|
|
 |
|
Keanehan Itu Terus Terjadi
Lonjakan Harga Saham
|
| Kun Wahyu Winasis |
| |
KASUS memalukan yang terjadi pada saham PT Agis, rupanya, membuat Bursa Efek Jakarta (BEJ) mulai berkaca diri. Untuk mengantisipasi banyaknya saham-saham yang bergerak liar, pihak otoritas berencana menciptakan market maker (penyelenggara pasar). Langkah ini dilakukan guna menciptakan pasar yang wajar dan efisien. ”Kami sudah mengusulkan hal ini ke Bapepam supaya ditindaklanjuti dengan menyiapkan pera-turannya,” ungkap Erry Firmansyah.
Direktur Utama BEJ itu bilang, pihaknya kini sedang mengkaji berbagai kriteria yang akan diterapkan untuk memilih market maker. Salah satu syarat yang harus dipenuhi penyelenggara pasar tersebut adalah bersih dari berbagai transaksi liar di pasar. Erry berharap, rencana itu dapat segera dilaksanakan.
Maklum, sejak arus dana masuk ke bursa kian membesar, banyak saham lapis kedua yang bergerak tak beraturan. Tapi, entah kenapa, situasi tersebut seolah dibiarkan begitu saja oleh otoritas bursa. Setiap kali terjadi lonjakan harga yang gila-gilaan terhadap saham tertentu, BEJ hanya melakukan suspensi. Selebihnya? Cenderung diam dan terkesan tak mau tahu.
Celakanya, sikap Bapepam setali tiga uang. Menurut Arif Baharudin, Kabiro Transaksi Lembaga Efek Bapepam-LK, untuk memantau transaksi tidak wajar di bursa merupakan tanggung jawab BEJ. Bapepam baru akan bertindak apabila sudah mendapat laporan. Seperti dalam kasus Agis, kata dia, pihak Bapepam-LK masih menunggu laporan dari bursa. ”Jika sudah masuk, kami akan melakukan tindakan lebih lanjut,” ujarnya via telepon kepada Hendra Gunawan dari TRUST.
Seorang pelaku pasar menuturkan, kasus yang terjadi pada saham Agis sesungguhnya hanya bagian kecil dari saham-saham bermasalah di bursa. Longgarnya peraturan plus lemahnya penegakan hukum, kata dia, membuat para pemodal besar lebih leluasa dalam bermain. Makanya, investor mesti bersikap ekstrahati-hati. Ferry Latuhihin, ekonom Bank Internasional Indonesia (BII), membenarkan sinyalemen itu. ”Ada tiga sampai lima saham yang perilakunya mirip Agis,” katanya.
Setelah kasus Agis meledak, beberapa saham gurem juga mengalami lonjakan harga yang tak wajar. Contohnya saham Dyviacom Intrabumi (DNET). Awal Juni silam, DNET hanya dibanderol Rp 70-Rp 73 per saham. Volume transaksinya juga tak lebih dari 50 ribu saham. Tapi begitu investor asal Amerika, PT Philadel Terra Lestari, berniat mengakuisisi 25% sahamnya di kisaran Rp 205, harga DNET tiba-tiba melonjak tajam. Hanya dalam hitungan hari, harganya telah terbang ratusan persen. Dan 4 Juli lalu, saham ini sudah dihargai Rp 260. Gilanya, pekan lalu, harga tersebut kembali terkerek ke level Rp 630 (13/7). Artinya, hanya dalam waktu dua pekan, harganya telah melonjak 142%.
Lonjakan harga itu tentu amat mencurigakan. Betul, Silivia Sumarlin, Direktur Utama DNET, kepada BEJ mengatakan bahwa masuknya Philadel akan membuat bisnis perseroan kian melebar. Jika sebelumnya hanya menjual jasa internet, perseroan akan masuk ke bisnis perdagangan, pemborong, pengolahan lahan, pengadaan barang, perindustrian, dan jasa. Tapi yang menjadi pertanyaan, layakkah corporate action seperti itu diganjar dengan kenaikan saham hingga ratusan persen dalam sekejap? Padahal, perusahaan itu hanya beraset Rp 21 miliar dan pada 31 Maret lalu cuma mengantongi laba bersih Rp 290 juta.
Saham lain yang memiliki perangai aneh adalah saham Integrasi Teknologi Tbk. (ITTG). Seperti halnya DNET, saham ini juga melaju amat kencang sejak masuknya Goodwill Investment Services INC (Goodwill) (26/6). Dua pekan lalu, saham ITTG hanya dibanderol Rp 360 (2/7). Namun, harga itu pekan lalu sudah melonjak 133% ke level Rp 840 (13/7). Seperti halnya DNET, pada hari penutupan pekan lalu, saham ini melonjak 29,23% atau sebesar Rp 190 per saham. Padahal, sebelum adanya transaksi itu, ITTG lebih banyak berkutat di kisaran Rp 40.
Yang lebih aneh lagi, pemegang saham lama, PT Integrasi Investama dan PT Citra Permata Gemilang, menjual 82,23% sahamnya di bawah harga pasar. Kedua investor tersebut melepas sahamnya di harga Rp 58,86 per saham. Dan persis seperti Dyviacom, secara fundamental emiten ini jauh dari tajir. Akhir 2006 asetnya hanya Rp 23 miliar dengan peruntungan bersih Rp 91 juta.
Jadi aneh kan jika ada investor yang berani membayar mahal untuk saham-saham seperti itu?
Berikan Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|