Jumat, 12 Maret 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Bersyukurlah…

Budi Kusumah, Marah Sutan Nasution, Syarif Hidayat, dan Bona Ventura
 
SEPERTI mobil yang sedang berada di turunan tapi remnya blong, itulah yang terjadi pada indeks harga saham gabungan pekan-pekan ini. Lihat saja, begitu pasar dibuka pasca-Lebaran, perdagangan langsung meriah. Berbagai jenis saham, terutama yang blue chip, menjadi rebutan investor asing ataupun lokal. Dan hasilnya, seperti yang tampak sekarang, IHSG meroket tajam. Jumat pekan lalu (10/11), setelah sempat hinggap di 1.673, indeks akhirnya menclok di level 1.664,83. Itu berarti, dalam waktu dua pekan, terjadi peningkatan sebesar lebih dari 92 poin atau naik 5,85%.
Betul, di sini pun akan berlaku hukum pasar. Dengan kata lain, meroketnya indeks akan selalu dibayangi oleh aksi profit taking. Soalnya, setelah harga-harga saham naik tinggi akan banyak investor yang tergoda untuk merealisasikan keuntungannya. Dan aksi ambil untung itu, menurut ramalan para analis, akan terjadi di pekan ini. Tapi jangan khawatir, gerakan menuai laba ini tidak akan berlangsung panjang. Sehingga, kata seorang broker, gelombang jual ini tidak akan sampai mengganggu kenikmatan IHSG yang sedang ngebut.
”Secara teknis, ada indikasi akan terjadi koreksi jangka pendek atas pergerakan indeks. Namun, kondisi up trend kami perkirakan masih akan berlanjut, minimal hingga akhir tahun,” kata Felix Sindhunata, Kepala Riset Ekuitas Mega Capital Indonesia. Ada beberapa faktor utama yang membuat perdagangan saham berlangsung ramai. Salah satunya, kata Felix, adalah stabilnya inflasi yang diikuti dengan menurunnya tingkat suku bunga. Seperti diketahui, pekan lalu, Bank Indonesia kembali telah menurunkan tingkat bunga acuan (BI Rate) sebesar 50 basis poin menjadi 10,25%.

 Artikel Lain
Meneropong Geliat Saham Bimantara
Im dan Yang di Bursa Saham
Masih Banyak yang Pantas Dibeli
Kelas Dua yang Menjanjikan
Bersyukurlah…
Menghitung Peruntungan Saham Fren
Jurus Cerdik Lippo
Beli Saham Dapat Kaveling
Menanti Rapor Kuar tal III
IPO Truba, Truba Menyetrum Bursa
Faktor lainnya adalah daya beli masyarakat yang—walaupun kecil—mulai meningkat. Itu, tutur Felix, terlihat dari rebound-nya penjualan otomotif. Perbaikan daya beli juga tecermin dari naiknya kinerja saham-saham sektor consumer goods. Ditambah dengan terbitnya laporan keuangan kuartal III para emiten (yang sebagian besar berwarna biru), maka optimisme para pelaku pasar pun kian menjadi-jadi. ”Itulah sentimen-sentimen positif yang menjadi penggerak utama indeks dalam beberapa pekan terakhir ini,” katanya.
Sumarmo, analis dari Indomitra Securities, juga berpendapat sama. Kata dia, pergerakan yang terjadi pada suku bunga bank selalu bertolak belakang dengan pergerakan indeks. Jadi, kalau tren bunga turun (seperti sekarang), indeks akan bergerak naik. Makanya, ia juga begitu optimistis, tren ini masih akan bergerak hingga di pengujung tahun. ”Kecuali jika ada hal-hal luar biasa yang bisa memengaruhi kinerja emiten, seperti pemogokan massal atau lonjakan harga minyak yang sangat tinggi,” katanya.
Lantas bagaimana dengan pengaruh kedatangan Presiden Bush yang terbukti menuai banyak aksi protes? Tenang, protes boleh berlangsung marak. Tapi, Sumarmo yakin, itu hanya akan terbatas pada aksi demonstrasi. Selebihnya, aman. Kecuali, misalnya, kalau ada yang menembak sang presiden AS itu. Kalau melihat pengamanannya yang begitu ekstra ketat plus lama kunjungan yang hanya enam jam, kemungkinan itu sangat kecil terjadi.
Berdasarkan indikator-indikator itulah, Sumarmo berani membuat prediksi bahwa indeks harga saham gabungan di pekan ini akan bermain di rentang 1.650-1680. Sementara perkiraan Felix, IHSG di pekan ini bakal naik turun di kisaran 1.620-1.685. Bahkan untuk pekan depan, analis ini menduga ada kemungkinan indeks bakal mencoba level psikologis baru, yakni 1.700.
Ramalan yang optimistis seperti itu, bukan sesuatu yang mustahil untuk terjadi. Apalagi, para pelaku pasar begitu yakin otoritas moneter masih akan melakukan penurunan suku bunga di bulan depan. ”Kami memperkirakan, pekan depan BI Rate akan turun ke 9,75%,” katanya.

TAK ADA ALASAN UNTUK MELEMAH
Ah, mudah-mudahan saja BI memenuhi keinginan pasar. Soalnya, terbukti, kendati tingkat suku bunga telah dikerek turun sampai 2,5% (dari 12,75% pada Februari lalu), toh para bankir tetap bergeming. Mereka keukeuh bertahan untuk memasang bunga kredit yang cukup tinggi. Dan kalaupun ada yang berani mengambil pinjaman, tak semua akan dikasih, sebab para bankir itu sangat selektif memilih nasabah. ”Buat apa kita mengucurkan kredit kalau nantinya menjadi beban karena macet,” kata seorang direktur utama bank pemerintah.
Jadi, penurunan bunga acuan sebesar itu, belum mampu mengubah sikap para bankir. Mereka tetap memilih untuk menyimpan sebagian dana yang dimilikinya di Sertifikat Bank Indonesia alias SBI. Seperti diungkapkan Gubernur BI Burhanuddin Abdullah, Jumat pekan lalu. Kata dia, dari total dana yang terserap Sertifikat BI (sekitar Rp 214 triliun), 50% di antaranya merupakan milik bank-bank pemerintah. Itu sebabnya, tidak aneh kalau aliran dana perbankan ke sektor riil menjadi mampet.
Entah, akan sampai kapan para bankir itu mempertahankan sikap buruknya. Padahal, kalau saja mereka menurunkan suku bunganya di hari-hari ini, dipastikan roda perekonomian akan berputar dengan lebih cepat. Soalnya, kondisi ekonomi yang membaik saat ini ditopang oleh stabilnya nilai tukar rupiah yang bergerak tak jauh dari rentang Rp 9.100-Rp 9.200 per dolar.
Winang Budoyo memperkirakan, kurs dolar-rupiah di pekan-pekan ini masih akan tetap anteng di kisaran tersebut. Bahkan, untuk pekan ini, Winang meramalkan rentang nilai tukar akan semakin sempit, yakni Rp 9.100-Rp 9.130. Alasannya, ”Saya belum melihat adanya hal-hal atau faktor yang bisa membuat rupiah melemah atau menguat secara drastis,” kata ekonom dari Bank Lippo ini.
Gerakan melemah (tapi tetap berada di bawah Rp 9.200 per dolar) diduga baru akan terjadi di akhir bulan. Soalnya, Winang melihat inflasi akan mengalami sedikit kenaikan. Selain itu, masih tingginya harga minyak dunia (di atas US$ 60 per barel) juga ikut membuat nilai tukar rupiah sedikit terganggu. ”Rupiah akan sedikit tertekan karena konsumsi BBM tidak turun secara drastis, sehingga valas yang dibutuhkan Pertamina untuk mengimpor masih cukup tinggi,” katanya.
Memang, ramainya bursa saham—semestinya—ikut memperkuat mata uang RI. Sebab, masuknya investor asing identik dengan mengalirnya dolar ke dalam negeri. Apa mau dikata, lantaran permintaan dari berbagai perusahaan untuk kebutuhan impor tinggi, masuknya dolar itu tak bisa menjadi penguat bagi rupiah.
Jadi? Ya, biar saja rupiah melemah. Yang penting tetap berada di jalur aman, alias tidak sampai menembus batas psikologis yang Rp 9.200. Oke? o


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id