Jumat, 12 Maret 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Tetap Harus Ekstra Waspada

Syarif Hidayat, Hendra Gunawan, Windarto, dan Intan Rahmawati
 
DELAPAN. Angka ini, pekan lalu, sempat menjadi bahan obrolan ringan di pasar modal. Soalnya, setelah mengalami ke-jatuhan yang cukup dalam, pada tanggal 8 bulan 8 indeks harga saham gabungan kembali naik sebesar 88 poin. ”Angka cantik,” kata seorang analis. Cuma, sayangnya, si cantik tak bertahan lama. Pengaruh penurunan di bursa global, pasar efek Jakarta pun kembali terpuruk. Aksi buang barang telah membuat indeks kembali terperosok ke level 2.207,40. Sehingga, kalau dihitung sejak awal pekan, telah terjadi penurunan sebesar 62,39 atau sekitar 2,77%.
Sebuah fakta yang mesti diwaspadai di masa-masa mendatang. Soalnya, yang menjadi pemicu penurunan indeks—seperti yang ramai diberitakan—adalah jatuhnya surat utang sub-prime mortgage di Amerika Serikat. Dan ”luka” ini diperkirakan belum akan sembuh dalam waktu dekat.
Sekadar mengingatkan kembali, sub-prime mortgage adalah surat utang yang dijamin oleh sejumlah kredit kepemilikan rumah alias KPR. Nah, debitor KPR inilah yang belakangan gagal membayar kewajiban mereka. Sehingga, surat utang ini jatuh dan merugikan investor yang mengoleksinya yang kebanyakan datang dari kalangan perbankan dan fund management.

 Artikel Lain
Sabar, Jangan Cepat Dijual
Yang Halal yang Menguntungkan
Di Bursa Api Masih Menyala
Agar Harga Sahamnya Naik
Tetap Harus Ekstra Waspada
Keanehan Itu Terus Terjadi
Tawaran dari Negeri 1.001 Malam
Masih Ada Setumpuk Pilihan
Supaya Investor Tak Dirugikan
Menaksir Saham BNI
Yang membuat suasana makin keruh, pemegang surat utang ini bukan hanya perbankan dan fund management di Amerika, tapi juga dari berbagai belahan benua. Buntutnya, lantaran lembaga keuangan menjadi salah satu pemain utama, harga saham perbankan pun ikut tergerus. Dan kalau bank diketahui sudah merugi, orang pun akan berpikir bahwa ini akan mengganggu pertumbuhan perekonomian. Itu sebabnya, bukan hanya saham-saham perbankan yang berjumpalitan, saham di sektor lain pun turut terseret arus.
Lantas, apa hubungannya dengan pasar Jakarta? Biasa, sesuatu yang terjadi di bursa global selalu menular ke sini. Dan sudah menjadi kelaziman, langkah investor asing selalu dikuntit oleh pemain lokal. Apalagi, harga sebagian besar saham di BEJ sudah cukup tinggi. Sepanjang tujuh bulan ini saja sudah mengalami kenaikan 33%. Ditambah dengan menurunnya harga komoditi pertambangan (seperti nikel dan emas), aksi ambil untung pun kian menjadi-jadi. ”Inilah yang mendorong indeks semakin terkoreksi,” kata N. Jaganathan, analis dari PT Eficorp Sekuritas.
Untuk pekan ini, sejumlah analis menyarankan agar investor tetap ekstra hati-hati. Soalnya, ”Pasar masih rawan aksi profit taking,” kata Budi Ruseno dari PT Bhakti Securities. Budi menduga, mungkin saja di pertengahan minggu akan ada rebound kecil-kecilan. Tapi, tetap ini harus disikapi dengan waspada. Makanya, ia menyarankan investor bersikap selektif dalam membeli.
Saran senada diberikan Jaganathan. Untuk saham pertambangan, misalnya, sebaiknya dibeli setelah harganya masuk ke dalam rentang ”layak”. Saham Inco, kata dia, pantas dibeli di harga Rp 45.000-Rp 47.500. ”Sampai akhir tahun, Inco bisa mencapai Rp 65.000,” ujarnya. Sedangkan Antam (ANTM), yang diduga bakal merangkak ke Rp 2.900, patut dikoleksi ketika harganya sudah di bawah Rp 2.400.
Di luar itu, saham-saham telekomunikasi juga patut dipertimbangkan. Seperti saham Telkom (TLKM), kata Jaganathan, layak dibeli di bawah Rp 10.000. Sebab, di akhir tahun, TLKM berpotensi naik ke Rp 12.000.
Yang agak berbeda adalah pendapat Pardomuan Sihombing. Kepala Riset Reliance Securities ini malah melihat ini merupakan saat yang tepat untuk membeli. Terutama saham-saham yang harganya sudah terkoreksi cukup dalam. Dan ia menyarankan agar investor mempertimbangkan saham properti dan perbankan. Namun demikian, tetap saja Pardomuan pun tidak berani terlalu optimistis. Itu terlihat dari prediksi IHSG di pekan ini yang dipasangnya di rentang 2.100–2.300.

BUTUH WAKTU LAMA
Aroma pesimistis juga menyebar di pasar uang. Para jawara valuta asing memperkirakan kurs US$ masih akan bermain di atas Rp 9.300. Pergerakannya masih belum menggembirakan,” kata Adi Santoso, Kepala Treasury Bank BTN.
Menurut Winang Budoyo, Chief Economist Lippobank, dampak dari sub-prime mortgage memang belum akan selesai dalam waktu dekat ini. Ia melihat dana-dana asing yang keluar di pekan-pekan terakhir ini masih belum akan kembali. Winang memperkirakan, setelah keadaan di pasar global membaik, investor baru akan kembali pada bulan September dan Oktober nanti. Namun demikian, ia percaya rupiah yang pekan lalu ditutup di level Rp 9.350/US$ tidak akan banyak bergerak di minggu ini. Artinya, selain tidak akan menguat, mata uang RI itu tidak akan mengalami koreksi susulan yang lebih dalam.
Lain halnya jika BI tidak ikut campur tangan. Menurut Fahrial Anwar, nilai tukar bisa terjun ke Rp 9.400-Rp 9.500. Apalagi, otoritas moneter sudah menetapkan rentang untuk kurs dolar AS pada Rp 8.500–Rp 9.500. ”Itu gila-gilaan. Mana ada negara lain yang menggunakan rentang selebar itu,” katanya.
Seperti halnya pelaku pasar lainnya Fahrial juga melihat, efek domino yang disebabkan surat utang sub-prime mortgage ini masih cukup panjang. Panic selling, kata dia, kelihatannya masih akan berlanjut. Dengan kata lain, penjualan saham, SBI SUN masih akan berlangsung. Padahal, menurut sebuah kabar, sejak Juli yang baru lalu nilai uang yang keluar dari negeri ini telah mencapai US$ 1,5 miliar. Dan ini merupakan sesuatu yang wajar. Sebab, kata Fahrial, indikasinya cukup jelas. Di satu sisi harga saham jatuh sedemikian tajam, sementara dolar naik cukup tinggi. Itu berarti, ”Ada konversi terhadap dolar secara besar-besaran,” ujarnya.
Yang menjadi pertanyaan, sampai kapan rupiah akan tertekan? Sulit ditebak. Tapi, Fahrial memperkirakan tekanan itu masih berlangsung lama. ”Tergantung kepanikan di pasar modal. Sebab, biasanya, pasar yang terguncang membutuhkan waktu untuk rebalancing yang cukup panjang,” katanya. 


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id