Jumat, 3 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Investasi ala BCA

Kun Wahyu Winasis, Windarto, dan Syarif Hidayat
 
MEMBANDINGKAN Bank Central Asia dengan Bank Danamon mungkin terlalu jauh. Dari sisi aset, misalnya, di akhir 2006 kekayaan BCA sudah mencapai Rp 177 triliun. Sementara, kekayaan Danamon baru sekitar Rp 80 triliun. Soal kredit, dana yang digelontorkan BCA juga lebih besar, Rp 61 triliun berbanding Rp 41 triliun. Laba bersih yang diperoleh kedua bank itu juga tak sebanding. BCA mengantongi untung bersih senilai Rp 4,2 triliun, sedangkan Danamon ”hanya” Rp 1,32 triliun.
Anehnya, dengan kinerja yang demikian mengilap, pamor BCA di lantai bursa justru meredup. Terbukti, jika Danamon dibanderol Rp 6.500 (19/4), BCA ”cuma” dihargai Rp 5.150 (19/4) per sahamnya. Dengan harga segitu, berarti saham BCA dihargai 3,6 kali dari nilai bukunya. Sedangkan Danamon dibanderol 3,5 kali nilai buku. Lucu memang. Saham BCA yang memiliki pamor lebih gemilang, justru disalip oleh pesaingnya yang lebih kecil.
Kondisi itulah yang, diduga, telah membuat manajemen BCA menjadi tidak nyaman. Makanya, sejumlah langkah strategis pun dilakukan perseroan. Salah satunya dengan membeli kembali (buyback) sahamnya yang beredar di bursa. Rencananya, perusahaan yang dikuasai Grup Djarum ini berniat membeli kembali sahamnya sebanyak 1%. Dana yang disiapkan sebesar Rp 678 miliar. ”Dananya diambil dari kas perusahaan,” ungkap Jahja Setiaatmadja, Wakil Presiden Direktur BCA.

 Artikel Lain
Kejutan Duo Lippo
Waswas di Tengah Keramaian
Naik Berkat Salim
Waspadai Profit Taking
Investasi ala BCA
2.000, Selangkah Lagi
Dagangan Baru di Bursa Saham
”Tak Ada Pabrik yang Terbebas dari Sakazakii”
Investor dan Bank Sama-Sama Untung
Tenang, Ini Hanya Sementara
Kantong bank terbesar kedua di Indonesia ini memang cukup tebal. Di akhir 2006, modal inti yang dimiliki perseroan mencapai Rp 14,7 triliun, naik 14,8% ketimbang 2005 yang Rp 12,8 triliun. Nah, dengan struktur modal seperti itu, BCA tentu bisa leluasa untuk melakukan aksi korporasi. Termasuk, ya itu tadi, membeli kembali sahamnya di bursa. Jahja menuturkan, besarnya modal inti itulah yang membuat BCA melakukan buyback. ”Kami ingin memaksimalkan penggunaan dana tersebut,” tuturnya.
Bagi BCA, pembelian kembali saham di bursa bukanlah hal yang baru. Tahun 2006 silam, perseroan juga telah membeli sebanyak 45,493 juta saham atau 0,37% dari jumlah saham yang beredar. Harga belinya rata-rata sekitar Rp 4.198 per saham. Artinya, jika saja saham itu dijual sekarang (taruhlah di harga rata-rata Rp 5.100), BCA sudah bisa mengantongi gain sekitar Rp 41 miliar.
Jahja menjelaskan, sebenarnya, ada dua metode yang bisa ditempuh dalam melakukan buyback. Pertama dengan melakukan pembelian treasury share dan kedua mengurangi modal disetor. Namun, manajemen BCA memutuskan pilihan pertama yang diambil. Alasannya, lewat metode ini perseroan bisa memperkuat modal dengan melepas kembali sahamnya di masa depan. Bisa 5 atau 10 tahun kemudian kelak.
Dengan begitu, jika BCA membutuhkan modal tambahan, maka tidak perlu melakukan right issue. Sehingga investor minoritas juga tidak dirugikan. Dengan alasan itu pula manajemen berencana untuk terus melakukan buyback. Targetnya, perseroan bisa membeli kembali sahamnya sebanyak 5%.

HARGANYA BAKAL NAIK
Strategi BCA itu, dinilai sejumlah analis, cukup cerdik. Prayoga Ahmadi Triono (Kepala Riset Henan Putihrai Sekuritas) melihat, dengan adanya buyback maka jumlah saham yang beredar ikut berkurang. Pada gilirannya, jika volume saham berkurang, sementara permintaan tetap tinggi, maka harga secara otomatis akan terkerek naik.
Teori lokomotif menyatakan, ketika gerbong bergerak, gerbongnya pun akan menjadi lokomotif yang memiliki daya dorong. Jadi, begitu ada pemicu yang menggerakkan pasar, lanjut Prayoga, maka pasar akan bergerak mengikuti. Sementara, Felix Sindhunata, Kepala Riset Mega Kapital Sekuritas, mengatakan kebijakan BCA itu bakal berpengaruh terhadap ROA dan ROE.
Prayoga menambahkan, langkah buyback tersebut sesungguhnya bisa dibaca sebagai upaya BCA untuk ”mengalahkan” Danamon. Manajemen BCA, kata dia, kelihatannya tidak nyaman sahamnya dihargai lebih murah. ”Ibaratnya, dia (BCA) itu artis Hollywood. Eh, harganya kok lebih murah ketimbang artis lokal (Danamon). Ya tentu BCA enggak terima,” kata Prayoga.
Jelas saja, Jahja menyangkal anggapan itu. Menurutnya, andai kata saham BCA naik—misalnya sampai Rp 6.000 per saham di akhir tahun 2007—hal itu lebih disebabkan oleh adanya ruang yang masih lebar pada saham ini. ”Kami tidak melakukan buyback dengan motif mendongkrak harga saham. Sebab, begitu harga naik kami tidak boleh membeli,” jelasnya.
Para analis menilai, harga saham BCA masih akan mengalami penguatan hingga akhir tahun. Setelah tahun lalu tampil cukup menawan, peruntungan perseroan tahun ini diperkirakan akan semakin tinggi. Indikasi itu bisa dilihat dari makin membaiknya kondisi industri perbankan nasional. Di kuartal I-2007, Bank Mandiri sukses mendulang untung bersih senilai Rp 1,026 triliun. Kinerja BCA pun, kabarnya, jauh lebih biru ketimbang tahun lalu.
Sampai akhir tahun, Felix memperkirakan, harga efek berkode BBCA ini bisa menyentuh level Rp 6.300 per saham. Sedangkan Prayoga mengatakan, harga wajar saham BCA berada di kisaran Rp 6.000 per saham. Seorang broker asing juga optimistis, saham ini akan menyentuh level Rp 6.000. Atas dasar itulah, maka para analis tadi menyarankan buy untuk saham ini. Maklum, jika proyek buyback tersebut benar terjadi, maka potensi gain di saham ini berkisar antara 16,1%-22%. Jauh di atas suku bunga simpanan di bank.
Potensi kenaikan harga saham BCA itu diprediksi akan lebih tinggi ketimbang dua kompetitor dekatnya, Danamon dan BRI. Dalam perhitungan Felix, Danamon bisa menyentuh Rp 7.000 per saham. Artinya, ada peluang kenaikan sekitar 7%-10%. Namun, Prayoga berpandangan lain. Menurutnya, saham Danamon sulit untuk mengejar level Rp 7.000. Betul, menurut seorang pejabat senior Bank Danamon, kinerja banknya di kuartal I-2007 cukup menggembirakan. Namun, harga sahamnya sekarang dinilai sudah merupakan harga wajar.
Itu sebabnya, selain BBCA, sejumlah analis lebih merekomendasikan saham BBRI untuk dikoleksi. Maklum, sepanjang kuartal I-2007, pamor BRI terlihat makan mencorong. Di saat kinerja penyaluran kredit perbankan nasional menurun, kata Sulaiman Arif Arianto, produktivitas BRI justru meningkat. Makanya, Managing Director BRI itu berkeyakinan, laba bersih perseroan bakal kian menebal. ”Di saat produktivitas perbankan turun, kami justru makin membaik,” tutur Sulaiman.
Dalam perhitungan Prayoga harga saham BRI berpotensi naik ke level Rp 6.100 per saham. Artinya, masih ada potensi kenaikan hingga 16,1%. Sebuah angka yang menggiurkan bukan? o


Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id