Jumat, 3 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Lebih Enak Main Bareng

Kun Wahyu Winasis, Mega Julianti Sularti, dan Eko Zulham
 
MENJADI kaya mendadak, di negeri ini, memang bukan sesuatu yang mustahil. Terutama bagi para pemain di Bursa Efek Jakarta. Banyaknya saham yang bergerak liar, membuat pembiakan uang di sini berlangsung cepat. Sebagai contoh investor saham Agis. Di awal tahun, saham ini baru dibanderol Rp 225 (2/1). Namun, 4 Juni kemarin, harganya sudah menyentuh Rp 3.925 per saham. Artinya, potensi keuntungan yang bisa diperoleh pemodal amatlah besar. Ibaratnya Anda taruh Rp 1 miliar, jika dilepas Senin pekan lalu, uang tersebut telah berbiak menjadi Rp 17,4 miliar. Sungguh luar biasa bukan?
Cerita soal Agis, sesungguhnya, hanyalah bagian kecil dari fenomena bursa kita yang amat rentan dengan permainan harga. Bahasa kasarnya, banyak saham yang digoreng. Tapi yang perlu diingat, bermain di saham-saham gorengan amatlah berisiko. Sebab, jika keinginan si bandar sudah tercapai, biasanya, saham-saham seperti ini akan kembali ke habitat lamanya atau terjun bebas. Contohnya, ya, seperti si Agis tadi. Setelah mencapai puncaknya, pada penutupan pasar pekan lalu (5/6), harga saham berkode TMPI langsung menukik hampir Rp 1.000 ke Rp 2.950.
Mengerikan, memang. Tapi, kalau mau, ada cara lain untuk mengail untung dari saham dengan risiko yang relatif rendah. Caranya, cobalah berinvestasi di reksadana saham. Instrumen yang satu ini, belakangan mulai digemari banyak pemodal. Maklum, return yang dihasilkan cukup memikat. Di instrumen ini, investor juga bisa memilih produk reksadana yang berbasis ”saham-saham panas”, yang menghasilkan return gila-gilaan.

 Artikel Lain
Kapan Koreksi? Kapan? Kapan?
Rapornya Bakal Membiru (Lagi)
Mengukur Peluang Saham MNC
Negeri Kita Masih Memesona
Lebih Enak Main Bareng
Ketika Pasar Mulai Cemas
Cobalah Kemanjuran Saham Obat
Tatkala Regulasi Sangat Mudah Diakali
Masih Menguat, tapi Tetap Ada Koreksi
Peluang Itu Masih Ada
Pilihan lain, jika ingin bermain aman, pilihlah reksadana yang berbasis saham-saham berfundamental bagus. Saham seperti ini, biasanya, akan memberikan return yang tidak terlalu tinggi. Namun, apabila dibandingkan jenis reksadana lain—seperti pendapatan tetap, campuran, terproteksi, indeks, dan pasar uang—hasil yang diperoleh investor bisa dua bahkan tiga kali lipat.
Wawan Hendrayana, analis dari Infovesta, memperkirakan, animo pemodal untuk berinvestasi di reksadana saham bakal terus meningkat. Tahun ini saja, sudah ada 11 produk baru yang beredar di pasar. Dalam perhitungannya, sampai akhir tahun ini, dana kelolaan produk ini bisa melewati angka Rp 15 triliun. Jika dibandingkan dengan dana kelolaan saat ini, berarti masih ada potensi meningkat sebesar Rp 3 triliun lebih.
Berdasarkan hasil analisis Infovesta (perusahaan yang melakukan pemeringkatan reksadana), dalam setahun terakhir, sejumlah produk reksadana mengalami kenaikan yang fantastis. Yang paling fenomenal adalah Makinta Mantap. Produk yang dirilis Makinta Securities ini mampu memberikan return hingga 157%. Sementara kepada investor yang menginvestasikan duitnya 6 bulan silam, Makinta mengganjarnya dengan return 46% (5 Juni 2007). Wuihh!
Lantas ke mana saja Makinta menginvestasikan dananya? Berdasarkan laporannya ke Bapepam, manajer investasi ini terlihat berani menyentuh saham-saham kelas dua yang belakangan meroket. Misalnya, saham Bukit Sentul, CMNP, Ricky Putra Globalindo, Sumalindo Lestari, Barito Pasific Timber, Bank Bumi Artha, dan Summarecon Agung. Sebagai gambaran, dalam 6 bulan, saham Bukit Sentul telah naik 563 %. Dari semula hanya Rp 95 (1/12/2006) menjadi Rp 630 (7/6). Sedangkan saham Sumalindo, menurut seorang manajer Makinta, sudah dipegang sejak di harga Rp 900. Jadi, jika harga SULI (kode sahamnya) saat ini yang berada di level Rp 3.100, Makinta telah mengantongi gain hingga 244%.
Seorang analis mengatakan, jika investor ingin duitnya berkembang cepat, saham Makinta bisa menjadi pilihan. Tapi, ya itu tadi, lantaran underlying sahamnya kebanyakan berupa saham kelas dua—yang fundamentalnya belum meyakinkan—risiko berinvestasi di instrumen ini relatif tinggi. ”Tapi kalau Anda mau mendapat gain 30% sampai akhir tahun, Makinta adalah pilihan,” katanya.

JANGAN MUDAH PANIK
Reksadana lain yang cukup menjanjikan adalah Pratama Saham, Dana Ekuitas Prima, Panin Dana Maksima, dan Fortis Ekuitas Reksadana. Dalam setahun (sampai 4 Juni), semua produk tadi memberikan return yang berkisar 69%-74%. Hasil tersebut jauh lebih tinggi ketimbang kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang hanya 56%. Tapi, kenapa kinerja reksadana saham tadi masih kalah mantap dibandingkan Makinta?
Pilihan saham agaknya menjadi faktor pembeda. Jika Makinta begitu dominan memburu saham-saham kelas dua yang cenderung bergerak liar, pengelola Fortis dan Panin Dana Maksima lebih enjoy berinvestasi di saham-saham papan atas. Dengan kata lain, Fortis maupun Panin lebih memperhitungkan faktor fundamental sebagai penggerak kenaikan harga saham.
Sesuai laporannya ke Bapepam, Fortis menginvestasikan dananya di saham-saham blue chip, seperti Bank Mandiri, Danamon, Astra Internasional, Bumi Resources, Bank BRI, Telkom, Astra Agro Lestari, dan Semen Gresik. Meski begitu, Fortis juga masih melirik saham kelas dua. Contohnya Bakrieland Development dan Tunas Baru Lampung. Namun, alokasi dana ke saham seperti ini cukup terbatas. Bakrieland dalam enam bulan naik 133% ke Rp 135 (7/6). Sedangkan saham Astra Agro melonjak 34,7%.
Bagi yang berniat menaruh dananya di instrumen ini, sebelum berinvestasi investor perlu berkonsultasi mengenai kebutuhan investasi, dana yang sudah dimiliki, serta kebutuhan likuiditasnya. Investasi di saham melalui reksadana sebaiknya dilakukan untuk jangka panjang. Sebab, makin panjang makin baik prospeknya. Dan dengan demikian investor tidak perlu panik ketika terjadi koreksi pasar dalam jangka pendek.
Eko P. Pratomo, Presiden Direktur Fortis Investment Management mengatakan, dalam memilih saham, ia selalu melakukan screening. Acuannya adalah kapitalisasi, likuiditas, dan prospek saham yang bersangkutan. Untuk Reksa Dana Infrastruktur Plus misalnya, Fortis lebih banyak berinvestasi pada saham-saham di sektor infrastruktur. Sementara Reksa Dana Syariah Fortis Pesona Amanah, underlying asetnya adalah saham-saham yang memenuhi kriteria syariah. ”Tapi, sekitar 60% merupakan saham blue chip,” katanya.
Ridwan Soetedja, Manager Marketing Panin Sekuritas mengungkapkan, sejak awal tahun ini, investor baru yang masuk ke produk reksadana saham meningkat 3 kali lipat. Faktor inilah yang meningkatkan dana kelolaan Panin menjadi Rp 450 miliar. Seperti yang sudah disebut di atas, Panin Dana Maksima termasuk produk yang tampil memukau. Ridwan mengungkapkan, sejak dirilis 10 tahun silam, Nilai Aktiva Bersih (NAB) yang semula Rp 1.000 per unit, kini telah berada di kisaran Rp 15.000. ”Setiap tahun rata-rata keuntungan investor sekitar 30%,” katanya.
Untuk meraih return sebesar itu, manajemen Panin—yang membatasi minimal investasi Rp 10 juta—tidak gegabah dalam memilih saham. Ridwan menuturkan, sekitar 35-40% dana kelolaan ditempatkan di saham blue chip, 15 % dalam bentuk cash, dan sisanya di saham papan tengah atau kelas dua. Untuk saat ini, Panin lebih banyak bermain di saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga. Misalnya saham BCA, BNI, dan Mandiri. Selain itu, saham-saham ritel atau konsumsi juga tidak diabaikan. Misalnya saham Astra Internasional, Mitra Adi Perkasa, Kalbe Farma, dan Holcim.
Strategi Panin untuk menyisihkan dana dalam bentuk cash, kata Ridwan, didasari oleh fluktuasi pasar saham yang cukup tinggi. Jadi ketika perusahaannya melakukan profit taking, hasilnya sementara disimpan terlebih dahulu. Nah, jika harga saham yang menjadi target sudah di bawah, barulah dana tersebut diinvestasikan kembali. 

TIPS BERINVESTASI DI REKSADANA SAHAM

EKO P. PRATOMO tidak sependapat jika berinvestasi di reksadana saham disebut sebagai main saham. Sebab, kata dia, reksadana hanya tepat untuk investasi jangka panjang. Sementara bermain saham cenderung identik dengan transaksi jangka pendek atau short term trading. Pendapat yang hampir sedang dikatakan Safir Senduk. Menurut perencana keuangan ini, jangka waktu berinvestasi dalam produk reksadana saham, sebaiknya, di atas 10 tahun. Artinya, tujuan investasi ini lebih diarahkan untuk tabungan pensiun. Dengan demikian, ketika harga saham jatuh, pemodal tidak gampang terkena serangan jantung.
Seorang manajer investasi mengatakan, soal jangka waktu investasi pada akhirnya tergantung tujuan dari investor. Jika gain yang diharapkan sudah tercapai, reksadana itu sebaiknya segera dilepas. Tapi untuk mendapatkan hasil yang optimal, investor harus berinvestasi minimal dalam jangka waktu setahun. Pasalnya, dalam rentang waktu tersebut, perkembangan harga saham sudah bisa dirasakan.
Prestasi masa lalu, memang, bukan jaminan bahwa ke depan hasilnya akan tetap encer. Namun, track record dan pengalaman bisa menjadi acuan bagi investor, untuk memilih produk mana yang aman dan menguntungkan. Saat mempelajari kinerja perusahaan reksadana, salah satu yang perlu diperhatikan adalah kinerja lima tahun terakhir. Reksadana yang memberikan return fluktuatif—terkadang tinggi tapi setahun kemudian terjun bebas—sebaiknya dihindari.
Investor juga perlu mengetahui tim investasi dari reksadana yang akan dipilih. Apabila pengelolaan investasi hanya dilakukan satu orang, pasti risikonya tinggi. Ibaratnya keputusan yang dipikirkan oleh dua kepala lebih baik dibandingkan satu kepala. Pemodal juga sebaiknya tidak terlalu melihat figur MI dalam mengambil keputusan berinvestasi. Soalnya, jika MI tersebut termasuk orang yang suka berpindah-pindah tempat kerja, justru akan menyulitkan. Kecuali bila investor mau repot untuk selalu mengalihkan dananya mengikuti jejak si manajer investasi tersebut. ”Prinsipnya pilih tim manajemen investasi yang andal,” kata si MI tadi.
Untuk menghindari risiko likuiditas, hindari produk reksadana yang hanya mengandalkan pada beberapa gelintir investor. Soalnya, jika pemodal besar tadi kabur, dampaknya bisa merugikan investor lain. Bila nasabah menarik dananya dalam jumlah yang sangat besar, pengelola reksadana terpaksa melepas beberapa saham yang dipegangnya. Dalam posisi tertekan seperti ini, besar kemungkinan saham itu dilepas pada harga yang kurang baik. Dan penarikan dana secara besar-besaran akan berdampak negatif terhadap performa reksadana.
Makanya, di Panin Sekuritas, Ridwan Soetedja mengatakan, jumlah investor ritel akan terus diperbesar. Makanya, kendati di prospektus minimal disebutkan bahwa investasinya harus Rp 100 juta, dalam praktiknya Panin tetap menerima investasi senilai Rp 10 juta per investor.
Yang juga harus diperhatikan oleh pemodal adalah faktor biaya. Biasanya, untuk menarik minat investor, MI yang belum memiliki track record bagus menawarkan fee miring. Untuk yang seperti ini, akan lebih baik dihindari saja. Eko mengungkapkan, besarnya fee untuk berinvestasi di reksadana saham berkisar antara 1%-2%. Biaya tersebut meliputi fee pembelian dan penjualan. 


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id