Jumat, 10 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Ketika Sinyal Terlihat Samar

Budi Kusumah, Pringgo Sanyoto, Syarif Hidayat, dan Hendra Gunawan
 
KENDATI tidak kasatmata, di pekan lalu, sebenarnya telah terjadi sebuah ”pertempuran”. Pelakunya adalah Bank Indonesia sebagai otoritas moneter versus pemain valuta asing. Para pemain valas, termasuk investor asing, berusaha untuk menarik nilai tukar rupiah ke bawah Rp 9.000 per dolar AS. Dengan harapan, setelah rupiah menguat, mereka akan melakukan profit taking dengan cara memborong kembali dolar yang pernah mereka jual di harga Rp 9.200-Rp 9.300. Tapi, harapan itu buyar. Soalnya, BI tak pernah melepaskan kendalinya agar kurs dolar tidak menyelinap ke bawah level Rp 9.000.
Kondisi seperti itu (dolar berada di kisaran Rp 9.050-Rp 9.200), diyakini para bankir akan berlangsung cukup lama. ”Rupiah akan terus dijaga agar tidak bergerak secara signifikan,” kata Alex Gunawan, Corporate Dealer Bank NISP. Dan BI kelihatannya memiliki tingkat kepercayaan diri yang cukup tinggi untuk melakukan itu. Lihat saja ketika otoritas moneter akan menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 9,25% pada 6 Februari lalu. Waktu itu, kata Alex, pemilik dana asing sempat mengancam akan melakukan capital flight. Mereka akan membawa dolarnya ke luar Indonesia jika bunga kembali diturunkan.
Ternyata, ancaman itu tidak dipedulikan. BI Rate tetap diturunkan. Dan hasilnya, seperti yang terlihat sekarang, rupiah tetap stabil—menguat sesuai dengan yang diinginkan para petinggi Bank Indonesia. Itu sebabnya, para analis di pasar uang percaya di pekan-pekan ini nilai tukar rupiah akan bermain tak jauh dari rentang Rp 9.045-Rp 9.110.

 Artikel Lain
Siap-Siap Berburu Saham Tambang
Tak Semua Terendam Banjir
Mewaspadai Aksi Profit Taking
Beken Akibat Banjir
Ketika Sinyal Terlihat Samar
Optimisme dari Sentul
Biar Banjir Tetap Tajir
Wabah yang Membawa Berkah
Bursa Nyaman, Rupiah Aman
Menunggu Kabar Baik
Cuma, sayangnya, para pengusaha ataupun bankir tak boleh berharap banyak BI akan kembali menurunkan tingkat bunganya. Betul, peluang untuk melakukan penurunan masih terbuka. Apalagi, 9,25% masih merupakan tingkat bunga yang tertinggi di dunia. Tapi, ini dia masalahnya, banjir yang melanda Jakarta dan sekitarnya diyakini akan mendongkrak tingkat inflasi. Sehingga, rapat dewan gubernur, bulan depan, diperkirakan tidak akan mengubah tingkat bunga acuan.
Banjir, memang, merupakan biang keladi yang membuat perekonomian negeri ini semakin ruwet. Bahkan bursa saham, yang semula diperkirakan tidak akan terganggu, akhirnya bergoyang juga. Ketika banjir mulai melanda Jakarta, pada Jumat dua pekan lalu (2/2), bursa saham masih tampak tenang. Perdagangan tetap ramai dengan nilai transaksi di atas Rp 2 triliun. Dan indeks harga saham gabungan pun mencatatkan kenaikan sehingga menclok di level 1.780,38. Setelah itu, keadaan berubah, indeks terus menukik dan puncaknya pada penutupan pasar Jumat pekan lalu, IHSG terperosok ke 1.740,31.
Jatuhnya indeks dipicu oleh turunnya harga beberapa saham unggulan. Telkom (TLKM), misalnya. Sebelum banjir pun sudah banyak investor yang menjauhi saham ini lantaran terjadinya perang di kalangan direksi, komisaris, dan Kementerian BUMN. Ditambah datangnya banjir, yang menimbulkan kerugian sekitar Rp 18 miliar, maka lengkaplah sentimen negatif yang menerjang TLKM. Sehingga harganya dalam sepekan kemarin terkerek turun Rp 350.

CERMATI JUGA SAHAM-SAHAM KELAS DUA
Kejatuhan Telkom diikuti oleh saham-saham lainnya yang juga cukup likuid. Di jajaran perbankan contohnya. Hampir seluruh saham di sektor ini harganya menurun secara signifikan. Dalam sepekan, tercatat saham Bank Mandiri (BMRI) turun 5,8% dan Bank BRI (BBRI) juga menukik 5,88%. Sedangkan harga saham Bank Danamon (BDMN), yang dalam laporan keuangannya per 31 Desember 2006 menunjukkan penurunan laba sebesar 33%, menurun 6,77%. Saham BCA (BBCA) dan Bank Niaga (BNGA) juga mencatatkan penurunan harga masing-masing 5% dan 4,5%.
Harga saham PT Timah (TINS) juga menukik cukup signifikan, dari Rp 7.950 ke Rp 7.300. Menurut M. Hasoloan Napitupulu, harga TINS menukik lantaran Departemen Perdagangan memberikan izin kepada penambang liar untuk kembali beroperasi. ”Menurut saya, yang terjadi pada TINS semata-mata disebabkan oleh kepanikan sementara saja,” kata analis dari Brent Securities ini. Soalnya, kendati diizinkan, toh para penambang itu tidak diperbolehkan menjual hasil penggaliannya ke tempat lain, alias harus dilepas ke PT Timah.
Melihat gejala yang terjadi di pekan lalu, Hasoloan menyarankan agar investor melakukan koleksi secara selektif. Pembelian pun harus dilakukan secara mencicil. Ia menunjuk, saham-saham yang harganya telah terkoreksi patut dipertimbangkan, seperti saham BBRI, TLKM, PGAS dan TINS.
Selain itu, isu-isu yang beredar di jajaran saham kelas dua juga tak boleh diabaikan begitu saja. Misalnya tentang Kawasan Jababeka yang akan melakukan right issue di harga Rp 200 dan kabar Putera Sampoerna yang akan membeli saham Tunas Baru Lampung dengan harga dua kali lipat dari harga yang terbentuk saat ini.
Saran serupa juga dilontarkan Robin Setiawan dari AM Capital. Saham Truba Alam Manunggal (TRUB), ia perkirakan akan menembus level Rp 800 (pekan lalu ditutup di harga Rp 750). Pasalnya, kata Robin, perseroan dalam waktu dekat akan masuk ke bisnis tambang batu bara. Yang spektakuler (kalau terjadi) adalah penguatan yang bakal terjadi pada saham Medco (MEDC). Saham yang pekan lalu ditutup pada harga Rp 3.625 itu, setelah menemukan sumber minyak di Libya, akan tembus ke Rp 4.000. Bahkan, kata Robin, untuk jangka panjang MEDC berpotensi merangkak ke Rp 8.000.
Dengan adanya peluang-peluang penguatan atas sejumlah saham itulah, Robin dan Hasoloan percaya, pekan ini indeks akan rebound dan kembali mendekati level psikologis 1.800. Cuma, perlu diketahui, tak semua pelaku pasar seoptimistis dua analis itu. Felix Sindhunata, misalnya. Kepala Riset Ekuitas Mega Capital Indonesia ini, selain melihat kemungkinan terjadinya rebound ke 1.790, ia juga melihat tak menutup kemungkinan indeks terjun ke 1.720.
Kepada investor jangka menengah-panjang, Felix masih mau memberikan rekomendasi beli untuk saham-saham unggulan yang harganya telah terkoreksi. Seperti saham telekomunikasi, perbankan, perkebunan (AALI), otomotif (ASII), pertambangan, serta saham properti.
Berbeda dengan rekan-rekannya, Samuel Sudeswanto Yeung sama sekali tak mau memberikan rekomendasi beli untuk saham apa pun. ”Saya hanya menyarankan investor untuk melakukan day by day trading saja,” kata analis dari Sinarmas Sekuritas ini. Alasannya, kemungkinan masih akan berlangsungnya koreksi cukup besar. Sebab, sampai saat ini, perbankan belum mau mengucurkan dananya. Dan tingkat bunga kredit yang dipasang masih cukup tinggi, sehingga sektor riil tetap jalan di tempat.
Keadaan, kata Samuel, diperparah oleh menguatnya harga minyak dunia di level US$ 60 per barel. Inilah yang akan membuat dunia usaha semakin gelagapan.
Jadi? Pilihan tetap ada di tangan Anda sebagai investor. Mau mengikuti mazhab yang optimistis atau bermain diam sesuai saran Samuel dan kawan-kawan. o


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id