|
|
 |
|
Optimisme dari Sentul
|
| Hardy R. Hermawan dan Teddy Unggik |
| |
ULFA Dahlia (18 tahun) dan Rangga Eriansyah (20) boleh berbangga hati. Dua remaja itu lebih beruntung ketimbang rekan-rekan seusianya yang lain. Ulfa dan Rangga sekarang sudah bekerja. Gajinya juga lumayan: Rp 2 juta per bulan. Kini, mereka siap menatap hari esok sebagai profesional di industri garmen.
Bagi Ulfa—yang mengusung tema ”Flirting Lady” untuk tugas akhirnya di International Garment Training Centre—kebanggaan itu bahkan lebih lengkap. Si ”Penggoda” ini berbunga-bunga saat mengatakan, ”setelah sebulan bekerja, Februari ini saya akan dikirim perusahaan untuk training ke Hong Kong selama dua minggu.”
Medio Januari silam, Ulfa dan Rangga, serta 155 temannya yang lain, diwisuda sebagai merchandiser garmen lulusan International Garment Training Centre—yang dikelola Yayasan German Garment Training Centre (GGTC), di Sentul, Bogor, Jawa Barat. Wisuda itu berlangsung meriah. Tempik sorak berkumandang dan jepretan blitz kamera tak hentinya berkilat di pinggir catwalk di ruang aula. Para model pun berlenggak-lenggok memeragakan busana yang dibuat para wisudawan program Pattern, Marking, and Finishing (PMF).
Johan Hoepflinger, Direktur Yayasan GGTC—satu-satunya pusat pelatihan garmen bertaraf internasional di Indonesia—menegaskan bahwa sejak beberapa hari sebelum wisuda, seluruh siswanya sudah terserap di pelbagai industri garmen di seputar Jabotabek. Ulfa sekarang sudah bekerja di PT Lifung Indonesia, sebuah perusahaan trader terkemuka asal Hong Kong. Rangga merintis karir di PT Busana Apparel, perusahaan yang sempat dikuasai Grup Texmaco.
Dari kampus GGTC di kawasan Sentul, di tepian tol Jagorawi yang asri dan rimbun itu, secercah harapan memang terasa mencuat. Harapan tentang masa depan yang bisa diraih para remaja lulusan SLTA. Ya, kebanyakan siswa pusat pelatihan itu memang hanya lulusan SLTA. Sebagian lagi bahkan merupakan siswa yang sengaja didatangkan dari daerah bencana seperti Aceh atau Yogyakarta. Mereka dilatih di kampus berasrama itu selama enam bulan sampai setahun. Rangga sebelumnya sempat menyelesaikan kuliah D-2 komputer. Dan ia memang satu dari sedikit pengecualian.
Till Freyer (pendiri dan Chairman Yayasan GGTC) mengatakan bahwa para lulusannya itu siap mengisi kebutuhan pekerja terampil di industri garmen. Yayasan GGTC sendiri mencetak para profesional itu dengan biaya senilai Rp 15 jutaan selama setahun—untuk setiap siswa. Tapi, para siswa itu nyaris tak perlu membayar. Hampir selalu ada perusahaan—kebanyakan perusahaan multinasional—yang bersedia mensponsori program pelatihan tadi.
Bank Ekspor Indonesia (BEI) adalah satu perusahaan yang mengadakan kerja sama dengan GGTC. BUMN ini menjalin kerja sama menyelenggarakan pendidikan ”garment specialist” bernama BEXI-MMQ Class. BEI menjadi penyandang dana atas program ”marketing-merchandising-quality assurance (MMQ)” selama setahun—untuk 30 orang siswa. Ulfa dan Rangga adalah sebagian dari siswa yang disponsori BEI.
Arifin Indra, Direktur Utama BEI, mengatakan bahwa pendanaan yang dikeluarkan BEI diambil dari pos Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL). Selama wisuda GGTC kemarin, Arifin tampak begitu sumringah. Menurut Arifin, program ini merupakan bentuk kontribusi BEI untuk mengembangkan keterampilan dan pengetahuan kaum muda demi memperluas kesempatan mereka mendapatkan—atau menciptakan—lapangan kerja.
Tentu saja Arifin tidak asal memilih pelatihan garmen. Bankir ini lalu menegaskan, biar bagaimanapun, garmen adalah primadona industri nasional. Betul, Arifin mengakui, bisnis garmen dalam negeri belakangan ini mulai terancam oleh sejumlah produk impor. Tapi, nyatanya industri garmen nasional tetap bertahan. Bahkan, ekspor garmen selama ini tetap menjadi andalan.
Selain itu, ujar Arifin, program pelatihan spesialis garmen juga tidak memerlukan waktu lama. Biayanya pun tidak mahal, tapi hasilnya bisa langsung dirasakan. ”Buktinya, lulusan GGTC semuanya terserap di industri. Para siswa itu juga bisa berkarya sendiri dengan membuka industri garmen rumahan,” tuturnya.
Parikesit Suprapto, Deputi Menteri Negara BUMN Bidang Kemitraan Usaha Kecil, juga hadir di acara wisuda GGTC. Parikesit menilai, langkah BEI dalam mendukung program GGTC amatlah tepat. Apalagi, belum ada pendidikan formal yang menyediakan tenaga spesialis semacam GGTC ini. Itu sebabnya, Parikesit menegaskan, Kementerian BUMN akan mendorong BUMN lain untuk mengikuti jejak yang dilakukan BEI saat ini.
INDUSTRI GARMEN MASIH JADI ANDALAN
Industri garmen memang tak bisa diabaikan. Agus Tjahajana Wirakusumah, Sekretaris Jenderal Departemen Perindustrian, menegaskan bahwa selama 20 tahun terakhir ekspor garmen tak pernah menurun. Industri ini memang merupakan penyumbang devisa yang tinggi.
Sejak era Orde Baru, pendapatan ekspor dari industri garmen amatlah besar. Hingga saat ini, pangsa pasar garmen Indonesia di pasar dunia mencapai 1,57% dengan nilai rata-rata US$ 3,9 miliar per tahun. ”Itu artinya industri garmen kita memiliki daya saing yang cukup baik,” ujarnya.
Johan Hoepflinger juga mengakui keunggulan para karyawan pabrik garmen di Indonesia dalam bekerja. Negeri ini juga memiliki pasokan tenaga kerja yang melimpah. Menurut Hoepflinger, keunggulan itu bisa membuat garmen Indonesia selalu memiliki prospek baik di pasar ekspor. Apalagi, Indonesia dekat dengan Singapura, negeri kaum trader, salah satu lalu lintas ekspor paling penting di dunia.
Itu sebabnya, belakangan, Departemen Perindustrian menyatakan bakal memprioritaskan industri garmen dalam program restrukturisasi industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Jadi, mesin-mesin jahit tua nantinya akan diremajakan. Syahdan, jumlah mesin tua itu mencapai 50% dari mesin yang ada. Pemerintah menyiapkan dukungan anggaran sebesar Rp 500 miliar hingga Rp 700 miliar per tahun. Dari sana, boleh jadi pihak perbankan akan mengalokasikan Rp 22 triliun untuk perkembangan industri garmen (dan tekstil) di Tanah Air.
Hingga tahun 2005, investasi yang tertanam di garmen investasi sudah mencapai US$ 3 miliar. Angka itu tidak banyak berubah sejak tahun 2000. Toh, itu pun sudah lumayan. Sebab, dari sana, industri garmen mampu menyerap 360.000 orang tenaga kerja langsung dan 700.000 orang tenaga kerja tidak langsung.
Industri garmen memang merupakan industri padat karya. Satu pabrik garmen bisa menampung karyawan sekitar 500 hingga 5.000 orang karyawan. Dari industri yang bisa menyerap begitu banyak tenaga kerja ini, daya beli masyarakat akan lumayan terangkat dan itu cukup mendorong pertumbuhan konsumsi rumah tangga.
Benny Soetrisno, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), menduga industri garmen akan semakin kuat setelah pemerintah menghapus Pajak Pertambahan Nilai (PPN) bahan baku kapas. Kebijakan itu diyakini akan membuat daya saing industri pemintalan meningkat dan semakin memperkuat industri garmen yang berada di sektor hilir. Apalagi, pemerintah menegaskan tidak akan menaikkan tarif dasar listrik (TDL) selama tahun 2007. Jadi, dunia usaha bisa mendapat kepastian dalam mengestimasi nilai beban energi. o
Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|