Rabu, 7 Januari 2009 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Bursa Nyaman, Rupiah Aman

Budi Kusumah, Pringgo Sanyoto, Syarif Hidayat, dan Windarto
 
BUMI boleh berguncang, banjir pun silakan melanda. Tapi, selama musibah-musibah yang mengerikan itu tidak mengganggu fasilitas perdagangan di Bursa efek Jakarta, maka transaksi pun akan terus berlangsung lancar. Lihat saja yang terjadi pada Jumat (2/1) pekan lalu. Kendati Jakarta dan sekitarnya dikepung banjir, jual-beli saham di BEJ tetap berlangsung normal. Di hari itu ada 2,2 miliar saham yang berpindah tangan dengan nilai total transaksi tetap di atas Rp 2 triliun. Sehingga, indeks harga saham gabungan pun mencatatkan kenaikan 9 poin lebih dan menclok di level 1.780,38.
Sebuah kenaikan yang boleh dibilang lumayan. Sebab, sepekan sebelumnya, banyak para pelaku pasar yang pesimistis terhadap kinerja indeks saham kita. Sebagian melihat, indeks masih akan terkoreksi dan terus meluncur mendekati angka 1.700. Bahkan, kata beberapa analis yang dihubungi TRUST ketika itu, IHSG baru akan menggeliat pada awal Maret nanti.
Syukurlah, perkiraan itu meleset. Terbukti, jika dibandingkan dengan angka sepekan sebelumnya, IHSG bukannya menurun tapi malah menaik sebesar 21 poin. Lantas apa yang akan terjadi di pekan ini? Jawaban yang diberikan para analis tetap masih belum terdengar 100% optimistis. ”Pasar sedang kehabisan berita baik, sehingga kita hanya melihat isu regional. Kalau ekonomi Amerika membaik, bursa akan ikut naik,” kata Felix Sindhunata, Head of Equity Research Division Mega Capital Indonesia.

 Artikel Lain
Ketika Sinyal Terlihat Samar
Optimisme dari Sentul
Biar Banjir Tetap Tajir
Wabah yang Membawa Berkah
Bursa Nyaman, Rupiah Aman
Menunggu Kabar Baik
Meneropong Geliat Saham Bimantara
Im dan Yang di Bursa Saham
Masih Banyak yang Pantas Dibeli
Kelas Dua yang Menjanjikan
Jika ditelaah, sebenarnya ”berita baik” yang dimaksud oleh Felix tidak habis-habis amat. Ia pun menyadari hal itu. Cuma soal waktu, kata seorang analis lainnya. Berita yang kini tengah dinanti para pelaku pasar itu salah satunya adalah terbitnya laporan keuangan tahun 2006. Selain itu, di pekan ini (kalau jadi, tanggal 6 Februari), Bank Indonesia juga akan menetapkan sikapnya dalam mematok suku bunga acuan alias BI Rate. Banyak yang yakin, setelah The Fed mengerem tingkat bunganya di level 5,25%, otoritas moneter akan mengerek turun BI Rate sebesar 25 basis poin.
Dalam situasi menunggu seperti ini, Felix menyarankan agar investor melakukan konsolidasi. Para pemain jangka pendek dianjurkan untuk membeli dengan lebih selektif. Sedangkan investor jangka panjang disarankan tidak buru-buru melepas sahamnya. Menurut dia, sebaiknya pemodal tetap berkonsentrasi pada saham-saham kelas satu. Dengan pertimbangan, ”Kita melihat asumsi 2007 lebih baik dari tahun kemarin. Dan perbaikan ekonomi itu akan terefleksikan pada saham-saham yang berfundamental solid,” katanya.
Di sektor perbankan, misalnya. Turunnya suku bunga diyakini bakal menggenjot harga saham Bank Mandiri (BMRI), BCA, dan Danamon (BDMN). Sementara di lapis keduanya, ada kemungkinan saham Bank Niaga juga bakal terdongkrak naik. Sedangkan di sektor pertambangan, Felix melihat Inco dan Antam (ANTM) masih memiliki potensi menguat lantaran naiknya harga produk mereka di pasar internasional.
Yang tak kalah menarik, ada beberapa analis lain yang menyarankan untuk melirik saham Energi Mega Persada (ENRG) dan Bumi Resources (BUMI). Alasannya, gara-gara kasus lumpur Lapindo, dua saham dari kelompok usaha Bakrie Group ini sudah jatuh terlalu dalam. Saham BUMI yang kemarin ditutup di harga Rp 1.090 (2/2) misalnya, diperkirakan akan menggeliat menuju Rp 1.400. Begitu pun ENRG, yang Jumat lalu dijual di harga Rp 670, berpotensi menguat ke harga semula antara Rp 800-Rp 900 per saham.

AKHIR KUARTAL I BISA RP 8.900
Ramalan yang nyaris serupa juga dikemukakan Edwin Sinaga, analis yang memperkirakan indeks harga saham gabungan di pekan ini akan bergerak di rentang 1.750-1.803. Cuma, ia mewanti-wanti agar investor tetap memelototi saham PT Telkom (TLKM). Soalnya, ”Isu tentang pertempuran di kalangan direksi dan komisaris Telkom, sampai saat ini belum mencapai titik terang. Dan ini cukup memengaruhi pergerakan di bursa saham,” katanya.
Sebagai perusahaan raksasa yang berfundamental kuat, Edwin tetap merekomendasikan saham ini untuk dikoleksi. Ia yakin, kendati ada masalah di tubuh manajemen dan laporan keuangannya kerap terbit terlambat, saham ini tetap akan berada di jalur penguatan.
Selain TLKM, ada beberapa saham lain yang pantas dibeli karena harganya masih tergolong murah. Salah satunya saham Indofood. Kemudian, saham Ciputra Development juga pantas dipertimbangkan untuk dikoleksi. Sedangkan dari sektor perbankan, Edwin melihat saham Bank Mandiri berpotensi memberikan gain yang menawan. Soalnya, selain turunnya suku bunga, bank terbesar ini juga tengah menyiapkan kredit pembiayaan untuk pembangkit listrik berkapasitas 10.000 MW senilai Rp 3 triliun. Itu sebabnya, ia berani memprediksi harga BMRI yang pekan lalu bertengger di Rp 2.600, tak lama lagi akan merayap ke level Rp 3.000.
Di samping nama-nama yang telah disebutkan di atas, sebenarnya, ada beberapa saham lainnya yang juga berpotensi menggeliat. Kendati, kenaikannya diperkirakan tidak terlalu tinggi. Itu sebabnya, Ahmadi Triyono dari Henan Putihrai Sekuritas menyarankan untuk mengoleksi saham-saham tersebut ketika harganya sudah sedikit menurun. Misalnya saham UNTR yang diduga bakal naik dari Rp 6.850 (2/2) ke Rp 7.350. Saham PT Timah juga masih berpotensi menguat ke Rp 7.950. Sedangkan Ramayana (RALS) diduga bakal merangkak ke level Rp 1.000 dan Astra Agro Lestari (AALI) kemungkinan beranjak ke level Rp 14.000.
Jadi jelas, sebenarnya masih banyak pilihan investor yang tersedia di bursa saham. Dan memang, kondisi inilah—salah satunya—yang membuat para pelaku di pasar uang begitu optimistis dalam memprediksi nilai tukar rupiah. Fauzy Ichsan, ekonom dari Standard Chartered Bank, memperkirakan nilai tukar rupiah-dolar akan tetap dalam posisi menguat di rentang Rp 9.050-Rp 9.100. Dugaan itu muncul setelah melihat kondisi perekonomian Amerika yang sedang memburuk. Sementara dari dalam negeri, menggeliatnya bursa saham (yang didorong penguatan bursa regional) juga akan membuat kurs rupiah semakin kokoh.
Perkara inflasi Januari yang mencapai 1,04% tak terlalu berpengaruh. Sebab, kata Fauzy, tingkat tersebut masih berada dalam kendali. Alex Gunawan pun berpandangan sama. ”Bergairahnya bond market akan membuat aliran dana yang masuk semakin besar,” kata Corporate Dealer Bank NISP itu.
Alex juga optimistis kurs akan menguat pada rentang seperti yang diungkapkan rekannya. Bahkan, kalau tak ada kejadian besar, ada kemungkinan di pengujung kuartal I ini setiap dolar AS akan dihargai Rp 8.800-Rp 8.900. o


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id