|
|
 |
|
Agar Harga Sahamnya Naik
|
| Hendra Gunawan dan Eko Zulham |
| |
SIAPA pun yang menyimak pergerakan saham Medco Energi pasti akan bingung. Bayangkan, di saat harga minyak dunia tetap terjaga di level tinggi, rata-rata di kisaran US$ 65-US$ 70 per barel, harga saham emiten ini nyaris tak banyak bergerak. Dalam setahun terakhir, fluktuasi harganya hanya berkutat di rentang Rp 3.500–Rp 4.500 (Juni 2006-Juli 2007). Artinya, investor yang mengoleksi saham ini hanya berpeluang mendapatkan gain maksimal 28%. Bandingkan misalnya dengan harga saham PT Timah atau PT INCO. Pada periode yang sama, di dua saham itu duit investor bisa berbiak ratusan persen.
Lantas, apa yang salah dengan saham berkode MEDC ini? Willy Sanjaya, analis Mahakarya Artha Securities bilang, saham ini memang sengaja ditahan agar tak melaju tinggi. Seharusnya, harga MEDC sudah bisa terbang hingga di atas Rp 5.500. Menurut Willy, ada sejumlah fund manager yang ”menjaga” saham ini tetap di level seperti sekarang. Jika harganya mulai merangkak naik, lanjut dia, fund manager itu mengguyur saham ke bursa. Dengan begitu kenaikannya menjadi terbatas.
Willy memperkirakan, saham ini baru bisa bergerak cepat jika semua proyek yang kini sedang dikerjakan sudah mulai berproduksi. ”Saat itulah fund manager itu akan melepas harga untuk meraih untung sebanyak-banyaknya,” ujarnya. Sumber TRUST di pasar mengamini pendapat Willy. Menurut dia, untuk menjaga harga, dana yang disediakan mencapai US$ 40 juta.
Muhammad Alfatih, analis BNI Securities justru memiliki pandangan berbeda. Menurut dia, masih adanya keterkaitan antara Medco dengan PT Lapindo Brantas Inc., menjadikan investor berpikir dua kali untuk menanamkan uangnya di sini. Maklum, hingga kini kasus semburan lumpur yang telah menghancurkan ribuan rumah warga Sidoarjo, Jawa Timur, itu belum berhasil dituntaskan. Kocek Medco pun sudah tersedot hingga US$ 61,66 juta. ”Faktor inilah yang ikut memengaruhi seretnya harga saham Medco,” katanya. Alfatih sendiri menilai harga wajar saham ini adalah Rp 4.500.
Secara fundamental perusahaan milik Arifin Panigoro ini sebenarnya cukup baik. Sampai paruh pertama 2007, perseroan berhasil mengantongi pendapatan US$ 403 juta. Sedangkan laba bersihnya mencapai US$ 30 juta. Jumlah itu setara dengan 79% dari keuntungan yang diraih Medco sepanjang 2006. Emiten ini juga tergolong ekspansif. Hingga saat ini, Medco memiliki 15 blok migas yang sudah berproduksi. Selain itu, masih ada 14 blok dalam tahap eksplorasi dan 4 blok lainnya dalam pengembangan.
Bendera Medco di luar negeri juga cukup berkibar. Di Libya, bersama mitranya (Verenex Energy Inc., yang masing-masing memiliki 50% saham), Medco melakukan eksplorasi di The Ghadames Basin dengan areal seluas 6.812 km persegi. Di dua lokasi Medco berhasil menemukan kandungan minyak yang cukup besar. Di sumur A1-47/02, kemampuan produksinya diperkirakan bisa mencapai 12.500 barel per hari.
Di Kamboja, Medco juga melakukan eksplorasi di Blok E seluas 5.500 km persegi. Di lokasi ini perseroan menguasai 62,5% saham. Adapun di Yaman, perusahaan yang kini dikomandoi oleh Hilmi Panigoro ini melakukan eksplorasi di dua blok, masing-masing seluas 1.853 km persegi (Blok 82) dan 364 km persegi (Blok 83). Porsi saham Medco di sini sekitar 38,3%. Langkah ekspansi terbaru adalah di Tunisia. Sedangkan di Amerika, melalui anak perusahaannya, perseroan juga telah melakukan akuisisi terhadap ladang migas milik Gulf of Mexico.
Belum lama ini, Konsorsium PT Ephindo dan PT Medco Energy juga menjalin kerja sama dalam pengembangan gas metana batu bara (coal bed methane/CBM) di Indonesia. Pada tahap pertama, biaya investasinya mencapai US$ 200 juta. Proyek yang berada di Blok Kutai milik Medco ini ditaksir memiliki cadangan CBM sebanyak 183 triliun kaki kubik (TCF). Sammy Hamzah, Presiden Direktur Ephindo, berharap proyek ini mulai berproduksi tahun 2010 atau 2011. Target produksinya sekitar 5-10 juta kaki kubik.
RISIKONYA SANGAT BESAR
Ekspansi bisnis Medco, memang, luar biasa. Melalui anak perusahaannya, Medco E&P, tahun ini mengalokasikan US$ 300 juta untuk belanja modal. Angka tersebut akan terus meningkat hingga tahun 2010. Lukman Mahfoedz, Presdir Medco E&P, mengungkapkan, selama kurun 2008-2010, nilai capex akan mencapai US$ 1,4 miliar. Dana tersebut bakal digunakan, antara lain, untuk eksplorasi di blok migas yang dimilikinya seperti Blok A dan Senoro.
Besarnya kebutuhan modal perseroan itulah yang membuat Medco harus mencari dana segar. Untuk mendapatkannya, ada sejumlah opsi yang akan ditempuh. Salah satunya dengan menjual beberapa aset. Kabar hot beredar, Medco akan menjual 20% sahamnya di PT Apexindo Pratama Duta Tbk. (APEX). Kebetulan, kinerja Apex kini sedang bagus-bagusnya.
Sampai semester I-2007, perusahaan beraset US$ 472 juta itu berhasil meraih pendapatan US$ 81,8 juta atau naik 19% ketimbang periode sama 2006. Walaupun laba bersihnya turun 7,4%, perusahaan pengeboran itu tetap untung US$ 15 juta. Ada kabar Medco bakal melepas Apexindo kepada SeaDrill, perusahaan minyak asal Norwegia yang sudah menguasai 32% saham Apex. ”SeaDrill telah menyatakan minatnya membeli saham itu. Dan mereka sudah melakukan penawaran,” kata Arifin Panigoro.
Seorang analis pasar saham ragu transaksi itu benar-benar terjadi. Alasannya, kabar penjualan saham tersebut bukan isu baru. ”Tahun lalu rencana itu sudah ada. Nyatanya tak pernah terjadi,” ujarnya. Dia justru menduga isu itu sengaja ditebar hanya untuk mengangkat harga MEDC. Buktinya, sejak kabar itu muncul ke publik dalam tiga pekan terakhir, harga MEDC yang sebelumnya hanya berkutat di kisaran Rp 3.500–Rp 4.000 langsung naik ke level Rp 4.625 (26/7).
Desas-desus penjualan Apexindo juga berdampak positif terhadap anak perusahaan ini. Terbukti, sejak adanya pembicaraan dengan sejumlah calon pembeli—seperti Aban Loyd Chiles Offshore Ltd. dari India dan China Oilfield Services Ltd., kapitalisasi pasar Apexindo naik dari Rp 1,9 triliun menjadi Rp 6,19 triliun. Adapun kapitalisasi pasar Medco naik ke posisi Rp 13,66 triliun (21/7).
Si analis menambahkan, Medco sesungguhnya masih membutuhkan peran Apex untuk menopang bisnisnya. Terlebih lagi, kontribusi Apex terhadap pendapatan Medco juga tak kecil, sekitar 21% dari total revenue Medco. Soal kabar penjualan saham Medco di bursa London, si analis menilai hal itu justru merugikan investor di sini. Sebab, dampak penjualan tersebut hanya akan dinikmati oleh Medco. Atas dasar itulah, dia menyarankan agar investor menjauhi saham ini.
Ada sejumlah alasan yang mendasarinya. Pertama, ekspansi Medco ke luar negeri cukup berisiko. Dengan asumsi setiap pengeboran minyak menghabiskan biaya US$ 20 juta-US$ 25 juta, maka duit yang dirogoh menjadi cukup besar.
Selain itu, ladang-ladang minyak milik perseroan juga sudah berumur, sehingga produksinya kian menyusut. Jika ini terus terjadi, maka revenue perseroan bakal ikut terpangkas. Yang ketiga, jika Amerika benar-benar resesi, maka permintaan minyak akan menurun. Dampaknya dalam jangka pendek harganya juga turut melemah. Ini yang akan memberatkan Medco. Menurut si analis tadi, tak terlalu banyak investor asing yang memegang saham ini. ”Mereka (asing) cenderung short term trading,” jelasnya.
Berikan Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|