|
|
 |
|
Kelas Dua yang Menjanjikan
|
| Kun Wahyu Winasis, Marah Sutan, dan Syarif Hidayat |
| |
AWAN kelabu yang memayungi industri perbankan kini mulai menyingkir. Sejak inflasi mulai menurun (diperkirakan pada akhir tahun di bawah 8%), BI semakin agresif dalam memangkas tingkat suku bunga. Bahkan Desember nanti, BI Rate yang sekarang berada di level 10,25% diperkirakan bakal nangkring di kisaran 9,5%-10%.
Penurunan itu diyakini akan mendorong sektor riil kembali menggeliat. Soalnya, peluang bagi perbankan untuk mengucurkan dana lebih besar bakal semakin terbuka. Para pemimpin dari beberapa bank besar pun optimistis pertumbuhan kredit tahun depan akan jauh lebih tinggi ketimbang angka di tahun 2006. ”Kredit baru 2007 kami perkirakan naik 16%,” kata Agus Martowardoyo, Dirut Bank Mandiri.
Tapi, kelihatannya, bukan hanya bank-bank besar yang bakal menikmati perbaikan makro ekonomi saat ini. Performa bank-bank kelas menengah diyakini juga tidak akan jauh berbeda. Bank Bukopin, Permata, ataupun Panin diperkirakan bakal mampu mendongkrak peruntungannya pada tahun depan. Dan sinyal ke arah itu sudah bisa dibaca dari tampilan mereka sampai kuartal III-2006. Di antara bank-bank kelas menengah—walaupun harus menghadapi kenaikan beban bunga yang cukup tinggi—banyak juga bank yang sukses memetik untung besar.
Para analis di bursa Jakarta memperkirakan, akibat membaiknya kinerja perbankan, saham-saham di sektor ini akan terus mengalami penguatan. Nah, di antara saham-saham bank tadi, jika investor jeli, masih ada beberapa saham yang harganya masih tergolong murah. Dengan demikian, jika investor mengoleksinya saat ini, dalam jangka panjang mereka bisa mendapatkan gain yang cukup menggiurkan. Mau tahu saham apa saja? Simak hasil rangkuman TRUST berikut ini.
BANK BUKOPIN TBK (BBKP)
Di antara bank-bank kelas menengah, performa Bukopin termasuk paling mencorong. Di pengujung kuartal III-2006, asetnya melonjak 40% menjadi Rp 26,3 triliun. Kenaikan itu—salah satunya—didorong oleh kemampuan bank dalam menjaring dana masyarakat. Hingga akhir September, total DPK Bukopin meningkat 44% menjadi Rp 21,5 triliun. Dari jumlah itu, sekitar 57% (senilai Rp 12,5 triliun) tersimpan dalam keranjang deposito.
Dari sisi pinjaman, seperti halnya bank lain, Bukopin juga tidak terlalu agresif. Terbukti, kredit yang disalurkan perseroan hanya tumbuh 5% atau senilai Rp 752 miliar menjadi Rp 14,6 triliun. Kendati demikian, bank ini mampu memaksimalkan potensi pendapatannya. Sebab, manajemen banyak menempatkan dananya di surat berharga. Sampai kuartal III, nilainya mencapai Rp 7,2 triliun atau meningkat 518,5% ketimbang periode sama di tahun 2005. Alhasil, selama 9 bulan itu, perseroan mampu meraih laba bersih sebesar Rp 345 miliar atau naik 24,4%.
Dengan tampilan seperti itu, para analis optimistis saham ini akan bergerak naik. Pekan lalu, harga saham berkode BBKP ini berada di level Rp 730 (23/11). Dengan asumsi penurunan SBI akan terus berlangsung, untuk jangka panjang, para analis memperkirakan saham Bukopin bisa merambat hingga Rp 900 per saham. Yang patut dicatat, di antara saham bank lain, BBKP dianggap lumayan murah. Price earning ratio BBKP baru 6,25 kali. Sedangkan rata-rata saham sektor perbankan sudah mencapai 17 kali.
BANK PERMATA TBK (BNLI)
Kendati sejumlah kebijakannya memunculkan kontroversi, sentuhan Standard Chartered Bank—pemilik mayoritas saham Bank Permata—mulai menampakkan hasil. Selama 9 bulan pertama 2006, perseroan mampu meraih laba bersih Rp 223,4 miliar atau 17,7% lebih tinggi ketimbang angka di kuartal III-2005.
Dari kucuran kredit senilai Rp 21,2 triliun, perseroan meraih pendapatan bunga sekitar Rp 3,4 triliun. Setelah dikurangi beban bunga sebesar Rp 2,05 triliun, bunga bersih yang diterima mencapai Rp 1,3 triliun. Sementara dari sisi operasional, Bank Permata mampu memperoleh pendapatan sebesar Rp 384,4 miliar atau naik 34,7% ketimbang angka di tahun 2005.
Dari pendapatan operasional sebesar itu, surat berharga yang diperdagangkan memberi kontribusi senilai Rp 35 miliar. Padahal, di tahun 2005, dari pos ini perseroan mengalami rugi bersih Rp 30 miliar.
Menurut Ongki W. Dana, Direktur Bank Permata, sampai akhir tahun nanti penetrasi kreditnya akan berkisar di angka Rp 22,2 triliun. Sementara tahun depan, dengan asumsi ekonomi makro tetap terjaga dan suku bunga BI terus menurun, Bank Permata berkeyakinan bisa meningkatkan kreditnya sampai 20%. Lantas bagaimana prospek sahamnya? Bertrand Raynaldi, analis Panca Global Sekuritas, memperkirakan bahwa untuk jangka 12 bulan, saham berkode BNII ini bakal beredar di kisaran Rp 700-Rp 1.000 per saham.
Sementara Arif Budi Satria (analis PT Danasakti Securities) menilai, penguasaan mayoritas Astra Internasional dan Stanchart (masing-masing 44,55%) di Bank Permata akan membuat emiten ini makin solid. Dukungan Astra—yang cukup kuat secara finansial—plus kemahiran Stanchart dalam mengelola bank memperkuat lini bisnis Bank Permata. Makanya Arif berkeyakinan saham BNLI—kini bertengger di level 890 (23/11)—akan menggeliat ke posisi Rp 1.000. ”Perkiraan saya, dalam 4 bulan ke depan harga itu bisa tercapai,” katanya.
BANK PANIN TBK (PNBN)
Bertrand menilai, saham Bank Panin sesungguhnya masih cukup menarik untuk dijadikan obyek investasi—setidaknya bisa dijadikan sebagai lahan spekulasi. Sebab, kata Bertrand, Panin merupakan salah satu di antara 10 bank terbesar di Indonesia. Sampai September lalu, aset bank ini tercatat mencapai Rp 35,3 triliun, turun sekitar Rp 500 miliar ketimbang periode sama di tahun 2005.
Dari sisi bisnis, selama Tahun Anjing Api ini, kinerja Panin boleh dibilang tidak terlalu jelek. Laba bersihnya naik 2% menjadi Rp 456,7 miliar. Penurunan dana pihak ketiga (sekitar Rp 3,9 triliun) membuat beban bunga yang dibayarkan bank ini menjadi tidak terlalu besar. Sehingga, sampai kuartal III-2006, Panin berhasil mendulang bunga bersih sebesar Rp 1,1 triliun atau naik 19,2%.
Arif Budi Satria memproyeksikan, saham PNBN—kini dihargai Rp 540 (23/11) —masih bisa naik. ”Bagi yang sudah mengoleksi saham ini, sebaiknya pegang dulu,” katanya. Sedangkan dalam perhitungan Bertrand, harga wajar saham ini adalah Rp 650. ”Menurut saya, saham Bank Panin paling murah. Mestinya harganya sekitar 600-700,” katanya.
BANK INTERNASIONAL INDONESIA (BNII)
Sejak saham milik pemerintah didivestasi, awal bulan ini, harga saham Bank Internasional Indonesia terus mengalami penguatan. Sebelum penjualan 5,22% saham tersebut, harga BNII lebih banyak berkutat di kisaran Rp 180-Rp 195. Tapi, begitu saham pemerintah dilepas di harga Rp 205, harganya terus meningkat. Pekan lalu misalnya, saham BNII sudah dihargai Rp 240 per saham (23/11).
Para analis di bursa optimistis, penguatan itu akan terus berlanjut. Bahkan seorang broker yakin, di akhir tahun nanti, harganya bisa menclok di level Rp 260 per saham. Asumsi tersebut bukan tanpa alasan. Menurut dia, kinerja BII diperkirakan bakal terus membaik. Benar, sampai kuartal III-2006, laba bersihnya anjlok 13,7% menjadi Rp 517 miliar. Tapi, membaiknya iklim usaha bakal mendorong perseroan ini lebih agresif dalam menyalurkan dana. Akhir September lalu, kredit BII hanya bertambah sekitar Rp 2 triliun ketimbang angka di tahun 2005. ”Saham ini masih layak dikoleksi. Dalam tiga bulan, harganya bisa menembus Rp 250 per saham,” tutur Arif Budi Satria. o
Berikan Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|