|
|
 |
|
Im dan Yang di Bursa Saham
|
| Budi Kusumah, Hendra Gunawan, Syarif Hidayat, dan Windarto |
| |
GUNCANGAN itu akhirnya mereda juga. Perlahan tapi pasti, indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Jakarta kembali bangkit. Memang, belum mencapai angka seperti sebelum terjadi ”tragedi PGN”. Pada penutupan pasar di akhir pekan lalu, indeks ditutup pada level 1.795,56. Itu berarti, dalam waktu sepekan, telah terjadi penguatan sebesar 6,9% atau sekitar 117 poin. Lantas apa yang akan terjadi kemudian? Akankah IHSG meneruskan penguatan atau sebaliknya? Masih sulit dipastikan. Dan tidak seperti biasanya, kali ini para analis di pasar modal tampak sedikit ragu dalam mengemukakan pendapatnya.
Maklum, selain sentimen positif, ada beberapa faktor yang memungkinkan indeks akan kembali terkoreksi di pekan ini. Yang dimaksud dengan sentimen positif, tentu saja, masih seputar berlangsungnya January Effect. Artinya, di pekan-pekan ini, diperkirakan para fund manager masih akan melakukan koleksi sejumlah saham untuk mempercantik kinerja keranjang investasinya. Hal lain yang juga bisa mendorong indeks kembali naik adalah laporan keuangan 2006 yang akan diterbitkan oleh para emiten. ”Isinya pasti bagus-bagus. Terutama laporan keuangan dari sektor telekomunikasi, perbankan dan pertambangan,” kata Hendra Bujang dari Yulie Sekurindo.
Faktor lain yang akan mendorong indeks masuk ke jalur menguat adalah stabilitas nilai tukar rupiah yang masih tetap terjaga dengan baik. Dan yang terpenting, setelah terperosok sangat dalam oleh kasus PGN, ini merupakan saatnya pasar mengalami technical rebound. Ditambah lagi, ”Bursa regional juga menunjukkan kecenderungan yang positif,” kata Hendra.
Cuma saja, jangan dulu buru-buru gembira dan langsung main tubruk. Sebab, ya itu tadi, di samping isu positif ada beberapa sentimen negatif yang bisa memungkinkan terjadinya koreksi atas IHSG. Sebab, para analis melihat masih banyak saham-saham yang sudah kemahalan. Sehingga, kemungkinan terjadinya aksi profit taking oleh investor masih terbuka. Itu sebabnya Hendra menyarankan agar koleksi dilakukan dengan hati-hati. ”Kalau koreksinya tidak terlalu tajam, sebaiknya jangan ambil posisi dulu,” katanya.
Pentingnya meningkatkan kewaspadaan juga disarankan oleh Alif Sasetyo, analis dari Samuel Securities. Ia memperkirakan, pekan ini indeks akan bergerak mix dan bakal tertahan di level 1.800. ”Kelihatannya aksi ambil untung oleh investor asing masih akan berlanjut. Jadi, masih ada kemungkinan indeks akan melemah di pekan ini,” katanya. Seperti halnya Hendra, Alif juga melihat indeks baru akan menggeliat jika emiten sudah menerbitkan laporan keuangan tahun 2006.
Itu tidak berarti tak ada yang bisa dilakukan oleh investor. Seraya menunggu munculnya kabar baik, ada beberapa saham yang layak dipertimbangkan untuk dibeli. Menurut Hendra, selain saham-saham telekomunikasi, investor juga patut menaksir saham-saham perbankan, seperti BCA (BBCA), Mandiri (BMRI), dan BRI (BBRI). Sementara dari sektor per-tambangan, saham INCO, Aneka Tambang (ANTM), dan Timah (TINS) pantas dijadikan koleksi untuk jangka menengah-panjang. Khusus untuk saham INCO, Hendra melihat harganya masih sangat murah. Saham yang pekan lalu ditutup pada level Rp 32.800 ( 19/1) ini diperkirakan akan melaju menuju harga wajarnya di tataran Rp 40 ribu-Rp 50 ribu per saham.
Selain pertambangan dan perbankan, Hendra juga menunjuk saham perke-bunan sebagai yang pantas dibeli. Ini lantaran pasar minyak sawit mentah (CPO) dunia diyakini bakal semakin ramai. Dan tentu saja akan diiringi dengan naiknya harga komoditi tersebut. Dalam risetnya, Felix Sindhunata menunjukkan ada peningkatan kinerja pada emiten perkebunan. Astra Agro Lestari (AALI), misalnya. Tahun lalu perusahaan ini mampu memproduksi 918 ribu ton CPO atau naik 7,1%.
TERGANTUNG AKSI AMBIL UNTUNG
Di samping saham-saham tersebut di atas, mulai ramainya pembangunan infrastruktur dipastikan bakal mendongkrak kinerja perusahaan-perusahaan konstruksi. Sehingga, pada gilirannya, saham-saham yang berada di sektor ini juga akan terdorong untuk naik (lihat Memanen Untung di Jalur Konstruksi).
Melihat plus-minus yang ada di bursa saham, para pelaku di pasar uang berhati-hati dalam mengemukakan pendapatnya. Namun demikian, mereka tampak sedikit optimistis menilai posisi nilai tukar rupiah terhadap dolar. Misalnya saja soal sikap The Federal Reserved dalam pertemuan di pekan ini. Bank Sentral Amerika ini diperkirakan akan mempertahankan tingkat suku bunganya. ”Saya kira mereka (AS) tidak akan melakukan peningkatan bunga,” kata Alex Gunawan, Corporate Dealer Bank NISP.
Faktor positif lainnya adalah tingkat bunga di dalam negeri yang cenderung menurun, yang ditunjang oleh tingkat inflasi yang juga terus menukik. Sehingga, terbuka peluang bagi otoritas moneter untuk kembali mengerek turun BI Rate.
Sekali lagi, itu bukan berarti sentimen-sentimen positif tadi akan langsung membuat rupiah berotot dan mendekati level Rp 9.000 (seperti yang diramalkan para analis). Sebab, ada hal lain yang ikut menentukan kurs dolar di pekan-pekan ini. Salah satunya adalah meningkatnya kebutuhan akan valuta asing. Menurut Alex, setiap akhir bulan, biasanya banyak perusahaan membeli dolar untuk memenuhi kewajiban yang segera jatuh tempo.
Selain itu, seperti yang ditunggu-tunggu para pelaku di pasar modal, ujung-ujungnya perilaku investor asing juga bakal ikut membentuk nilai tukar rupiah. Kalau aksi profit taking kembali terjadi (apalagi jika sedahsyat yang baru lalu), maka dipastikan akan menekan kurs rupiah-dolar. Itulah hal yang akan membuat penguatan agak tersendat.,” kata Alex.
Jadi? Ya, sebaiknya kita berdoa, semoga hal-hal negatif seperti itu tidak terulang. Selamat berinvestasi. o
Berikan Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|