|
|
 |
|
Jurus Cerdik Lippo
|
| Marah Sutan Nasution dan Diah Amelia |
| |
BUKAN Lippo jika tak punya banyak akal. Lantaran butuh dana untuk merestrukturisasi aset-aset usahanya, Lippo Karawaci akan menerbitkan surat berharga. Yang menarik, perusahaan yang terafiliasi dengan grup Lippo ini tidak akan melepas saham baru atau menjual obligasinya. Kali ini, perseroan memanfaatkan aset-aset propertinya untuk mendapatkan dana segar. Caranya dengan menerbitkan real estate investment trusts (REITs) di bursa Singapura.
REITs merupakan instrumen investasi berupa surat berharga yang dapat dibeli investor dari perusahaan properti yang menerbitkannya. Surat berharga ini mirip dengan surat saham yang mencerminkan kepemilikan atas sebuah perusahaan tertentu. Salah satu keunggulan REITs adalah perlakuan khusus perpajakan. Di sejumlah negara, instrumen semacam ini bebas dari pajak penghasilan.
Rencananya, Lippo akan mencatatkan tiga REITs di Singapura hingga akhir 2007. Menurut Stephen Riady, Vice Chairman Lippo Group, kepada surat kabar Straits Times edisi Kamis (14/9), ketiga REITs itu akan memiliki aset gabungan senilai Sin$ 3 miliar. Dari sana Lippo Group diperkirakan akan memperoleh dana Sin$ 1,8 miliar atau hampir Rp 10 triliun.
Khusus untuk Lippo Karawaci, aset yang akan dimasukkan dalam REITs adalah RS Graha Medika, RS Siloam Gleneagles Karawang, RS Siloam Surabaya, dan Hotel Aryaduta. Nilai aset REITs tersebut ditaksir sekitar Sin$ 300 juta (sekitar Rp 1,6 triliun). Menurut Stephen, Lippo Karawaci bakal memperoleh dana sebesar Sin$ 150 juta dari penerbitan surat berharga yang akan dilakukan tahun ini. Perlu diketahui, sampai Juni lalu, nilai aset Lippo Karawaci yang berupa properti hunian, industri, rumah sakit, dan hotel mencapai Rp 7,3 triliun. Namun, dalam perhitungan penilai independen Colliers, total aset Lippo jauh lebih tinggi, sebesar Rp 11,8 triliun.
Menurut penilaian Ikhsan Binarto, analis Mega Capital Indonesia, banyak manfaat yang bisa diperoleh Lippo dengan menerbitkan REITs. Salah satunya, dari dana yang diperoleh, Lippo bisa merestrukturisasi utang-utangnya. Emiten ini juga berkesempatan untuk memperluas ekspansi usahanya. Dan yang tak kalah penting, penerbitan surat berharga tersebut akan mendorong perseroan semakin transparan dalam mengelola asetnya. ”Karena tercatat di bursa Singapura, Lippo akan lebih profesional. Sebab yang mengawasinya makin banyak,” kata Ikhsan.
Dalam kondisi seperti itu, analis tadi memperkirakan kinerja Lippo Karawaci akan terus membaik sampai akhir tahun. Benar, kenaikan laba bersihnya di paruh pertama 2006 sebanyak 2,33% (menjadi Rp 175 miliar) lebih banyak ditopang oleh keuntungan selisih kurs. Bahkan pendapatan Lippo hanya naik 7% menjadi Rp 911 miliar. Jika melihat kecenderungan suku bunga yang terus menurun, penjualan properti milik emiten ini diyakini akan terus meningkat.
Sebagai gambaran, tahun lalu ketika suku bunga pinjaman cukup rendah, pendapatan Lippo naik hingga 25% menjadi Rp 2 triliun. Residential dan retail memberikan kontribusi pendapatan sampai 59%. Sedangkan sisanya berasal healthcare dan hospital infrastructure. Berdasarkan proyeksi pendapatan yang relatif stabil, Ikhsan memperkirakan, saham Lippo di pasar masih bisa beranjak naik. Jika pekan lalu masih berada di kisaran Rp 900 per saham, di akhir tahun saham berkode LPKR ini berpotensi menclok ke Rp 1.050.
Analisis Robin Setiawan dari AM Capital juga tak jauh berbeda. Menurut dia, prospek emiten yang berbasis properti seperti Lippo Karawaci cukup bagus. Apalagi perseroan—yang selama ini lebih banyak bermain di segmen menengah atas—mulai menggarap segmen bawah. Dengan diversifikasi dan jangkauan pasar yang lebih luas, Robin menilai, pendapatan Lippo akan semakin berkembang. Makanya, untuk jangka panjang saham Lippo masih bisa dikoleksi. ”Potensi kenaikan sahamnya masih cukup terbuka. Apalagi suku bunga cenderung terus menurun,” paparnya. o
Berikan Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|