yang mendorong Pertamina melakukan impor lebih banyak dari biasanya. Makanya tak mengherankan jika tumpukan dolar yang diborong pun menjadi lebih tebal lagi. Dan ini pula yang ikut mendorong si mata uang RI sedikit limbung.
Padahal, kalau saja tak ada kebutuhan ekstra, harga minyak mestinya menjadi pendorong bagi penguatan nilai tukar rupiah. Sebab, dengan mulai pulihnya produksi kilang-kilang di Irak, stabilnya pasokan dari negara-negara anggota OPEC, serta menurunnya konsumsi BBM Jepang, maka harga si emas hitam cenderung stabil dengan tren menurun.
Lihat saja, kendati harga yang sempat menyentuh US$ 59 itu kembali terkerek ke 64 dolar lantaran adanya kekhawatiran terhadap perseteruan Iran-AS, toh pada akhirnya kembali menurun. Di pasar New York, misalnya, minyak jenis light sweet yang sehari sebelumnya diperdagangkan pada harga US$ 64, Jumat (29/9) telah kembali ke level US$ 62,35 per barel. Sementara minyak dari laut utara juga ikut menukik hampir satu dolar menjadi US$ 62,05 per barel.
Tapi, ya itu tadi, karena besarnya tambahan impor, harga minyak yang menurun itu tak menjadi sentimen positif bagi nilai tukar rupiah. Lantas apa yang akan terjadi pada pekan ini? Sebuah ramalan bernada optimistis pun kembali ditiupkan oleh para pelaku pasar. Seorang kepala treasury sebuah bank BUMN membisikkan, pada pekan ini rupiah tidak akan mengamuk seperti kemarin-kemarin. ”Percayalah, nilai tukar akan tetap berada di rentang aman antara Rp 9.150-Rp 9.250,” katanya meyakinkan.
Ada dua hal yang bakal membuat rupiah tegak. Salah satunya, permintaan dari korporasi di awal Oktober ini sudah mulai mereda. Selain itu, pengalaman juga menunjukkan bahwa saat menjelang Lebaran biasanya permintaan terhadap rupiah cukup tinggi.
Optimisme serupa juga dilontarkan Evi Rahmawati. Corporate Dealer Bank BRI ini memprediksi nilai tukar akan berada di rentang Rp 9.200-Rp 9.220. ”Permintaan korporasi terhadap dolar biasanya akan menurun di awal bulan,” ujarnya.
SAHAM-SAHAM YANG POTENSIAL
Ah, mudah-mudahan saja perhitungan ”orang-orang bank” tadi, kali ini, menjadi kenyataan. Soalnya, jika nilai tukar terus bergoyang kencang, ujung-ujungnya akan ikut memengaruhi kondisi di bursa saham yang pada hari-hari ini sedang penuh gairah. Seperti yang kita saksikan bersama, kendati ditingkahi oleh beberapa kali aksi profit taking, indeks harga saham gabungan—perlahan tapi pasti—terus menguat. Sepanjang pekan lalu saja, indeks mengalami kenaikan lebih dari 34 poin dan ditutup pada level 1.534,61 (29/9).
Itu berarti, dalam rentang waktu empat bulan, indeks menguat hampir 14%. Menariknya, beberapa analis terlihat begitu optimistis bahwa pada pekan-pekan ini IHSG masih akan mengalami kenaikan. Alfiansyah dari Sinar Mas Sekuritas, misalnya, memprediksi indeks berpotensi mencapai rekor baru dan akan singgah di level 1.568. Salah satu pendorongnya, kata sang analis, adalah pengumuman angka inflasi bulan September, yang diyakini akan membuat para petinggi di Bank Indonesia lebih percaya diri dalam menurunkan tingkat suku bunga. ”Jika BI Rate kembali diturunkan, pasti akan berdampak positif terhadap pergerakan saham-saham perbankan,” katanya.
Selain itu, tingkat bunga yang rendah juga akan menghangatkan perdagangan otomotif. Apalagi, menjelang Lebaran, penjualan mobil maupun motor selalu melonjak naik. Sehingga, otomatis, saham Astra juga berpotensi menguat.
Alfiansyah juga menyarankan investor agar melirik saham-saham pertambangan seperti saham PT Aneka Tambang (ANTM) dan INCO. Soalnya, belakangan, harga emas dan nikel terus membubung tinggi. Selain ANTM dan INCO, Arif Manurung (analis dari Armantara Securities) melihat saham PT Medco (MEDC) dan Bukit Asam (PTBA) juga berpotensi memberikan gain. Sebab, menurut Arif, harga dua saham tersebut sudah masuk ke ”area murah”. Juga, saham PT Exelcomindo Pratama layak dikoleksi lantaran harganya sudah miring.
Hanya saja, Arif tidak begitu yakin IHSG di pekan ini akan menguat secara signifikan. Ia bahkan memprediksi indeks hanya akan bergerak di kisaran 1.495-1.515. Hal itu mungkin terjadi karena pada pekan ini para emiten akan menuntaskan laporan keuangan untuk triwulan III. ”Kalau ternyata laporannya bagus, baru nilai bursa bakal terangkat,” katanya.
Pendapat senada dikemukakan M. Hasoloan Napitupulu, Senior Manager Equity Brent Securities. Setelah mencapai level 1.534, kata Hasoloan, para fund manager kini sedang bersiap mengambil posisi profit taking. Mereka juga tengah menunggu ”bocoran” tentang laporan keuangan para emiten. Itu sebabnya, ia menyarankan, pekan ini sebaiknya investor tidak terlalu agresif. ”Tunggulah laporan kinerja emiten kuartal III,” ujarnya.
Tapi, kalau tetap ingin membeli, Hasoloan merekomendasikan dua jenis saham yang layak koleksi, yakni ANTM dan PTBA. ANTM, yang pekan lalu ditutup pada harga Rp 5.500 (29/9), diperkirakan bakal mencapai level Rp 6.000 pada akhir tahun. Sedangkan PTBA berpotensi menguat dari Rp 3.400 ke Rp 4.500. o
Berikan Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|