Minggu, 5 Juli 2009 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Menghitung Peruntungan Saham Fren

Budi Kusumah
 
RENCANA PT Mobile-8 Telecom Tbk. berburu dana segar di pasar modal akhirnya terlaksana juga. Kalau tak ada aral melintang, November depan, perusahaan penyelenggara jaringan dan jasa telekomunikasi itu akan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta. Sebagai langkah awal, operator telepon seluler yang mengusung merek Fren itu akan menjual 3,9 miliar saham bernominal Rp 100.
Sayang, hingga berita ini diturunkan, harga saham yang akan ditawarkan tersebut belum bisa ditetapkan. Itu karena pernyataan efektif dari Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) diperkirakan baru akan turun pada 17 November 2006. Meski demikian, jika melihat besarnya saham yang akan dilepas dan rencana ekspansi yang akan dilakukan, dana yang dibutuhkan oleh perseroan itu tampaknya cukup besar. Soalnya, target yang dipatok juga cukup tinggi. Di akhir tahun 2007, manajemen bertekad meningkatkan kapasitasnya menjadi 6,9 juta pelanggan.
Untuk mencapai target itulah sejumlah langkah ekspansi disiapkan. Seperti yang diungkapkan dalam prospektus yang diterbitkan pekan lalu, perseroan berencana memperluas jaringan selulernya ke daerah-daerah pulau Jawa, Bali, Lombok, Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.

 Artikel Lain
Im dan Yang di Bursa Saham
Masih Banyak yang Pantas Dibeli
Kelas Dua yang Menjanjikan
Bersyukurlah…
Menghitung Peruntungan Saham Fren
Jurus Cerdik Lippo
Beli Saham Dapat Kaveling
Menanti Rapor Kuar tal III
IPO Truba, Truba Menyetrum Bursa
Masih Banyak Saham yang Layak Lirik
Besarnya semangat manajemen dan pemilik perusahaan untuk memperbesar usahanya memang cukup bisa dimengerti. Maklum, pasar seluler di negeri ini masih sangat lebar. Data International Telecommunication Union (ITU) per Desember 2005 menunjukkan bahwa Indonesia—yang memiliki 223 juta penduduk—merupakan negara dengan tingkat penetrasi terendah di Asia tenggara (21,1%). Fakta itu dibuktikan oleh prestasi Mobile-8 pada semester I-2006 yang baru lalu. Sepanjang enam bulan pertama, jumlah pelanggannya meningkat pesat (63,5%) menjadi 1,3 juta. Dengan keberhasilan tersebut, manajemen optimistis target tahun ini (1,9 juta pelanggan) akan tercapai.
Cerahnya prospek bisnis telekomunikasi diakui oleh Felix Sindhunata, Head of Equity Research Division PT Mega Capital Indonesia. Dibanding dengan jumlah penduduk, kata dia, pengguna ponsel di Indonesia masih terbilang sedikit. Malah, menurut data riset Reuters, di negeri ini masih ada 100 juta calon pengguna HP. ”Jadi, pasarnya masih sangat terbuka,” ujarnya.
Itu sebabnya, kepada investor jangka menengah-panjang, Felix merekomendasikan beli untuk saham-saham yang akan dijual Mobile-8. Sementara bagi yang sekadar ingin ”mencicipi” gain, ia menyarankan koleksi untuk jangka yang sangat pendek. Maklum, kendati memiliki masa depan yang bagus, perkembangan saham ini diperkirakan bakal terganjal oleh kinerja keuangannya yang masih mencatatkan angka merah. Seperti yang tampak dalam prospektus, hingga 30 Juni 2006, Mobile-8 masih mencatat kerugian sebesar Rp 26,501 miliar.
Lo, kalau memang merugi, lantas kenapa saham ini disarankan beli? Ada beberapa hal positif yang dilihat Felix menempel pada saham ini. Selain pasar telekomunikasi yang masih luas, kerugian yang dialami perseroan itu juga terus-menerus mengalami tren menurun. Setelah pada akhir 2004 mengalami rugi bersih Rp 422,975 miliar, di tahun berikutnya menyusut tinggal Rp 286,7 miliar atau turun sekitar 32%.
Dan yang menarik, di pengujung semester I-2006, angka rugi bersih menukik semakin tajam menjadi tinggal Rp 26,501 miliar. Makanya wajar jika manajemen begitu optimistis tahun ini bisa mendulang laba bersih. ”Saya juga optimistis, tahun ini kinerja Mobile-8 akan lebih baik. Dan ini bisa dijadikan modal untuk menghadapi persaingan di masa depan,” tutur Felix.

TINGGAL SOAL WAKTU
Apalagi, perseroan juga memiliki produk dengan fitur-fitur yang tidak/belum dimiliki para pesaingnya. TV Mobi, misalnya. Melalui produk ini, para pelanggan Fren bisa menyaksikan berbagai acara televisi dari dalam dan luar negeri melalui ponsel mereka. Selain itu, masih ada juga beberapa layanan lain yang merupakan kelebihan dari Mobile-8 berkat pemanfaatan teknologi CDMA 1x. Dan produk-produk itu, jika dikelola dengan baik, ”Akan menjadi sumber tambahan pendapatan bagi perseroan,” ujar Felix, menambahkan.
Namun, seorang analis dari sekuritas asing mengatakan, betapapun bagusnya, tetap saja produk-produk seperti TV Mobi itu statusnya hanya sebagai tambahan alias pemanis. Itu berarti, perseroan mesti fokus untuk memajukan bisnis utamanya sebagai penyelenggara telekomunikasi. Dan di Indonesia, yang namanya tarif (harga jual) tetap akan menjadi salah satu faktor penentu cepat-lambatnya kemajuan yang dicapai oleh sebuah perusahaan.
Kondisi ini kelihatannya sudah disadari betul oleh manajemen. Apalagi, para pesaingnya juga sudah melancarkan ”tarif murah” sebagai jurus pamungkas dalam menembus pasar. Itu sebabnya, pada awal 2006, Mobile-8 meluncurkan program promosi yang cukup mengejutkan, yakni ”Rp 7 per 30 detik”. Sementara untuk pelanggan pascabayar, mulai 2 Mei lalu, perseroan telah menaikkan batas minimum kredit dari Rp 250 ribu menjadi Rp 500 ribu.
Langkah-langkah tersebut terbukti cukup manjur. Hal itu terlihat dari melesatnya jumlah pelanggan seperti yang disebutkan di atas. Maklum, selain murah, jaringan yang dimiliki Mobile-8 juga bersifat nasional. Sehingga, kalau program ekspansinya berjalan mulus, kelak Fren bisa tersambung ke seluruh pelosok Tanah Air. Jadi, operator ini tidak hanya akan bermain di kota-kota besar saja.
”Kalau melihat program-programnya, saya yakin, perusahaan ini akan tumbuh besar. Tinggal soal waktu saja,” komentar seorang analis lainnya. Sama seperti halnya Felix, si analis tadi juga merekomendasikan beli untuk saham ini. Pertimbangannya, selain memiliki prospek yang cerah, saham telekomunikasi masih menjadi salah satu penggerak utama bagi Bursa Efek Jakarta. Itu sebabnya saham ini selalu menjadi incaran investor asing maupun lokal.
Contoh yang masih hangat adalah ketika PT Bakrie Telecom Tbk. melakukan IPO, akhir Januari 2006. Waktu itu, antrean untuk memperoleh saham berkode BTEL tersebut cukup panjang. Laris manis. Padahal, sebelumnya, banyak analis yang ”memandang sebelah mata” terhadap saham itu. Selain perusahaan tersebut masih merugi dalam jumlah yang lebih besar (Rp 112 miliar), harga saham yang ditawarkan saat itu (Rp 110) juga dianggap terlalu mahal.
Bisnis Bakrie Telecom juga tidak sehebat para pesaingnya, karena operator ini baru memiliki jaringan yang hanya menjangkau wilayah Jabotabek, Jabar, dan Banten. Dengan kondisi seperti itu, banyak analis yang memperkirakan saham tersebut akan menjadi dagangan yang kurang menarik. Dan investor hanya akan memetik keuntungan di hari pertama pencatatan.
Tapi, yang terjadi sungguh di luar dugaan. Harga BTEL terus merangkak naik, dan pada pekan lalu menclok di harga Rp 180 per saham. Itu berarti, dalam rentang waktu delapan bulan, harganya mengalami kenaikan 63,63%.
Itu sebabnya, sebagai sesama saham telekomunikasi, pantas kalau IPO Mobile-8 sejak jauh-jauh hari sudah mendapat perhatian ekstra dari para pemilik modal. o


Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id