Jumat, 3 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Mengukur Peluang Saham MNC

Kun Wahyu Winasis, Windarto, dan Eko Zulham
 
BURSA Efek Jakarta kembali kedatangan tamu. Kali ini giliran PT Media Nusantara Citra (MNC) yang menyambangi publik. Perusahaan multimedia, termasuk distribusi dan produksi content, itu akan menawarkan 4,125 miliar saham dengan nilai nominal Rp 100. Harga perdana dipatok pada level Rp 900. Bagi investor yang berminat, saham MNC sudah dijajakan mulai tanggal 15,18, dan 19 Juni. Selanjutnya, pada tanggal 22 Juni, saham ini sudah bisa ditransaksikan di lantai bursa. Bertindak sebagai penjamin emisi adalah Bhakti Securities dan PT Danareksa Sekuritas.
Apabila seluruh saham tadi terserap oleh pasar, maka perseroan akan mengantongi dana sekitar US$ 419 juta. Ini tentu sebuah prestasi besar. Sebagai perbandingan, dari 12 emiten yang melantai di bursa selama 2006, dana yang berhasil diperoleh hanya US$ 280 juta. Namun, hasil yang bakal diterima MNC tersebut sedikit lebih rendah ketimbang pencapaian IPO Bank Rakyat Indonesia, empat tahun silam. Ketika itu, BRI mampu menjaring duit ma-syarakat sebanyak US$ 484 juta.
Rencananya, dana hasil IPO ini akan digunakan—antara lain—untuk membeli aktiva tetap sebesar 11%, untuk melunasi seluruh utang obligasi dalam mata uang rupiah yang diterbitkan oleh RCTI (13%), dan sebesar 76% untuk pengembangan usaha media dan penyiaran serta tambahan modal kerja.

 Artikel Lain
Yang Kian Menjanjikan
Pilih Selagi di Bawah
Kapan Koreksi? Kapan? Kapan?
Rapornya Bakal Membiru (Lagi)
Mengukur Peluang Saham MNC
Negeri Kita Masih Memesona
Lebih Enak Main Bareng
Ketika Pasar Mulai Cemas
Cobalah Kemanjuran Saham Obat
Tatkala Regulasi Sangat Mudah Diakali
Lantas bagaimana peluang saham MNC di bursa Hary Tanoesoedibjo, Group CEO of MNC, mengungkapkan, animo investor internasional terhadap saham perusahaan yang dipimpinnya cukup besar. Terbukti, pada range harga yang ditawarkan, total pesanan saham dari investor asing mengalami kelebihan permintaan hingga tujuh kali lipat. Itu berdasarkan hasil road show yang dilakukan ke sejumlah negara, seperti Singapura, Hong Kong, Eropa, dan Timur Tengah. Kondisi oversubscribes tadi, kemungkinan, akan terus meningkat apabila pesanan dari investor lokal selesai dihitung.
Tingginya animo investor asing ini, jelas, membuat manajemen MNC kian optimistis. ”Kami berkeyakinan bahwa saham MNC telah dinilai dengan wajar untuk mengakomodasi minat dari investor. Kami juga bisa mendapatkan investor-investor dengan profil yang baik dan kredibel,” kata Hary (14/6).
Nah, bagi pemodal yang tertarik berinvestasi di saham ini, ada baiknya jika melihat kondisi fundamental MNC. Berdasarkan prospektusnya, perseroan merupakan integrated media company. Anak usahanya meliputi tiga stasiun televisi, yaitu RCTI, Global TV, dan TPI. Selain itu ada jaringan radio yang terdiri dari Trijaya Network, Radio ARH, dan Radio Dangdut TPI. Sementara media cetak yang dimiliki MNC antara lain Harian Sindo, Tabloid Genie, dan Tabloid Realita. Tidak hanya itu, perusahaan ini juga menguasai 100% saham situs okezone.com.
Tahun 2006, pendapatan MNC mencapai Rp 2 triliun atau tumbuh 48% ketimbang 2005. Pendapatan usaha tersebut, 92,48% berasal dari iklan televisi. RCTI menjadi mesin pencetak uang paling besar. Televisi swasta tertua tersebut mengantongi pendapatan iklan senilai Rp 1,4 triliun. Akan halnya TPI, tahun lalu berhasil menuai pendapatan Rp 523 miliar dan Global TV Rp 253 miliar. Berdasarkan hasil riset AGB Nielsen akhir tahun lalu, RCTI masih menjadi penguasa siaran TV nasional. Posisinya di atas SCTV dan Trans TV.
Dalam risetnya, analis Danareksa mengungkapkan, produk media MNC mampu menyasar semua segmen pasar. Sebagai contoh, RCTI dan Global TV mencakup segmen A, B, dan C. Sedangkan TPI lebih condong bermain pada segmen menengah-bawah atau kelas C, D, dan E. Sementara produksi media cetak berorientasi kepada kelas pembaca A, B, dan C. Adapun radio menyasar hampir semua kalangan.

PROSPEKNYA CERAH
Triwira Juniarta, analis Erdhika Elit Sekuritas, menilai perseroan memiliki bisnis yang cukup lengkap. Dan itulah yang membedakan MNC dengan kompetitornya, semacam Gramedia Group, SCTV, ataupun Indosiar. Keunggulan tersebut di antaranya: merupakan pemain besar di industri media yang sedang berkembang, memiliki database content terbesar, punya posisi bargain yang menguntungkan terhadap pengiklan, dan menjangkau seluruh segmen pasar penonton televisi.
Sebagai pemain utama di bisnis media, MNC cukup diuntungkan oleh meningkatnya belanja iklan. Dalam kurun waktu 2001-2006, belanja iklan tumbuh rata-rata 26,66% per tahun. Dengan pangsa pasar pemirsa sebanyak 35%, tahun lalu pangsa pasar iklan televisi di bawah MNC mencapai 32%. Di industri media, iklan memang masih dikuasai oleh televisi, yaitu sebanyak 64%. Setelah itu media cetak mendapat 29%, radio 3%, dan lainnya 4%. ”Saya pikir komposisi itu tidak akan berubah banyak. Di sini, MNC akan sangat diuntungkan,” tandas Triwira.
Sebagai penyedia content, MNC memiliki database video content sebesar 60 ribu jam. Jumlah itu akan meningkat 10 ribu saban tahunnya. Selain itu, perseroan juga memiliki hak distribusi program dari Viacom seperti MTV, VHI, dan Nickelodeon. Dengan mengandalkan content, MNC juga menargetkan pasar SMS premium sebesar 60%. Menurut perhitungan Danareksa, tahun ini pendapatan MNC diperkirakan bakal mencapai Rp 2,7 triliun atau tumbuh sekitar 27%. Sementara laba bersihnya ditaksir naik 17% menjadi Rp 341 miliar.
Dengan harga penawaran sebesar Rp 900 per saham, Triwira menuturkan, saham MNC dilego tiga kali dari nilai bukunya. Harga tersebut lebih tinggi ketimbang saham SCMA yang hanya 1,5 kali nilai buku atau senilai Rp 900 per saham (14/6). Namun, membandingkan dua emiten tadi, memang, kurang tepat. Sebab, SCMA hanya menaungi satu stasiun TV, yaitu SCTV. Makanya, kendati harga perdananya tergolong cukup mahal, si analis menilai, masih ada ruang bagi investor untuk meraih gain ketika IPO berlangsung.
Paling tidak, kata dia, kebiasaan yang selama ini terjadi pada saham-saham baru—yang cenderung mengalami kenaikan—bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan keuntungan. Namun, jika pemodal menginginkan investasi jangka panjang, sebaiknya dilihat dulu kondisi pasar yang ada. ”Kalau likuiditasnya cukup baik, investasi jangka panjang tak ada masalah,” tuturnya.
Pendapat Ratna Lim tak berbeda jauh. Menurut analis Mega Capital Indonesia itu, harga saham MNC masih layak dikoleksi. Dengan penguasaan tiga stasiun TV, perusahaan yang dimiliki oleh PT Global Mediacom ini masih berpotensi untuk menguasai pasar iklan nasional. Ratna meyakini, ketika saham ini mulai dicatatkan di bursa, harganya bakal langsung meroket. Tapi sampai sejauh mana kenaikan harganya, si analis kesulitan untuk memperkirakan. ”Saya melihat saham MNC ini banyak peminatnya,” tuturnya.
Selamat berinvestasi. 


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id