|
|
 |
|
Biar Banjir Tetap Tajir
|
| Febry Mahimza, Windarto, Hendra Gunawan, Pringgo Sanyoto, dan Syarif Hidayat |
| |
MASIH segar dalam ingatan kita, betapa optimistisnya para pelaku industri otomotif dalam menyambut hadirnya tahun 2007. Kala itu, Bambang Trisulo, Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), hakulyakin pen-jualan mobil sepanjang tahun ini akan mencapai 370 ribu unit atau tumbuh sebesar 15% dibanding tahun lalu.
Lalu, apa yang terjadi? Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Bencana banjir telah menghancurkan optimisme tersebut. Akibatnya, proyeksi penjualan yang telah dicanangkan pun—kelihatannya—terpaksa harus dikoreksi.
Bagaimana tidak? Sejumlah perusahaan milik Astra International, misalnya Toyota, berhenti beroperasi gara-gara air bah itu. Sepanjang pekan lalu, Toyota dikabarkan gagal mem-produksi 3.190 unit mobil. Jumlah itu bahkan bisa membengkak lagi lantaran produsen mobil Jepang ini baru akan mengo-perasikan pabriknya pada Senin pekan ini (12-2-2007).
Menurut Irwan Priyantoko, Chief Corporate Planning PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), beberapa model yang gagal diproduksi antara lain: Kijang Innova sebanyak 590 unit, Fortuner 240 unit, Dyna 140 unit, Avanza 2.000 unit, dan Rush 280 unit. Jika dipukul rata, harga per mobil Rp 200 juta saja, maka potensi kerugian yang ditanggung Toyota bisa mencapai Rp 650 miliar. Cukup besar memang. Untunglah, mobil-mobil yang sudah diproduksi, menurut Joko Trisanyoto, Direktur Marketing PT Toyota Astra Motor (TAM), dalam kondisi aman.
Yang lebih melegakan, banjir tidak sampai merusak fasilitas produksi ataupun aset pabrik lainnya. Perihal besarnya potensi kerugian yang membayang di depan mata pun disanggahnya. ”Yang terjadi hanya penundaan produksi. Nanti akan dikejar pada sisa bulan ini dengan menambah jam kerja dan lembur pada Sabtu-Minggu,” ujar Joko. Berhentinya produksi sepanjang pekan lalu, menurutnya, lebih disebabkan terhentinya pasokan dari produsen komponen yang selama ini menjadi mitra pemasok Toyota. ”Jika ada satu komponen yang tidak disuplai, maka proses produksi tidak bisa dilanjutkan,” ucapnya.
”Keberuntungan” serupa juga dialami PT Astra Daihatsu Motor. Kendati produksinya dihentikan sejak Jumat dua pekan lalu, fasilitas produksinya selamat dari terjangan banjir. Sama dengan Toyota, Daihatsu juga menghentikan pembuatan mobil lantaran ada 15 pemasok komponennya tidak mengirim barang. Pabrik yang satu ini pun berencana akan mulai berproduksi kembali Senin pekan ini. ”Banjir memang telah surut, tapi masih ada pabrik beberapa supplier yang aliran listriknya mati,” kata Sudirman Maman Rusdi, Vice President Director PT Astra Daihatsu Motor.
Potensial loss yang dialami Daihatsu sejatinya lumayan gede. Pasalnya, pabrik Daihatsu di Sunter, Jakarta Utara, rata-rata mampu memproduksi 600 unit per hari. Tapi senada dengan Joko, Sudirman pun mengaku perusahaannya tak mengalami rugi besar akibat banjir. ”Yang lebih dirugikan itu konsumen. Sebab, pengiriman yang sudah dijadwal terpaksa ditunda,” katanya.
SAHAMNYA TETAP MENAWAN
Selain Toyota dan Daihatsu, banjir juga mengepung pabrik milik Astra lainnya. Seperti PT Astra Nissan Diesel Indonesia dan PT Pantja Motor (perakitan Isuzu). Untunglah semua fasilitas di pabrik itu juga tak ada yang terganggu. Namun, banjir—yang menerpa sekitar 70% kawasan Ibu Kota dan sekitarnya itu—tak pelak membuat manajemen TAM harus mengoreksi rencana penjualannya. ”Total penjualan Toyota pada bulan ini akan lebih rendah dari target sebesar 12 ribu unit. Soalnya, pengiriman mobil ke dealer juga turut terganggu,” kata Joko. Maklum, sekitar 40% penjualan Toyota berada di wilayah Jabotedabek.
Lantaran kondisi yang sama dialami oleh pabrikan otomotif lainnya, Bambang Trisulo memprediksi, total penjualan mobil nasional pada bulan ini akan turun 20% hingga 25%. Anjloknya penjualan itu juga dipicu oleh menurunnya daya beli konsumen akibat terkena banjir. ”Jabodetabek dan Jawa Barat menyumbang penjualan mobil sampai 50%. Sehingga, banjir akan memengaruhi penjualan mobil nasional,” kata Bambang.
Untunglah, potensi kerugian ratusan miliar rupiah yang menerpa sejumlah pabrik itu belum mampu menggoyang saham ASII (kode saham Astra) di lantai bursa. Saat banjir mulai menggenangi sejumlah wilayah di Ibu Kota pada Jumat (1/2) kemarin, saham Astra masih kokoh di posisi Rp 14.550. Pada perdagangan sepanjang pekan lalu, saham ini memang sempat terkoreksi 100 poin menjadi Rp 14.450 pada Selasa (6/2). Namun, penurunan itu hanya berlangsung sehari. Soalnya, saham ini mengalami rebound hingga mencapai level Rp 15.150 saat ditutup pada Jumat (9/2).
Menurut Teuku Hendry Andrean, Kepala Riset PT Finan Corpindo Nusa, bencana banjir yang terjadi di Jabodetabek tidak memengaruhi kinerja saham PT Astra International Tbk. ”Pengaruhnya terhadap saham Astra tidak terlalu signifikan. Meskipun ada kerugian, manajemen Astra sudah menyatakan kerugian itu akan ditanggung asuransi” ujar Hendry. Bahkan, Hendry tetap yakin, penguatan ASII yang terjadi pada Jumat kemarin akan terus berlangsung hingga sepanjang pekan ini. ”Prediksi saya, ASII akan berada di level Rp 15.400,” ujarnya.
Apalagi, kalau melihat faktor fundamental yang cukup kuat, Hendry hakulyakin, ASII berpotensi menguat hingga level Rp 16.000. Soalnya, valuasi wajar ASII masih lebih murah dibanding saham sejenis seperti PT Indomobil Sukses International Tbk. (IMAS). Price to earning ratio (PER) ASII masih 14,97 kali, dengan price to book value-nya (PBV) sebesar 2 kali. Bandingkan dengan IMAS yang PER-nya sebesar minus 63 kali dan dengan PBV sebesar 4 kali. Itu sebabnya, ia menyarankan kepada investor pemegang saham ASII untuk tetap menyimpan sahamnya sampai laporan keuangan perseroan terbit.
Hal senada juga diungkap Bimo Haryo Pamungkas, analis dari Samuel Sekuritas. ”Suku bunga yang sudah turun dan meningkatnya daya beli masih mampu menopang penjualan Astra pada tahun ini,” ujarnya. Dari proyeksi penjualan mobil nasional, grup ini diperkirakan masih akan menguasai 53% pangsa. Penam-bahan jumlah negara tujuan ekspor ke Afrika dan Meksiko juga akan membuat omzet ekspor ASII pada tahun ini mencapai US$ 952 juta. ”Saya rekomendasikan untuk membeli saham ini karena masih berpotensi menguat hingga Rp 17.300,” tutur Bimo.
Kondisi itu berbanding terbalik dengan saham PT Indomobil Sukses Makmur Tbk. Meski pabrik Suzuki di Tambun, Bekasi, terhindar dari banjir, rupanya tak membuat kinerja sahamnya jadi atraktif. Sejak awal Januari kemarin, nyaris tak ada investor yang ”memainkan” saham berkode IMAS ini. Bahkan, sejak awal bulan ini, tak ada satu pun pialang yang memasang posisi jual ataupun beli pada saham IMAS. Betul, saham ini sempat aktif pada minggu terakhir Januari. Lantaran volume transaksinya sangat terbatas, maka harganya nyaris tak berfluktuasi. Saat ditutup pada Jumat pekan lalu, IMAS masih anteng di level Rp 740 per saham. Itu sebabnya, sejumlah analis yang dihubungi tak ada yang mau berkomentar terhadap saham yang satu ini. o
Berikan Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|