Jumat, 3 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Kapan Koreksi? Kapan? Kapan?

Budi Kusumah, Eko Zulham, Windarto, dan Syarif Hidayat
 
UNTUK ke sekian kalinya, indeks harga saham gabungan (IHSG) lolos dari lubang jarum. Seperti yang terlihat di akhir pekan lalu. Begitu pasar saham di Shanghai anjlok hingga 3,2%, suasana di bursa Jakarta pun langsung goyah. Tapi tidak banyak, hanya 0,019 poin sehingga indeks berhasil ditutup di level 2.152,32 (22/6). Jika dibandingkan dengan penutupan pasar sepekan sebelumnya, berarti indeks harga saham masih mengalami penguatan sebesar 1,48%.
Boleh dibilang masih kokoh. Kendati pukulan yang menghantam BEJ di akhir pekan lalu cukup beruntun. Selain oleh goyangan bursa Cina, yang merosot gara-gara pemerintah di sana akan dengan sengaja mengerem pertumbuhan ekonominya, bursa dunia juga mengembuskan sentimen negatif. Di akhir pekan lalu, hampir seluruh pasar saham mengalami penurunan, kecuali Hang Seng dan bursa di Kuala Lumpur. Tapi, kabar baik ini tidak melegakan hati para pelaku pasar. Sebab, mereka begitu yakin, suasana bullish yang terjadi di BEJ, suatu ketika akan berbalik arah.
Artinya, cepat atau lambat, sebuah koreksi yang cukup signifikan akan melanda bursa Jakarta. ”Hanya soal waktu. Tapi kapan akan terjadinya, tak seorang pun bisa menebak,” kata analis saham di sebuah perusahaan asing. Pekan ini? Juga belum tentu. Malah Lanang Trihardian, analis dari Erdhika Elit Securities, memperkirakan indeks masih akan berada di jalur menanjak. Kendati, kenaikannya sangat terbatas. Ia memperkirakan indeks akan berada di level 2.180. ”Dana asing masih akan mengalir ke bursa,” katanya.

 Artikel Lain
Lebih Aman dan Menguntungkan
Liburan yang Bikin Lesu
Yang Kian Menjanjikan
Pilih Selagi di Bawah
Kapan Koreksi? Kapan? Kapan?
Rapornya Bakal Membiru (Lagi)
Mengukur Peluang Saham MNC
Negeri Kita Masih Memesona
Lebih Enak Main Bareng
Ketika Pasar Mulai Cemas
Salah satu yang akan menopang indeks di pekan ini, kata Lanang, adalah saham-saham dari sektor pertambangan. Untuk itu, ia menyarankan agar investor mengoleksi saham PT Bukit Asam (PTBA) dan Bumi Resources (BUMI). Saham PTBA yang ditutup pada harga Rp 6.750 (22/6) diprediksi masih memiliki kekuatan untuk naik ke Rp 7.800. Sedangkan BUMI berpotensi naik dari Rp 2.225 ke Rp 2.500.
Beberapa kepala riset yang dihubungi TRUST juga mengemukakan pendapat serupa. Kata mereka, saham-saham perusahaan pertambangan masih akan menjadi pendorong bagi penguatan indeks. Itu dikarenakan harga produknya yang terus menaik di pasar dunia. Harga nikel, misalnya. Semula, para analis memperkirakan harganya akan turun sebesar 42% di kuartal II ini. Tapi, kemudian angka perkiraan itu berubah menjadi naik 26%. Dan setelah melihat masih besarnya permintaan, mereka sepakat saham INCO—yang Jumat lalu ditutup Rp 55.200—masih berpotensi menguat 53,9% ke level Rp 85.000.
Kemungkinan yang sama diduga bakal terjadi pada saham PT Timah (TINS). Saham yang sudah sejak beberapa bulan lalu dianggap sudah kemahalan ini diyakini bakal terus menggeliat. Maklum, berkah dari pasar timah dunia telah membuat pundi-pundi TINS semakin gemuk. Di akhir tahun, BUMN ini diperkirakan bakal mampu menjual 50 ribu ton. Dari sana akan diperoleh pendapatan sekitar US$ 650 juta–US$ 700 juta atau naik sekitar 49% dibanding pendapatan tahun lalu.

RUPIAH TAK KAN GOYAH, KATANYA
Selain dari sektor pertambangan, seorang analis lainnya menunjuk saham Astra International (ASII), Telkom (TLKM), dan Tempo Scan Pacific (TSPC) sebagai yang layak dikoleksi. TSPC diduga masih bisa menguat sebesar 15% karena harga saham yang satu ini masih tergolong murah. Sementara perkiraan harga wajar TLKM tetap berada di Rp 12.000 dan saham ASII diprediksi menaik dari Rp 16.900 (22/6) ke 18.000 per saham.
Pandangan yang berbeda datang dari David Sumual. Ekonom dari Danareksa Research Institute ini lebih melihat peluang di saham-saham kelas dua dan kelas tiga. Misalnya saham dari sektor properti yang selama ini jarang dilirik investor. Padahal, selain harga sahamnya masih tergolong murah, bidang usaha ini sangat terbantu oleh menurunnya tingkat suku bunga bank. ”Kalau harga saham-saham unggulan, termasuk perbankan dan pertambangan, sudah mentok semua,” katanya.
David memprediksi, pekan ini, indeks akan bergerak di kisaran 2.100–2.200. Itu lantaran ia tidak melihat adanya sentimen positif dari dalam negeri. Sementara insentif yang digembar-gemborkan pemerintah baru akan turun di bulan Juli dan Agustus. Sebaliknya dari luar negeri ada yang sedang dinanti dengan harap-harap cemas, yakni keputusan The Fed terhadap tingkat bunga acuannya. Jika Kamis ini (28/6) Bank Sentral AS menaikkan tingkat bunganya, maka dipastikan akan banyak investor asing yang meninggalkan Jakarta.
Betul, di pekan-pekan kemarin indeks bertahan di atas berkat masih adanya dana-dana segar yang masuk ke bursa. Tapi, kata David, yang masuk belakangan ini kebanyakan dana domestik yang dikucurkan perusahaan dana pensiun, asuransi, dan Jamsostek.
Lantas, berapa besar kemungkinan The Fed akan mengerek naik suku bunganya? Masih fifty-fifty. ”Menurut saya, tidak ada alasan Amerika untuk menaikkan suku bunga, karena kemarin inflasinya turun,” kata Alex Gunawan, analis valas dari Bank NISP. Tapi, itu bukan berarti nilai tukar rupiah berada dalam posisi aman. Jika otoritas moneter kembali menurunkan BI Rate, yang membuat perbedaan dengan bunga The Fed semakin sempit, maka Indonesia akan menjadi tak menarik lagi. Makanya, ia yakin, kali ini Bank Indonesia tidak akan menurunkan tingkat bunga SBI.
Ancaman lain terhadap nilai tukar datang dari penguatan saham-saham di Wall Street. Berdasarkan kondisi itulah Alex memprediksi di pekan ini rupiah akan kembali tertekan dan bermain di rentang Rp 8.950–Rp 9.150.
Perkiraan yang sama dikemukakan Joko Waluyo, analis treasury Bank BNI. Menurut dia, selain dipengaruhi oleh keputusan The Fed, nasib rupiah juga ditentukan oleh tingkat inflasi serta sikap BI dalam menyikapi beberapa negara (termasuk Taiwan) yang belakangan telah mengerek naik tingkat bunganya. Berdasarkan itu semua, ”Saya memperkirakan pekan ini rupiah akan sedikit tertekan,” katanya.
Yang terdengar agak optimistis adalah pendapat Destry Damayanti. Ekonom dari Mandiri Sekuritas ini menduga, pekan ini, rupiah akan tetap berada di kisaran Rp 8.900–Rp 9.000 per dolar AS. ”Ini merupakan level yang fair dan wajar untuk importir maupun eksportir,” katanya.
Selain itu, pasar Indonesia juga masih menarik bagi asing untuk membiakkan dananya. Itu terbukti dari suksesnya lelang Surat Utang Negara (SUN) baru-baru ini yang mencapai Rp 4,5 triliun. Padahal, awalnya, pemerintah hanya akan menarik Rp 3 triliun saja. Tapi, penawaran yang masuk mencapai Rp 9 triliun. Ditambah lagi, rencana lelang SPN (Surat Per-bendaharaan Negara) senilai Rp 2 triliun–Rp 3 triliun, yang akan dilakukan Jumat ini, merupakan sentimen positif bagi rupiah.
Jadi, seperti yang dikatakan Aslim Tadjudin (Deputi Gubernur BI), tak ada yang perlu dikhawatirkan. Pemodal juga tak perlu takut terhadap ancaman capital outflow karena, kata Aslim, fundamental ekonomi kita sudah mulai kuat.
Mungkinkah optimisme Aslim menjadi kenyataan? Bagaimana jika ancaman koreksi di pasar modal menjadi kenyataan? 


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id