Rabu, 8 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Di Bursa Api Masih Menyala

Budi Kusumah, Syarif Hidayat, Hendra Gunawan, dan Eko Zulham
 
TERLALU banyak kata yang bisa dipakai untuk menggambarkan isi benak para pelaku di pasar modal, saat ini. Kaget, sedih, kecewa, rasa murka yang tak bisa ditumpahkan, bengong, merasa terpukul, dan banyak lagi. Pada intinya, peristiwa yang terjadi di bursa saham, di hari-hari ini, telah membuat banyak pemodal tak lagi bisa berkata-kata. Maklum, mereka sama sekali tak menduga kalau imbas yang ditimbulkan oleh besarnya kredit macet di sektor perumahan nun di Amerika sana, akan jadi sebesar ini.
Yang lebih menyedihkan, Bursa Efek Jakarta—yang sebelumnya tampil paling mencorong—kini mengalami kejatuhan yang paling dalam. Lihat saja, jika pasar saham di berbagai negeri hanya mengalami penurunan antara 1%-4% per hari, kejatuhan pasar efek tercinta kita jauh lebih besar dari itu. Sehingga, jika dihitung sejak awal Agustus, indeks harga saham gabungan (IHSG) telah mengalami penurunan sebesar 440,03 atau sekitar 18,73% dalam 12 hari pasar.
Makanya, tidak mengherankan jika banyak pemodal dan perusahaan pialang yang mengucurkan ”air mata bombay” (ini istilah di kalangan bursa untuk menggambarkan kesedihan yang mendalam). Betapa tidak? Panic selling yang dilakukan oleh investor asing dan lokal, telah membuat hampir seluruh harga saham terperosok. Tak terkecuali efek unggulan, yang selama ini dipercaya memiliki daya tahan tinggi dalam menghadapi guncangan. Saham Telkom (TLKM) misalnya, dalam waktu 12 hari transaksi telah turun 12% lebih ke level Rp 9.850. Nasib rekan-rekannya, sesama saham telekomunikasi, juga sami mawon. Indosat (ISAT) turun 9,65%, Mobile-8 (FREN) menukik 23,435%, dan yang paling parah nasib Bakrie Telecom yang terjun 38,2%.

 Artikel Lain
Berkah Menjelang Lebaran
Menanti Gugur Bunga di Amerika
Sabar, Jangan Cepat Dijual
Yang Halal yang Menguntungkan
Di Bursa Api Masih Menyala
Agar Harga Sahamnya Naik
Tetap Harus Ekstra Waspada
Keanehan Itu Terus Terjadi
Tawaran dari Negeri 1.001 Malam
Masih Ada Setumpuk Pilihan
Saham-saham dari sektor lainnya pun bernasib serupa. Termasuk efek yang dikeluarkan oleh perusahaan yang didukung oleh produknya yang jadi rebutan di pasar dunia. Harga minyak mentah yang kini berada di level US$ 72 per barel, misalnya, mestinya bisa mendongkrak saham Medco (MEDC). Tapi kenyataan berbicara lain, harga MEDC malah menukik 21,63%. Begitu juga harga saham tambang lainnya. Antam (ANTM) turun 27,88%, INCO 27%, sedangkan saham Timah (TINS) anjlok 34,75%.
Yang lain? Ah, sudahlah, sama saja. Bahkan saham sawit—yang selama ini begitu dipuja-puji karena CPO menjadi rebutan di pasar internasional—ikut-ikutan terpuruk. Lihat harga AALI (Astra Agro Lestari) yang menukik sebesar 20%.
Singkat kata, harga semua jenis saham dari semua lapisan mengalami penurunan yang sangat tajam. Lantas apa yang akan terjadi di pekan ini? Tak satu pun analis yang berani mengemukakan rekomendasinya. ”Dalam keadaan seperti ini, semua analisis, fundamental ataupun teknis, tidak berlaku. Sebab panic selling ini tak ada hubungannya dengan kinerja emiten,” kata Suherman Sutikno, Kepala Riset Batavindo Prosperindo Group.
Itu sebabnya, Suherman tak berani memberikan rekomendasi apa pun dengan alasan ”semuanya masih susah ditebak”. Ia hanya memprediksi IHSG kali ini akan berkutat di rentang 1.900-2.000. Kalau ada investor mau beli, ambillah saham-saham unggulan yang saat ini harganya sudah murah. Seperti TLKM, PGAS, Bank Mandiri (BMRI), dan saham Bank BCA.
Lain lagi hasil teropongan Rifki Insani Hasan. Menurut analis dari PT Paramitra Alfa Sekuritas ini, belum saatnya investor melakukan aksi beli. Soalnya, ia memperkirakan, koreksi masih akan berlaku hingga September. Jadi, ”Sebaiknya wait and see dulu. Tunggu sampai pasar regional membaik,” sarannya.

SULITNYA MENENTUKAN SAAT
YANG TEPAT
Nah, jika pasar regional sudah pulih dan asing mulai masuk kembali, bolehlah investor memborong saham-saham blue chip seperti PGAS, PTBA, INCO, dan BBCA. Pertimbangannya, ”Ketika pasar bullish nanti, saham-saham itulah yang akan mendukung kenaikan indeks,” kata Rifki.
Mungkin, saran Rifki ada benarnya. Masalahnya, tak seorang pun tahu kapan pasar akan kembali ramai. Jika investor membeli terlalu dini, ia akan merugi lantaran saham koleksinya masih bergerak turun. Tapi, telat membeli juga tidak elok. Sebab itu bisa berarti ”ketinggalan langkah” alias ketinggalan meraih gain besar. Jadi, kapan waktu yang tepat untuk membeli? Itulah, lagi-lagi analis yang ditanya tak bisa menjawab dengan tegas. ”Sulit diprediksi, karena ini dipicu oleh kejadian di luar negeri. Dow Jones sendiri masih punya peluang untuk turun terus,” kata Arif Budi Satria kepada Intan Rahmawati dari TRUST. Makanya, analis dari Investindo Nusantara Securities ini meramalkan indeks akan menuju rentang 1.800-1.810.
Pantas memang kalau keraguan begitu mengental di benak pelaku pasar. Soalnya, ya itu tadi, dibanding bursa lainnya di luar negeri, BEJ merupakan pasar yang paling babak belur. ”Orang lain turunnya cuma 1%-2%, eh kita malah 7%,” kata Prayoga Ahmadi Triyono, Kepala Riset Henan Putihrai Sekuritas. Menurut dia, kalau saja pemerintah mau membantu, mestinya kejatuhan indeks BEJ tak separah ini. Tapi karena pemerintah diam saja, investor menjadi semakin tidak pede. ”Harusnya pemerintah melakukan intervensi, minimal secara psikologis untuk menenangkan pasar,” lanjutnya.
Lo, bukankah Presiden SBY dalam pidatonya kemarin sudah menyarankan agar pasar tenang lantaran guncangan ini hanya bersifat sementara? ”Basi. Sudah terlambat,” kata Ahmadi. Namun demikian, ia optimistis, gonjang-ganjing ini akan mereda September nanti.
Kelak, kalau September situasi tetap belum aman, sebaiknya investor tetap bersikap wait and see. Bagaimana kalau ada saham baru seperti Jasa Marga atau Wika? Kalau kondisinya masih seperti sekarang, saham-saham itu pun layak diabaikan. Sebab, semua saham tidak ada yang kebal. ”Buat apa beli saham Wika yang belum jelas juntrungannya? Mending membeli Telkom atau Antam yang sudah murah-murah,” tuturnya.
Harapan agar pasar segera pulih juga datang dari para pelaku di pasar uang. Anung Roni Hascaryo, salah seorang pemain valas, memprediksi pekan ini bursa saham masih memiliki kecenderungan menurun. Itu sebabnya, nilai tukar rupiah pun masih akan tertekan. ”Kelak kalau sudah stabil, rupiah bisa kembali ke rentang Rp 9.100 Rp 9.300 per dolar,” katanya.
Memang benar, aksi ”cuci gudang” yang dilakukan investor asing, pada gilirannya, telah membuat kurs rupiah terkulai. Bahkan, pada Kamis pekan lalu, setiap dolar AS sempat diperdagangkan di atas Rp 9.500 alias melewati rentang yang ditetapkan BI (Rp 8.500-Rp 9.500).
Terjaganya rupiah di rentang aman, jelas, tak lepas dari campur tangan otoritas moneter. Kalau saja pekan lalu BI tidak melakukan intervensi, dipastikan kurs dolar akan meroket ke level Rp 9.800-Rp 10.000. ”Kami akan terus mencermati dan tetap berada di pasar,” begitu janji Burhanuddin Abdullah, Gubernur Bank Indonesia. 


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id