Jumat, 10 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Menunggu Kabar Baik

Budi Kusumah, Pringgo Sanyoto, Hendra Gunawan, dan Windarto
 
SIKAP pesimistis, di hari-hari terakhir ini, masih tampak mengental di wajah para pelaku pasar modal. Mereka tetap belum yakin indeks harga saham gabungan akan kembali menggeliat dalam waktu dekat ini. Kendati, pekan lalu, koreksi yang terjadi terhadap indeks sudah cukup dalam. Seperti diketahui, IHSG minggu kemarin mengalami fluktuasi yang cukup tajam. Dan akhirnya, di pengujung pasar Jumat lalu (26/1), indeks ditutup pada level 1.759,20. Dibanding penutupan sepekan sebelumnya, itu berarti terjadi penurunan sebesar 36,36.
Cukup dalam, memang. Tapi beberapa analis memperkirakan, pelemahan yang terjadi ”masih belum memadai” alias masih perlu menukik lebih dalam lagi. ”Masih kurang. Harusnya minus 50 atau 100,” kata Samuel Sudeswanto Yeung, analis dari Sinarmas Sekuritas. Ia berkata demikian karena, dalam pandangannya, untuk jangka pendek-menengah tren masih akan berada di jalur menurun. Makanya, Samuel menyarankan, investor yang biasa bermain jangka pendek sebaiknya menahan diri dulu alias jangan buru-buru melakukan koleksi. ”Soalnya, ada kecenderungan indeks masih akan terkoreksi. Jadi, tunggu perkembangan selanjutnya,” tuturnya.
Menunggu? Sampai kapan? Seperti halnya analis lain, Samuel memperkirakan, penguatan indeks baru akan terjadi pada bulan Maret hingga April. Memang, selama rentang waktu tersebut akan terjadi beberapa kali rebound. Tapi, kata dia, sifatnya hanya ”kecil-kecilan”. Sehingga, jika diakumulasi, indeks tetap akan menunjukkan penurunan.

 Artikel Lain
Optimisme dari Sentul
Biar Banjir Tetap Tajir
Wabah yang Membawa Berkah
Bursa Nyaman, Rupiah Aman
Menunggu Kabar Baik
Meneropong Geliat Saham Bimantara
Im dan Yang di Bursa Saham
Masih Banyak yang Pantas Dibeli
Kelas Dua yang Menjanjikan
Bersyukurlah…
Deni Hamzah, analis dari PT Corfina Capital, juga punya pendapat serupa. Menurut dia, jika pekan ini aksi profit taking masih berlangsung, maka akan menggusur IHSG kembali ke tataran 1.700. Itu sebabnya, ia menyarankan, kalau kecenderungan itu yang terjadi, sebaiknya investor segera merealisasikan keuntungan yang sudah di tangan atau mengurangi portofolionya.
Sekadar mengingatkan, gonjang-ganjing aksi jual ini dimulai ketika banyak investor—terutama asing—yang membuang saham Perusahaan Gas Negara (PGAS). Aksi inilah yang kemudian merembet ke saham-saham unggulan lainnya. Namun sebenarnya, tanpa kasus PGAS pun koreksi tajam seperti yang terjadi sekarang dipastikan akan tetap terjadi. Soalnya, indeks harga saham gabungan sebelumnya sudah mengalami kenaikan yang mencengangkan. Dan kenaikan itu tanpa didasari oleh kekuatan fundamental yang dimiliki oleh emiten.
Itulah, kata Arwani Pranadjaya, yang membuat banyak saham unggulan masuk dalam posisi jenuh. Kalau dicermati, ujar analis dari Mandiri Sekuritas ini, sejak awal tahun yang mengalami kenaikan itu tinggal saham-saham lapis kedua, khususnya saham properti dan perbankan. Kondisi itulah yang mendorong terjadinya koreksi tajam. ”Saya perkirakan, koreksi akan berlangsung hingga Maret. Sepanjang rentang waktu tersebut tetap bakal terjadi kenaikan, tapi sifatnya minor,” kata Arwani.
Keadaan inilah yang membuat para pelaku pasar—yang terbiasa bermain jangka pendek—menjadi gagap. Sebab, koreksi yang bisa terjadi sewaktu-waktu mendorong mereka untuk melangkah dengan ekstrahati-hati. Para investor itu harus tahu persis, kapan waktu yang tepat untuk mengambil dan membuang barang.

MASIH PENUH SPEKULASI
Contohnya dalam menghadapi saham Telkom (TLKM). Menurut Arwani, bagi investor jangka panjang, mengoleksi TLKM di harga yang tercipta saat ini (26/1) tidaklah masalah. Sebab, setelah mengalami pelemahan sepanjang pekan kemarin (dari Rp 10.150 ke Rp 9.550 per saham), harga TLKM dipastikan tinggal menguat. Tapi bagi investor jangka pendek, harga tersebut masih belum ”aman” untuk dikonsumsi. ”Kalau mau main mingguan, kita harus tunggu harga hingga di level Rp 9.250,” katanya.
Saham lain yang juga layak menjadi tumpuan harapan untuk memperoleh gain adalah saham terbitan Bank Mandiri (BMRI). Dengan harga yang terbentuk kemarin (Rp 2.650 pada 26/1), BMRI pantas diambil karena pertengahan tahun ini diperkirakan harganya akan mencapai Rp 3.450.
Selain itu, saham Kawasan Industri Jababeka (KIJA) pun patut dicermati. Akhir pekan lalu, saham ini ditutup pada harga Rp 174. Ini berarti, sejak awal Januari baru mengalami kenaikan sebesar 13,7%. Arwani memprediksi harganya masih akan merangkak naik sehingga di akhir tahun ada kemungkinan menclok di level Rp 230 atau naik sekitar 32%.
Kalau mau main jangka panjang, saham PT Pembangunan Jaya Ancol juga tak boleh dilewatkan begitu saja. Saham berkode PJAA ini masih berpotensi menguat ke Rp 1.280 pada akhir tahun nanti, atau bakal naik sekitar 25%. ”Pokoknya, dalam kondisi seperti sekarang, saya sarankan agar pelaku pasar lebih mencermati saham-saham di lapis kedua,” kata Arwani.
Saran yang sama juga diberikan oleh Edwin Sinaga. Menurut Kepala Riset dari Kuo Kapital Raharja ini, dengan bermain saham-saham di lapis kedua, para pelaku pasar bisa mengurangi risiko yang mengancam di saham-saham unggulan. Kendati demikian, ia melihat unsur spekulasinya tetap besar. ”Itu karena belum ada indikator yang jelas, sehingga kita tidak bisa menebak apa yang akan terjadi besok,” katanya.
Lantas indikator apa yang kini tengah dinanti para pelaku pasar? Yang pertama, tentu saja, terbitnya laporan keuangan para emiten untuk tahun buku 2006. Jika isinya positif, dipastikan akan mendorong transaksi saham menjadi lebih ramai. Selain itu adalah sikap otoritas moneter dalam menentukan bunga acuan alias BI Rate, yang biasanya baru akan dilakukan setelah tingkat inflasi diumumkan.
Jika indikator yang ditunggu mendatangkan sentimen positif, pada gilirannya, saham-saham unggulan pun akan kembali menggeliat. Saham Telkom, misalnya, setelah terus-menerus tertekan, insya Allah, akan segera pulih.” Apalagi jika sentimen negatif berupa rumor penggantian direksi sudah ternetralisir,” kata Al Fatih dari BNI Securities.
Di luar faktor-faktor tersebut di atas, yang juga bakal ikut menentukan pasang surutnya perdagangan di bursa saham adalah nilai tukar rupiah. Setelah sempat sedikit melemah ke level Rp 9.115 per dolar AS, nilai tukar diyakini tidak akan lari ke mana-mana. ”Saya kira kurs akan kembali ke bawah Rp 9.100,” kata Pardi Kendy, Direktur dari Bank Buana. Terlebih lagi, kini kebutuhan korporasi terhadap valuta asing sudah mulai berkurang. Jadi, amanlah. o


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id