Jumat, 10 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Wabah yang Membawa Berkah

Kun Wahyu Winasis, Hendra Gunawan, Syarif Hidayat, Windarto, dan Pringgo Sanyoto
 
NASIB negeri ini, belakangan, memang sangat memprihatinkan. Betapa tidak? Berbagai musibah datang silih berganti. Mulai dari aneka bencana alam, kecelakaan yang terjadi di darat, laut, dan udara, hingga munculnya berbagai wabah nan mematikan.
Seperti biasa, di balik musibah selalu ada berkah. Misalnya dalam hal wabah penyakit. Bagi penderitanya, ini jelas merupakan musibah. Tapi tidak demikian bagi industri farmasi. Buat mereka penyakit adalah peluang bisnis yang bisa mendatangkan banyak keuntungan. Contohnya bisa disimak dari pengalaman Indofarma. Akibat maraknya wabah flu burung, penjualan BUMN ini naik tajam. Semula, untuk tahun 2006 manajemen hanya memasang target penjualan sebesar Rp 851,7 miliar. Tapi kenyataannya, perseroan diperkirakan bisa meraih omzet hingga Rp 1,03 triliun.
Lantas bagaimana dengan peruntungan pabrik obat lainnya? Seperti apa pula kinerja sahamnya yang beredar di bursa? Berikut hasil penelusuran TRUST dari berbagai sumber.

 Artikel Lain
Beken Akibat Banjir
Ketika Sinyal Terlihat Samar
Optimisme dari Sentul
Biar Banjir Tetap Tajir
Wabah yang Membawa Berkah
Bursa Nyaman, Rupiah Aman
Menunggu Kabar Baik
Meneropong Geliat Saham Bimantara
Im dan Yang di Bursa Saham
Masih Banyak yang Pantas Dibeli

PT TEMPO SCAN PASIFIC TBK. (TSPC)
Sepanjang 2006, kinerja perusahaan ini boleh dibilang cukup lumayan. Di tengah menurunnya daya beli dan tingginya inflasi, sampai September kemarin penjualannya tumbuh 10% dibanding periode yang sama tahun 2005. Prestasi itu melampaui pertumbuhan penjualan Kalbe Farma yang hanya sekitar 1% pada periode tersebut. Sayangnya, akibat penurunan margin divisi distribusi, laba operasional selama sembilan bulan itu melorot.
Bagaimana dengan tahun ini? Andrey Wijaya, analis Kim Eng Securities, memperkirakan kinerja perseroan tahun ini akan lebih baik. Positifnya kondisi ekonomi makro—yang ditandai dengan semakin pulihnya daya beli—akan mendorong penjualan produk obat-obatan meningkat.
Sejumlah corporate action yang dilakukan akhir tahun lalu juga dinilai akan memberi imbal positif bagi perseroan. Salah satunya adalah pembelian lisensi produk Clorox dan Wybert. Dengan pembelian itu, Tempo akan memproduksi dan mendistribusikan produk-produk dengan merek dagang SOS.
Selama ini, Clorox tercatat sebagai salah satu dari empat produk pembersih rumah tangga terbesar di Indonesia. Jadi, akuisisi itu diperkirakan bakal meningkatkan pundi-pundi perseroan. Tahun ini, Tempo juga berniat meluncurkan produk minuman isotonik dengan merek Viton.
Andrey memperkirakan, saham TSPC—begitu labelnya di bursa—masih bisa naik ke Rp 1.050 dalam 12 bulan. Sementara di pasar, saham ini dihargai Rp 960 per saham (1/2). Artinya, masih ada potensi kenaikan sebesar 9,3%. Kecil memang. Tapi, Felix Sindhunata, Kepala Riset Ekuitas Mega Capital Indonesia, menilai penguatan yang lebih tinggi pada TSPC masih cukup terbuka.

INDOFARMA TBK. (INAF)
Melesatnya penjualan perseroan di kuartal IV-2006 langsung mendapat respons dari pasar. Terbukti, hanya dalam waktu sebulan, harga saham INAF langsung meroket 76%. Jika di awal tahun saham ini masih dihargai Rp 93 (2/1), pada 10 Januari lalu naik menjadi Rp 164 per saham. Belakangan saham ini kembali terkoreksi dan pekan lalu ditransaksikan di kisaran Rp 136-Rp 138 per saham.
Lantas, masihkah ada peluang bagi INAF untuk kembali menggeliat? Felix Sindhunata memperkirakan, saham ini sebenarnya layak dihargai Rp 163 per saham. Perbaikan fundamental dinilai menjadi faktor kunci yang bakal melambungkan pamor INAF di bursa. Apalagi banyaknya wabah penyakit, diyakini bakal menguntungkan INAF. Maklum, sebagai BUMN, perseroan biasanya mendapat proyek lumayan besar dari pemerintah. ”Untuk jangka panjang saham ini pantas dikoleksi,” saran Felix.
Syamsul Arifin, Dirut Indofarma, mengatakan tahun ini penjualan perseroan ditargetkan sebesar Rp 900,2 miliar. Angka tersebut memang lebih kecil ketimbang realisasi 2006. Tapi, Syamsul beralasan, penjualan tahun lalu lebih banyak didongkrak oleh proyek pemerintah. Padahal, proyek seperti itu belum tentu bisa dinikmati tahun ini.
Selain masih mengandalkan obat generik, di Tahun Babi Api ini INAF berharap bisa mendapat banyak pemasukan dari anak perusahaannya, PT Indofarma Global Medika (IGM). Selama ini IGM memang masih menderita rugi. Namun, dengan adanya restrukturisasi, anak usaha INAF ini diharapkan sudah bisa memberikan kontribusi positif di 2007. ”Dulu IGM digolongkan sebagai distributor. Namun sekarang peranannya berubah menjadi pemasaran,” katanya.

KALBE FARMA TBK. (KLBF)
Di antara emiten farmasi, Kalbe Farma bisa dibilang merupakan yang terbaik. Sampai September lalu, penjualannya mencapai Rp 4,4 triliun. Laba bersih yang dihasilkan perseroan amat fantastis, sekitar Rp 540 miliar atau naik 5,71% ketimbang periode yang sama tahun 2005 sebesar Rp 511 miliar.
Strategi yang dikembangkan manajemen Kalbe juga lumayan jitu. Contohnya adalah keputusan untuk melakukan co-branding produk Extra Joss dengan Coca Cola. Itu sebabnya, banyak analis di bursa meyakini saham emiten ini masih berpeluang untuk terus melaju. Felix memperkirakan, saham berkode KLBF ini bisa bertengger di level Rp 1.600. Artinya, masih ada peluang penguatan hingga 21% ketimbang harga pekan lalu yang berada di kisaran Rp 1.320 per saham (1/2).
Analis lain menuturkan, langkah manajemen yang berniat melakukan pembelian kembali (buy back) terhadap sahamnya di bursa juga bisa berimbas positif. Soalnya, pembelian kembali tadi secara otomatis bakal mengurangi jumlah saham yang ada di pasar. Padahal, dengan fundamental yang diperkirakan terus membaik, permintaan terhadap saham ini bakal membesar.
Seperti diketahui, pekan ini (8/2) perseroan akan menggelar RUPSLB. Salah satu agendanya adalah meminta persetujuan pemegang saham mengenai rencana buy back sekitar 10% saham perseroan. Jumlah yang akan dibeli itu setara dengan 1.015.601.442 saham. Total saham Kalbe di bursa sendiri mencapai 10,15 miliar lebih. Rifki Isnaini Hassan, analis dari PT Paramitra Alfa Sekuritas, memperkirakan saham ini masih bisa naik ke level Rp 1.400 dalam waktu enam bulan ke depan.

KIMIA FARMA TBK. (KAEF)
Sebagai salah satu operator pemerintah dalam penyediaan obat generik, Kimia Farma memang dalam posisi sulit. Bagaimana tidak? Di saat daya beli menurun dan beban usaha melonjak, harga obat murah tadi justru diturunkan oleh pemerintah. Akibatnya, kendati perseroan menggenjot produksinya hingga naik 10%-15%, namun hasil yang diperoleh tidak optimal.
Betul, total penjualannya meningkat dari Rp 1,8 triliun (2005) menjadi sekitar Rp 2 triliun. Namun di akhir 2006, laba bersih BUMN farmasi ini justru melorot sekitar 3% menjadi Rp 50,18 miliar. Felix mengatakan, perbaikan ekonomi—terutama membaiknya daya beli dan konsumsi masyarakat—merupakan momentum penguatan saham farmasi.
Apalagi, lanjut Felix, jika dicermati, nilai tukar rupiah makin stabil. Bahkan sejak Juli 2006, rupiah selalu dijaga di rentang Rp 9.000-Rp 9.200 per US$. ”Stabilnya rupiah berdampak positif bagi emiten ini. Maklum, 80% bahan baku farmasi masih impor,” katanya.
Dalam perhitungan Felix, saham ini masih bisa naik hingga kisaran Rp 178 per saham. Menilik harga pasarnya sekarang yang sebesar Rp 164 (1/2), peluang terjadinya kenaikan masih terbuka. ”Saham KAEF masih berpeluang ke Rp 180. Jadi, investor bisa mengoleksinya sebagai investasi jangka panjang,” tutur Rifki Isnaini. o


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id