|
|
 |
|
Masih Banyak yang Pantas Dibeli
|
| Budi Kusumah, Pringgo Sanyoto, dan Hendra Gunawan |
| |
SUDAH selayaknya jika bulan yang paling bontot ini disebut sebagai bulan yang penuh berkah. Soalnya, selain akan ada perayaan Natal dan Idul Adha, pada Desember ini perekonomian negeri kita juga mulai memancarkan sinarnya. Seperti yang diumumkan Biro Pusat Statistik pekan lalu, inflasi di bulan November terbukti hanya mencapai 0,34% atau jauh lebih rendah ketimbang inflasi di bulan sebelumnya yang 0,86%. Sehingga, year on year angka inflasi jatuhnya hanya 5,27%. Inilah yang kemudian mendorong munculnya optimisme di kalangan pelaku pasar.
Mereka yakin, dengan angka inflasi yang begitu rendah (bahkan di akhir tahun 2006 diperkirakan tak akan mencapai 7%), otoritas moneter akan kembali menurunkan tingkat suku bunga acuan (BI Rate). Sehingga, kalau pada Rapat Dewan Gubernur BI 7 Desember ini diturunkan 50 basis poin, BI Rate bakal nangkring di posisi 9,75%.
Melihat sejuknya angin yang bakal ditiupkan otoritas moneter, para pelaku di pasar saham pun langsung bergerak. Sejumlah saham unggulan dari berbagai sektor langsung menjadi sasaran beli. Dampaknya, indeks harga saham gabungan (IHSG) pun terdongkrak naik dan di pengujung pekan lalu menclok di level 1.737,75. Itu berarti, dalam sepekan, indeks mengalami kenaikan 20 poin.
Beberapa analis yang dihubungi TRUST yakin, pada pekan-pekan ini, perdagangan masih akan berlangsung hangat. Dan mereka memperkirakan hal itu akan mendorong IHSG untuk menyentuh level psikologis baru, yakni 1.800. ”Ada kemungkinan, angka itu akan tembus sebelum akhir tahun habis,” kata Felix Sindhunata, analis dari PT Mega Capital Sekuritas.
Seperti halnya analis lain, Felix juga optimistis terhadap langkah penurunan suku bunga yang diayunkan Bank Indonesia. Ditambah lagi, sudah menjadi ”tradisi” bahwa di pengujung tahun akan terjadi serangkaian aksi window dressing. Para manajer investasi akan memborong sejumlah saham untuk mempercantik nilai portofolionya. Oleh sebab itulah Felix melihat dan menyarankan agar investor mempertimbangkan untuk mengoleksi saham-saham unggulan. ”Saya pikir kita harus kembali ke saham-saham blue chip. Tapi jangan terlalu agresif, tetaplah membeli dengan selektif,” katanya.
Saran untuk bersikap ekstrahati-hati ini memang patut diperhatikan. Soalnya, kendati masih berada di jalur menaik, indeks rawan oleh terjadinya koreksi. ”Kondisi emiten sekarang juga sudah terlalu tinggi,” kata Teuku Hendry Andrean, analis dari PT Finan Corpindo Nusa. Maksud Teuku, beberapa saham (ia mencontohkan salah satunya ASII) telah terlalu mahal.
Tapi, di samping yang sudah memiliki harga tinggi, masih ada saham-saham yang layak koleksi, misalnya saham perkebunan. Saham Astra Agro Lestari (AALI) dan London Sumatera (LNSP) berpotensi menguat seiring dengan naiknya harga minyak sawit mentah (CPO). ”Apalagi permintaan dari Malaysia juga cukup tinggi,” katanya.
Akan halnya di sektor telekomunikasi, Telkom tetap menjadi pilihan utama para analis. Setelah Telkom, lalu Indosat dan XL menyusul. Tahun depan, ia memperkirakan saham Indosat masih akan menguat. Sementara XL didukung oleh pertumbuhan pelanggannya yang cukup pesat.
Sementara itu, Felix lebih melihat potensi pada saham-saham pertambangan. Hal itu juga didorong oleh meningkatnya harga komoditi logam di pasar dunia. Saham Aneka Tambang (ANTM), misalnya, diperkirakan bakal menguat dari Rp 7.250 (1/12) ke Rp 8.100. Apalagi perseroan baru saja meningkatkan kapasitas produksi nikelnya di Pomalaa, Sulawesi.
Saham INCO juga diperkirakan bakal merangkak dari Rp 28.350 ke Rp 32.000 pada akhir tahun 2006. Dan jangan lupa terhadap saham PT Bukit Asam yang produknya bakal menjadi konsumsi pembangkit listrik. ”Program listrik 100 ribu MW otomatis akan menaikkan permintaan batu bara,” kata Felix.
TAHUN DEPAN BI RATE 9%
Yang juga pantas mendapat perhatian, kata Felix, adalah saham Medco (MEDC). Kendati mendapat tekanan jual gara-gara terlibat kasus Lapindo, secara fundamental perusahaan ini cukup kuat. Sehingga, sahamnya berpotensi menguat dari Rp 3.175 (1/12) ke Rp 3.700.
Selain pertambangan, tentu saja emiten yang terkena dampak langsung oleh menurunnya suku bunga tak boleh dilewatkan begitu saja. ”Turunnya inflasi dan BI Rate akan menjadi sentimen positif bagi saham perbankan,” tutur Felix. Pendapat ini diamini Robin Setiawan dari AM Capital. Menurut dia, dengan sentimen tersebut, saham Bank BCA (BBCA) berpotensi menguat dari Rp 5.400 ke Rp 5.800. Sedangkan saham BRI diperkirakan bakal naik Rp 450 ke Rp 5.800. Akan halnya saham Bank Mandiri, diduga masih mampu merangkak cepek ke Rp level 3.000. Singkat kata, di hari-hari ini, ”Yang patut diperhatikan adalah saham-saham yang terkena berkah langsung dari penurunan BI Rate, seperti perbankan, finance, otomotif, dan properti,” tutur Robin.
Rencana penurunan suku bunga ini juga menjadi pusat perhatian para pelaku di pasar uang. Menurut Fauzi Ichsan (ekonom dari Standard Chartered Bank), kendati BI Rate dikerek turun, untuk jangka enam bulan ke depan, rupiah masih berpotensi untuk menguat. Sebab, biasanya, setelah melakukan profit taking, hot money akan kembali mengalir masuk pada bulan Januari. ”Dalam jangka 6-7 bulan ke depan, saya kira rupiah bisa menguat ke Rp 8.800,” kata Fauzi Ichsan.
Tapi, semua itu dengan catatan: rupiah akan menguat bila likuiditas yang sudah murah tersebut diserap oleh investor. Kalau sektor riil tetap enggan mengambil kredit lantaran daya beli masih lemah, penurunan bunga akan menjadi bumerang yang membahayakan. Apalagi kalau sampai terjadi krisis regional. Ini, kata Fauzi, akan memicu terjadinya pemborongan dolar. Ah, mudah-mudahan saja kekhawatiran itu tidak menjadi kenyataan. ”Kemungkinannya memang kecil. Tapi, risiko tersebut tetap ada,” tutur sang ekonom.
Sebenarnya, dalam menilai daya serap sektor riil, para pelaku pasar uang juga cukup optimistis. Itu lantaran mereka melihat Bank Indonesia tidak akan menghentikan aksi penurunan BI Rate. Mereka menduga, tahun depan suku bunga akan kembali diturunkan hingga mencapai titik 9%.
Begitu pula untuk tingkat inflasi yang diprediksi akan terus menurun. Fauzi memperkirakan, kalau tidak terjadi hal-hal yang luar biasa (seperti kenaikan harga listrik dan BBM), inflasi tahun 2007 akan berada di level 5,5%. ”Jelas akan lebih rendah dari 2006, sebab dampak kenaikan BBM sudah hilang sama sekali,” katanya.
Ah, mudah-mudahan saja perkiraan-perkiraan itu menjadi kenyataan. o
Berikan Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|