|
|
 |
|
Tawaran dari Negeri 1.001 Malam
|
| Febry Mahimza dan Mega Julianti Sumantri |
| |
KENDATI telah menimbulkan cukup banyak korban, berbagai tawaran investasi dengan janji keuntungan luar biasa besar tak pernah berhenti. Masih hangat dalam ingatan tentang investasi bodong yang dijajakan PT Wahana Bersama Globalindo dan Dressel Investment Ltd. Waktu itu, banyak korban yang berjatuhan gara-gara tergiur oleh keuntungan besar. Kini muncul lagi tawaran investasi dengan iming-iming yang tak kalah heboh, yakni berinvestasi di mata uang dinar Iraq.
Cobalah surfing ke sejumlah situs pencari di dunia maya, seperti google dan yahoo. Begitu mengetik kata kunci: investasi dinar Iraq, sedikitnya ada sekitar 3 juta lebih situs di dunia—termasuk sekitar 600 situs lokal—yang menawarkan berinvestasi di mata uangnya Negeri 1.001 Malam itu. Membiakkan uang model ini, tak ubahnya seperti jual beli valuta asing. Jadi, calon investor tinggal membeli satu set dinar Iraq melalui sejumlah agen pemasar di sini.
Salah satunya seperti yang ditawarkan oleh Arif Wicaksana dan Muhamad Ridho, agen pemasar dinar Iraq di Malang, Jawa Timur. Dalam situs pribadinya yang beralamat di www.dinar-iraq.co.nr, keduanya menjajakan satu set dinar Iraq senilai 41.800 dinar. Untuk mendapatkan satu set dinar yang terdiri dari pecahan 50, 250, 500, 1.000 hingga terbesar 25 ribu dinar, investor cukup membayar sebesar Rp 2,3 juta saja. Lantas, dari mana potensi keuntungan yang bakal dipetik pemodal?
”Pemilik dinar Iraq tinggal menunggu penguatan mata uang tersebut terhadap dolar. Suatu saat nanti, 1 dinar akan setara dengan US$ 1 ,” kata Arif hakulyakin.
Jadi begini, menurut Arif, perbandingan kurs dolar terhadap dinar Iraq saat ini berada di kisaran US$ 1= 1.300 dinar. Artinya, dinar Iraq jauh lebih murah ketimbang dolar. Padahal, sebelum diserbu oleh tentara Paman Sam, dinar Iraq jauh lebih mahal ketimbang mata uang Paman Sam. Sebagai contoh, pada era 90-an, 1 dinar setara dengan US$ 3,29. Setelah diinvasi oleh Amerika Serikat, nilai tukar dinar Iraq langsung melorot tajam hingga ke level 6.000 dinar per US$ 1.
Akhir tahun lalu, nilai tukarnya mulai membaik dan diperkirakan akan terus menguat hingga setara dengan dolar Amerika dalam beberapa tahun ke depan. Nah, di saat penguatan itulah, kata Arif, investor akan memetik untung berlipat. Hitung-hitungannya sangat sederhana. Jika nantinya 1 dinar Iraq setara dengan 1 dolar AS, maka 41.800 dinar tentu sama harganya dengan US$ 41.800. Lantas, dengan asumsi kurs US$ 1 = Rp 9.200, maka investor bisa menukarkan dinarnya ke rupiah dan mendapat profit sebesar Rp 382.260.000. ”Padahal, modal investasi awal yang dikeluarkan hanya sebesar Rp 2,3 juta saja,” papar Arif berpromosi.
Jika Arif membanderol satu set dinar seharga Rp 2,3 juta, maka harga dinar yang ditawarkan Efrat Tio—agen pemasar yang berlokasi di Denpasar, Bali—jauh lebih murah lagi, hanya Rp 1,4 juta. Bahkan, bagi investor bermodal kakap, Efrat menawarkan paket harga yang jauh lebih murah lagi. Pada situs pribadinya: dinariraq.net, untuk pembelian di atas 20 set, harganya hanya sebesar Rp 900.000 per set. Harga jual itu akan lebih murah lagi, yakni sebesar Rp 700 ribu per set, jika investor membeli lebih dari 100 set. ”Harga tersebut masih bisa dibicarakan lagi sesuai jumlah pesanan,” ujarnya.
Potensi keuntungan yang dipromosikan Arif dan Efrat memang sangat menggiurkan. Sebab, jika dihitung, investor bisa meraup keuntungan hingga mencapai 16 ribu persen lebih! Luar biasa. Rasanya, tak ada instrumen investasi mana pun yang mampu memberikan return sebesar itu. Apalagi, tak ubahnya seperti deposito, investor hanya perlu menunggu selama satu tahun untuk bisa mendapatkan keuntungan sebesar itu.
Makanya, tak mengherankan jika peminatnya cukup banyak. Sejak memasarkan dinar enam bulan lalu, Arif sukses menjual dinarnya ke 300 orang lebih. ”Masing-masing investor rata-rata membeli 2-3 set,” paparnya.
IMPOSSIBLE DEH
Menarik memang. Tapi, tetap saja, investor mesti berhati-hati. Ada sejumlah hal yang harus benar-benar diperhatikan investor sebelum membeli paket ini. Sebab, Arif ataupun Efrat tak bisa memastikan kapan nilai dinar Iraq bakal setara dengan dolar. ”Saat ini, dinar memang belum masuk ke pasar uang internasional. Tapi, kalau itu terjadi, maka nilainya akan sama dengan dolar. Mengenai kepastian waktunya, saya sendiri juga tidak tahu,” ujar Arif polos.
Begitu pula halnya, soal kepastian nilai dinar yang akan dibuat setara dengan dolar. Arif dan sejumlah situs penjual dinar tak ada yang bisa memastikan, kecuali hanya menyatakan kondisi perekonomian makro Iraq yang akan membaik mulai tahun depan. Sayangnya, semua informasi tersebut tidak memiliki dasar rujukan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Hal lain yang tak kalah penting adalah keabsahan uang dinar yang diterima investor. Menurut informasi yang ada di seluruh situs pemasar dinar, uang dinar yang ditawarkan adalah dinar baru pascapenjajahan Amerika. ”Uang itu mulai diproduksi pada 2003 di De La Rue, Inggris, sebuah percetakan uang terbesar di dunia,” kata Arif. Tak kurang ia mencantumkan spesifikasi fisik uang dinar baru itu sebagai pedoman agar investor tidak tertipu dengan dinar palsu.
Arif boleh jadi betul. Masalahnya, lantaran belum diperdagangkan di pasar uang internasional, tentunya belum ada lembaga keuangan berskala nasional yang bisa memverifikasi keaslian dinar tersebut. Apalagi, karena masih dalam pendudukan Amerika dan sekutunya, logikanya, uang dinar akan sulit untuk bisa keluar dari negerinya Aladdin tersebut. Lantas, dari mana para agen pemasar itu bisa mendapat pasokan dinar yang melimpah? Untuk yang satu ini, Arif mengaku mendapat dinar dari supplier berkebangsaan Yordania, yang selama ini memasok dinar ke agen pemasar di berbagai negara.
Semua faktor itulah yang membuat pengamat pasar uang Fahrial Anwar tak terlalu antusias menanggapi investasi dinar ini. Selain transaksi jual beli dinar belum lazim di pasar valuta asing, kondisi keamanan dan moneter di Iraq juga dalam kondisi tak menentu. ”Biasanya, negara dalam kondisi seperti itu, nilai mata uangnya juga akan amburadul. Saya pikir, pasar keuangannya juga sedang morat-marit,” kata Director Currency Group Management ini. Sebagai pemain pasar uang, Fahrial mengaku tak akan bermain di mata uang yang tidak jelas fluktuasinya. ”Kalau kita mau transaksi, kita harus tahu dulu pergerakan mata uangnya,” tegasnya.
Lantas, mengenai alasan membaiknya kondisi ekonomi Iraq pada 2008 yang—konon—akan memacu penguatan dinar, Fahrial menyatakan hal itu sangat sulit diprediksi. Sebab, konflik yang berlangsung di negara teluk tersebut tidak hanya antara pasukan perlawanan Irak vs Amerika, tapi juga sudah melebar antara sesama warga Iraq. ”Jadi, mata uang ini bukan mata uang yang layak diperdagangkan. Tak ada manfaatnya memperhatikan mata uang ini. Karena, tidak ada mata uang yang bisa menguat atau melemah lebih dari ratusan persen. Itu sesuatu yang impossible,” tegas Fahrial.
Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|