Jumat, 12 Maret 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Yang Halal yang Menguntungkan

Hendra Gunawan dan Intan Rahmawati
 
MELAMBUNGNYA pamor industri reksadana terus dimanfaatkan para manajer investasi. Tak hanya produk konvensional yang dirilis ke pasar. Sejumlah reksadana berbalut syariah juga makin gencar ditawarkan. Maklum, jumlah produk ini di pasar masih sangat kecil. Hingga 6 Agustus lalu, total dana kelolaannya baru sekitar Rp 1,2 triliun. Jumlah itu hanya 1,6% dari total dana kelolaan industri reksadana kita yang sudah menembus angka Rp 72 triliun.
Rendahnya nilai investasi tadi, kata Wawan Hendrayana, research analyst Infovesta, disebabkan minimnya produk investasi syariah di pasar modal. Sebagai contoh obligasi. Saat ini baru ada 20 emisi obligasi senilai Rp 3,1 triliun. Celakanya, produk tersebut menjadi rebutan banyak lembaga keuangan, seperti perbankan, asuransi syariah, dan manajer investasi sendiri. Makanya, dari 26 produk reksadana syariah yang beredar di pasar, 12 di antaranya berjenis campuran.
Fenomena yang menarik, belakangan ini sejumlah manajer investasi mulai berani menerbitkan reksadana syariah berbasis saham. Produk baru yang dirilis adalah Fortis Pesona Amanah dan PNM Ekuitas Syariah. Salah satu produk reksadana bahkan ada yang berbasis Jakarta Islamic Indeks (JII). Reksadana Indeks Danareksa Indeks Syariah namanya.

 Artikel Lain
Selamat Datang Kembali, Semoga Betah
Berkah Menjelang Lebaran
Menanti Gugur Bunga di Amerika
Sabar, Jangan Cepat Dijual
Yang Halal yang Menguntungkan
Di Bursa Api Masih Menyala
Agar Harga Sahamnya Naik
Tetap Harus Ekstra Waspada
Keanehan Itu Terus Terjadi
Tawaran dari Negeri 1.001 Malam
Seperti diketahui, produk syariah merupakan sarana investasi yang tidak melanggar asas-asas agama Islam. Setidaknya ada dua hal yang membuat sebuah emiten bisa masuk dalam kategori saham syariah. Pertama, bidang usaha dan manajemen perusahaan yang bersangkutan tidak bertentangan dengan syariat, serta memiliki produk yang halal. Kedua, semua saham yang diterbitkan harus memiliki hak yang sama. Istilah saham biasa dan saham preferen, yang membedakan hak-hak kepemilikan, tidak diperkenankan.
Respons investor terhadap produk yang baru dirilis tadi amat menggembirakan. Fortis Pesona misalnya. Sejak diterbitkan Mei silam, dana investor yang berhasil digaet mencapai Rp 188 miliar. Eko P. Pratomo, President Director Fortis Investments, menyatakan potensi pasar masih cukup besar. Makanya, dia berani menerbitkan produk ini sebanyak 500 juta unit senilai Rp 500 miliar.
Selain menyasar investor umat Islam dalam negeri, Wawan menuturkan, sesungguhnya para manajer investasi juga berharap masuknya investor Timur Tengah ke pasar reksadana kita. Apabila para pemodal kaya itu masuk, industri pasar modal syariah diyakini akan semakin berkibar.
Menurut Eko, Fortis telah merilis empat produk reksadana berbasis saham syariah ke pasar. Dari produk tersebut, dana yang berhasil dijaring senilai Rp 437 miliar. Return yang dihasilkan produk tersebut sungguh menggiurkan. Menurut Eko, tahun lalu produknya bisa memberikan imbal hasil kepada investor hingga 60%. Walaupun hasil investasi masa lalu tak bisa menjadi patokan di masa depan, Eko menilai potensi peningkatan hasil investasi masih cukup tinggi.
Secara historis, kinerja reksadana syariah yang diterbitkan Danareksa juga cukup memuaskan. Frans N. Sukardi, Sekretaris Perusahaan Danareksa, mengungkapkan, dua produk yang dikelola perusahaannya memberikan return cukup tinggi. Imbal hasil Danareksa Syariah Berimbang—diluncurkan tahun 2000—sekitar 42% dalam kurun setahun. Adapun Danareksa Indeks Fund yang dirilis dua tahun lalu, menghasilkan return 68% dalam setahun terakhir. ”Dari dua produk itu, dana kelolaan kami mencapai Rp 105 miliar,” ungkap Frans kepada Windarto dari TRUST.

INDEKS JATUH, SAATNYA MASUK
Kisruh yang terjadi di pasar saham saat ini, kata Eko, sejatinya bisa menjadi peluang bagi investor untuk menanamkan duitnya. Sebab, nilai aktiva bersih per unit sudah pasti mengalami penurunan. Nah, dengan fundamental ekonomi yang cukup baik, Eko optimistis kinerja saham-saham di BEJ akan kembali rebound.
Bagi investor yang berani mengambil risiko tinggi, produk syariah berbasis saham, memang, menjadi pilihan terbaik. Selain Fortis Pesona, produk PNM Ekuitas Syariah mungkin pantas untuk dicoba. Sesuai labelnya, kelak dana milik investor akan diinvestasikan pada sejumlah instrumen syariah. Di antaranya saham (minimal 80%) dan obligasi atau pasar uang syariah (maksimal 20%).
Khusus portofolio saham, PNM Investment Management sebagai manajer investasi akan menempatkan dana investor pada saham syariah yang sudah ditentukan oleh Bapepam-LK. Sebagai informasi, saat ini di bursa sudah dikenal Jakarta Islamic Indeks (JII).
Jumlah saham yang masuk kategori indeks ini ada 30. Namun setiap enam bulan BEJ akan menilai apakah saham tersebut masih pantas masuk JII atau tidak. Saham berkategori syariah, misalnya, saham Telkom (TLKM) dan Astra International (ASII). Sedangkan saham-saham dari sektor perbankan dan asuransi konvensional serta rokok tidak masuk kategori syariah.
Wawan Dewanto, Direktur PT PNM Investment Management, mengatakan, sampai akhir 2007 produk ini diharapkan bisa menjaring dana senilai Rp 200 miliar. Ia optimistis target tersebut bisa terpenuhi. Alasannya, animo masyarakat terhadap produk reksadana cukup tinggi. Buktinya, dua produk syariah yang telah dirilis PNM cukup diminati pemodal. PNM Syariah (campuran) mengelola dana sebesar Rp 73 miliar dan PNM Amanah Syariah (fix income) Rp 45,5 miliar.
Buat investor yang tertarik, nilai minimum investasi produk ini cukup terjangkau, hanya Rp 500 ribu. Adapun biayanya terdiri dari; biaya pembelian (subscription fee) maksimal 3%, biaya penjualan kembali (redemption fee) maksimal 1%, dan biaya pengalihan unit penyertaan maksimal 0,5%. Wawan yakin produk barunya akan mendapat respons pasar. Alasannya, tren saham-saham yang masuk di JII cenderung naik.
Data di Bursa Efek Jakarta menunjukkan, tahun lalu indeks JII naik 55,54%, jauh lebih tinggi ketimbang IHSG yang hanya 54,15%. Dibandingkan LQ 45, performa JII juga jauh lebih baik. Sebab, LQ 45 hanya tumbuh 53,52%. Kendati progresnya selama setahun cukup menggiurkan, Eko menyarankan agar pemodal berinvestasi dalam jangka panjang. Selain memperkecil risiko, potensi keuntungan yang dapat diraih juga maksimal. 


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id