Jumat, 21 November 2008 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Meneropong Geliat Saham Bimantara

Febry Mahimza dan Hendra Gunawan
 
INDEKS harga saham gabungan di akhir pekan lalu kembali terkoreksi 0,83% dan menclok di level 1.759. Penurunan yang dipicu oleh aksi ambil untung (profit taking) terhadap sejumlah saham unggulan itu—seperti Telkom, Bank Mandiri, dan Bank BRI—diperkirakan masih akan berlangsung pada pekan ini. Maklum, sebagian besar dari saham-saham top tersebut telah memasuki area ”kemahalan”. Itu sebabnya perhatian investor pada pekan-pekan ini banyak yang beralih ke saham-saham kelas dua. Pasalnya, di jajaran second liner inilah potensi gain tampak bertaburan.
Salah satu contoh yang mencolok adalah gain yang dihasilkan saham PT Bimantara Citra Tbk. Saham berkode BMTR ini tengah menjadi pembicaraan hangat di kalangan pelaku bursa. Soalnya, sejak pergantian tahun kemarin, saham BMTR menunjukkan penguatan yang sangat signifikan. Simak saja, sehari setelah libur Tahun Baru, saham ini masih ditutup pada level Rp 3.525. Lantas, lihatlah penutupan pada pekan lalu. Harga saham BMTR langsung melonjak sebesar 34,75% dan menclok pada level Rp 4.750 per saham. Bahkan, jika merujuk transaksi perdagangan pada Agustus tahun lalu, kenaikan yang terjadi pada BMTR mencapai 335%! Soalnya, pada 1 Agustus silam, saham ini masih bertengger di kisaran Rp 1.090. Benar-benar ruaarrr biasa!
Lonjakan harga itu tak lepas dari mengilapnya kinerja keuangan perseroan. Lihat saja, hingga akhir kuartal III tahun lalu, Bimantara berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp 2,59 triliun atau meningkat sebesar 47% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Dari pendapatan tersebut, perseroan sukses meraup laba bersih sebesar Rp 302,7 miliar. Artinya, terjadi peningkatan laba sebesar 1.236% dibanding periode yang sama pada tahun 2005. Kala itu, perusahaan ini hanya mampu membukukan laba bersih sebesar Rp 22,7 miliar.

 Artikel Lain
Biar Banjir Tetap Tajir
Wabah yang Membawa Berkah
Bursa Nyaman, Rupiah Aman
Menunggu Kabar Baik
Meneropong Geliat Saham Bimantara
Im dan Yang di Bursa Saham
Masih Banyak yang Pantas Dibeli
Kelas Dua yang Menjanjikan
Bersyukurlah…
Menghitung Peruntungan Saham Fren
Menurut sejumlah analis, kinclong-nya kinerja keuangan BMTR tak lepas dari sejumlah corporate action serta sokongan dari jajaran anak perusahaannya. Seperti diketahui, jika tak ada aral melintang, pada semester pertama tahun ini Bimantara akan melakukan initial public offering (IPO) PT Media Nusantara Citra (MNC). Rencananya, BMTR akan melepas sekitar 20% sahamnya di anak perusahaan yang menjadi sub-holding sejumlah perusahaan yang bergerak di industri media massa.
Dari penjualan saham tersebut, Bimantara menargetkan bakal memperoleh dana segar US$ 300 juta. Duit sebanyak itu selanjutnya akan digunakan untuk mengembangkan lini bisnis MNC dengan memperbesar kepemilikan Bimantara di PT MNC Skyvision (Indovision) menjadi 51%.
Terjunnya MNC ke bursa saham dipastikan bakal menggairahkan pasar. Sebab, di antara sub-holding Bimantara lainnya, kinerja perusahaan ini tergolong kinclong. Itu lantaran perseroan ditopang oleh kontribusi besar yang diberikan RCTI dan TPI. Berdasarkan hasil riset AGB Nielsen Media Research, hingga kuartal III-2006, kelompok stasiun TV milik Bimantara (RCTI, TPI, dan Global TV) sukses meraup porsi terbesar (32,9%) dari total belanja iklan TV nasional, atau sebesar Rp 4,8 triliun. Hal itu lantaran program-program yang dibesut ketiga stasiun tersebut memiliki rating yang tergolong tinggi.

HANYA UNTUK YANG BIASA MAIN
Selain didukung oleh kinerja di sektor pertelevisian, kinclong-nya saham Bimantara juga didukung oleh kinerja PT Mobile-8 Telecom (Fren), anak perusahaan yang bergerak sebagai operator telekomunikasi. Setelah 3,9 miliar sahamnya dilepas ke bursa, pada November silam, perseroan ini sukses mendapat dana segar Rp 877,5 miliar. Duit sebanyak itu akan digunakan sebagai modal untuk berekspansi ke luar pulau Jawa. Soalnya, manajemen Mobile-8 menargetkan, hingga akhir tahun ini, total pelanggan Fren akan mencapai empat juta nomor.
Hingga akhir Desember kemarin, laba bersih Mobile-8 Telecom diperkirakan melonjak hingga Rp 50 miliar. Bahkan, di akhir tahun ini, Hidajat Tjandradjaja, Presiden Direktur PT Mobile-8 Telecom, hakulyakin pundi-pundi keuntungan itu bakal meningkat lagi hingga Rp 200 miliar. Kalau angka tersebut tercapai, itu artinya Mobile-8 akan mengalami kenaikan laba bersih hingga 400%. Untuk menggapai kinerja sebesar itu, manajemen Mobile-8 berencana menerbitkan obligasi senilai Rp 550 miliar pada tahun ini. Dengan ditambah dana segar dari IPO, menurut Sekretaris Perusahaan Mobile-8, Martinus Peter Tabalujan, perusahaannya telah mencanangkan belanja modal sebesar US$ 143,6 juta.
Selain ditopang oleh bersinarnya kondisi keuangan sejumlah anak perusahaan tadi, kinerja saham Bimantara sejatinya juga didukung oleh upaya perseroan mengakuisisi 51% saham PT MNC Skyvision. Dengan akuisisi ini, Bimantara akan menjadi pemilik mayoritas operator stasiun televisi berbayar dengan merek dagang Indovision itu. Seperti diketahui, Indovision saat ini merupakan market leader di industri TV berbayar. Operator ini dikabarkan telah menguasai sekitar 200 ribu pelanggan dengan menguasai 71% pangsa pasar, yang hingga akhir tahun lalu diperkirakan mencapai 350 ribu pelanggan.
Apalagi, potensi bisnis dari pasar televisi berbayar di Indonesia masih terbuka lebar. Saat ini, jumlah pelanggan TV berbayar di Indonesia baru mencapai sekitar 1,16% dari total 30 juta rumah tangga yang memiliki televisi. Angka itu termasuk tingkat yang terendah di Asia. Sebagai contoh, TV berbayar di Singapura, Hong Kong, dan Malaysia telah memiliki penetrasi pasar sebesar 30% dari total penduduknya. Bahkan di negara berkembang seperti India dan Cina, penetrasinya lebih tinggi lagi, yaitu masing-masing mencapai 55% dan 32%. Sementara di Indonesia, menurut Ade Armando, anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), jumlah pelanggan TV berbayar tahun ini akan tumbuh mencapai 1,5 juta orang.
Rencana IPO MNC yang sebagian dananya digunakan untuk memperbesar kepemilikan di Indovision, menurut Willy Sanjaya (analis saham dari Mahakarya Artha Securities), akan berdampak positif terhadap kinerja saham Bimantara yang selama ini cenderung adem ayem. Ia memproyeksikan, akuisisi tersebut akan membuat saham Bimantara menclok pada level Rp 6.000 per saham. ”Kalau melihat pergerakan sahamnya saat ini, angka sebesar itu kemungkinan besar akan tercapai,” tuturnya.
Nah, jika proyeksi itu benar-benar terwujud, maka saham BMTR masih akan mengalami kenaikan lagi sebesar 26,3%. Keyakinan Willy itu muncul lantaran PER Bimantara saat ini masih terhitung murah, yaitu 3,72. Tapi, Willy tidak merekomendasikan investor pemula mengoleksi saham ini. Sebab, selain tidak likuid, ”Pelaku pasar sudah tahu, saham BMTR memang rawan digoreng,” tuturnya. Namun, kalau berminat, Willy hanya memberi rekomendasi beli tapi dalam jumlah tak terlalu besar. ”Kecuali bagi investor yang memang sudah mengoleksi saham ini atau pelaku pasar yang sudah biasa bermain saham seperti ini,” paparnya.
Pembelian itu pun, kata Willy, sebaiknya dilakukan setelah rencana akuisisi Indovision benar-benar terwujud. Sebab, melihat beberapa kejadian di bursa belakangan ini—seperti tertundanya proyek kakap PT Perusahaan Gas Negara—bisa saja sejumlah rencana corporate action yang telah direncanakan malah tertunda atau gagal. ”Setelah akuisisi Indovision, saham ini bakal merangkak naik,” ujarnya. o


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id